Breaking News

Selasa, 30 Juni 2026

NOVEL "TITIK BUTA" CHAPTER 4: PERSPEKTIF 360

 

CHAPTER 4: PERSPEKTIF 360

BAB 37: SUDUT PANDANG ORANG KETIGA (POV VIOLA)

Halo. Perkenalkan, namaku Viola Janetra Nirmala. Namun, jika kau mencari namaku di antara lembar-lembar petisi atau guratan siber yang sempat membakar SMA Praja Pratama beberapa tahun silam, kau hanya akan menemukan inisial pendek yang samar: Ve.

Hari ini, aku hanyalah seorang mahasiswi semester akhir jurusan Sastra. Seseorang yang menghabiskan malam-malam sepi di sudut kamar kos, ditemani kepulan uap kopi yang lekas mendingin dan deru mesin tik digital yang lambat laun terasa menjemukan. Di layar laptopku, sebuah dokumen skripsi yang melelahkan baru saja menunjukkan hilalnya.

Mungkin kau terkejut, atau barangkali merasa terusir karena tiba-tiba aku merampas panggung yang sejak bab pertama dikuasai oleh langkah-langkah bising Devan, ketukan ambisi Enzo, intrik tajam Steffi, hingga kalkulasi sunyi milik Rania. Namun, tenang saja. Kau tidak sedang salah memasuki ruang. Kisah mereka belum selesai. Detak jantung ambisi mereka masih berlanjut di bawah jemariku. Sebab, akulah juru ketik di balik semua rahasia ini. Akulah penulis novel yang sedang kau genggam.

Kisah Titik Buta yang kau nikmati dari halaman awal bukanlah sekadar fiksi yang lahir dari ruang kosong kepala seorang pelamun. Ia adalah bentuk dramatisasi, sebuah rekonstruksi estetis dari tumpukan catatan wawancara mendalam yang kukumpulkan dengan rapi. Saat badai politik itu pecah, aku adalah seorang reporter muda di ekskul Jurnalistik SMA Praja Pratama. Seseorang yang berdiri di balik pilar koridor, memegang buku saku, dan merekam bagaimana sebuah dinasti sekolahan perlahan-lahan meretakkan dirinya sendiri dari dalam.

Praja Pratama adalah tanah yang ganjil. Di sana, sebuah kontestasi remaja mampu menjelma menjadi legenda urban yang bumbunya terus dirawat bertahun-tahun kemudian oleh bibir para adik kelas. Di sela-sela kepenatan merampungkan tugas akhir kuliahku, aku memutuskan untuk membuka kembali kotak pandora itu. Menyeka debu dari buku catatan usangku, lalu merajut kembali serpihan ego mereka menjadi sebuah novel utuh. Anggap saja ini adalah sebuah monumen kecil, sebuah hadiah personal yang ingin kuhadiahkan kepada diriku sendiri saat kelak togaku dipindahkan.

Manusia adalah makhluk yang rapuh sekaligus sombong, terutama karena mereka dikutuk dengan apa yang seumur hidup kita sebut sebagai: titik buta. Ia adalah batas cakrawala pandang kita, sebuah celah gelap yang membuat kita kerap kali keliru dalam menafsirkan kilatan peristiwa.

Dalam catatan jurnalistikku, tidak ada antagonis tunggal yang layak menerima semua kutukan, tidak pula ada protagonis suci yang berhak atas seluruh simpati. Mereka tidak sedang mencoba menghancurkan dunia. Mereka hanya sekumpulan anak manusia yang salah melihat, salah saling memahami, lalu terjebak dalam labirin perangkap yang dinding-dindingnya mereka bangun sendiri menggunakan batu bata bernama keterbatasan sudut pandang.

Mulai lembar ini, di chapter final yang kuberi judul Perspektif 360, aku akan menanggalkan jubah kemahasiswanku. Aku akan memposisikan diriku sebagai narator orang ketiga yang serba tahu—sebuah kemewahan sudut pandang yang kudapatkan setelah mendengarkan penuturan jujur dari bibir mereka masing-masing, setahun setelah debu di aula Praja Pratama mengendap.

Setelah bertahun mengumpulkan seluruh kesaksian, aku adalah orang yang mampu melihat lebih banyak sisi daripada mereka . Seseorang yang berdiri di titik poros, menyaksikan papan catur berputar penuh dalam lingkaran tiga ratus enam puluh derajat.

Mari kita kembali ke hari itu. Hari di mana langit kota kecil ini mendadak terasa teramat berat, tepat beberapa jam setelah palu sidang diskualifikasi massal dijatuhkan tanpa ampun.

Selamat menikmati lembar-lembar terakhir dari akhir sebuah ilusi.

BAB 38: SIMFONI DI ATAS RETAKAN (POV Viola)

Hari ketika palu vonis itu diketukkan di atas meja kayu ruang kepala sekolah, atmosfer SMA Praja Pratama seolah kehilangan seluruh pasokan oksigennya. Pertemuan darurat siang itu tidak berjalan seperti sidang kesiswaan biasa. Ia adalah sebuah eksekusi. Ruangan itu menjelma menjadi panggung yang mencekam, penuh intimidasi, sekaligus menyedihkan, di mana batas antara ambisi remaja dan ketegasan institusi berbenturan tanpa ampun.

Segala bentuk pembelaan, retorika politik yang disusun berbulan-bulan, hingga dokumen sanggahan yang dibawa oleh ketiga paslon mendadak kehilangan taringnya di hadapan tatapan dingin Pak Edo, Pak Rama, dan Bu Hilda. Tidak ada ruang untuk negosiasi. Sebab, di hadapan para pemegang otoritas, semua argumen pertahanan diri dari ketiga kubu itu selalu kembali pada muara yang sama: sebuah siklus saling menyalahkan, saling melempar tuduhan, dan manifestasi dari salah paham yang terlanjur membusuk di antara mereka.

Buku catatan jurnalistikku merekam dengan sangat detail bagaimana menara-menara keangkuhan itu runtuh satu per satu begitu mereka melangkah keluar dari pintu ruang kepala sekolah.

Mari kita jenguk tirai pertama: faksi milik Enzo.

Enzo, cowok pindahan dari Jakarta yang selama ini selalu tampil parlente, necis, dan sangat menjaga citra eksklusifnya, menjadi orang pertama yang pertahanannya runtuh total. Begitu kakinya melewati ambang pintu ruang kepsek, tangisnya pecah sesenggukan. Kemeja mahalnya yang biasa rapi dan wangi parfum kota besar itu mendadak tampak kusut seiring dengan bahunya yang berguncang hebat. Dia bersandar pada dinding koridor yang dingin, membiarkan air matanya mengalir deras membasahi wajahnya yang biasa dipenuhi senyum percaya diri. Pada detik itu, Enzo tak lagi peduli pada tanggapan apa yang akan keluar dari para kompetitornya. Segala gengsi, pesona metropolitan, dan harga diri tinggi yang ia bawa dari ibu kota luluh lantas oleh guncangan hebat yang menghantam ulu hatinya. Biar saja semua orang menganggapnya cengeng, dia tidak peduli.  

Di belahan tempat yang berbeda, Devan memilih takdir yang sedikit lebih liar untuk menyalurkan keputusasaannya. Remaja itu masih sanggup memasang topeng ketegaran, menahan bendungan air matanya tetap terkunci rapat di sepanjang koridor sekolah, hingga langkah kakinya sampai ke tanah berdebu warung Bu Lastri.

Namun, di sana, di hadapan Bule yang sudah menunggunya dengan cemas, pertahanan Devan runtuh berkeping-keping. Tangisnya pecah menjadi raungan yang mengerikan. Dia mengamuk sejadi-jadinya, menendang bangku kayu, dan berteriak-teriak memenuhi udara warung seperti orang yang sedang kerasukan setan.

Seluruh anak J.Rabbit yang berada di tempat itu hanya bisa terpaku, membeku dalam diam. Tidak ada satu pun yang berani melangkah mendekat untuk menenangkannya. Sebab, mereka tahu betul, siapa pun yang mencoba menyentuh Devan saat ini harus bersiap menjadi objek pelampiasan amukan yang destruktif.

Hanya Bule—satu-satunya jangkar waras di hidup Devan—yang memiliki keberanian itu. Bule melangkah tegap menembus badai kemarahan sahabatnya, lalu melayangkan tamparan pelan beberapa kali di pipi Devan untuk memaksanya kembali ke alam sadar.

"Percuma, Le! Percuma segala perjuangan gue selama ini!" Devan berteriak tepat di depan wajah Bule, suaranya parau, habis oleh amarah dan air mata yang bercampur baur. "Gue kalah, Le! Gue kalah bahkan sebelum gue sempat berdiri di panggung pertandingan!"

Bule tidak menjawab. Dia hanya merangkul pundak sahabatnya yang kini lemas, membiarkan sang ksatria jalanan itu menangisi kekalahannya di atas tanah yang gersang.

Sementara itu, di sebuah kafe langganannya yang berjarak beberapa kilometer dari sekolah, Steffi memilih jalan sunyi untuk merayakan kekosongannya. Dia hanya termenung di sudut meja dekat jendela, menatap cangkir kopi yang tak disentuhnya.

Air matanya telah habis. Segalanya telah tumpah tak tersisa di sepanjang perjalanan menuju tempat itu. Kini, yang tertinggal pada sosok gadis yang biasanya dipenuhi oleh binar pencitraan sosial media itu hanyalah sepasang mata yang hampa. Tatapan yang kosong, tanpa arti, tanpa ada cahaya yang mampu ditangkap oleh retinanya. Gelap.

Steffi tidak mengamuk seperti Devan, tidak pula menangis histeris seperti Enzo. Dia hanya duduk mematung di antara hiruk-pikuk pengunjung kafe, meresapi sebuah kenyataan pahit bahwa ruangan di dalam dadanya kini benar-benar hanya menyisakan kekosongan yang mutlak. Pendekatan persuasif dan diplomasi modern yang ia banggakan telah menguap, meninggalkannya sendirian di tengah labirin yang ia bangun sendiri.

Hari itu, Praja Pratama menyaksikan tiga penguasa koridor jatuh bersamaan. Di bawah langit kota kecil yang mendadak terasa teramat berat, mereka dipaksa menelan kenyataan bahwa dalam politik remaja yang mereka mainkan, titik buta telah berhasil merebut paksa seluruh kendali dari tangan mereka.

39: RETORIKA DUA KUTUB (POV Viola)

Malam itu, kota kecil ini dilingkupi oleh kabut tipis dan udara dingin yang menusuk tulang. Di dalam kamar kosku yang sunyi, lembar catatan wawancara berikutnya kubuka perlahan. Ini adalah babak di mana topeng-topeng persahabatan mulai retak, menyisakan reruntuhan dari sebuah kepercayaan yang dibangun selama bertahun-tahun.

Dari balik kabel telepon yang menghubungkan dua sudut kamar yang berbeda, kebenaran itu akhirnya menuntut untuk dikuliti.

Devan duduk di tepi ranjangnya yang berantakan, menempelkan ponsel erat-erat ke telinganya. Suaranya parau, menyisakan sisa-sisa amarah yang belum sepenuhnya mengendap setelah badai di warung Bu Lastri siang tadi. Di seberang garis sinyal, Rania mendengarkan dalam diam. Devan mulai bercerita tentang vonis mati dari ruang kesiswaan, tentang bagaimana faksi-faksi mereka digulung tanpa ampun dari papan permainan.

Devan juga menyampaikan satu kabar ganjil yang sengaja disisakan oleh pihak sekolah: besok pagi, panggung debat di aula tetap akan berdiri tegak. Sesi adu argumen itu tetap berjalan, namun dengan nama-nama kandidat darurat yang sepenuhnya baru. Pihak kesiswaan sengaja merahasikannya, membuat Devan, Enzo, dan Steffi meraba-raba di dalam kegelapan tanpa tahu siapa yang akan menggantikan posisi mereka.

Namun, Devan bukanlah remaja bodoh yang mudah dikelabui oleh kabut teka-teki. Logikanya menuntunnya pada satu nama yang sejak awal berdiri di area abu-abu.

"Besok... lo yang bakal berdiri di podium itu, kan, Ran?" tanya Devan, suaranya bergetar tipis, menuntut kepastian.

Rania menghela napas di seberang sana, sebuah desah pendek sebelum menjawab datar. "Iya."

Devan tidak terkejut. Kenyataan itu sudah ia duga sejak kakinya melangkah keluar dari ruang kepala sekolah. Namun, ada satu pertanyaan krusial yang paling ingin ia konfirmasikan malam ini. Sebuah pertanyaan yang akan menentukan ke mana arah rasa hormatnya menjelang hari esok.

"Dan lo... menerima tawaran itu?"

Jeda beberapa detik terasa laksana satu abad yang mencekam.

"Iya, Dev. Gue menerimanya," sahut Rania, dingin tanpa riak.

Di detik itu juga, dada Devan laksana dihantam oleh gada besi yang tak kasatmata. Hatinya hancur seketika, menyisakan serpihan-serpihan kekecewaan yang teramat perih. Pertanyaan berupa kenapa, kenapa, dan kenapa mendadak berputar-putar laksana badai topan di dalam kepala Devan. Pikirannya langsung melompat mundur, memutar kembali rekaman memori beberapa minggu lalu di warung Bu Lastri.

Ia teringat dengan jelas bagaimana firasat Bule kala itu—yang mencurigai keputusan mundurnya Rania dari bursa open recruitment OSIS sebagai sesuatu yang janggal dan penuh kepalsuan. Devan dulu menepisnya mati-matian demi membela Rania. Namun malam ini, ramalan Bule menjelma menjadi belati yang menusuk punggungnya sendiri.

Devan menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan sisa-sisa kewarasannya yang tersisa. "Apakah semua kekacauan ini... memang sudah lo rencanakan sejak awal, Ran?"

Rania bungkam. Keheningan yang panjang merayap di antara hantaran telepon mereka, menciptakan jarak yang mendadak terasa teramat jauh. Hingga akhirnya, dengan suara yang sedikit parau dan sarat akan beban rahasia, Sang Ratu mengakui segalanya.

"Iya."

"Kenapa, Ran?" tuntut Devan, setitik air mata kekecewaan meluncur di pipinya. "Kenapa lo tega lakuin ini?"

"Panjang ceritanya, Dev," bisik Rania, seolah enggan membuka kotak pandora yang ia simpan sendiri.

"Nggak apa-apa," potong Devan cepat, suaranya meninggi. "Gue sanggup dengerin seberapa panjang pun cerita lo malam ini."

"Nggak bisa, Dev. Maaf banget," Rania menyela, nadanya kembali mengeras laksana tembok benteng. "Gue tahu, mungkin semua langkah gue ini terlihat salah di mata lo. Mungkin ini terasa sangat jahat bagi lo. Tapi gue nggak punya pilihan lain, Dev. Gue juga nggak pernah mengira kalau situasi di koridor sekolah bakal se-chaos ini jadinya."

Sebuah senyum getir terukir di bibir Devan yang gemetar. "Jadi... selama ini gue cuma jadi umpan bagi lo?"

"Nggak gitu, Dev! Gue bisa jelasin semuanya ke lo, tapi nggak bisa sekarang. Gue... gue kudu nyiapin materi buat debat besok pagi," sahut Rania, mulai terdengar defensif.

"Ya, gitulah lo yang sebenarnya," Devan terkekeh, sebuah tawa kering yang hampa dan penuh dengan luka. "Lo yang tenggelam dalam ambisi pribadi lo sendiri. Seorang pecatur yang handal dalam merancang strategi dari balik layar, dan teramat berani mengorbankan bidak-bidaknya demi sebuah kemenangan mutlak. Dan malam ini gue sadar, Ran... kalau gue hanyalah salah satu dari bidak yang lo tumbalkan itu."

Kalimat Devan menggantung kaku di udara, menciptakan ketegangan yang pekat dan menyesakkan di antara keduanya. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hubungan mereka sejak duduk di bangku SMP, Devan—sang ksatria jalanan yang selalu setia berdiri sebagai perisai—berbalik menyerang Rania dengan kalimat paling telanjang.

