13: Langkah Pion (POV Devan)
Sore itu, suasana di warung Bu Lastri berjalan seperti biasa. Tidak ada yang istimewa. Bau asap rokok, denting gelas es teh yang beradu dengan meja kayu, serta tawa riuh anak-anak J.Rabbit yang sedang sekadar nongkrong santai memenuhi udara. Di pojok warung, aku duduk menghadap sebuah papan catur kayu yang sudah usang.
Aku memainkan permainan catur itu sendirian. Menggerakkan bidak putih, lalu berputar memikirkan balasan untuk bidak hitam. Melawan diriku sendiri. Entah diriku yang putih atau lawannya yang hitam, semuanya terasa kabur. Pikiranku tidak benar-benar ada di atas papan ini. Aku hanya melamunkan satu nama sambil terus berkalkulasi di dalam kepala.
Rania.
Sambil sesekali memindahkan pion, mataku bergerak memperhatikan anggota-anggota baru kelas 10 yang baru saja lolos masuk J.Rabbit. Di antara kerumunan anak baru itu, ada satu sosok yang paling menonjol. Leonardo Davinci Kurniawan.
Tiap kali mengingat nama lengkapnya, aku selalu terkekeh geli. Entah apa yang dipikirkan orang tuanya saat memberikan nama itu. Dari bentukan look-nya, anak itu sama sekali tidak ada unsur seni-seninya. Sangat kontras dengan nama pelukis maestro Renaisans. Tapi harus kuakui, Leo orangnya asyik. Dia tenang, serta terlihat lebih pintar dan dewasa dibanding teman-teman seangkatannya.
Di jalanan, dia biasa dipanggil "Bentrok". Nama itu lahir karena reputasinya saat masih SMP yang cukup harum dalam urusan baku hantam. Karena itu pula, sekarang aku memberinya kesempatan untuk menjabat sebagai komandan divisi perang J.Rabbit. Meskipun, sejujurnya, di masa jabatanku ini J.Rabbit hampir tidak pernah benar-benar terlibat perang antar-sekolah lagi. Tapi karena nama Bentrok sudah terlanjur disegani di jalanan, divisi khusus perang itu tetap dipertahankan, dan Bentrok adalah orang yang paling tepat untuk mengurusnya.
"Le, lihat tuh," kataku memecah keheningan, menunjuk ke arah Leo dengan daguku. "Tahun depan gue mau pensiun juga ah jadi ketua. Biar J.Rabbit diurus sama Bentrok aja."
Bule yang duduk di sebelahku langsung menyahut serampangan, "Tolol."
"Maksud lo apa, kampret?" ujarku tidak terima.
"Lah, elu fomo banget, anjing," balas Bule sambil terkekeh mengejek. "Mentang-mentang lo ngefans sama gue, bukan berarti lo harus ngikutin semua yang gue lakuin, tolol. Gue mau pensiun, lo ikut-ikutan mau pensiun."
"Faklah. Mulut lo emang perlu disumpel ya. Najis banget gue fomo sama lo," caci gue sambil melotot, sementara tangan gue pura-pura mau melempar bidak benteng ke mukanya.
"Udahlah nggak usah gengsi, jujur aja. Sini cerita sama kakak," Bule makin melunjak, memasang wajah melas yang dibuat-buat. "Kacian adek kakak lagi galau ya? Mikirin apa sih lo, ampe main catur sendirian kek orang dongok gitu?"
"Lo bisa berhenti ngeledek nggak? Mau berantem sini maju lo. Gue bikin lo lulus sekolah sedini mungkin hari ini," gertakku.
Bule malah tertawa terbahak-bahak melihat komuk gue yang kesal. Aku pun akhirnya ikut tertawa, meskipun ada rasa getir yang menyelimuti dada. Tawa kami perlahan mereda, digantikan oleh keheningan yang mendadak terasa pekat di antara kepulan asap rokok.
Aku menarik napas dalam, lalu menjatuhkan bidak raja hitam ke papan. "Rania mundur dari OSIS, Le."
Bule tidak langsung menjawab. Cukup lama dia terdiam, mencerna kalimatku.
"Faklah. Cewek itu lagi," desis Bule akhirnya. Dia membanting puntung rokoknya ke lantai setelah hisapan terakhir, lalu menginjaknya dengan kasar.
Aku tidak merespons, hanya menatap papan catur yang berantakan.
Bule kembali bersuara, tatapannya menajam. "Tapi lo tetap lanjut, kan?"
"Iya," jawabku pendek. "Dan dia nyuruh gue buat nyalon jadi ketua OSIS buat gantiin dia."
Bule kembali bungkam. Dia tampak berpikir keras, raut wajahnya berubah gelisah. Firasatnya seolah menangkap ada hal yang tidak beres yang sedang mengintai kami. Dia meraih gelas Soda Gembira miliknya yang tinggal seperempat, lalu menyeruputnya dengan kencang sampai berbunyi—tanda bahwa dia sedang dipenuhi kebimbangan yang luar biasa.
