Breaking News

Jumat, 31 Juli 2015

Pentalogi Puisi Shinta

Oleh: Fuad Akbar Adi












Mengeja Paras Sinta (1)

Semerbak aroma lembayun membungkus

altar jingga dalam siluet perangaimu.

Barang kali, sebelum epilog drama semalam

selesai dibacakan, Dewa Agung telah menukar likat malam dengan parasmu.



Wahai Sinta, dewi yang memangku sembilu.

Aku ingin mengajakmu ke negeri senja

Di mana tajam bias surya bersua bayang remang

dan angin enggan meninggalkan jejak kecuali isak.



Sinta yang melempar lalang ke bulan, berhentilah

menanak nasi untuk kesatriamu yang ragu.

atau menanti panen padi dan mengurus

sapi yang tak jua melahirkan lembu.



Di negeri senja kau tak perlu berpijak pada tanah yang menistakan telapakmu

yang mengandung zarah surga

atau mengecap getir biji majapahit



Wahai Sinta, dewi yang menari di atas bukit syahdu

aku rindu parasmu yang ayu

yang merona kembali sebelum tirai pekat drama semalam terkatup.



Wahai Sinta, dewi yang menjaga bulan mati, jika kau tak mau ikut

dan bersikukuh

maka kesetiaan adalah nyala api bagimu.

semoga kelak anakmu

lahir dari jantung panah yang abu.

sebelum aku katam mengeja parasmu





Menghitung Hari, Sinta Mati (2)

Kegelapan congkak berkuasa di angkasa

Bertahta pada puncak kulminasi kepekatannya

Kau, Sinta, Dewi yang dulu peniup simfoni

harmoni pelangi. Kini terkulai

terbenam sekat mahoni

Aromamu yang dulu wangi, tergusur

bau tanah



Nista sudah kau dicabik-cabik sunyi

Menunggui kesatriamu

Yang barang kali tak bernisan lagi



Salah sendiri kau mabuk sama hati

Angkuh kau Dewi bersikukuh

Sekarang coba lihat, ingin berteriak

tapi lidahmu kelu

ingin beranjak tapi sendimu kaku



Tinggal menghitung hari pasti mati

Kau, Sinta, Dewi . Jika kau bersikukuh

mengandung pertiwi menantang senyap sepi



Kesucian Sinta (3)

Terik menghujam . . .

Menyirnakan halimun memusnahkan embun

Wahai Sinta, dewi berkerling pelangi

Kau lihat di balik gapura itu?

Laskar samber nyowo mulai bergemuruh.

Nampak gagah dewi, lengkap dengan panji-panji

dan trisula berlapis perak. Kesatriamu!

Itu Kesatriamu! Ia menunggang kuda, menengadah nanar.



Wahai Sinta, dewi penyulam lengkung langit

Masihkah kau bergeming?

Barangkali kau terlahir dari benih tanpa berahi

Inilah cara untuk menyudahi, mencegah pertumpahan darah dewi

Lihatlah tanganku mulai bergetar

sukmaku mulai membuncah membanjiri setiap sekat nadi

Kau tak perlu renjana untuk bercinta Sinta, dewi bergerai temaram

Cukup terpejam saja



Tanpa perih

Sebelum tajam bias surya bersua bayang remang petang ini

Kesucian telah berpaling darimu



Terpejam di Pangkuanmu, Sinta (4)

Ah . . . sirna sudah

Surya beranjak tenggelam, terbenam oleh kelam

Gagak-gaka hitam mulai berdeham

Perlahan, hati-hati menelan ludah

Aroma anyir merangsang gejolak

pada pembuluh darah, bergairah.

Wahai Sinta, dewi berselandang aurora

Lihatlah ke sini . . .

Aku sekarat, ajalku kian dekat



Kesatriamu mengacau . . .

Menggores kanvas putih ini dengan bara

yang menjadikannya abu.

Ia menikam pekat dengan kilat

Menghabisi remang yang menjalar



Wahai Sinta, dewi berusuk cakrawala

Ke sinilah, biarkan aku terpejam di pangkuanmu

Biar aku sejajar dengan bulan, mahluk beruntung yang pernah

engkau pangku. Biar sejenak semesta iri.

Biar bagaimana pun aku juga kesatria

meski terlahir dari arang yang meradang.



Ah kau ini Sinta . . .

Bersamamu membuatku putus asa

dan mencinta pada saat yang sama.



Bunga Terakhir untuk Sinta (5)

Jingga bersemi di tepi ufuk

menghampar semburat terindah yang

pernah kusaksikan. Inilah negeri Senja yang kuimpikan,

Sinta, dewi berlesung nirwana.

Kita duduk bersama, mengukir siluet dalam

bias sorot disufi cahaya.

Berpendar memahat lengkung langit.



Sayangnya hanya sebatas alur ilusi.

Kenyataannya aku telah lelah menapak

jejak langkahmu. Api makin berkobar angkuh

menyibakkan lidah menghanguskan segala

yang merintangi. Segalanya telah luluh, segalanya

hangus untuk cintaku yang mengekor di ujung

helai rambutmu. Aku bergumam pelan di detik terakhir.

Berbisik menguntai sajak sendu.



Wahai Sinta, dewi

bernapaskan asiri, rengkuh tubuhku.

Sejenak saja. Biarkan ragaku berpagut denganmu.

Biarkan aku meleleh sebelum membeku kembali.

Lihatlah ini sekuntum bunga yang indah bukan?

Terimalah sebelum layu tersengat api.



Wahai, Sinta kaulah zarah ketunggalan sebelum

munculnya percabangan cinta. Bunga terakhir ini,

kuberikan kepadamu.



Kutulis kata, untuk kisah terakhir.



~Fu~

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By