Dan di tengah keheningan mencekam setelah kata-kata itu terlontar, Devan yang sedari dulu menyadari satu hal di sudut terdalam batinnya, kini makin mempertegas kesadaran itu. Perasaannya yang bertepuk tangan sebelah tangan sedari dulu—semua kepedulian yang tak pernah bersambut—bukanlah karena ada sosok laki-laki lain yang sedang singgah di dalam hati Rania. Melainkan, memang di dalam hati gadis itu tidak pernah ada tempat yang bernama laki-laki. Di hatinya hanya ada labirin ambisi yang tiada hujung, sebuah kastel dingin tanpa pintu masuk yang terus meluas tanpa batas.

Dan mulai detik ini, tepat di malam sunyi ini, Devan memutuskan untuk menyerah dan berhenti mencoba masuk ke sana.

Sambungan telepon itu terputus begitu saja, menyisakan nada sibuk yang monoton. Mereka tidak hanya menutup panggilan; malam itu, mereka resmi mengunci lembaran kepercayaan yang pernah mereka miliki.

Dari Perspektif 360 derajat yang kukumpulkan, malam itu Rania memenangkan bidak caturnya, namun harus dibayar teramat mahal dengan kehilangan satu-satunya manusia yang paling tulus menyayanginya di dunia.

BAB 40: PROMOSI PION (POV Viola)

Pagi itu, aula besar SMA Praja Pratama dipenuhi oleh atmosfer yang ganjil. Desas-desus, amarah, dan keterkejutan massal atas runtuhnya tiga faksi besar pada hari kemarin perlahan-lahan telah menguap ke udara, berganti menjadi sebuah penerimaan yang pasrah. Seluruh warga sekolah akhirnya menyadari bahwa keputusan ekstrem yang diambil oleh pihak kesiswaan adalah konsekuensi logis dari sebuah ambisi remaja yang telah melampaui batas kewajaran. Panggung kampanye yang kotor harus dibersihkan, dan pagi ini, sebuah lembaran baru dipaksa untuk dimulai.

Sebelum tirai debat darurat dibuka, Pak Rama berdiri di balik mikrofon podium utama. Dengan intonasi yang tertata, beliau menjelaskan segala pertimbangan kesiswaan dengan lugas tanpa bermaksud menghakimi. Ada nada kekecewaan yang tersamar dalam suaranya, sebuah duka seorang mentor yang harus menyaksikan anak-anak didiknya gugur sebelum bertanding. Penjelasan itu perlahan meredam riak-riak protes. Semua kepala mulai mengangguk memaklumi, termasuk para mantan kontestan dan barisan timses yang duduk di barisan belakang dengan gairah yang telah padam.

Namun, ketenangan itu hanyalah sebuah pengantar menuju misteri yang lebih besar. Sesi debat darurat akan segera dimulai. Murid-murid telah mengalkulasi di dalam kepala bahwa Rania Zahira Amala adalah kandidat utama yang akan menyelamatkan takhta OSIS yang kosong. Pertanyaan yang menjalar di antara barisan kursi adalah: Siapa yang cukup gila dan berani untuk berdiri di podium sebelah, menjadi penantang bagi Sang Queen?

"Kita sambut, kandidat pertama kita... Rania Zahira Amala!"

Begitu nama Rania menggema melalui pengeras suara, aula seketika pecah oleh gemuruh tepuk tangan dan sorak-sorai dukungan yang membubung tinggi. Rania melangkah anggun menaiki undakan panggung. Peringkat satu paralel, rekam jejak berkilau sebagai pengurus OSIS lama dengan kinerja paling presisi, serta plakat prestasi nasional dari Bali yang baru dibawanya kemarin adalah paket lengkap argumentasi yang tak terbantahkan. Dialah definisi dari kemurnian takhta. Dukungan mengalir padanya bagaikan air bah; semua orang mengira hari ini hanyalah panggung seremonial bagi pelantikannya.

Hingga tibalah saat di mana pembawa acara menarik napas dalam-dalam, membaca carik kertas di tangannya dengan jeda yang sengaja diulur.

"Dan... kandidat kedua kita, Indira Puspita Kirana!"

Detik itu juga, waktu seolah berhenti berputar di aula Praja Pratama. Ratusan pasang mata tercengang, saling melempar pandang dalam ketidakpercayaan yang absolut. Nama itu berdenging aneh di telinga mereka. Seorang siswi kelas sepuluh yang baru saja lolos dari lubang jarum open recruitment OSIS beberapa minggu lalu. Seorang anak baru dengan pengalaman yang masih hijau dan prestasi yang belum sempat dibicarakan orang.

Bisa apa dia? Siapa dia hingga berani menantang Rania? Bisikan-bisikan sinis bernada meremehkan mulai menjalar laksana jaring labi-labi di tiap kerumunan audiens.

Rania duduk dengan posisi punggung tegak yang sempurna, menatap podium di sebelahnya dengan senyum tipis yang sarat akan keangkuhan seorang jenderal. Namun, pemandangan berikutnya membuat senyum Rania perlahan membeku.

Indira melangkah naik tanpa ada satu pun keraguan di gurat wajahnya. Seutas senyum yang teramat tenang dan dingin tersungging di bibirnya, menyapu bersih tatapan audiens yang ternganga akibat keterkejutan. Saraf-saraf gadis kelas sepuluh itu tampak terbuat dari baja. Tidak ada gestur gemetar, tidak ada binar ketakutan. Indira sama sekali tidak merasa terintimidasi oleh nama besar Rania ataupun gemuruh skeptis seisi ruangan. Dia berdiri tegak, menyusun kertas-kertasnya dengan ketukan yang ritmis.

Sesi pemaparan visi dan misi dimulai. Pada paruh pertama, segalanya berjalan landai, formal, dan dipenuhi oleh retorika-retorika normatif. Rania membawa narasi stabilitas dan pemulihan nama baik institusi, sementara Indira menyodorkan gagasan tentang transparansi dan reformasi struktural yang segar.

Tensi mulai merayap naik ketika panelis utama—Pak Rama dan Pak Edo—mulai melemparkan pertanyaan-pertanyaan tajam. Di sinilah pernyataan provokatif dan sindiran implisit mulai dilemparkan ke udara. Panggung yang semula dingin mulai memanas, memicu adrenalin para audiens yang menyaksikan.

Namun, perang gagasan yang sesungguhnya baru benar-benar pecah ketika pembawa acara mengetukkan palu, menandai dimulainya sesi tanya jawab antar-kandidat. Di sinilah, di bawah sorot lampu aula yang benderang, sebuah kebenaran yang mengerikan mulai terkuak di depan mata Rania.

Indira telah bertransformasi sepenuhnya. Di mata Rania, gadis kecil yang beberapa hari lalu masih menjadi pion suruhannya, sleeper agent yang ia beri makan dengan rekam informasi untuk merusak faksi Enzo dari dalam, kini telah menjelma menjadi sosok yang sepenuhnya asing. Pion itu telah mencapai petak ujung papan catur. Dia telah melakukan promosi. Pertarungan yang semula diyakini Rania sebagai laga asimetris antara Queen vs Pion, kini disadarinya dengan rasa bergidik yang dingin di dalam dada: ini adalah pertarungan yang setara. Antara Queen vs Queen.

"Kak Rania selalu mengagungkan 'stabilitas' dan 'pengalaman' sebagai pilar utama untuk memulihkan OSIS," Indira membuka suaranya, memotong keheningan dengan intonasi yang teramat jernih dan tajam, tatapannya mengunci mata Rania tanpa berkedip. "Namun, mari kita jujur pada sejarah sekolah ini. Kacaunya kontestasi tiga paslon hingga berujung pada aib diskualifikasi massal, bukankah lahir dari sistem internal pengurus lama yang terlalu sibuk bermain di area abu-abu? Jika Kak Rania mengklaim diri sebagai bagian dari kinerja terbaik masa lalu, bukankah itu berarti Kak Rania adalah bagian dari kegagalan yang membiarkan pembusukan itu terjadi sejak awal?"

Rania tertegun sejenak, rahangnya mengetat. Pertanyaan Indira laksana anak panah yang melesat cepat, mengincar satu-satunya titik buta dalam narasi superioritasnya.

"Pengalaman bukan berarti tanpa cacat, Indira," balas Rania, suaranya beralih menajam, mencoba mereklamasi otoritasnya sebagai senior. "Stabilitas yang saya tawarkan adalah kepastian hukum. Sekolah ini sedang terluka akibat keliaran faksi-faksi baru yang tidak mengerti cara main berorganisasi. Memercayakan takhta pada seseorang yang bahkan belum genap satu semester mencicipi koridor Praja Pratama adalah sebuah perjudian yang tidak bertanggung jawab."

Indira tersenyum—sebuah senyuman yang teramat familier bagi Rania, karena itu adalah tiruan sempurna dari senyum taktis miliknya sendiri.

"Ini bukan perjudian, Kak. Ini adalah pembersihan," sahut Indira, suaranya bergema mantap melalui pelantang suara, menyentak kesadaran seluruh audiens di aula. "Keliaran faksi-faksi kemarin terjadi justru karena mereka meniru cara main bawah tanah yang diwariskan oleh para pendahulu mereka. Kita tidak butuh stabilitas semu yang menyembunyikan bangkai di balik tirai. Praja Pratama butuh sepasang mata baru yang tidak punya beban masa lalu, tidak punya utang budi pada faksi mana pun, dan berani berdiri telanjang di depan aturan. Jika pengalaman hanya digunakan untuk merancang strategi dari balik layar dan mengorbankan faksi lain demi ambisi pribadi... maka saya rasa, menjadi tidak berpengalaman adalah sebuah kehormatan."

BOOM.

Argumen Indira menghantam telak, meruntuhkan retorika stabilitas yang dibangun Rania dari halaman pertama. Rania terpaku di tempat duduknya, lidahnya mendadak kelu untuk sesaat. Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidupnya di Praja Pratama, Sang Ratu terdesak di sudut papannya sendiri oleh bidak yang lahir dari desain strateginya sendiri.

Di barisan kursi penonton, keheningan berganti menjadi gumam kekaguman yang riuh. Para audiens, panelis, bahkan Pak Edo dan Pak Rama mulai menarik sebuah kesimpulan yang mutlak di dalam kepala mereka. Penunjukan Indira oleh kesiswaan bukanlah sebuah kesalahan darurat yang asal-asalan. Itu adalah keputusan yang paling presisi. Gadis kelas sepuluh itu terbukti berdiri setara secara intelektual dan mental untuk menjatuhkan keangkuhan Rania.

Dukungan di dalam aula tidak lagi berisik oleh sorak-sorai buatan para timses yang dibayar oleh gimmick. Kini, di bawah langit-langit aula yang sakral, dukungan untuk Indira mulai mengalir secara organik, merayap dari satu barisan kursi ke barisan kursi yang lain, laksana sebuah proklamasi bahwa dinasti lama telah usai, dan seorang penguasa baru telah lahir dari rahim retakan Praja Pratama.

41: ANATOMI PENGKHIANATAN (POV Viola)

Gema riuh dari aula besar itu lambat laun menyusut, meninggalkan koridor Praja Pratama dalam pelukan sunyi sore yang dingin. Setelah genderang perang gagasan darurat diredam, dua sosok perempuan melangkah menjauh dari kerumunan, menembus lorong-lorong sepi menuju satu ruangan yang menjadi saksi bisu lahirnya setiap intrik di sekolah ini: ruang OSIS.

Di dalam ruangan yang temaram oleh sisa matahari senja, atmosfer mendadak berubah menjadi medan laga yang sepenuhnya baru. Tidak ada lagi pelantang suara. Tidak ada lagi panelis guru. Yang tersisa hanyalah dua pasang mata yang saling mengunci, melepaskan seluruh topeng formalitas.

Rania berdiri bersandar pada tepi meja rapat, melipat kedua tangannya di dada. Sosoknya masih tampak anggun, namun ada ketegangan yang tersembunyi di balik gurat rahangnya yang kaku. Dia menatap Indira, gadis kelas sepuluh yang berdiri beberapa langkah di depannya dengan ketenangan yang mengerikan.

"Kerja bagus, adek kelas," Rania membuka suara, sebuah senyum tipis yang sarat akan racun tersungging di sudut bibirnya. "Kamu ternyata belajar banyak dariku. Tapi ingat, mau bagaimanapun seorang selir berlagak seperti ratu, dia tidak akan pernah benar-benar mencapai takhta itu. Kecuali... kau sanggup menyingkirkannya dari kerajaan."

Indira tidak berkedip. Dia menerima sindiran halus itu dengan sebuah helaan napas pendek, lalu melangkah satu depat lebih dekat, menyilangkan tangannya dengan pembawaan yang tak kalah superior.

"Terima kasih, Kak Rania, atas pujiannya," sahut Indira, suaranya teramat jernih, memotong keheningan ruangan. "Bagiku, selir yang berlagak jadi ratu bukanlah hal yang buruk. Selama... dia menyadari bahwa ratu yang bertakhta saat ini bukanlah ratu yang bijak dan becus dalam mengurus istana di dalam kerajaan. Dan satu lagi, Kak... bukan tugas selir untuk menyingkirkan ratu saat ini. Itu semua adalah kewenangan rakyat. Dan biarlah rakyat yang memutuskannya melalui kotak suara besok pagi."

Kilat amarah menyala sekilas di mata Rania. Ucapan Indira adalah sebilah belati yang dengan teliti menguliti harga dirinya. Rania menegakkan tubuhnya, tatapannya beralih menajam, sedingin es.

"Sejak kapan seorang budak berhak berbicara atas nama rakyat di depan tuannya, Indira?" tanya Rania, suaranya beralih merendah, penuh dengan intimidasi yang pekat. "Kamu adalah orang suruhanku. Kamu adalah bidak yang aku beri makan dengan lembar informasi agar kamu bisa merayap di kubu Enzo. Masalah kamu menyetujui tawaran kesiswaan tadi malam, secara hukum itu memang hakmu sepenuhnya. Tapi maju menjadi penantangku tanpa adanya konfirmasi... bukankah itu adalah bentuk dari seekor budak yang melupakan siapa yang telah membesarkan namanya?"

Indira terkekeh pelan—sebuah tawa dingin yang hampa, persis seperti tawa taktis Rania saat meremehkan musuh-musuhnya.

"Tuan?" Indira mengulangi kata itu dengan penekanan yang sarat akan sarkasme. "Kak Rania lupa satu hal saat merekrut saya di awal semester. Kakak mengajarkan saya segalanya. Kakak mengajari saya cara membaca papan catur, cara menyusun kalkulasi, hingga cara memegang bidak dengan jemari yang dingin. Tapi, Kak..." Indira menjeda kalimatnya, menatap lurus ke dalam manik mata Rania tanpa ada secercah pun rasa takut. "... Kak Rania lupa mengajari saya apa itu kesetiaan. Bagaimana saya bisa setia pada seorang tuan, jika cara main yang Tuan ajarkan pada saya setiap hari adalah tentang bagaimana cara mengorbankan orang lain demi sebuah kemenangan pribadi?"

Rania terdiam seribu bahasa. Lidahnya mendadak kelu, terkunci oleh kebenaran dari kalimat hasil didikan tangannya sendiri.

Obrolan itu berakhir di sana, menggantung dalam sebuah keambiguan yang menyesakkan. Tanpa sepatah kata lagi, keduanya berbalik arah, memutuskan untuk keluar dari ruang OSIS yang kini terasa teramat sempit.

Namun, begitu pintu kayu itu didorong terbuka, langkah kaki Rania seketika membeku.

Di balik pilar koridor yang gelap, Devan berdiri mematung. Remaja itu rupanya telah berada di sana sejak awal, diam-diam menguping seluruh kebenaran yang baru saja saling menikam di dalam ruangan. Devan menatap Rania dengan sepasang mata yang lelah, sementara Indira memilih melangkah pergi melewati mereka tanpa suara, membiarkan kedua senior itu menyelesaikan urusan masa lalu mereka.