Aku masih menunggu apa yang akan dikatakan oleh sahabatku itu. Namun, sebelum suara Bule muncul, sebuah gebrakan di meja mengagetkan kami berdua.
"Skakmat! Wuuuu!"
Bentrok tiba-tiba sudah berdiri di depan meja kami dengan ekspresi polos tanpa dosa, jarinya menunjuk ke arah papan caturku yang berantakan.
"Kampret lu, ngagetin aja!" caci Bule, matanya melotot siap menerkam.
Bentrok tidak memedulikan Bule. Dia langsung menatapku dengan mata berbinar penuh semangat. "Gas aja, Bang Devan! Kita anggota baru J.Rabbit bakal mengerahkan seluruh jiwa raga buat dukung lo di pilketos ini!"
Ternyata, diam-diam anak ini menguping obrolan serius kami dari tadi.
"Ayolah, Bang. Nggak usah ragu," lanjut Bentrok lagi, sok meyakinkan. "Kesempatan emas ini, mumpung nggak ada kakak cantik itu. Yuhuuuy!"
"Nggak usah sok nasihatin gue lo, Cil! Tahu apa lo urusan orang dewasa!" gertakku dengan suara ditekan.
Digertak seperti itu, nyali panglima perang jalanan itu langsung ciut seketika. "Yaelah, Bang, maap," cicit Bentrok sambil menyengir kuda, menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Gue cuma mau nyemangatin elu kok. Oh ya, satu lagi, kita J.R. Army bakal all out dukung lo entar. Gampanglah, masalah konsep kampanye, kita punya banyak ide, hahaha!"
Bule mengernyitkan dahi, menatap Bentrok heran. "Anjir, geng apalagi tuh?"
"Lah, itu kan divisi gue, Bang," jawab Bentrok bangga sambil menepuk dadanya. "Selama ini divisi perang kan nggak ada namanya, ya udah gue kasih nama J.R. Army. Artinya pasukan J.Rabbit. Hahaha, keren kan?"
Aku menatap Bule sambil menahan senyum. "Fak bangetlah. Ternyata ada yang lebih tolol ngasih nama geng ketimbang lo, Le."
Bule cuma bisa mengumpat kasar mendengar ejekanku, sementara Bentrok hanya tertawa cengengesan.
Namun, dari obrolan absurd sore itu, ada satu hal penting yang berhasil aku petik. Orang-orang seperti Bentrok dan anak-anak baru ini, meskipun kadang kelakuannya konyol, solidaritas mereka sudah tidak perlu diragukan lagi. Mungkin perkataan Bentrok—dan juga Rania—ada benarnya. Gue punya potensi besar. Dengan pengaruh massa dan loyalitas J.Rabbit yang gue miliki, gue bisa saja maju memenangkan takhta itu. Gue bisa menggantikan posisi Rania untuk menghancurkan ambisi Enzo dan Steffi.
Aku berdiri dari kursi, menutup obrolan itu dengan menepuk pundak Bentrok dengan mantap.
"Walaupun nama geng lo norak abis, gue suka gaya lo," ujarku sambil tersenyum tipis. "Muda, beda, dan berbahaya."
Bentrok langsung kegirangan mendapat pujian itu. Setelah berpamitan dengan Bule dan anak-anak yang lain, aku segera menyambar kunci motor di atas meja. Aku melangkah keluar dari warung Bu Lastri, membelah sore yang mulai temaram dengan satu tujuan: menemui Rania.
14: Simfoni Pamrih (POV Enzo)
Di sudut kamarku yang sudah kusulap menjadi studio musik pribadi, udara dingin dari pendingin ruangan terasa membekukan keheningan sejenak. Aku menarik napas, menata jemariku di atas tuts piano hitam-putih yang sudah sangat familier. Sejurus kemudian, dentingan piano mulai terdengar, mengalunkan barisan nada intro dari lagu "Not With Me" milik Bondan Prakoso & Fade 2 Black. Sebuah melodi yang sendu, berwibawa, namun sekaligus menyayat.
Di dekatku, Steffi sedang duduk manis sambil memandangi layar kamera mirrorless-nya yang terhubung ke ponsel. Matanya sesekali melirik kolom komentar yang bergerak naik dengan kecepatan penuh dalam siaran langsung di akun Instagram pribadinya.
Sesuai dengan kontrak aliansi kami, konsep konten hari ini adalah menayangkan live music dariku. Dari sudut sempit lirikan mataku saat jemariku menari di atas tuts, aku bisa melihat mata Steffi nampak berbinar. Tentu saja, notifikasi di akunnya pasti sedang pecah saat ini. Menampilkan sosokku yang selama ini jarang mengekspos bakat musik di sekolah adalah jaminan engagement instan untuknya.
Steffi nampak sangat bahagia. Namun, melihat binar tulus di matanya justru memercikkan sedikit rasa bersalah di dalam dadaku. Sisi hatiku yang paling dalam berbisik, mengaku bahwa aku sedang memanfaatkan gadis sepolos ini demi ambisi pribadinya semata.
Sejujurnya, jika aku mau melepas topeng sinisku sejenak, Steffi sebenarnya adalah perempuan manis yang baik. Dia pintar, punya pesona sendiri, dan penurut. Dia hanya salah jalan saja karena rasa insecure yang terlampau besar pada Rania. Padahal, bila dia memilih untuk percaya diri dan menjadi dirinya sendiri, orang-orang akan memandangnya jauh lebih baik sebagai sosok perempuan manis dengan segudang talenta. Bukan sebagai bayang-bayang Rania yang frustrasi.
Tak terasa, aransemen pianoku mulai memasuki bagian reff. Aku menarik napas dalam namun pelan, lalu melantunkan liriknya dengan vokal sesyahdu mungkin:
"I can see you if you are not with me... I can say to myself if you are okay..."
Sampai seluruh penampilanku selesai dan getaran nada terakhir memudar di udara studio, Steffi masih memandangiku dengan tatapan kagum yang tidak ditutup-tutupi. Dia terpaku sejenak sebelum akhirnya tersadar dan buru-buru menghadap ke kamera untuk menutup siaran langsungnya.
"Sudah dulu ya, Gaesss. See you next content. Dahhhh!"
Layar ponsel pun dimatikan. Detik berikutnya, Steffi langsung bertepuk tangan heboh, membuyarkan atmosfer melankolis yang baru saja kubangun.
"Wah, keren banget kamu, Nzo! Aku jadi melting deh dengarnya," puji Steffi dengan pipi yang sedikit merona.
Aku terkekeh, menyandarkan punggung ke kursi piano. "Haha, makasih, makasih. Tapi ini kan lagunya lagi sedih, kenapa kamu malah melting? Gak ada rayuan-rayuannya sama sekali, lho."
"Ya nggak apa-apa, musiknya indah, dan suaranya easy listening banget. Bikin hati adem walaupun liriknya sedih, hahaha," sahutnya riang.
"Haha, bisa aja kamu," aku tersenyum, namun sedetik kemudian ekspresiku berubah lebih serius. "Btw, Stef, aku ada kabar nih. Nggak tahu ya, bagi kamu ini termasuk kabar baik atau buruk."
Alis Steffi bertaut, dia mencondongkan badannya penasaran. "Hah, apaan? Cepat cerita gih!"
"Rania mundur dari oprec OSIS."
Mata Steffi langsung membelalak sempurna. "Hah? Serius?! Itu kabar baik dong, Nzo! Saingan terberat kita gugur satu!" Suaranya naik satu oktav karena gembira, sebelum kemudian wajahnya berkerut penuh selidik. "Eh, tapi tunggu. Emang alasannya apa? Nggak mungkin cewek se-ambisius dia tiba-tiba mundur gitu aja, kan?"
"Katanya mau fokus FLS3N tingkat nasional," jawabku, menyampaikan alasan resmi yang kudengar di koridor tadi sore.
Steffi mengangguk-angguk lambat, ketegangannya menyusut. "Oh, yaaa... tapi logis sih. Gue juga kalau jadi dia bakal pusing kalau harus mikirin dua hal berat dalam waktu yang berdekatan. Level nasional itu tekanannya beda."
Aku mengetuk-ngetuk jariku di atas kayu piano, pandanganku menerawang. "Tapi kita tetap kudu waspada, Stef. Masih ada Devan. Gue yakin cowok itu nggak bakal tinggal diam membiarkan kita melenggang mulus di kontestasi nanti. Dia punya massa."
Mendengar nama Devan, Steffi justru melempar senyum penuh arti yang terkesan meremehkan. "Amanlah kalau soal itu. Aku udah ada rencana kok."
Steffi membuka ponselnya kembali, menggeser beberapa menu galeri, lalu menyodorkannya ke hadapanku. Layarnya menampilkan beberapa foto hasil jepretan kamera ponsel yang membidik lembaran-lembaran kertas penuh tulisan tangan. Itu... catatan pribadi milik Rania. Buku sakti yang berisi rangkuman materi dan kisi-kisi krusial.
"Untuk tes tertulis, posisi kita aman," bisik Steffi bangga.
Aku tertegun, menatap foto-foto itu lalu beralih ke wajah Steffi. "Wah, gila... nekat banget kamu. Dapat dari mana, Stef?"
"Adalah, pokoknya," jawab Steffi misterius dengan senyum penuh kemenangan. "Intinya ini info A1, dan gue jamin nilaimu nggak bakal ada yang meleset di tes tertulis nanti."