"Dev..." Rania berbisik, ada secercah kepanikan yang jarang terlihat di wajahnya.

Devan melangkah mendekat, mengikis jarak di antara mereka. Tidak ada lagi kemarahan meledak-ledak seperti di warung Bu Lastri kemarin. Yang tersisa di wajah Devan malam ini hanyalah sebuah ketenangan yang magis.

"Gue denger semuanya, Ran," ujar Devan, suaranya berat namun teramat lembut. Dia menatap Rania dalam-dalam, meresapi setiap gurat kecemasan di wajah gadis itu. "Malam ini, setelah semua kekacauan ini, gue akhirnya benar-benar menyadari satu hal. Gue memutuskan untuk berhenti mencoba masuk ke dalam labirin ambisi lo yang nggak ada ujungnya itu, Ran. Gue menyerah untuk mengejar cinta lo."

Rania menunduk, tidak sanggup membalas tatapan itu. Namun, kalimat Devan berikutnya justru membuat dadanya terasa sesak oleh keharuan yang ganjil.

"Tapi... ada satu janji yang pernah gue katakan sama lo dulu, jauh sebelum Pilketos berdarah ini dimulai. Dan gue akan menepati janji itu hari ini," Devan tersenyum tipis, sebuah senyuman tulus yang selalu menjadi perisai bagi Rania sejak SMP. "Gue pernah bilang, kan? Saat tiba harinya lo melakukan blunder terbesar dalam hidup lo, dan lo berada di ambang kejatuhan yang paling menyakitkan... Devan akan tetap berada di sini, di sebelah lo. Untuk bersama-sama mengurai blunder itu, sefatal dan sehancur apa pun kesalahan yang udah lo perbuat."

Air mata yang sejak kemarin ditahan Rania, malam itu jatuh setitik di atas lantai koridor. Di tengah pengkhianatan yang ia tuai dari Indira, Rania mendapati bahwa ksatria yang telah ia tumbalkan, rupanya adalah satu-satunya orang yang tidak pernah benar-benar melangkah pergi darinya.

Sementara itu, di dekat gerbang utama sekolah yang mulai remang oleh lampu jalan, Enzo sedang berdiri bersandar pada kap mobil sedan mewahnya. Kemeja necisnya tampak sedikit longgar, pembawaannya yang biasa parlente malam ini digantikan oleh guratan kecewa yang teramat dalam. Mata tajamnya langsung mengunci sosok Indira yang baru saja berjalan keluar melewati pos satpam.

Indira menghentikan langkahnya, menatap Enzo yang telah menunggunya di bawah temaram lampu jalan.

"Kak Enzo," sapa Indira formal.

"Gue kecewa sama lo, Ndira," Enzo membuka percakapan tanpa basa-basi, suaranya terdengar dingin dan bergetar oleh luka psikologis yang hebat. "Gue kecewa dengan keputusan lo yang tiba-tiba menerima pencalonan darurat itu. Bukankah selama ini lo adalah bagian dari timses gue? Kenapa sekarang lo justru berbalik menjadi kandidat sendiri tanpa pernah mengonfirmasikannya ke gue? Lo seolah-olah memanfaatkan momentum di atas kehancuran faksi gue demi keuntungan lo sendiri. Dan buat gue... itu sama sekali tidak empatik."

Enzo menarik napas dalam-dalam, menatap gadis kelas sepuluh itu dengan tatapan paling terluka yang pernah ia miliki sejak pindah dari Jakarta. "Terakhir... gue cuma mau nanya satu hal. Gimmick romansa taktis yang kita mainkan kemarin... itu benar-benar murni cuma gimmick ya ternyata? Kupikir... kupikir emang kamu beneran ada perasaan sama gue, Ndira. Ternyata kalkulasi politik lo jauh lebih jitu dari yang gue duga."

Indira terdiam sejenak, menatap Enzo dengan sepasang mata yang tak terbaca. Namun, dia tidak membiarkan dirinya tampak bersalah. Dengan pembawaan yang teramat diplomatik namun elegan, dia memberikan jawaban terakhirnya.

"Dalam politik koridor yang kita mainkan kemarin, Kak Enzo sendiri yang selalu bilang kalau setiap langkah harus memiliki fungsi efisiensi," ujar Indira, nadanya tenang tanpa riak emosi. "Penunjukan kesiswaan semalam adalah jalan darurat untuk menyelamatkan institusi, bukan taktik pribadi saya untuk menginjak faksi Kakak. Mengenai perasaan..." Indira menjeda, menatap Enzo dengan tatapan hormat yang dingin. "... terima kasih atas perlindungan Kak Enzo selama saya berada di Paslon 2. Tapi seperti yang Kakak ajarkan pada saya, di atas papan catur, perasaan adalah variabel pertama yang harus kita eliminasi jika kita ingin bertahan hidup."

Indira membungkukkan badannya sedikit sebagai tanda penghormatan terakhir, lalu berbalik melangkah menembus kegelapan malam, meninggalkan Enzo yang terpaku sendirian di sisi mobilnya.

Petang itu, di bawah langit Praja Pratama yang kian menjingga, Enzo benar-benar meresapi rasa perih dari sebuah pengkhianatan sejati. Dia, sang mastermind metropolitan, telah dikalahkan oleh rasa percayanya sendiri kepada seseorang yang ia kira adalah rumah, namun rupanya hanyalah senja yang singgah sebentar untuk merebut paksa seluruh cahayanya.

42: REKONSILIASI KELINGKING (POV Viola)

Satu tahun adalah waktu yang cukup panjang untuk menyapu debu-debu amarah di koridor Praja Pratama, namun terlampau pendek untuk menghapus bekas luka dari sebuah pengkhianatan.

Siang itu, matahari kota kecil ini bersinar terik, memantulkan bayangan lurus di atas tanah berdebu warung Bu Lastri. Tempat ini tidak banyak berubah. Aroma gorengan panas dan denting es teh manis masih sama, namun ada ruang kosong yang terasa ganjil. Alfiandra Herlambang—si Bule yang dulu selalu setia duduk di sebelah poros J.Rabbit—kini tidak lagi ada di sana. Dia telah lulus, melangkah menuju dunianya yang baru, meninggalkan warung ini dalam kendali penuh sahabatnya.

Aku duduk berhadapan dengan Devan, membuka buku catatan saku Jurnalistikku yang mulai menguning di beberapa sudut halaman.

"Jadi... dengan segala rentetan kekecewaan itu, lo tetap memutuskan untuk mendukung Rania? Lo bahkan mengerahkan seluruh sisa massa J.Rabbit untuk memenuhi kotak suara darurat keesokan paginya?" Tanyaku, menatap lurus sepasang mata Devan yang kini tampak jauh lebih dewasa, lebih tenang dari setahun lalu.

Devan menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kayu, memainkan korek apa Zipponya sambil menatap papan catur usang di sudut meja dengan senyum tipis yang hampa.

"Janji tetaplah janji, Ve," jawab Devan, suaranya berat namun terdengar sangat berdamai dengan masa lalu. "Sore itu, setelah gue ngeliat Rania konfrontasi langsung dengan Indira, gue tahu dia benar-benar kehilangan arah. Dia kelihatan rapuh banget, Ve. Sepanjang sejarah gue kenal dia sejak SMP, itu adalah pertama kalinya gue melihat pemandangan menyedihkan kayak gitu di wajahnya. Gue sadar dia egois, tapi melihat dia hancur sendirian di ambang kejatuhannya... gue nggak bisa tinggal diam."

"Oke," aku mengangguk, jemariku dengan lincah mencatat setiap getar intonasinya. "Gue mengerti esensi keputusan lo. Tapi, ada satu hal lagi yang ingin gue konfirmasikan, Dev. Lo tahu, kan? Abang lo, Hendra, sempat mengamuk di sekolah begitu tahu lo didiskualifikasi secara sepihak? Sebagai alumni yang punya pengaruh, dia bahkan mencoba menggerakkan jejaring alumninya untuk mengintervensi sekolah agar membatalkan keputusan Pak Rama."

Devan terkekeh pelan, sebuah tawa tulus yang tak lagi menyisakan amarah jalanan. "Jujur, waktu itu gue kaget setengah mati, Ve. Tumben-tumbenan si brengsek itu mau bela adiknya yang pemberontak ini. Walaupun... ya, intervensi itu pada akhirnya nggak ngaruh apa-apa bagi keputusan mutlak kesiswaan. Tapi minimal, setelah badai Pilketos itu lewat, hubungan gue sama abang gue kini jadi jauh lebih baik. Dia mulai melihat gue sebagai laki-laki yang punya prinsip, bukan cuma anak bawang yang hobi tawuran."

"Lalu... bagaimana dengan faksi yang lain?" Aku membalik lembar catatanku, menatapnya dengan tatapan investigatif yang lebih dalam. "Keluarga Enzo dan keluarga Steffi... lo juga tahu apa yang terjadi setelah hari pengumuman itu?"

Ekspresi Devan berubah sedikit serius, dia mengembuskan napas panjang. "Tahu. Itu bahkan jauh lebih ekstrem, kan? Bokapnya Enzo, si pengusaha properti tajir itu dan orang tua Steffi benar-benar menarik seluruh dana donatur mereka dari komite sekolah. Mereka keluar secara sepihak sebagai bentuk protes."

Devan menjeda kalimatnya, mengetuk-ngetuk jarinya di atas meja kayu. "Tapi menurut gue, itu wajar-wajar aja sebagai orang tua. Ada berkah tersembunyi di balik rusaknya hubungan mereka dengan pihak sekolah. Kejadian itu memukul ego orang tua mereka. Semoga saja... setelah peristiwa memalukan ini, hubungan Enzo dan Steffi dengan orang tua masing-masing bisa membaik. Biar orang tua mereka sadar, kalau gaya parenting mereka yang terlalu toxic dan menuntut kesempurnaan itu... justru berdampak pada anak-anaknya yang menghalalkan segala cara di sekolah."

Aku tersenyum, mengagumi bagaimana cara pandang Devan telah bertransformasi dari seorang ketua geng motor yang impulsif menjadi seorang pengamat yang bijaksana.

"Pertanyaan terakhir dari gue untuk lembar ini, Dev," aku menutup buku catatan sakuku dengan ketukan yang final, lalu menatapnya lekat-lekat. "Habis ini... lo mau ngapain lagi? Apa rencana lo untuk sisa masa SMA ini?"

Devan tidak langsung menjawab. Dia terdiam cukup lama, melemparkan pandangannya ke luar warung, menatap anak-anak kelas sepuluh yang sedang bercanda di bawah rindang pohon. Ada kilat ketegasan yang kembali menyala di dalam manik matanya.

"Hmmm... ya, gue bakal tetap berada di sini, Ve. Tetap memimpin J.Rabbit sebagai ketua sampai hari kelulusan gue tiba," ujar Devan, nadanya beralih mendingin, sarat akan otoritas yang mutlak. "Gue nggak bakal membiarkan si anjing itu mengacak-acak J.Rabbit lagi. Geng ini sudah gue bangun setengah mati bersama Bule dari nol. Untuk siapa ketua masa depan setelah gue lulus nanti... biar gue sendiri yang menentukan siapa yang paling layak memegang tongkat estafetnya."

Aku menaikkan satu alisku, menangkap satu frasa yang menarik di dalam kalimatnya. "Si anjing itu... maksud lo, Bentrok? Jadi lo juga sudah tahu kalau dalang di balik tersebarnya foto-foto anak J.Rabbit yang merokok pakai seragam di mading—yang memicu diskualifikasi lo—adalah ulah Bentrok sendiri?"

Devan mendengus, lalu tertawa lepas, sebuah tawa sarkasme yang mematikan.

"Taulah, Ve. Dipikir anak ingusan kayak dia bisa dengan mudah ngibulin gue?" Devan menggeleng-gelengkan kepalanya. "Dia itu ternyata sudah jadi kacung setianya Indira sejak mereka masih duduk di bangku SMP yang sama. Sialan, kalau dipikir-pikir... posisi Bentrok ke Indira itu... ternyata sama persis kayak posisi gue ke Rania dulu. Menyerahkan seluruh kesetiaan demi ambisi seorang perempuan." Devan terkekeh sedikit, meski ada sebersit kepahitan yang tersisa di sudut bibirnya.

"Bedanya," Devan menambahkan, menatapku dengan tatapan yang teramat tajam. "Gue melindungi Rania karena janji persahabatan. Sementara Bentrok... dia menghancurkan rumahnya sendiri hanya untuk menjadi anak tangga bagi promosi sang pion."

Siang itu, di bawah atap seng warung Bu Lastri yang mulai menghangat, aku menyadari satu hal dari Perspektif 360 derajatku. Devan tidak pernah kalah. Dia mungkin kehilangan takhta OSIS yang ia kejar, namun dalam laboratorium politik Praja Pratama ini, dialah karakter yang berhasil memenangkan kedewasaannya sendiri.

43: KOTAK SUARA (POV Viola) 

Pagi berikutnya, SMA Praja Pratama tidak lagi menyerupai sebuah institusi pendidikan. Ia telah menjelma menjadi sebuah koloseum. Di tengah lapangan upacara, bilik-bilik suara darurat telah didirikan sejak fajar belum sepenuhnya menyingsing, berjejer laksana nisan-nisan putih yang siap mengubur ambisi salah satu dari dua ratu yang bertarung.

Atmosfernya begitu pekat oleh kecemasan. Tidak ada lagi teriakan yel-yel teatrikal dari anak-anak J.Rabbit, tidak ada pawai baris-berbaris yang presisi dari Passus, dan tidak ada lagi selebaran digital yang memenuhi lini masa siber. Politik makro yang bising telah mati kemarin siang, digantikan oleh politik mikro yang sunyi—di mana setiap murid melangkah masuk ke dalam bilik dengan membawa rahasia mereka masing-masing.

Dari balkoni lantai dua gedung jurnalistik, aku menyaksikan pergerakan massa itu bergulir. Kotak-kotak suara transparan di tengah lapangan perlahan mulai terisi oleh carik kertas.

Mari kita jenguk poros pertama: pergerakan Devan.

Di sudut koridor dekat laboratorium, Devan berdiri tegak. Jaket denim J.Rabbit-nya kembali terpasang kokoh di badannya. Di belakangnya, sisa-sisa massa kelas sebelas dan dua belas berkumpul dalam kepatuhan yang mutlak. Devan tidak lagi memiliki takhta untuk dikejar, namun otoritas jalannya tidak berkurang sedikit pun. Sesuai dengan janji yang diucapkannya pada Rania di balik pilar koridor semalam, Devan menggerakkan seluruh pengaruhnya.

"Gue nggak peduli seberapa benci kalian sama apa yang terjadi kemarin," Devan berbisik, suaranya berat namun mengintimidasi, mengunci pandangan setiap anggota faksi J.Rabbit di depannya. "Hari ini, semua kertas suara dari J.Rabbit hanya punya satu tujuan: Rania Zahira Amala. Ini bukan soal OSIS. Ini soal nama baik faksi kita yang nggak boleh kelihatan pecah di depan anak-anak kelas sepuluh."

Massa Devan bergerak linear, memenuhi bilik suara dengan pilihan tunggal yang kaku. Devan telah menepati janjinya untuk menjadi perisai terakhir bagi Rania di ambang kejatuhannya.

Namun, di belahan lapangan yang lain, sebuah anomali besar sedang terjadi secara organik. Steffi berdiri di dekat mading, menyaksikan barisan siswi kelas sepuluh dan sebelas yang mengular panjang menuju bilik suara. Wajah Steffi masih tampak lelah, sisa-sisa kehancuran digitalnya kemarin belum sepenuhnya hilang, namun matanya merekam sebuah fenomena baru.