Aku tersenyum lebar, menyembunyikan rasa terkejutku atas kenekatan cewek di depanku ini. "Hebat kamu. Kalau gitu, yuk keluar. Kita makan malam sekalian, Mamah pasti udah nunggu."
Kami pun menyudahi sesi studio dan keluar menuju ruang makan rumahku yang luas. Malam ini, kebetulan Papah belum pulang kerja karena urusan bisnis, jadi hanya ada Mamah yang sudah duduk anggun di meja makan yang dipenuhi hidangan hangat.
Aku menarikkan kursi untuk Steffi dan memperkenalkannya secara resmi kepada Mamah. Makan malam awal berjalan sangat cair. Steffi dengan pintar menempatkan diri sebagai gadis yang sopan dan hangat, membuat Mamah langsung menyukainya dalam waktu singkat. Namun, petaka kecil itu datang tepat saat kami sedang menikmati hidangan penutup.
"Tante senang deh, Enzo akhirnya punya teman diskusi yang pintar kayak Steffi," ujar Mamah sambil tersenyum menatap Steffi. Beliau lalu menoleh padaku dengan tatapan jenaka seorang ibu. "Soalnya Enzo itu ambisius banget orangnya, Stef. Apalagi soal OSIS ini. Dia itu ngebet banget pengin jadi ketua cuma buat membuktikan diri ke Papah-nya kalau dia bisa diandalkan."
Blunder.
Sendok di tanganku mendadak terasa berat. Aku memaksakan sebuah senyuman tipis di wajahku, sementara di dalam hati aku merutuk sejadi-jadinya. Kalimat santai dari Mamah barusan adalah sebuah kesalahan taktis yang fatal.
Mengajak Steffi makan bersama Mamah ternyata membuat kedokku sedikit terbuka. Selama ini aku membangun image di depan Steffi sebagai sekutu yang bergerak murni demi kepentingan bersama faksi kami. Aku tidak pernah menunjukkan kalau aku punya daddy issues atau ambisi pribadi yang egois terhadap takhta itu.
Aku melirik Steffi dari sudut mataku. Gadis itu tampak mendengarkan cerita Mamah dengan senyum manisnya yang biasa. Aku hanya bisa berharap, selama Steffi masih buta dan terpesona dengan image keren yang kubangun selama ini, blunder kecil dari Mamah barusan tidak akan berarti apa-apa di otaknya.
Papan catur ini semakin rumit, dan aku harus memastikan kendali tetap berada di tanganku.
15: Benih Dilema (POV Steffi)
Sepulang dari rumah Enzo malam itu, aku hanya bisa menatap pantulan diriku di cermin meja rias. Kalimat Mamah Enzo di meja makan tadi seperti gema yang menolak hilang dari kepalaku.
"Enzo itu ambisius banget orangnya, Stef... Dia itu ngebet banget pengin jadi ketua cuma buat membuktikan diri ke Papah-nya..."
Ada rasa sesak yang perlahan merayap di dadaku. Kecewa, sekaligus merasa bodoh. Jadi, selama ini hubungan yang kupikir adalah kerja sama yang setara, ternyata hanya satu arah? Aku menghabiskan energi untuk menaikkan citranya di media sosial, membantunya menyusun strategi, sementara dia bergerak murni demi menyembuhkan luka egonya sendiri di depan sang ayah. Lalu, di mana tempat untukku? Apakah aku hanya akan berakhir sebagai pemandu sorak di bawah panggung kemenangannya?
Aku menunduk, menatap layar ponsel yang menampilkan folder tersembunyi berisi foto-foto catatan materi milik Rania. Jemariku bergetar tipis.
Ditambah lagi, informasi kalau Rania mundur dari bursa pencalonan ketua OSIS demi FLS3N terus mengusikku. Rania—tembok raksasa yang selama ini membuatku merasa sekecil debu—tiba-tiba melangkah keluar dari arena permainan.
Sebuah bisikan yang belum pernah ada sebelumnya mulai tumbuh di kepalaku. Kalau Rania tidak ada, bukankah kasta tertinggi di sekolah ini sedang kosong? Bukankah posisiku, Enzo, dan Devan sekarang setara? Kenapa aku harus terus bersembunyi di balik punggung orang lain kalau aku punya kartu as ini di tanganku? Aku bisa saja maju. Aku bisa mencoba berdiri di atas kakiku sendiri.
Namun, rasa insecure yang sudah mengakar bertahun-tahun di dadaku tidak bisa hilang begitu saja. Aku takut. Bagaimana jika ini hanya salah paham? Bagaimana jika Enzo salah dengar? Aku tidak boleh gegabah mengambil keputusan besar hanya karena emosi sesaat.
Aku harus memastikannya sendiri. Aku harus melihat langsung bagaimana kondisi Rania.
Keesokan harinya di jam istirahat, aku memberanikan diri mendatangi ruang latihan fungsional di dekat aula. Ketika aku menggeser pintu, pemandangan di dalam ruangan itu membuat langkahku tertahan sejenak.
Rania tidak sendirian. Dia sedang duduk di lantai berkarpet bersama Anisa. Di antara mereka berdua, ada beberapa kotak susu kemasan dan camilan yang terbuka. Rania sedang tertawa—sebuah tawa lepas yang jarang sekali dia tunjukkan di koridor sekolah. Dia nampak begitu polos, begitu kasual saat mendengarkan cerita Anisa yang menggebu-gebu tentang tugas sosiologi.
"Eh, Steffi?" Anisa yang pertama kali menyadari kehadiranku.
Rania menoleh. Sisa tawa di wajahnya perlahan menyusut, digantikan oleh ekspresi ramah namun sedikit formal yang biasa dia gunakan pada orang luar. "Hai, Stef. Ada apa?"
"Hai. Sori ya ganggu waktu kalian," ujarku, melangkah masuk dengan canggung. Aku meremas tali tas ranselku untuk menyembunyikan kegugupan. "Gue cuma... mau mastiin sesuatu, Ran. Anak-anak di kelas lagi ramai ngomongin soal oprec OSIS. Katanya lo enggak jadi daftar?"
Anisa langsung menghela napas panjang sebelum Rania sempat menjawab. "Nah, bener kan, Ran! Semua orang langsung heboh. Padahal lo yang paling niat dari awal."
Rania tersenyum tipis, menatap Anisa sejenak sebelum kembali menatapku. "Iya, Stef. Beritanya bener, kok. Gue memutuskan buat mundur dari bursa Ketua OSIS. Pengin fokus ke FLS3N tingkat nasional aja. Persiapannya bener-bener gak bisa diduain."
Suara Rania terdengar tenang, polos, dan sangat lelah. Di detik itu, aku hampir memercayainya. Aku hampir berpikir bahwa Rania memang sudah selesai dengan urusan sekolah ini. Namun, instingku yang selalu mengamati Rania menolak untuk puas begitu saja. Aku ingin menggali lebih dalam. Aku ingin melihat apakah masih ada ambisi yang tersisa di matanya.
"Tapi, Ran... sayang banget enggak sih?" aku memancing, melangkah satu tapak lebih dekat. "Lo udah nyiapin semuanya dari kelas sepuluh. Kisi-kisi, ringkasan materi tes tertulis... lo bahkan punya catatan paling lengkap seangkatan. Masa dilepas gitu aja demi lomba yang belum tentu lo menangkan di tingkat nasional?"
Ruangan itu mendadak hening.
Senyum polos di wajah Rania perlahan memudar. Atmosfer di sekitar kami mendadak berubah, bergeser dari kehangatan ruang santai menjadi sesuatu yang dingin dan menekan. Rania tidak menjawab langsung. Dia bergerak tenang, meraih kacamata berbingkai tipis dari atas tumpukan berkasnya, lalu mengenakannya lambat-lambat.
Ketika sepasang mata tajam itu menatapku dari balik lensa kacamata, jantungku berdesir hebat. Mode perfeksionisnya keluar. Aura intimidasi yang biasa membuatku menciut kini kembali menguar kuat.
"Kadang, Stef," Rania memulai, suaranya kini terdengar lebih berat, penuh penekanan yang terukur, "mundur satu langkah bukan berarti kita kehilangan arah jalan pulang. Ada hal-hal yang sengaja kita lepas, supaya kita bisa melihat gambaran besarnya dengan lebih jelas dari kejauhan."
Rania merapikan letak kacamatanya, lalu menatapku dengan sebuah senyuman tipis yang sulit diartikan.
"Kontestasi OSIS tahun ini bakal menarik. Semua orang merasa punya peluang yang sama sekarang. Tapi ingat, Stef... takhta yang kosong itu sering kali bukan hadiah, melainkan ujian untuk melihat siapa yang paling cepat merusak dirinya sendiri karena keserakahan."
Aku terpaku di tempatku berdiri. Lidahku mendadak kelu.
"Gue duluan ya, mau ke toilet bentar. Yuk, Nis," kata Rania kemudian, melepas kacamatanya dan berdiri, meninggalkan aku yang masih membeku sendirian di tengah ruangan.
Sepanjang sisa jam pelajaran hari itu, otakku tidak mampu mencerna materi di papan tulis. Kalimat terakhir Rania terus berputar, mencengkeram isi kepalaku.
Takhta yang kosong itu sering kali bukan hadiah, melainkan ujian untuk melihat siapa yang paling cepat merusak dirinya sendiri...
Apa maksud Rania? Apakah dia sedang menyindir Enzo? Atau... apakah dia tahu kalau aku memegang catatannya? Apakah Rania sengaja mundur untuk memancing kami saling hancur? Pertanyaan-pertanyaan itu membuat dadaku bergemuruh oleh rasa cemas yang hebat. Dilema itu mencabik-cabik keberanianku.