Massa yang selama ini berada di bawah kendali sibernya, kini bergerak tanpa perlu ia setir melalui algoritma. Mereka bergerak karena sebuah keresahan yang sama. Pidato Indira di panggung debat kemarin telah memicu sebuah kesadaran massal bahwa sekolah ini butuh sepasang mata baru yang tidak dinodai oleh dosa pengurus lama. Dukungan untuk Indira mengalir laksana air bah yang tenang namun mematikan, merayap dari satu barisan kelas ke barisan kelas yang lain.

Tepat pukul dua siang, palu penghitungan suara diketukkan oleh Pak Rama di aula. Ruangan itu penuh sesak, namun suasananya begitu senyap hingga derit kapur di atas papan tulis terdengar laksana sebuah siksaan yang lambat.

Rania duduk di barisan depan sebelah kanan, mengenakan almamater OSIS-nya yang terlampau rapi. Wajahnya dingin, laksana patung marmer yang tak terjamah oleh emosi. Di sebelah kiri, Indira duduk dengan melipat kedua tangan di dada, seulas senyum tenang yang tak terbaca tetap setenang air telaga di wajahnya.

"Rania... Rania... Indira... Indira... Rania... Indira... Indira..."

Petugas pembaca suara menyebutkan nama demi nama yang ditarik dari dalam kotak transparan. Pada seratus suara pertama, Rania memimpin telak berkat mobilisasi massa J.Rabbit yang digerakkan Devan. Senyum superior sempat kembali menghiasi wajah beberapa pengurus OSIS lama yang duduk di belakang Rania. Mereka mengira dinasti mereka akan tetap aman.

Namun, begitu kotak suara dari blok kelas sepuluh dan faksi netral mulai dibuka, arah angin mendadak berbalik dengan kejam.

"Indira... Indira... Indira... Indira..."

Nama gadis kelas sepuluh itu menggema berulang-kali tanpa jeda, laksana rentetan tembakan yang meruntuhkan dinding pertahanan Rania satu per satu. Garis turus di bawah nama Indira di papan tulis melesat cepat, melampaui angka milik Rania dengan selisih yang kian melebar di setiap detiknya.

Aku menatap Rania dari sudut ruangan. Untuk pertama kalinya dalam sejarah, aku melihat gurat kepanikan yang nyata merayap di sudut mata Sang Ratu. Jemarinya yang bertaut di atas pangkuan mulai meremas kain roknya dengan erat. Titik butanya telah pecah berkeping-keping. Kalkulasinya yang mengira seisi sekolah akan selalu tunduk pada pesona prestasi nasional dan senioritasnya, runtuh seketika di hadapan realitas kotak suara.

"Dengan total perolehan suara lima ratus empat quarto dua melawan empat ratus delapan belas... pemungutan suara darurat ini resmi dimenangkan oleh... Indira Kirana!"

TOK! TOK! TOK!

Palu Pak Rama diketukkan tiga kali. Aula seketika senyap untuk satu sekon penuh, sebelum akhirnya meledak oleh gemuruh tepuk tangan yang membubung tinggi dari barisan kelas sepuluh.

Dunia di sekitar Rania seolah mendadak kehilangan suaranya. Takhta yang ia incar sejak hari pertamanya menginjakkan kaki di Praja Pratama, takhta yang ia rancang dengan mengorbankan Devan, Enzo, dan Steffi dari balik layar, kini resmi terlepas dari jemarinya.

Namun, Rania Zahira Amala menolak untuk terlihat menyedihkan.

Dengan langkah gontai yang sengaja ia rekayasa sedemikian rupa agar tetap terlihat seanggun dan setegar mungkin, Rania bangkit dari kursinya. Dia berjalan membelah tatapan ratusan pasang mata, menghampiri podium tempat Indira berdiri. Di sana, di bawah sorot lampu yang kini memuja sang pemenang, Rania melemparkan sebuah senyuman taktis—sebuah topeng sempurna yang mati-matian ia pasang untuk menutupi tangis yang nyaris pecah di balik dadanya.

Rania mengulurkan tangan kanannya dengan kokoh. "Selamat," bisiknya, tipis namun terdengar jelas.

Indira menatap uluran tangan itu, lalu menyambut jabat tangan sang mantan mentor dengan ketukan jari yang sama dinginnya. "Terima kasih, Kak Rania," sahut Indira, sebuah jawaban normatif yang diucapkan tanpa riak emosi berlebih.

Cengkeraman tangan itu terlepas. Rania segera berbalik, memutar tubuhnya untuk lekas berlalu meninggalkan panggung, mencoba menjauh dari presensi Indira sebelum pertahanannya benar-benar runtuh. Namun, baru beberapa langkah tubuh anggun itu menjauh, Indira mendadak menoleh. Suara jernih sang pion darurat kembali memanggilnya di depan publik.

"Kak Rania..." panggil Indira, membuat langkah Rania terhenti kaku. Indira menatap punggung seniornya dengan binar mata yang seolah menawarkan perdamaian. "Apa yang telah terjadi di antara kita beberapa hari ini, mohon jangan dibawa ke ranah personal ya, Kak? Mari bersama-sama kita bangun OSIS ini untuk menjadi lebih baik ke depannya."

Rania terdiam sejenak. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu menolehkan kepalanya perlahan. Seutas senyum tipis kembali muncul di wajah cantiknya—sebuah senyuman yang teramat indah, namun laksana mawar yang dipenuhi duri beracun.

"Tidak, Queen," sahut Rania, suaranya mengalun tenang namun sarat akan sarkasme yang menusuk hingga ke tulang. "Lo sendiri sudah lebih dari cukup untuk tempat ini. Gue adalah produk gagal dari dinasti masa lalu. Jadi, jangan pernah nodai semangat pembaruan yang lo agungkan itu... dengan kehadiran gue di dalam kepengurusan lo."

Ucapan itu terdengar begitu puitis di telinga orang-orang yang mendengarnya, namun dari Perspektif 360 derajatku, aku tahu Rania sedang melayangkan tamparan terakhirnya. Kalimat itu adalah sebuah proklamasi harga diri yang mutlak. Melalui kata-kata itu, Rania seolah sedang menegaskan kepada seisi aula: Iya, hari ini aku kalah. Takhtaku direbut. Tapi aku terlampau mahal, dan aku tidak akan pernah sudi merendahkan diriku untuk menjadi kacung di bawah kaki rezim barumu.

Rania melanjutkan langkah kakinya keluar menembus pintu aula yang terbuka lebar, meninggalkan sang Queen baru yang terpaku di atas podiumnya.

Sore itu, di bawah langit Praja Pratama yang kian meredup, Sang Ratu telah jatuh dengan kepala yang tetap mendongak lurus ke depan.

44: RETORIKA DARI KANTIN SEPI (POV Viola)

"Gue... gue kalah, Ve. Ya, gue kalah."

Aku tidak langsung merespons ucapan terakhir Rania Zahira Amala. Keheningan beberapa detik mendadak menyelimuti sudut kantin sekolah yang sudah sepi ini, di jam-jam rawan pasca-bel pulang sekolah berbunyi. Angin sore berembus pelan, menerbangkan selembar daun kering di atas meja kayu. Meskipun peristiwa Pilketos berdarah itu sudah berlalu satu tahun penuh, aku masih bisa merasakan dengan sangat nyata bagaimana getar pukulan telak itu menghantam ulu hati perempuan di depanku.

Aku memperbaiki posisi dudukku, menatap matanya yang kini tak lagi menyimpan kabut keangkuhan. "Kekalahan lo tidak berarti banyak bagi orang-orang yang mengagumi lo, Ran. Di mata mereka, lo tetaplah ratu yang memegang takhta tak kasat mata di Praja Pratama."

Rania terkekeh pelan, sebuah tawa pendek yang terdengar sangat renyah namun getir. "Haha, makasih atas upaya menghiburnya, Ve. Tapi kalah tetaplah kalah. Dan ratu itu... sudah lama kehilangan mahkotanya."

Aku masih diam mematung, menahan diri untuk tidak memotong, menunggu apakah masih ada serpihan kejujuran yang ingin dia muntahkan dari dalam dadanya.

"Tapi, ya sudahlah. Yang berlalu biarlah berlalu," Rania mengibas-ngibaskan tangannya di udara, mencoba mencairkan atmosfer yang sempat membeku laksana es. "Jujur, sebenarnya gue udah mulai berdamai dengan kenyataan. Tapi gara-gara lo wawancara hari ini, rasa sakit hati itu kayak ditarik keluar lagi, kan. Sialan lo, Ve."

Aku tertawa kecil, ikut meredakan ketegangan. "Hehe, ya habisnya gimana, Ran. Namanya juga naluri anak Jurnalistik, kan? Aura investigasi untuk menguak fakta di kepala gue tuh terlalu kuat. Sekalian... gue mau meluruskan kasak-kusuk yang sampai hari ini masih sering beredar di obrolan anak-anak."

"Ya, ya. It’s okay. Gue santai kok," jawab Rania sambil meraih segelas es teh cekek yang sempat dia acuhkan begitu saja saat perasaannya terbawa arus memori tadi. Dia menyeruputnya pelan, mengembalikan rona tenang di wajahnya.

"Oke, kita lanjut," aku kembali membuka lembar catatan Jurnalistikku. "Setelah pengumuman hasil pemungutan suara hari itu... apa yang lo lakukan, Ran?"

Rania mendongak, matanya menerawang ke langit-langit kantin, mencoba memanggil kembali ingatan setahun lalu. "Hmmm, bentar. Oh, ya. Begitu sekolah mulai sepi dan anak-anak kelas sepuluh selesai merayakan kemenangan Indira, gue memutuskan untuk menemui Pak Rama di gudang laboratorium komputer tiga. Gue tahu betul kebiasaan beliau. Kalau beliau lagi suntuk dan butuh menyendiri karena tekanan kesiswaan, beliau pasti bakal mengasingkan diri ke ruangan itu. Dan tebakan gue bener."

"Terus... lo ngobrol apa saja sama beliau di ruangan sesunyi itu?" tuntutku, kian penasaran.

"Gue bilang... gue minta maaf," Rania menjeda kalimatnya, tatapannya beralih menatap cairan teh yang mengembun di di plastik. "Gue minta maaf karena udah mengecewakan beliau. Gue udah membuat onar satu sekolahan gara-gara rencana besar gue yang gagal total di tikungan akhir. Gue sempat berandai-andai di depan beliau, Ve. Coba saja kalau sejak awal gue langsung maju mencalonkan diri jadi Ketua OSIS secara legal, pasti konspirasi koridor ini nggak akan se-chaos ini jadinya. Untuk pertama kalinya dalam hidup gue, Ve... Plan A maupun Plan B yang gue rancang dari atas helikopter gagal semua. Kegagalan mutlak itu... benar-benar menampar ego gue keras banget."

"Oke. Terus, respons Pak Rama bagaimana?"

"Beliau memaafkan gue, Ve. Sekaligus... beliau juga meminta maaf balik ke gue. Beliau merasa gagal membimbing gue—yang notabene mungkin selama ini jadi murid kesayangannya beliau ya, hehe—untuk berdiri di puncak takhta tertinggi sekolah." Rania mengambil jeda beberapa saat, menarik napas dalam sebelum melanjutkan. "Ada banyak hal yang kami sayangkan dari malam itu. Banyak sekali kata 'andai' yang meluncur di antara kami. 'Coba aja gini ya, Ran... Coba aja gitu ya, Pak...' Obrolan melingkar itu terus berulang di dalam lab komputer yang dingin, sampai akhirnya berakhir sendiri ketika kami berdua mencoba melapangkan hati untuk menerima takdir masing-masing."

Aku mangut-mangut, mencatat poin penting itu dengan saksama. "Hmmm... hubungan lo sama Pak Rama terasa sangat personal ya, Ran. Bisa dibilang... melompat jauh lebih dalam dari sekadar relasi antara guru dan murid biasa."

"Ya, bisa dibilang kayak gitu," Rania tersenyum tulus, sebuah ekspresi yang sangat langka dari sosoknya. "Beliau adalah mentor terbaik gue selama ini di bidang sastra. Perpaduan antara guru, rekan diskusi, dan... sosok ayah, mungkin. Lo tahu sendiri, kan, Ve? Gue udah kehilangan sosok figur ayah sejak gue masih kecil."

Aku mengangguk pelan, memahami ada ruang kosong di hati Rania yang selama ini coba dia isi dengan pencapaian dan ambisi.

"Hmmm, iya sih. Gue paham," aku menutup halaman tengah carik kertasku, lalu menatapnya dengan binar paling serius yang kupunya. "Pertanyaan terakhir untuk sesi sore ini, Ran. Apa alasan lo yang sebenarnya... sampai rela keluar dari bursa open recruitment seleksi OSIS di awal semester?"

Rania menaikkan sebelah alisnya, ada kilat jenaka yang mendadak muncul di matanya. "Mau jawab jujur apa enggak nih?" godanya.

"Jujur dong, Rania Zahira!" tuntutku setengah memaksa.

"Tapi janji ya, habis ini beliin gue batagor di depan gerbang sekolah. Laper banget nih gue dari tadi diwawancara mulu laksana tersangka, hahaha!" Rania tertawa lepas.

"Siap! Aman, Sis. Batagor dua porsi pakai bumbu kacang yang banyak bakal langsung meluncur," sahutku menyanggupi.

Rania menghentikan tawanya. Dia menegakkan posisi duduknya, menatapku dengan tatapan paling telanjang yang pernah dia miliki sepanjang sejarah perkenalan kami.

"Oke. Jawaban jujurnya... karena gue oportunis. Jahat ya kesannya? Tapi gue akui sekarang, apa yang udah gue lakukan dengan memanfaatkan kontestasi dan celah dari ketiga Paslon kemarin... itu teramat sangat jahat. Jujur, Ve... gue sedih banget, bahkan hati gue hancur berkeping-keping saat Devan bilang dia kecewa sama gue malam itu di koridor. Hatiku patah atas kesalahan yang gue ciptakan dengan tangan gue sendiri. Dan memang sudah sepantasnya kejahatan egois itu mendapatkan balasan yang setimpal."

Rania mengembuskan napas pendek, melepaskan sisa beban yang menggelayuti pundaknya. "Gue kalah karena gue terlalu buta dengan ambisi pribadi. Gue serakah, Ve. Gue mencoba mendapatkan keduanya sekaligus—menjadi juara FLS3N tingkat nasional di Bali, sekaligus memenangkan Pilketos Praja Pratama lewat jalur darurat. Tapi faktanya? Tuhan menampar gue dengan membuat gue kehilangan keduanya sekaligus. Hmmm... tapi ya mau bagaimana lagi. Nasi udah terlanjur menjadi bubur. Penyesalan terbaik yang bisa kita lakukan sekarang cuma mencoba memperbaiki apa yang masih bisa diperbaiki di sisa hari."

Rania tersenyum lembut, lalu mengucapkan kalimat penutup yang membuat pena di jemariku seketika berhenti bergerak karena terkejut.

"Seperti yang pernah dikatakan Devan ke gue malam itu... 'Blunder sefatal apa pun, tetap harus kita urai bersama, walaupun pada akhirnya tetap harus berakhir dengan kekalahan.' Menurut gue, itulah esensi sejati dari seorang pecatur sejati. Hahaha."

Obrolan sore itu pun berakhir dengan sebuah konklusi yang menggantung indah di udara kantin yang mulai menggelap. Di lembar catatanku, aku menuliskan satu catatan kaki penting dengan tinta tebal: Sore ini, untuk pertama kalinya dalam sejarah, Rania mengutip perkataan Devan dengan bangga—sebuah kalimat filosofis jalanan yang di masa lalu pasti akan selalu dia sangkal habis-habisan karena egonya.

45: KONSOLIDASI DI BALIK TIRAI (POV Viola)

Seminggu setelah hari pencoblosan yang memakan korban itu, pelantikan pengurus OSIS yang baru akhirnya dilaksanakan. Pagi itu, lapangan upacara SMA Praja Pratama dilingkupi angin Senin yang bertiup lebih kencang dari biasanya. Di bawah kibaran bendera merah putih yang tiang bajanya memantulkan terik matahari, sebuah anomali sejarah sedang dipertontonkan ke hadapan publik.