Namun, di tengah badai ketakutan itu, rasa tidak relaku justru tumbuh lebih besar. Jika aku tetap menjadi tim sukses Enzo, aku sudah pasti hanya akan menjadi alat yang dibuang setelah dia mendapatkan validasi ayahnya. Tapi jika aku maju menggunakan catatan Rania, aku setidaknya punya peluang untuk membuktikan pada dunia—dan pada diriku sendiri—bahwa aku bukan sekadar bayangan.
Aku meremas jemariku di bawah kolong meja kelas yang gelap. Keputusan ini berbahaya. Kalimat Rania mungkin sebuah peringatan, atau mungkin sebuah jebakan. Tapi untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku memilih untuk tidak bersembunyi.
Gue bakal tetap maju, Rania. Mau itu hadiah atau ujian yang merusak diri... gue bakal cari tahu jawabannya sendiri di lapangan nanti.
16: Retorika Rumah (POV Devan)
Sehabis menemui Rania, aku baru sampai di rumah saat jarum jam sudah melangkah jauh melewati angka sembilan malam. Begitu mendorong pintu utama, atmosfer hangat yang asing langsung menyergapku. Di meja makan yang berjarak beberapa meter dari ruang tengah, aku sudah disambut oleh presensi Ayah dan kakakku.
Mahendra Atma Yudhistira. Kakak kandungku yang saat ini sedang menempuh kuliah di Australia. Kebetulan saat ini kampusnya sedang libur semester, dan dia sengaja terbang pulang ke Indonesia.
"Jam segini baru pulang, Dev? Udah makan belum?" tanya Hendra dengan nada santai, menatapku yang baru saja melepas sepatu.
Aku tidak repot-repot menjawab pertanyaan kakakku. Bagiku, itu hanya basa-basi retoris semata yang tidak butuh konfirmasi. Aku tetap berjalan melenggang, berniat langsung menuju tangga dan mengunci diri di kamar.
"Hei, Devan! Ditanya kakakmu itu lho!" Suara berat Ayah menginterupsi, nadanya mulai tersulut amarah. "Dia jauh-jauh pulang dari Australia, kamu sebagai adek enggak ada sambutan-sambutannya sama sekali. Gak punya sopan santun!"
Langkahku terhenti. Aku membalikkan badan, menatap lurus ke arah Hendra yang duduk dengan postur tegap nan rapi—potret anak teladan kesayangan keluarga.
"Selamat datang, Kak Hendra. Bagaimana perjalanannya? Aman, kan?" ujarku dengan nada satire yang kental. "Biasalah anak cowok, nongkrong dulu. Gue udah makan kok. Amanlah."
Hendra hanya mendengus pelan, menggelengkan kepala. "Emang kalau anak cowok harus nongkrong ya, Dev? Kenapa kamu enggak fokus sekolah aja, mengejar prestasi demi masa depanmu?"
Darahku mendadak menghangat mendengar khotbah instan itu. Aku terkekeh sinis. "Lah, Elu sendiri, emang udah yakin banget sama masa depan lo? Udah request takdir sama Tuhan ya, Bang? Emang keren banget kakak gue yang satu ini!"
"Devan! Dikasih nasihat sama kakak sendiri malah nantangin kayak gitu!" Ayah menggebrak meja makan dengan keras, membuat cangkir di atasnya berdenting nyaring.
"Udah, Yah. Aku capek. Mau istirahat ke kamar," potongku datar, sebelum amarah Ayah meledak menjadi ceramah satu jam. "Lanjutin aja ngobrolnya sama anak kesayangan."
Aku nekat berlalu, menaiki anak tangga satu per satu tanpa memedulikan respons atau panggilah berang dari mereka berdua. Begitu sampai di kamar, aku langsung membanting tubuh ke atas kasur tanpa berniat ganti baju.
Bagiku, mereka berdua itu sama saja. Sama-sama menyebalkan. Di dalam kepala mereka, masa depan hanya memiliki satu jalan tunggal, dan menjadi sukses hanya bisa diraih dengan satu cara yang sudah mereka cetak lurus. Aku bersyukur bisa mengenal Bule. Sosok senior di J.Rabbit yang justru terasa jauh lebih seperti kakak kandung ketimbang Hendra yang terus-menerus mendiktenya untuk mengikuti jalannya. Bersama Bule, aku bisa bernapas leluasa dan menjadi diriku sendiri tanpa dituntut menjadi manusia versi orang lain.
Makanya, bagiku, rumah yang sesungguhnya adalah J.Rabbit. Sayangnya, Rania tidak pernah paham akan hal itu. Dia selalu menganggap J.Rabbit hanya sekadar pelarian omong kosongku.
Pukul dua belas malam, mataku masih terjaga sepenuhnya. Kantuk enggan datang meski tubuhku lelah. Akhirnya, aku keluar dari kamar menuju balkon lantai atas untuk menghirup udara segar malam hari, sambil menenteng secangkir kopi hitam yang masih mengepulkan asap tipis.