Tidak ada lagi nama-nama tenar dari barisan kelas sebelas yang berdiri di barisan depan. Di atas karpet merah, seluruh jajaran pengurus baru justru diisi oleh muka-muka asing yang masih hijau dari kelas sepuluh. Pihak kesiswaan benar-benar melakukan sebuah langkah radikal yang teramat berani: memotong generasi kepemimpinan OSIS satu angkatan penuh.

Indira Kirana berdiri di titik poros, mengenakan jas merah marun lambang kekuasaan tertinggi, didampingi oleh seorang murid laki-laki kelas sepuluh yang dikenal cukup pintar sebagai wakilnya. Prosesi pembacaan sumpah jabatan itu berjalan dengan teramat khidmat. Di mata ratusan murid yang menonton, riak-riak intrik, air mata kekecewaan, dan konspirasi koridor yang pecah seminggu lalu seolah-olah telah sirna tanpa bekas, terkubur di bawah derap langkah tegap pasukan pengibar bendera.

Namun, dari balik lensa kamera jurnalistikku, aku tahu segalanya hanyalah fatamorgana di permukaan. Faktanya, rasa dendam, luka yang belum kering, dan bara api persaingan masih menggelayuti benak satu sama lain. Dan semua orang di sekolah ini menyadari hal itu. Indira melenggang ke puncak tertinggi dengan menyisakan polarisasi yang teramat tajam. Sebuah keterbelahan massa yang apabila tidak segera dikonsolidasi dengan kepala dingin, cepat atau lambat akan menjelma menjadi bom waktu yang siap meledakkan dirinya sendiri beserta seluruh kepengurusan OSIS yang baru.

Pak Rama, sebagai arsitek di balik layar dari seluruh keputusan darurat ini, menyadari bahaya laten tersebut. Beliau bergerak taktis. Tepat setelah bubaran upacara, sebuah undangan rahasia disebarkan. Beliau mengajak para mantan Paslon—Devan, Bagas, Enzo, Najib, Steffi—dan tentu saja, Rania, untuk berkumpul di dalam sebuah ruang rapat kesiswaan yang tertutup rapat.

Atmosfer di dalam ruangan itu begitu pekat dan kaku. Mereka duduk melingkar, saling menjaga jarak aman lewat tatapan mata yang tak lagi sekasar dulu, namun masih menyimpan gurat kecurigaan.

"Bagaimana, Teman-teman semua?" Pak Rama membuka suara setelah beberapa menit mencairkan suasana dengan basa-basi formalitas. Beliau menatap anak-anak didiknya satu per satu, mengunci pandangan mereka tepat pada manik mata. "Apakah... masih ada hal yang mengganjal di hati kalian semua atas keputusan ekstrem yang diambil oleh kesiswaan?"

Keheningan yang mencekam langsung menyergap ruangan. Tidak ada satu pun yang berkomentar. Semua orang memilih menunduk atau menatap dinding kosong, mengunci rapat-rapat isi kepala mereka.

"Halo? Saya dicuekin nih?" Pak Rama menghela napas panjang, mencoba tersenyum tipis untuk meruntuhkan dinding es di antara mereka. "Baik, begini. Saya tahu betul bahwa keputusan kesiswaan seminggu lalu terasa sangat tidak adil bagi kalian. Saya paham sedalam apa rasa sakit yang kalian tanggung. Perjuangan panjang berbulan-bulan, tenaga, materi, dan air mata yang kalian korbankan, ternyata harus berakhir tragis di tangan selembar surat diskualifikasi."

Pak Rama menjeda kalimatnya, suaranya beralih merendah, sarat akan beban moral seorang guru. "Namun, kami dari pihak sekolah pun tidak punya pilihan lain saat itu. Ini adalah jalan terbaik dari skenario terburuk yang bisa kami ambil untuk segera menghentikan konflik berkepanjangan yang sudah melampaui batas kewajaran. Nama baik sekolah ini adalah hal pertama yang harus diperjuangkan, di atas ambisi siapa pun. Sayangnya... dengan hati yang teramat bersedih, sekolah harus mengorbankan kalian. Dan saya, mewakili seluruh tim kesiswaan, memohon maaf yang sebesar-besarnya... jika keputusan kami telah menyakiti hati kalian semua."

Pak Rama menundukkan kepalanya dalam-dalam, sebuah gestur ketulusan yang teramat lama dari seorang guru yang bersedia merendahkan egonya di depan murid-muridnya.

"Pak Rama tidak salah, Pak. Kami memang yang sudah keterlaluan waktu itu," Bagas membuka suara terlebih dahulu, memecah kesunyian dengan kejujuran khasnya.

"Maafkan kami juga ya, Pak," disusul oleh Steffi, suaranya parau, ada binar penyesalan yang tulus di matanya.

Yang lain tetap diam, namun kepala mereka mulai mengangguk pelan, menyetujui ucapan Steffi. Beban berat di pundak Pak Rama seolah terangkat sedikit demi sedikit melihat respons itu.

"Baik. Terima kasih atas kelapangan hati kalian," Pak Rama menegakkan tubuhnya, matanya berkaca-kaca. "Saya mengakui, dan selamanya akan tetap saya akui, bahwa kalian yang ada di dalam ruangan ini adalah murid-murid terbaik yang pernah dimiliki SMA Praja Pratama, meskipun kalian pernah berbuat salah. Harapan saya, di pertemuan tertutup ini, kita bisa saling memaafkan, saling memahami, dan membiarkan yang berlalu menjadi pembelajaran besar bersama."

"Saya bisa saling bermaaf-maafan dengan semua orang yang ada di dalam ruangan ini, Pak," potong Enzo tiba-tiba. Kalimatnya tajam laksana silet, memotong ritme kedamaian yang baru saja terbangun. Enzo menegakkan punggungnya, menatap Pak Rama dengan sepasang mata yang masih menyala oleh sisa sakit hati atas pengkhianatan malam itu. "Tapi, Pak... bagaimana dengan Indira? Apakah Bapak tidak tahu fakta-fakta terbaru bahwa seluruh kekacauan internal faksi-faksi kami... juga merupakan bagian dari skenario dan ulahnya sejak awal?"

Pak Rama terdiam seribu bahasa. Ketukan jari beliau di atas meja terhenti. Apa yang dikatakan Enzo adalah sebuah kebenaran yang mutlak. Faktanya memang demikian; Indira bukanlah kertas putih tanpa dosa di akhir laga ini.

"Nggak bakal ada habisnya, Zo," Devan menyela, suaranya terdengar sangat tenang, sebuah pembawaan baru yang ia dapatkan setelah malam badai di koridor. Dia melirik Enzo dengan senyum tipis. "Semua orang di ruangan ini memiliki porsi rasa sakit yang sama. Dikibulin sama bocil kelas sepuluh. Ya... kamunya aja, atau kitanya aja yang emang terlalu bodoh kali ya, sampai bisa kena skakmat kayak gitu."

"Atau mungkin... kitanya yang terlalu sombong, Dev, sampai tidak pernah memperhitungkan manuver adik kelas sendiri. Hahaha," Rania menimpali dengan sebuah tawa renyah yang kasual, sebuah upaya cerdas dari Sang Ratu untuk mencairkan ketegangan yang sempat merayap naik.

"Bisa jadi," Devan terkekeh, mengangguk setuju pada kalimat Rania. "Toh pelantikan sudah dilaksanakan secara sah pagi ini. Biarlah ini semua menjadi pembelajaran tamparan buat kita semua. Sisanya... biar menjadi tugas berat Pak Rama untuk mengawasi bagaimana Indira memimpin ke depannya. Segala hasil yang diraih dengan cara yang kotor... biasanya akan berakhir dengan kotor pula. Biar waktu yang menjawab semuanya."

Steffi menoleh ke arah Devan, mengerutkan keningnya sebelum melayangkan senyum menggoda. "Tumben sekarang lo bisa sebijak ini, Dev? Kesambet apa lo?"

"Hahaha! Semenjak sering bareng gue, makanya dia ketularan bijak, Stef. Udah gue tatar pakai nilai-nilai dasa dharma pramuka!" Bagas menyenggol bahu Devan dengan sikutnya, memicu tawa yang langsung pecah di antara mereka.

Gelak tawa itu meruntuhkan sisa-sisa dinding pembatas terakhir yang ada di dalam ruangan. Atmosfer kaku laksana medan perang itu kini mencair sepenuhnya, berubah menjadi ruang kedewasaan yang hangat.

"Baiklah," Enzo mengembuskan napas panjang, senyum pasrah akhirnya terukir di wajah parlentenya. "Gue mengikuti keputusan forum saja malam ini. Saya hanya ingin menyampaikan apa yang selama seminggu ini masih mengganjal di dada saya, Pak."

"Baik, Enzo. Terima kasih banyak sudah mau jujur," sahut Pak Rama, mengangguk hormat. "Intinya kita di sini mencari solusi, mencoba memperbaiki dan mengurai benang kusut ini bersama-sama. Jika masih ada yang mengganjal, silakan disampaikan sekarang. Ada lagi selain Enzo?"

Najib, yang sejak awal duduk dengan tenang di sudut meja, membetulkan letak kacamatanya sebelum memberikan konklusi yang teramat puitis. "Sepertinya sudah cukup, Pak. Selama ini kita saling menyakiti satu sama lain hanya karena kita tidak pernah mau duduk bersama untuk saling memahami. Perspektif kita terlalu egois dan berbeda. Dan sore ini... inilah fungsi sejati dari sebuah tabayun."

Setelah kalimat Najib membungkus ruangan, momen berikutnya berubah menjadi sebuah panggung pengakuan dosa yang teramat melegakan. Satu per satu, mulai dari faksi Devan, Enzo, hingga Steffi dan Rania, mulai membongkar dengan jujur apa saja manuver bawah tanah yang pernah mereka lepaskan untuk saling menjatuhkan di masa lalu. Tidak ada lagi amarah yang meledak; setiap intrik justru disambut dengan senyum getir dan anggukan kepala yang saling memaklumi. Pertemuan sore itu ditutup dengan jabat tangan erat dan pelukan hangat—sebuah rekonsiliasi tulus yang akhirnya menyembuhkan luka Praja Pratama.

Dari Perspektif 360 derajat yang kukumpulkan, sore itu di balik pintu kesiswaan yang tertutup, faksi-faksi besar itu memang kehilangan takhta emas OSIS. Namun, di dalam ruangan yang temaram itu, mereka baru saja memenangkan sesuatu yang jauh lebih mahal: kedewasaan untuk saling memaafkan dan berdamai dengan kekalahan.

46: RESONANSI DARI RUANG KEDAP (POV Viola)

Denting dawai gitar akustik bergema lambat, memantul di antara dinding-dinding berperedam ruang musik yang sepi. Di luar, matahari sore mulai meredup, namun di dalam ruangan ini, waktu seolah berjalan lebih lambat. Enzo Lucian Adiwangsa duduk di atas bangku tinggi, menunduk menatap jemarinya yang dengan lihai memetik sebaris akor minor yang terdengar teramat melankolis.

Satu tahun telah berlalu sejak badai Pilketos itu merubuhkan dinasti lama, namun di antara semua faksi yang bertarung, aku tahu pria necis di depanku ini adalah yang paling lambat dalam menyembuhkan lukanya.

Aku menutup lembar pertanyaan di pangkuanku, menatapnya lekat-lekat dari balik lensa kacamata jurnalistikku.

"Jadi kesimpulan gue... sampai detik ini lo belum bisa benar-benar memaafkan Indira, Zo?" Tanyaku, memecah kesunyian yang sempat merayap di antara kami.

Enzo tidak langsung menjawab. Jemarinya masih sibuk memetik gitar, menghasilkan melodi sunyi yang seolah mewakili isi kepalanya yang rumit. Dia menghentikan petikannya perlahan, membiarkan gema suara senar memudar, lalu mengembuskan napas panjang.

"Terlalu menyakitkan, Viola," sahutnya, suaranya berat dan terdengar begitu lelah.

"Panggil gue Ve aja," potongku pelan, mencoba meruntuhkan jarak formalitas di antara kami.

Enzo tersenyum tipis, sebuah senyuman getir yang tak sampai ke mata. "Ya... terlalu menyakitkan, Ve. Melupakan sebuah pengkhianatan dari orang yang sempat lo beri kepercayaan penuh... adalah bagian paling sulit dalam hidup gue."

"Hmmm, tapi bukankah Devan dan Rania juga mengalami nasib yang sama dengan lo?" Aku mencondongkan tubuh ke depan, mencecarnya dengan sudut pandang komparatif. "Devan dikhianati oleh Bentrok karena Indira, dan Rania dikhianati langsung oleh Indira yang notabene adalah anak didiknya sendiri. Tapi setahun ini, mereka berdua perlahan bisa membuka hati untuk memaafkan. Kenapa lo enggak?"

Enzo meletakkan gitarnya di samping kursi, lalu menatapku dengan sorot mata yang tajam namun terluka. "Ya, bener kata lo. Gue akui, mental Devan dan Rania itu keren banget. Mereka punya kapasitas kelapangan hati yang belum tentu dimiliki orang lain."

"Terus, apa alasan utama lo belum bisa memaafkan, selain karena sulit melupakan pengkhianatan itu?" tanyaku lagi, naluri investigasiku menuntut sebuah jawaban yang lebih dalam.

Enzo terdiam sejenak. Dia menyandarkan punggungnya ke dinding, menatap langit-langit ruang musik sebelum melemparkan sebuah bom informasi baru yang membuat penaku seketika siaga.

"Hmmm, lo tahu enggak, Ve? Orion... sebenarnya juga suka sama Indira?"

Aku tertegun, menaikkan sebelah alis. "Hmmm, gue pernah dengar kasak-kusuknya sih. Terus, apa hubungannya sama rasa sakit hati lo?"

"Jadi gini," Enzo memperbaiki posisi duduknya, gurat amarah samar kembali muncul di wajah parlentenya. "Sebulan atau dua bulan setelah pelantikan selesai, beberapa fakta bawah tanah mulai terkuak secara organik di sekolah. Salah satunya adalah fakta bahwa Bentrok ternyata memang sudah lama kongkalikong sama Indira di belakang kami semua. Begitu Orion tahu kalau Indira memanfaatkan situasi dan bermain di belakang, Orion ngamuk. Terjadilah perkelahian hebat antara Orion dan Bentrok di belakang aula yang berujung bikin Orion kena skorsing panjang dari sekolah."

Enzo mengepalkan tangannya di atas lutut. "Bayangin, Ve... gimana nggak hancur perasaan gue sebagai sahabatnya Orion? Gue harus melihat dia makin terpuruk dan kena getahnya hanya karena permainan kotor seorang perempuan."

Aku mengangguk-angguk, mencoba menyusun benang kusut itu di dalam kepalaku. "Hmmm, sebentar-sebentar. Waktu lo sama Indira bikin gimmick cinta-cintaan di media sosial dulu untuk menaikkan elektabilitas Paslon 2, kenapa Orion sama sekali nggak keberatan? Kenapa pas tahu soal Bentrok, dia baru ngamuk sejadi-jadinya?"

Enzo terkekeh sinis. "Ya karena Orion tahu betul kalau hubungan gue sama Indira itu murni cuma gimmick politik koridor. Orion nggak bodoh, dia paham taktik. Tapi kalau sama Bentrok? Itu beneran, Ve. Isunya, hubungan emosional mereka berdua memang sudah terjalin sejak mereka masih SMP. Orion merasa dikhianati atas perasaan tulusnya yang cuma dijadikan tameng."

"Hmmm... rumit juga ya. Tapi gue menangkap esensi luka lo, Zo."

"Ya begitulah, Ve," Enzo mengembuskan napas, mencoba meredakan tensi di dadanya. "Jujur, kalau secara lisan untuk memaafkan, iya, gue sudah maafkan demi kedamaian sekolah. Tapi untuk melupakan apa yang sudah Indira lakukan ke faksi gue dan dampak yang menimpa sahabat gue... jelas gue nggak akan pernah bisa."

"Baiklah. Gue mengerti perasaan lo," aku mencatat kalimat penutup konfrontasi masa lalu itu, lalu mengalihkan lembar halaman catatanku ke masa depan. "Terus... habis ini, ke depannya lo bakal ngapain, Zo?"

"Gue mencoba move on, Viola."

"Veee..." protesku jengkel karena dia kembali memanggil nama lengkapku.

"Haha, ya. Gue mencoba move on, Ve," Enzo tertawa lepas, sebuah tawa tulus yang akhirnya mencairkan atmosfer pekat di ruang musik. "Gue cuma mau fokus sama apa yang ada di depan gue sekarang. Mempersiapkan nilai akademik sebaik mungkin buat amunisi masuk kampus impian. Gue nggak mau energi gue habis dikuras oleh masa lalu."

"Baguslah. I see," aku tersenyum puas mendengarnya. Aku lalu membalik lembar terakhir catatanku, menatapnya dengan binar mata menggoda yang sengaja kupasang. "Oh ya, pertanyaan terakhir, Zo. Hubungan lo sama Steffi belakangan ini kayaknya makin dekat nih? Apa ada rencana besar yang sedang lo rancang sama dia?"

Mendengar nama itu disebut, pertahanan Enzo yang biasanya tenang dan berwibawa seketika runtuh. Gurat merah muda mendadak merayap tipis di pipinya. Dia buru-buru memalingkan wajah, berpura-pura membetulkan letak jam tangan mewahnya.

"Haha, rencana apaan sih, Ve. Mengalir aja gue mah," jawabnya gugup, mencoba terdengar kasual meski intonasi suaranya naik satu oktav. "Dari dulu... emang pandangan gue sama Steffi dasarnya udah baik kok. Konflik gue sama dia kemarin itu murni cuma perkara rivalitas Pilketos saja. Secara personal, gue menilai Steffi sebagai cewek yang baik dan punya value yang tinggi. Apalagi sekarang... obsesi gilanya untuk menyaingi Rania sudah sepenuhnya hilang. Dia sekarang sudah berhasil menjadi dirinya sendiri."

Enzo menjeda, mencoba mengatur detak jantungnya yang mendadak berantakan sebelum melanjutkan dengan senyum tipis. "Buat hubungan ke depannya... ya jalanin aja apa adanya. Haha."

"Cie... kok jadi salah tingkah gitu, Zo?" Aku tertawa kecil, sengaja menyenggol sisi jenakanya, sekaligus menutup bab akhir sesi wawancaraku dengan sang mantan mastermind metropolitan.

Dari Perspektif 360 derajat yang kukumpulkan sore itu, aku menyadari bahwa setiap orang punya cara tersendiri untuk sembuh. Devan memilih jalan ksatria, Rania memilih jalan retorika, dan Enzo... dia memilih jalan sunyi untuk memaafkan tanpa harus melupakan. Namun di balik sisa luka itu, melihat bagaimana dia tersipu saat nama Steffi disebut, aku tahu Praja Pratama selalu punya cara unik untuk menumbuhkan bunga baru di atas tanah bekas medan perang.

47: HARGA DIRI DAN DARAH DI TANAH GERSANG (POV Viola)

Matahari sore itu tergantung rendah, membakar area parkiran luar sekolah dengan warna jingga yang pekat. Udara terasa panas dan kering, seolah-olah atmosfer sendiri tahu bahwa tempat ini akan segera menjadi saksi dari sebuah penyelesaian yang berdarah.

Di sudut parkiran yang sepi, Bentrok berdiri dengan tegap. Matanya tajam mengkilat laksana silet. Di belakangnya, belasan loyalis anak-anak kelas sepuluh berdiri siaga dengan raut muka mengeras. Tidak ada lagi atribut, jaket bomber, atau lambang-lambang J.Rabbit yang melekat di tubuh mereka. Bentrok telah resmi didepak secara tidak hormat dari geng motor itu akibat vonis pengkhianatan mutlak terhadap Devan. Namun sore ini, sisa-sisa loyalis setianya membuktikan bahwa karisma Bentrok sebagai petarung jalanan belum sepenuhnya padam.

Lima meter di seberangnya, berdiri seorang laki-laki dengan postur tubuh proporsional, tinggi, dan berbahu bidang. Orion. Di belakang pria itu, berbaris anak-anak Passus yang berdiri dengan sikap sempurna, memancarkan aura jiwa korsa yang teramat pekat.

Pertemuan ini telah diatur dengan sangat rapi di luar jangkauan radar guru piket. Ini bukan lagi sekadar urusan intrik politik Pilketos sebulan yang lalu. Jauh di belakang itu, ada sebongkah dendam personal yang teramat pekat di antara mereka berdua. Enzo sebenarnya sudah mengerahkan segala pengaruhnya untuk mencegah Orion datang ke tempat ini, namun di hadapan keras kepala Orion dan harga diri yang dipertaruhkan, upaya sang mastermind metropolitan itu berakhir sia-sia.

Orion melangkah satu demi satu, menatap Bentrok dengan sorot mata membunuh. "Lo pikir, dengan lo berhasil ngacak-ngacak faksi gue, lo bisa melenggang bebas di sekolah ini, Trok?" Suara Orion berat, bergetar oleh amarah yang tertahan di dada.

Bentrok terkekeh sinis, meludah ke samping tanpa ada rasa takut sedikit pun. "Gue gak pernah peduli sama faksi elit lo yang menye-menye itu, kampret. Gue cuma ngelakuin apa yang harus gue lakuin. Kalau lo ngerasa kalah pintar, jangan cengeng di sini."

"Ini bukan soal politik, bangsat!" Raung Orion, urat-urat di lehernya menegang. "Ini soal lo yang udah jadi kacung buat cewek perek bajingan yang cuma bisa manfaatin ketulusan orang lain!"

Bentrok berhenti tertawa. Sorot matanya mendadak berubah sedingin es, pekat oleh aura membunuh yang nyata. "Jaga mulut lo, anjing. Indira pun tak akan sudi menerima perasaan cowok cupu kayak lo!"

Satu kedipan mata, dan gesekan atmosfer itu pecah.

Bentrok menerjang lebih dulu dengan kecepatan ekstrim khas petarung jalanan. Sebuah pukulan lurus dilayangkan ke arah rahang Orion. Bugh! Orion terhuyung, namun sebelum dia sempat memperbaiki posisi, Bentrok sudah menghantamkan lututnya ke perut bidang Orion.

Pertarungan berjalan dengan teramat sengit dan brutal. Bentrok, dengan rekam jejaknya yang terbiasa bertahan hidup di kerasnya aspal jalanan, bergerak sangat lincah, menghujani Orion dengan kombinasi pukulan tak beraturan. Namun, Orion bukanlah samsak hidup. Tubuh raksasanya terlalu kokoh untuk ditumbangkan dengan mudah.

Memasuki menit keempat, durasi pertarungan yang panjang mulai menguras habis stamina Bentrok. Napasnya memburu, langkah kakinya mulai melambat akibat kelelahan kronis. Di titik itulah, Orion mengambil alih kendali medan perang. Dengan keunggulan postur dan fisik yang jauh lebih besar dan kuat, Orion menepis pukulan lemah Bentrok, lalu melayangkan satu uppercut telak tepat di ulu hati Bentrok.

Duar! Bentrok terbatuk keras, seluruh oksigen di paru-parunya seolah lenyap seketika. Tubuhnya limbung. Orion tidak memberi ampun; sebuah tendangan melingkar menghantam pelipis Bentrok hingga remaja kelas sepuluh itu roboh, menghantam tanah parkiran yang berdebu.

Namun, amarah Orion telah menjelma menjadi monster yang lepas dari kerangkengnya. Dia kehilangan akal sehat. Meskipun Bentrok sudah terkapar tak berdaya di atas tanah, Orion tidak mengendurkan serangannya sama sekali. Dengan membabi buta, pukulan-pukulan berat dan tendangan keras masih terus dia layangkan ke wajah dan dada Bentrok yang sudah bersimbah darah.

"Yon, cukup, Yon! Dia udah mati kutu!" Teriak anak-anak Passus di belakang, mulai panik melihat situasi yang lepas kendali.

Saat orang-orang menyadari bahwa Bentrok sudah tidak mungkin lagi memberikan perlawanan dan nyawanya berada di ujung tanduk, mereka serentak merangsek maju untuk melerai dan menahan tubuh kekar Orion. Namun... semuanya sudah terlambat.

Bentrok tergeletak diam, napasnya tersengal tipis dengan kondisi kritis dan wajah yang nyaris tak lagi dikenali. Sore itu, parkiran luar sekolah berubah menjadi lautan kepanikan saat tubuh Bentrok harus dilarikan ke ruang ICU rumah sakit terdekat. Pihak sekolah yang mengetahui insiden berdarah itu bergerak cepat; malam itu juga, surat keputusan skorsing panjang resmi dijatuhkan untuk Orion.

Dua hari kemudian, di dalam ruang rawat rumah sakit yang dilingkupi aroma antiseptik yang pekat, keheningan malam terasa begitu mencekam. Bunyi ritmis dari mesin electrocardiogram (ECG) menjadi satu-satunya suara yang menemani kebisuan ruangan.

Bentrok perlahan membuka matanya yang bengkak, menembus pandangan yang samar akibat pengaruh obat bius. Di samping bangsalnya, duduk seorang gadis dengan jas merah marun OSIS yang kini tampak kusut. Indira Kirana Puspita.

Gadis yang biasanya selalu tampil superior, tegap, dan penuh kalkulasi diplomatik itu, malam ini tampak begitu rapuh. Sepasang matanya sembap, air mata mengalir perlahan melewati pipinya, menetes di atas jemari Bentrok yang dipasang selang infus.

"Leo..." Suara Indira bergetar hebat, teramat parau memanggil nama asli Bentrok. Dia menggenggam tangan Bentrok yang dipenuhi luka memar. "Maaf... Maafin gue. Gara-gara gue... gara-gara ambisi gue, lo harus didepak dari J.Rabbit. Lo kehilangan teman-teman lo, dan sekarang... lo harus berbaring hancur kayak gini di rumah sakit."

Indira menunduk, bahunya terguncang hebat oleh rasa bersalah yang teramat masif. "Gue egois ya, Leo. Gue manfaatin kesetiaan lo demi takhta OSIS yang sebenarnya gak sebanding sama darah lo yang tumpah hari ini..."

Bentrok menggerakkan jemarinya pelan, mencoba membalas genggaman tangan Indira meskipun rasa sakit yang luar biasa menjalar di sekujur tubuhnya. Sebuah senyuman tipis—sangat tulus dan tanpa beban—terukir di sudut bibirnya yang pecah.

"Jangan nangis, Indiraku... jelek tahu," bisik Bentrok, suaranya sangat lirih namun terdengar begitu hangat di tengah dinginnya ruangan medis. Dia menatap Indira dengan binar mata yang penuh dengan proteksi mutlak. "Gue nggak pernah peduli sama J.Rabbit. Dari awal gue udah nggak suka cara Devan mimpin. Gue juga nggak peduli sama tubuh gue yang hancur karena dihajar Orion. Masalah kayak gini... ini cuma perkara sepele buat gue. Udah biasa. Haha."

Bentrok menjeda kalimatnya, mencoba menarik napas lambat untuk meredakan nyeri di dadanya, lalu melanjutkan dengan tatapan paling jujur yang pernah dia miliki. "Sejak awal kita ketemu di SMP, janji gue nggak pernah berubah, kan? Selama itu bisa bikin lo berdiri di tempat tertinggi, selama itu bisa bikin lo aman dan dapetin apa yang lo mau... gue bakal lakuin apa pun, sayang. Gue rela jadi orang jahat di mata satu sekolahan, asal di mata lo... gue tetep Leonardo yang bisa lo andalkan."

Air mata Indira runtuh semakin deras mendengar penuturan itu. Di dalam ruangan serba putih itu, di balik semua tuduhan licik dan jahat yang disematkan warga sekolah kepada mereka, mereka berdua hanyalah sepasang remaja yang sedang saling melindungi dengan cara mereka sendiri. Di atas ranjang rumah sakit itu, Bentrok membuktikan bahwa pengkhianatannya kepada dunia adalah bentuk dari kesetiaan paling suci yang dia persembahkan untuk satu-satunya perempuan yang ia cintai.

“Leonardo Davinci Kurniawan, aku mencintaimu!” 

48: DEKLARASI DARI SUDUT KAFE (POV Viola)

"Makin banyak nih jadinya anak-anak Praja Pratama yang tahu tempat ini sekarang," ujar Steffi Clarissa Budianto kepadaku, sembari menyandarkan punggungnya pada sofa empuk kafe estetik di sudut kota ini. Matanya memperhatikan jemariku yang masih sibuk membolak-balik menu, menentukan pesanan makanan dan minuman untuk sore ini.

Aku mendongak, mendengus pelan. "Ya lo sendiri yang ngajak gue ke sini, Stef. Padahal kalau di sekolah, di mading atau di kantin biasa aja gue mah fine-fine aja."

Steffi tertawa renyah, menopang dagunya dengan sebelah tangan. "Haha, ya enggak apa-apalah. Sekali-kali gue traktir orang yang jarang banget main ke kafe kayak lo." ledek Steffi dengan kedipan mata jenaka.

"Anjay, ngerosting nih ceritanya?" Aku terkekeh, meletakkan buku menu. "Tapi bener sih, gue emang jarang banget main ke tempat ginian. Cupu banget ya gue? Haha."

"Nggak cupu-lah," Steffi menggeleng, sorot matanya berubah hangat dan tulus. "Menurut gue lo itu keren dan berani, Ve. Buktinya lo berhasil interviu Rania, Devan, bahkan Enzo. Mereka itu bukan orang sembarangan di sekolah kita, lho. Mereka punya ego setinggi langit, dan lo... lo berhasil meyakinkan mereka semua buat buka suara."

Aku mengusap dada, berlagak dramatis. "Alhamdulillah, habis diroasting abis-abisan, sekarang dipuji setinggi langit."

"Haha! Jadi, apa yang mau lo tanyain ke gue sore ini?" Steffi meraih ponselnya, lalu menatapku penuh selidik. "Ini seriusan nggak boleh sambil gue ngelive di medsos nih?"

"Haha, jangan dong, Tuan Putri!" sergahku cepat, menahan tangannya. "Nanti hasil investigasi eksklusif gue bocor duluan sebelum rilis di buletin akhir tahun. Nggak surprise dong!"

"Haha. Baiklah, baiklah. Gue patuh sama anak Jurnalistik," sahut Steffi sembari mengangkat kedua tangannya, tanda menyerah, tepat saat pelayan kafe datang untuk mencatat daftar pesanan kami.

Setelah pelayan itu berlalu, aku membetulkan posisi dudukku. Membuka notes kecil dan menyalakan alat perekam suara. Atmosfer santai di antara kami mendadak berubah menjadi sesi yang intim.

"Oke, Stef. Kita mulai, ya," aku menatap lekat sepasang mata indahnya. "Gimana perasaan lo yang sebenarnya... sehabis badai Pilketos itu berakhir?"

Steffi terdiam sejenak. Dia menatap ke luar jendela kafe, melihat lalu lalang kendaraan di bawah temaram lampu jalanan yang mulai menyala. "Apa ya? Agak-agak lupa gue, Ve. Udah berapa lama sih emangnya kejadian itu berlalu?"

"Setahun lebih, Stef."

"Oh, pantesan," Steffi menghela napas panjang, senyumnya menyusut, digantikan oleh gurat refleksi masa lalu yang mendalam. "Jujur, Ve... saat awal-awal kejadian diskualifikasi massal itu diumumkan oleh kesiswaan, gue drop banget. Anjirlah, parah. Bayangin deh sendiri. Selangkah lagi... tinggal selangkah lagi ambisi besar gue bakal terwujud. Gue udah merasa menang di atas angin karena berhasil menggiring opini seluruh warga sekolah lewat algoritma siber gue, walaupun saat itu Devan dan Enzo nggak tinggal diam buat menjegal gue. Tapi ya... lo tahu sendiri kan ending-nya kayak gimana?"