Keheningan malam yang sunyi itu mendadak buyar saat sebuah tepukan pelan mendarat di pundakku. Aku menoleh sekilas, mendapati Hendra sudah berdiri di sampingku, ikut menyandarkan kedua lengannya di pagar pembatas balkon.
"Mikirin apa, Dev?"
Aku tidak menjawab. Hanya meliriknya dengan tatapan malas sebelum kembali menatap lampu-lampu kota yang temaram di kejauhan.
Hendra terkekeh pelan, seolah sudah terbiasa dengan penolakanku. "Aneh ya. Kita ini saudara kandung, tapi enggak kayak saudara pada umumnya. Padahal dulu waktu SD, lo tuh hobi banget ngikutin gue ke mana pun gue pergi dan main. Sampai sebel gue jadinya karena harus ngemong lo di setiap permainan."
"Itu dulu," sahutku dingin, menyesap kopi hitamku yang pahit. "Sekarang lo berubah, Bang. Lo jadi mirip banget kayak Bokap. Dan harusnya lo tahu, gue enggak pernah suka cara Bokap mendikte hidup anaknya."
Hendra terdiam sebentar, menatap langit malam yang bersih dari bintang. "Iya sih. Bener. Gue emang berubah. Tapi asal lo tahu, Dev... satu-satunya hal yang enggak pernah berubah dari manusia itu adalah perubahan itu sendiri."
"Dan lo berpikir berubah menjadi fotokopian Bokap adalah perubahan yang baik?" kejarku, memojokkannya.
"Nggak juga," jawab Hendra, lalu tiba-tiba dia tertawa lepas tanpa beban. "Bener kata lo di meja makan tadi. Nggak ada jaminan masa depan gue bakal kayak gimana, atau masa depan lo bakal sesukses apa. Takdir itu nggak bisa ditebak. Dan gue... nggak pernah request takdir sama Tuhan."
Aku tertegun, menoleh ke arahnya. Kalimat yang kupakai untuk menyerangnya tadi malah dia kembalikan dengan nada santai.
"Nggak usah diambil hati omongan gue di bawah tadi. Maklum, lagi suntuk habis flight jauh. Suka ngaco kalau ngomong," lanjut Hendra, beralih menatapku dengan sorot mata yang melunak. "Gue cuma berharap hubungan kita bisa segera membaik, Dev. Enggak ada hal baik yang lahir dari kakak-adik yang enggak akur. Dan... apa pun jalan yang bakal lo pilih nanti, entah itu menurut orang lain benar atau salah, gue akan selalu ada di belakang lo saat lo butuh bantuan."
"Hmmmm," aku hanya merespons seadanya dengan gumaman pelan, berusaha menyembunyikan rasa kikuk yang mendadak muncul di dadaku.
"Begitu juga sebaliknya buat gue, kan?"
Sebelum aku sempat mencerna kalimatnya, Hendra tiba-tiba menjentikkan jari telunjuknya dengan cepat ke jidatku—persis seperti kebiasaannya saat kami masih kecil dulu. Dia tersenyum tipis, lalu berbalik melangkah meninggalkan balkon.
Meninggalkan sebuah pertanyaan ambigu yang terus berputar di kepalaku, menuntut jawaban di tengah keheningan malam yang gelap dan dingin.
17: Beban Mahkota (POV Enzo)
Aku meletakkan semangkuk bubur ayam hangat di atas meja belajar yang dipenuhi gambar-gambar kereta api. Uapnya mengepul tipis, mengaburkan sejenak pantulan wajahku di kaca jendela kamar yang gelap.
"Nih, dimakan dulu. Jangan ngemilin biskuit terus, nanti batuk," ujarku, melembutkan nada suara yang seharian ini kupakai untuk memerintah di sekolah.
Bisma, adik sepupuku yang berusia dua tahun lebih muda, mendongak. Dia tersenyum lebar, menepuk-nepuk kedua tangannya dengan ritme yang tidak beraturan—kebiasaannya sejak kecil akibat kondisi spektrum autisme yang diidapnya. Sejak om dan tanteku tiada dalam kecelakaan tiga tahun lalu, kamarnya yang tenang ini adalah satu-satunya sudut di rumah besar kami yang tidak terasa seperti medan perang.
Jemari Bisma yang kurus beralih menunjuk deretan piala perak dan medali emas kompetisi debat serta Olimpiade Sains yang berjejer di rak tertinggi. "Mas Enzo... nanti bawa pulang piala baru lagi?" tanya Bisma dengan artikulasi yang agak terbata.