Jemari Steffi mengetuk-ngetuk permukaan meja, mengenang kembali getirnya kenangan pahit yang sempat meruntuhkan dunianya.

"Keputusan kesiswaan saat itu... rasanya sakit banget, Ve. Sumpah, sakit banget."

"Gue mengerti, Stef," aku menyentuh punggung tangannya pelan, menyalurkan rasa empati. "Rasa sakit yang sama juga dirasakan oleh Devan dan Enzo waktu itu. Sori ya, gue harus nanyain ini lagi."

"Nggak apa-apa, Ve," Steffi tersenyum tipis, mencoba berdamai dengan memori itu. "Belum lagi ditambah plot twist kalau Indira yang akhirnya menang mutlak lawan Rania. Itu jujur... di awal kejadian, gue nggak terima banget! Bagi gue saat itu, masih mending yang menang itu Rania sekalian, sumpah. Satu-satunya orang di sekolah ini yang bisa gue terima egonya kalau dia lebih baik dari gue... ya cuma Rania Zahira. Lah, Indira tuh siapa cuy? Anak baru kemarin sore yang masih bau kencur, kok tiba-tiba bisa melenggang dapat takhta Ketua OSIS. Ah, sebel banget gue kalau inget itu!"

Aku tidak bisa menahan tawa melihat wajah Steffi yang cemberut gemas. "Haha! I see, I see. Dongkol banget pasti ya, ketikung di tikungan akhir sama bocil."

"Iyalah! Untungnya habis itu Pak Rama buru-buru gerak cepat buat ngumpulin kita semua di ruang konsolidasi darurat," lanjut Steffi, raut wajahnya mulai melunak. "Agak alot dan tegang sih di awal pertemuan, tapi untungnya berakhir dengan happy ending. Kita semua sepakat buat saling memaafkan satu sama lain, termasuk sepakat buat memaafkan Indira. Ya... walaupun yang belum begitu terima sampai sekarang si itu tuh... haha."

Aku menaikkan sebelah alis, senyum jahil langsung terukir di wajahku. "Enzo maksud lo? Cieee..."

Mata Steffi membelalak, wajah cantiknya mendadak merona merah. "Eh... lo kok bisa tahu sih?!"

"Kan dia udah gue wawancara duluan di ruang musik kemarin," jawabku santai sambil mengerdipkan mata.

"Oh, iya ya!" Steffi mencondongkan tubuhnya ke depan meja, antusiasmenya mendadak naik seratus persen. "Ngobrol apa aja kalian kemarin? Eh, dia... ada ngomongin gue nggak waktu lo wawancara?"

"Banyak sih. Termasuk... emang ngomongin lo," ujarku, sengaja menggantung kalimat agar dia makin penasaran.

"Hah? Seriusan, Ve?! Ngomong apa aja dia tentang gue? Cepet kasih tahu gue sekarang! Kalau lo nggak mau bocorin, lo bayar sendiri ya pesanan makanan lo sore ini!" ancam Steffi dengan wajah yang sengaja dibuat galak, meski rona merah di pipinya tidak bisa berbohong.

"Heh, heh! Kok mainnya jadi pengancaman finansial gini sih, Tuan Putri?" aku tertawa lepas. "Kode etik jurnalistik nih, hasil investigasi nggak boleh dibocorkan ke pihak luar sebelum hari-H!"

"Hmmm, nggak asyik banget lo!" Steffi melipat tangannya di dada, mengerucutkan bibirnya kesal tapi manja.

"Hahaha, udah-udah, lupakan Enzo dulu," aku mencoba meredakan detak jantungnya yang kelihatan gugup. "Dia sebenarnya udah memaafkan kok, Stef. Cuma ya... emang belum bisa sepenuhnya melupakan kejadian yang menimpa faksi dan sahabatnya. Tapi setidaknya, dia lagi mencoba buat berdamai dengan itu semua. Nah, tugas lo tuh buat bantuin dia. Hitung-hitung... buat mempererat hubungan kalian berdua ke depannya, kan? Haha."

"Eh, kurang ajar ya lo! Anak nerd berani-beraninya godain gue!" Steffi melemparkan tisu bersih ke arahku sembari tertawa salah tingkah. "Beneran ya lo, habis ini bayar sendiri!"

"Ya ampun, diancam mulu gue dari tadi," sahutku sembari mengelak, membuat tawa kami berdua kembali pecah memenuhi sudut kafe.

Setelah ketegangan soal Enzo mereda, obrolan kami mengalir jauh lebih dalam. Kami membahas banyak hal—tentang bagaimana rasanya lepas dari tekanan ekspektasi orang tua, hingga bagaimana rasanya berdamai dengan diri sendiri.

Dari semua tokoh utama yang sudah kuwawancarai, aku bisa menarik satu kesimpulan penting di notes catatanku: Di antara semua mantan kandidat, Steffi adalah sosok yang paling legowo dan berlapang dada. Hal itu wajar, karena sejak awal, dia tidak bersinggungan langsung dengan pengkhianatan Indira secara personal, berbeda dengan Devan yang kehilangan Bentrok, atau Enzo yang kehilangan aliansinya. Kehilangan ambisi justru mengembalikan kebebasan yang selama ini dirampas dari hidup Steffi.

Sesi wawancara sore itu akhirnya ditutup dengan pemaparan rencana masa depan Steffi yang teramat matang. Dia bercerita dengan binar mata yang menyala bahwa dia ingin sepenuhnya fokus pada jalur akademik demi mengejar impian barunya: masuk ke fakultas kedokteran.

Begitu makanan kami datang, rekaman suara kumatikan. Di bawah hangatnya lampu kafe dan aroma kopi yang menguar, kami berdua menikmati makan malam bersama sebagai dua orang remaja biasa—bukan lagi sebagai jurnalis sekolah dan sang ratu media sosial. Sore itu, di sudut kafe yang tenang, Steffi membuktikan bahwa kehilangan mahkota tiruan tidak membuatnya kehilangan nilai dirinya; dia justru baru saja menemukan mahkota sejatinya sebagai dirinya sendiri.

49: SINFONI DARI KURSI TERTINGGI (POV Viola)

"Bagaimana rasanya memimpin di atas puing-puing kehancuran tiga faksi besar, Ketua Indira?"

Aku menembakkan pertanyaan provokatif itu tanpa tedeng aling-aling, tepat saat pantatku baru saja menyentuh kursi kayu di ruang kerja Ketua OSIS. Suaraku sengaja kubuat dingin, setajam pisau bedah jurnalistik. Ruangan ini terasa begitu hening sore itu, menyisakan deru kipas angin gantung yang berputar lambat di langit-langit. Satu tahun telah berlalu sejak badai politik koridor meremukkan angkatanku, dan hari ini, aku duduk berhadapan langsung dengan sang public enemy nomor satu di SMA Praja Pratama.

Indira Kirana Puspita tidak terlonjak. Dia tidak menunjukkan gestur defensif sama sekali. Sebaliknya, gadis dengan jas merah marun itu justru mengulas sebuah senyuman yang teramat anggun, tenang, dan berwibawa. Dia meletakkan pulpennya perlahan, melipat kedua tangannya di atas meja yang bersih, lalu menatapku dengan sorot mata yang begitu matang—sorot mata seorang pemenang mutlak.

"Rasanya melelahkan, Kak Ve," jawab Indira, suaranya mengalir sangat tenang, laksana air bendungan yang kokoh. "Tapi seseorang harus melakukan pekerjaan kotor ini, bukan? Kalian semua di angkatan sebelas terlalu sibuk dengan perang ego masing-masing. Devan dengan idealisme jalanannya, Enzo dengan gengsi aristokratnya, Steffi dengan algoritma medsosnya, dan Rania... dengan ambisi tak bertepinya. Sekolah ini hampir hancur karena perang dingin kalian yang kekanak-kanakan. Kesiswaan tahu itu, makanya mereka membiarkan manuver gue berjalan sebagai katalisator untuk mempercepat akhir dari perang bodoh kalian."

Aku terpaku di tempat dudukku. Detak jantungku melewatkan satu ketukan. Di dalam benakku, rasa kagum mendadak merayap naik, meruntuhkan sebagian dinding prasangka burukku selama ini. Ketegangan dan stabilitas emosinya dalam menjawab serangan verbal benar-benar berada di level yang berbeda. Di detik itu, aku menarik satu kesimpulan pahit di dalam hati: Pantas saja Rania Zahira bisa kalah telak di tangan anak ini.

Namun, ketenangan Indira tidak bertahan lama sebagai mode bertahan. Detik berikutnya, sorot matanya menajam, memancarkan aura kepemimpinan yang dingin dan mengintimidasi. Dia mencondongkan tubuhnya ke depan, melayangkan serangan balik yang beralih menjadi satire yang menusuk.

"Kalian—para senior di faksi-faksi besar itu—selalu memandang gue sebagai penjahat manipulatif, kan? Termasuk lo, Kak Ve, dengan kamera dan catatan jurnalistik lo yang sok netral itu," Indira terkekeh, sebuah tawa satire yang garing. "Tapi coba lo lepas dulu kacamata senioritas lo. Kalian itu munafik. Kalian ribut soal 'keadilan' hanya karena takhta kalian direbut oleh anak kelas sepuluh. Kalian merasa paling tersakiti, padahal selama setahun sebelum gue naik, angkatan gue cuma dijadikan keset kaki dan pion pemandu sorot untuk panggung megah kalian! Gue cuma membalikkan keadaan, Kak. Kalau itu membuat gue dicap sebagai monster di mading sekolah... so be it. Gue nggak butuh validasi dari angkatan yang kalah."

Aku menelan ludah, merasakan tamparan retorika Indira yang telat menghantam wajahku. Ruangan itu mendadak terasa pekat oleh tensi kemarahan yang tertahan di dadaku. Tapi sebelum aku sempat mendebatnya, atmosfer di antara kami mendadak bergeser drastis ketika aku mengalihkan arah pembicaraan ke ranah yang paling sensitif.

"Oke. Anggaplah taktik lo legal secara politis," aku mengetuk catatan kecilku. "Tapi bagaimana dengan Bentrok? Dia yang harus hancur di rumah sakit dan didepak dari dunianya hanya untuk jadi perisai ambisi lo?"

Mendengar nama itu disebut, topeng besi Indira seketika retak. Kebisingan egonya luruh. Dia bersandar layu pada kursi kebesarannya, tatapannya beralih menatap nanar pada sebuah gelang rajut tua yang melingkar di pergelangan tangan kirinya. Suaranya yang tadi menggelegar kini merendah, sarat akan kepedihan sosiologis yang teramat pekat.

"Gue dan Leo itu... tumbuh di lingkungan yang sama sejak SMP, Kak Ve. Lingkungan gersang di mana kalau lo nggak menginjak orang lain, maka lo yang bakal diinjak sampai mati," bisik Indira, ada getar haru dan melankolis yang menyayat hati dari intonasinya. "Saat pertama kali menginjakkan kaki di Praja Pratama, gue silau. Gue liat Devan, Rania, Enzo, Steffi... mereka semua punya segalanya sejak lahir. Fasilitas, kuasa, nama besar, dan pengaruh. Sementara gue dan Leo? Kita gak punya faksi elit atau sokongan dana."

Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Indira, namun dia menolak untuk berkedip. "Satu-satunya cara agar suara anak-anak dari kelas bawah seperti kami bisa didengar di sekolah elit ini adalah dengan merebut sistem dari dalam. Menghancurkan hierarki kalian dari akarnya. Dan gue... gue selalu bersyukur, karena di sepanjang jalan yang penuh pecahan kaca itu, Leo selalu ada di sana buat jadi perisai gue. Dia rela jadi orang jahat, rela babak belur, asal gue bisa berdiri di sini."

Ruangan itu mendadak terasa begitu emosional. Aku bisa merasakan denyut nadi sepasang remaja yang sedang berjuang melawan dunia dengan cara mereka yang salah, namun teramat tulus satu sama lain.

Namun, di tengah puncak keharuan itu, Indira menundukkan kepalanya dalam-dalam. Bahunya terguncang tipis, meluncurkan sebuah pengakuan paling jujur yang selama setahun ini dia kubur di lubuk hati yang paling dalam. sebuah plot twist emosional yang tidak pernah kuprediksi sebelumnya.

"Tapi kalau lo tanya perasaan gue yang sebenarnya, Kak... gue menyesal," isak Indira, air matanya akhirnya luruh, menetes di atas meja OSIS. "Gue teramat sangat menyesal telah melakukan ini semua. Terutama... kepada Kak Rania."

Aku mengernyitkan dahi. "Rania?"

Indira mengangguk pelan, menyeka air matanya dengan ujung lengan jasnya. "Gak ada yang tahu fakta ini, bahkan Leo sekalipun. Jauh sebelum hiruk-pikuk Pilketos dimulai, gue dan Kak Rania adalah teman satu klub catur di luar sekolah. Kami sering menghabiskan waktu sore bersama, bermain di atas papan kayu hitam-putih. Dan di atas papan itu... gue nggak pernah bisa menang. Kak Rania selalu selangkah lebih maju, selalu memenangkan permainan dengan kalkulasinya yang teramat genius."

Indira menatapku dengan tatapan yang kosong namun perih. "Pilketos kemarin... adalah untuk pertama kalinya dalam hidup, gue akhirnya bisa menang dari Kak Rania. Gue mengalahkan sang ratu di ranah yang lain. Tapi sayangnya... kemenangan pertama gue itu harus dibayar mahal dengan mengorbankan terlalu banyak bidak."

Aku menatapnya lekat-lekat, merasakan benturan tajam antara logika jurnalistik dan empati kemanusiaan di dalam dadaku. Aku menarik napas dalam-dalam, memberikan konklusi terakhir yang menghantam tepat di ulu hati egonya.

"Mengorbankan banyak bidak dalam permainan catur untuk meraih kemenangan adalah hal yang wajar, Indi. Karena bidak kayu tidak memiliki perasaan," suaraku merendah, menekankan setiap kata dengan bobot moral yang berat. "Tapi mengorbankan perasaan, kepercayaan, dan darah orang nyata demi ambisi personal lo... jelas itu tidak pernah wajar."

Kalimatku menggantung di udara ruangan, telak dan tak terbantahkan.

Indira terdiam seribu bahasa. Bahunya merosot, melepaskan seluruh sisa keangkuhan seorang Ketua OSIS yang memenangkan takhta. Di atas kursi tertinggi sekolah ini, dia tampak begitu kecil dan rapuh.

"Ya... lo benar, Kak Ve," bisik Indira dengan suara yang pecah, air matanya mengalir semakin deras membasahi pipinya. "Gue salah. Maaf ya... Aku bener-bener menyesal."

Sesi wawancara sore itu ditutup dengan sebuah keheningan yang teramat melankolis. Di bawah temaram ruang OSIS yang mulai menggelap, aku mematikan alat perekam suaraku. Dari Perspektif 360 derajat yang kukumpulkan, sore itu aku menyadari satu hal: Indira Kirana memang memenangkan mahkota emas Praja Pratama di atas kertas. Namun, di dalam realitas kehidupan, dia harus membayar kemenangan itu dengan mata uang yang teramat mahal—kesepian di puncak takhta, rasa bersalah yang abadi, dan air mata penyesalan yang harus dia tanggung seumur hidupnya.

BAB 50: SEBUAH KISAH KLASIK UNTUK MASA DEPAN (POV Viola)

Hari seremoni pelepasan siswa kelas dua belas akhirnya tiba. Sayup tawa, canda, dan binar kebahagiaan terus bergema, mengisi setiap sudut ballroom megah hotel berbintang yang menjadi saksi isu akhir dari sebuah era. Aroma parfum mahal, derai gaun kebaya, dan setelan jas parlente berbaur dengan atmosfer haru yang pekat. Riak-riak konflik yang setahun lalu nyaris membakar habis koridor Praja Pratama kini menguap, digantikan oleh satu rasa yang sama: kerinduan yang mendahului perpisahan.

Acara berjalan dengan sangat khidmat, mengalir sesuai rencana yang telah disusun berminggu-minggu. Hingga tiba pada satu momentum yang paling dinantikan, layar videotron raksasa di tengah panggung mendadak menyala. Animasi grafis emas berkilauan berputar dinamis, menyambut pengumuman lulusan terbaik angkatan SMA Praja Pratama.

Ketika sang pembawa acara meraih mikrofon, menarik napas panjang, dan menyebutkan sebuah nama dengan artikulasi yang lantang, sorak-sorai beserta tepuk tangan membahana, menggelegar meruntuhkan langit-langit gedung.

"Rania Zahira Amala!"

Seketika itu juga, sepasang lampu sorot berwarna kuning hangat meluncur jatuh, mengunci siluet tubuh Rania saat ia bangkit berdiri. Keanggunan yang sempat meredup pasca-Pilketos kini kembali memancar utuh, bahkan jauh lebih berkilau. Rania mulai melangkah anggun menapaki karpet merah menuju panggung utama, didampingi oleh Bunda dan Om Arif yang berjalan beriringan di sisi kanan dan kirinya dengan wajah yang sarat akan kebanggaan murni.

Sebuah penghargaan berupa map beludru mewah dan plakat kristal yang memantulkan cahaya lampu diserahkan langsung oleh Pak Edo selaku Kepala Sekolah. Tepuk tangan kembali bergemuruh, namun segera menyusut perlahan berganti keheningan magis saat Rania melangkah maju mendekati podium, bersiap memberikan sambutannya.

Di pojok gedung yang temaram, aku menangkap siluet lain. Indira Kirana Puspita berdiri siaga dengan sebuah handy talkie yang tak lepas dari genggamannya. Sebagai Ketua OSIS sekaligus ketua panitia pelaksana acara, dialah arsitek di balik megahnya acara hari ini. Dari kejauhan, sepasang mata Indira menatap Rania tanpa ada sisa kedengkian atau taktik manipulatif lagi. Tatapan penuh kebahagiaan dan kelegaan yang tulus menyelimuti hatinya, melihat sang senior akhirnya meraih penghargaan tertinggi yang memang sudah semestinya menjadi hak mutlak seorang Rania Zahira.

Rania membetulkan posisi mikrofon, mengedarkan pandangannya ke ratusan pasang mata hadirin sebelum mulai berbicara dengan intonasi yang teramat elegan, tenang, dan memukau.

"Selamat siang, para guru yang kami hormati, orang tua yang kami cintai, dan teman-teman angkatan yang saya banggakan," Rania membuka suara, suaranya mengalun berwibawa, menguasai seluruh isi ballroom. "Berdiri di sini, saya menyadari satu hal. Tiga tahun di Praja Pratama bukanlah tentang seberapa keras kita bertarung untuk memenangkan takhta, melainkan tentang seberapa dalam kita belajar untuk mengenali diri sendiri di tengah badai."

Rania menjeda kalimatnya, melemparkan senyum tipis yang sarat makna ke arah barisan kursi depan tempat Devan dan Enzo duduk.

"Kita pernah terjebak dalam ambisi yang sempit. Kita pernah mengira bahwa dunia ini adalah papan catur di mana sesama teman harus saling menumbangkan sebagai bidak. Kita semua dulu terlalu jemawa, terlalu fokus merancang serangan hingga melupakan adanya 'Titik Buta' di dalam diri kita masing-masing. Titik buta di mana ego dan kesombongan membuat kita tidak bisa melihat ketulusan orang-orang di sekitar kita. Namun, hari ini kita sadar, kekalahan terbaik adalah kekalahan yang mendewasakan. Melalui titik buta itulah kita dipaksa melihat kelemahan diri, belajar cara terluka, cara memaafkan, dan cara melangkah maju tanpa harus meninggalkan hati yang patah di masa lalu."

Aku memotret pemandangan itu dari balik lensa kameraku dengan rasa takjub yang luar biasa. Jemariku bergetar pelan menekan tombol rana. Akhirnya, momentum ini tiba. Tokoh favoritku dalam pusaran cerita politik koridor ini menutup babak remajanya dengan begitu paripurna. Seluruh hadirin terpaku, hanyut menyimak tiap bait kata yang dilontarkan sang ratu retorika.

Rania menarik napas lambat, menatap langit-langit gedung seolah sedang melepaskan seluruh memori putih abu-abunya ke udara, sebelum akhirnya menutup pidatonya dengan sepenggal puisi legendaris dari Sapardi Djoko Damono sebagai simbolisasi akhir dari sebuah romansa remaja:

"Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... dengan kata yang tak sempat diucapkan kayu kepada api yang menjadikannya abu... Aku ingin mencintaimu dengan sederhana... dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada."

"Terima kasih, dan sampai jumpa di masa depan yang lebih cerah."

Gedung itu pecah oleh gemuruh tepuk tangan standing ovation. Begitu Rania turun dari podium dengan anggun, atmosfer khidmat itu seketika bergeser drastis. Lampu utama meredup, digantikan oleh pendar cahaya panggung yang dinamis saat bintang tamu utama malam itu naik ke atas pentas. Sheila On 7.

Kondisi berubah riuh saat intro lagu "Sebuah Kisah Klasik" mulai dimainkan. Petikan gitar Eross Candra yang khas langsung memicu histeria massal. Ratusan siswa kelas dua belas serentak merangsek maju ke depan panggung, melebur dalam lautan manusia yang ikut bernyanyi dan menari bersama.

Aku melangkah di antara kerumunan, menyaksikan pemandangan yang teramat emosional. Segalanya tumpah ruah dalam rasa bahagia yang bercampur baur dengan keharuan pekat—menikmati setiap detik dari momen terakhir ini sebelum mereka semua terbang berpisah ke arah tujuan masing-masing.

Di tengah lantai dansa bawah panggung, aku melihat Enzo dan Steffi sedang bergerak beriringan mengikuti ritme lagu. Gestur tubuh mereka tak lagi kaku seperti saat Pilketos. Aku sengaja melangkah mendekat, memasang wajah jahil untuk menggoda mereka.

"Cie... udah jadian nih ceritanya?" tanyaku setengah berteriak di tengah kebisingan musik.

Enzo yang biasanya selalu punya jawaban taktis langsung salah tingkah. Dia buru-buru membetulkan kerah kemejanya, memalingkan wajah menyembunyikan senyumnya yang tertangkap basah. "Eh, kata siapa nih? Sotoy deh lo, Ve!"

"Hmmm, kasih tahu nggak ya, Ve?" Steffi justru balik menggodaku, menyenggol lengan Enzo dengan jahil sembari tertawa lepas.

Sore itu, di bawah kerlip lampu pesta, mereka berdua memang belum sepenuhnya mau berterus terang mengakui status mereka ke publik. Namun, lewat sorot mata mereka yang saling mengunci, belakangan aku tahu bahwa mereka saat ini memang sudah menjalin sebuah hubungan yang sangat serius, menyembuhkan luka masa lalu bersama-sama.

Di sudut lain yang lebih heboh, Devan tampak sedang berjoget tanpa beban bersama anak-anak geng J.Rabbit. Gaya berjogetnya yang kacau dan penuh tawa membuktikan bahwa sang ksatria jalanan telah mendapatkan kembali kebebasannya yang sempat tersita oleh politik OSIS. Tidak jauh dari sana, Rania yang tadinya berniat menjaga imej anggunnya, tampak tersipu malu saat lengannya ditarik paksa oleh Anisa untuk ikut masuk ke tengah lingkaran, berjoget heboh bersama tanpa memedulikan lagi status kedudukan.

Bagas, Orion yang telah kembali dari masa skorsingnya, serta Najib juga tak kalah histerisnya bernyanyi bersama di barisan depan, meluapkan seluruh emosi masa muda mereka lewat lirik lagu yang mengalun puitis.

Sementara itu, di koridor belakang ballroom, Pak Rama tampak kewalahan namun dilingkupi senyum lebar. Beliau masih sibuk melayani barisan wali murid yang mengantre hanya untuk menjabat tangannya dan mengucapkan terima kasih. Guru kesiswaan itu tampak kepayahan menerima begitu banyak bingkisan dan gift dari para orang tua sebagai bentuk penghormatan tertinggi atas jasanya yang luar biasa selama ini dalam menjaga moral anak-anak mereka.

Aku menurunkan kameraku perlahan, membiarkan potret terakhir itu tersimpan abadi di dalam memoriku. Musik masih berdendang, melantunkan bait terakhir tentang jabat tangan dan kenangan yang akan dibawa sampai tua.

Kisah yang penuh intrik, air mata, dan konspirasi di SMA Praja Pratama ini akhirnya resmi berakhir. Tidak ada kubu yang benar-benar hancur, tidak ada faksi yang benar-benar musnah. Pada akhirnya, kisah ini ditutup dengan kemenangan manis dari masing-masing faksi lewat jalannya sendiri-sendiri. Mereka tidak lagi memperebutkan satu mahkota yang sama, karena di bawah langit sore ini, mereka baru saja menyadari bahwa mereka telah berhasil memakai mahkota kedewasaan mereka masing-masing.

Malam semakin larut. Riuh rendah melodi Sheila On 7 yang tadi membakar ballroom perlahan memudar, menyisakan gema sunyi yang memantul di dinding-dinding gedung yang mulai temaram. Satu per satu lampu utama dimatikan, digantikan oleh lampu darurat berwarna kekuningan. Sebagian besar hadirin telah beranjak pulang, menyisakan kesibukan kru panitia yang mulai membereskan dekorasi.

Di sudut ruangan yang sudah mulai sepi itu, langkah kakiku terhenti. Dari balik pilar megah, lensa kameraku menangkap sebuah pemandangan yang teramat menarik. Rania Zahira Amala, dengan gaun kebayanya yang masih tampak anggun memukau, berjalan cepat menemui Devan yang sedang menyandarkan punggungnya di dekat pembatas koridor.

"Gimana, Dev, hasilnya? Udah ada pengumuman?" tanya Rania langsung tanpa basa-basi, suaranya terdengar sedikit cemas namun sarat akan rasa penasaran.

Devan tidak langsung menjawab. Dia menegakkan tubuhnya, melirik Rania dengan senyum miring khas bajingan jalanannya yang tak pernah hilang. Pria itu merogoh saku celananya, mengeluarkan ponsel, lalu memperlihatkan layarnya sekilas di depan wajah Rania.

"Udah. Barusan banget gue ngecek," sahut Devan santai.

"Dan...?" Rania menuntut, menaikkan sebelah alisnya.

Devan merentangkan kedua tangannya lebar-lebar, lalu terkekeh pelan. "Dan... ta-daaa! Surprise, surprise, motherfucker! The king is back!" ujarnya menggoda dengan nada angkuh yang sengaja dibuat-buat.

"Paan sih?! Alay banget lo! Bisa serius sedikit nggak sih?!" Rania sontak mendengus sebal, wajah cantiknya merengut karena pertanyaannya tidak dijawab dengan benar. Tanpa permisi, dia buru-buru merebut ponsel dari genggaman Devan untuk mengecek sendiri baris pengumuman di layar tersebut.

Detik berikutnya, sepasang mata Rania membelalak sempurna. Mulutnya sedikit terbuka, menatap layar ponsel dan wajah Devan bergantian dengan raut tidak percaya.

"Sumpah lo, Dev?! Gila, nggak nyangka gue! Pinter juga lo ternyata!" seru Rania spontan, ada binar kebahagiaan murni yang meledak dari sepasang matanya.

"Heiii! Sembarangan lo kalau ngomong. Dari dulu emang aslinya gue pinter kalik!" Balas Devan ikut-ikutan sebal, meski dia tidak bisa menyembunyikan senyum bangganya.

Dari jarak sedekat ini, aku yang menguping di balik pilar langsung tersenyum lebar sembari mencatat fakta baru itu di notes kecilku. Devan akhirnya resmi diterima di universitas negeri ternama di Yogyakarta untuk jurusan Hukum. Skenario takdir berjalan dengan sangat magis; mereka dipastikan akan berada di dalam satu lingkungan kampus yang sama, setelah sebelumnya Rania sudah lebih dulu mengunci satu kursi di sana lewat jalur prestasi.

Devan memajukan tubuhnya satu langkah, menatap Rania dengan tatapan menyelidik yang penuh arti. "Tapi... kok malah jadi lo sih yang kelihatan seneng banget, Ran? Kenapa, ha? Jujur sama gue, lo emang nggak bisa banget ya kalau hidup jauh-jauh dari gue?" tembak Devan tanpa babibu, langsung menusuk tepat ke pusat pertahanan ego sang ratu.

Rania tertegun. Dia tidak langsung menjawab serangan verbal Devan. Seisi ballroom yang sepi seolah ikut menahan napas bersama mereka. Sepasang mata indah Rania menatap tajam manik mata Devan, menguncinya beberapa detik dalam keheningan yang teramat intens. Hingga kemudian... seutas senyum tipis yang teramat manis dan penuh teka-teki tersimpul dari bibir tipisnya.

"Bisa jadi," jawab Rania singkat.

Sebelum Devan sempat mencerna jawaban itu, Rania sudah lebih dulu berbalik badan, melakukan lari-lari kecil yang anggun meninggalkan Devan sendirian dengan langkah kaki yang riang.

Devan terperangah di tempatnya berdiri, wajahnya mendadak cengo sebelum akhirnya berteriak mengejar langkah gadis itu. "Heiii! Jangan kabur lo! 'Bisa jadi' apa maksudnya, kampret?! Ran! Jawab dulu, woy!"

Aku ikut terkekeh geli di balik pilar, menyaksikan adegan menggemaskan yang menjadi penutup paling indah dari rivalitas panjang mereka. Di atas tanah Praja Pratama yang keras, benih-benih baru ternyata telah tumbuh dengan arah yang tepat.

Dahulu, mereka semua saling menjatuhkan karena terjebak dalam ego masing-masing. Mereka mengira takhta adalah segalanya, sampai takhta itu lepas dan memperlihatkan sebuah 'Titik Buta' yang berharga—bahwa di balik rivalitas koridor yang melelahkan, ada perasaan tulus yang selama ini sengaja mereka sembunyikan.

Aku menuliskan detail demi detail percakapan, rasa, dan esensi dari Titik Buta mereka ke dalam lembar catatan terakhirku. Menutup pulpenku dengan bunyi klik yang mantap.

Tugas investigasiku di sekolah ini... akhirnya benar-benar selesai.

Aku berbalik badan, lalu melambaikan tangan memanggil seorang gadis adik kelas yang sejak tadi menungguku di dekat pintu keluar. Ludya Anastasya Munaf. Juniorku yang paling berbakat di ekskul Jurnalistik.

"Lud," aku melangkah mendekat, lalu menyerahkan map beludru hitam berisi seluruh bundel catatan, rekaman, dan Perspektif 360 derajat yang kukumpulkan selama setahun ini ke dalam dekapannya. "Ini... gue serahkan semuanya sama lo ya."

Ludya menerima map itu dengan kedua tangan yang sedikit gemetar, menatapku penuh hormat. "Ini... semua rahasia faksi kemarin, Kak Ve?"

Aku tersenyum mantap, menepuk bahunya pelan. "Iya. Selepas gue pergi dan lulus dari sini, lo bisa langsung rangkum dan tuliskan ini semua ke majalah sekolah. Biarkan adik-adik kelas kita nanti tahu apa yang sebenarnya terjadi di balik dinding-dinding koridor ini. Sebuah dongeng besar... yang mungkin bakal dikenang sangat lama oleh seluruh warga Praja Pratama."

Aku melangkah mundur, berbalik menatap ballroom yang kini telah sepenuhnya gelap, lalu tersenyum tipis untuk terakhir kalinya sebelum melangkah keluar melewati gerbang sekolah.

"Sebuah kisah klasik... untuk masa depan!"

TAMAT



Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By