Aku terkekeh pelan, mengacak rambutnya untuk menyembunyikan rasa sesak yang mendadak mampir di dada. "Iya, Bis. Bentar lagi. Mas Enzo lagi ikut pemilihan besar di sekolah. Kalau Mas Enzo menang dan jadi Ketua OSIS, nanti Mas Enzo bisa bikin program kelas inklusi yang lebih bagus di yayasan kamu. Biar enggak ada lagi anak-anak nakal yang berani ngetawain kamu waktu jemput."
Bisma mengangguk-angguk antusias, meski aku tahu dia tidak sepenuhnya paham apa itu Ketua OSIS.
Ponsel di saku celanaku bergetar pendek. Layarnya menyala, menampilkan satu baris pesan dari nomor yang kuhapal luar kepala.
“Enzo, ke ruang kerja Papah sekarang.”
Kehangatan di kamar Bisma menguap dalam sekejap. Bahuku mendadak menegang secara otomatis. Aku berpamitan pada Bisma dengan senyum yang dipaksakan, lalu melangkah keluar, menuruni anak tangga menuju lantai bawah dengan ritme kaki yang berat.
Pintu ruang kerja Papah yang berlapis kayu jati mewah terbuka lebar. Di balik meja besar yang bersih, pria yang wajahnya sangat mirip denganku itu sedang memeriksa berkas tanpa memandangku.
"Papah dengar dari Mamah, kamu bawa siswi ke rumah semalam. Steffi?" tanya Papah. Suaranya datar, namun memiliki daya tekan yang sanggup membuat siapa pun menciut.
"Iya, Pah. Dia tim sukses Enzo di sekolah. Manajemen komunikasi dan taktik kampanye Enzo dia yang pegang."
Papah akhirnya mendongak, menatapku dengan mata elangnya yang dingin. "Papah tidak peduli siapa dia. Yang Papah peduli adalah hasil. Papah sudah menyumbang dana besar untuk renovasi laboratorium sekolahmu bulan lalu lewat kepala sekolah. Jalanmu sudah Papah ratakan. Kalau sampai kamu kalah dari anak berandalan seperti Devan, atau siswi ambisius seperti Rania... kamu tahu konsekuensinya, kan?"
Aku mengepalkan tangan di balik saku celana, menyembunyikan getaran tipis di jariku. "Rania sudah mundur, Pah. Sisa Devan. Enzo pasti menang."
"Harus menang," potong Papah, mutlak tanpa kompromi. "Ingat posisi Bisma di rumah ini, Enzo. Biaya terapi dan sekolah khususnya tidak murah. Selama kamu bisa membuktikan pada Papah kalau kamu adalah investasi yang membanggakan dan bisa memimpin, Papah tidak akan keberatan menanggung semuanya. Tapi kalau memimpin sekolah saja kamu gagal... Papah rasa Bisma lebih baik dipindahkan ke panti asuhan di luar kota agar tidak merepotkan jalannya bisnis Papah."
Darahku mendadak berdesir dingin. Papah adalah pria kalkulatif yang tidak pernah ragu membuang apa pun yang dianggapnya sebagai investasi gagal. Termasuk keponakannya sendiri.
"Enzo enggak akan gagal, Pah," ujarku, menahan seluruh emosi di tenggorokan.
"Bagus. Silakan keluar."
Keesokan harinya di sekolah, aku berjalan menyusuri koridor dengan dagu tegak dan seragam yang tersetrika sempurna. Senyum ramah kusunggingkan pada setiap adik kelas yang menyapaku. Di mata mereka, aku adalah Enzo yang karismatik, cerdas, dan tanpa cela. Mereka tidak perlu tahu bahwa di balik tatapan tenang ini, ada seorang cowok yang sedang bertaruh nyawa demi melindungi satu-satunya keluarga yang tersisa.
Aku melangkah mendekati mading sekolah, menatap pengumuman resmi bahwa Rania Zahira Amala resmi mengundurkan diri dari bursa calon ketua.
Satu kerikil besar yang paling kutakuti akhirnya runtuh sendiri. Jalanku benar-benar terbuka sekarang. Aku hanya perlu memastikan Steffi tetap berada di posisinya untuk mengeksekusi sisa kampanye dan membantuku melibas Devan di tes tertulis nanti.
"Pagi, Nz. Keliatannya happy banget?"
Aku menoleh, mendapati Steffi sudah berdiri di sampingku. Dia tersenyum, tapi ada yang berbeda dari tatapannya hari ini. Biasanya, sepasang mata Steffi selalu menunjukkan binar kepatuhan yang instan tiap kali menatapku. Namun pagi ini, binar itu meredup. Sorot matanya terasa... berjarak dan penuh kalkulasi.
"Pagi, Stef. Iya nih, Rania beneran mundur. Berarti strategi kita berhasil," ujarku, mencoba mencairkan suasana sambil memberikan senyuman terbaikku. "Oh ya, soal foto catatan rangkuman materi Rania yang kamu ambil minggu lalu... boleh tolong kirim ke WhatsApp gue sekarang? Gue mau pelajarin buat persiapan tes tertulis minggu depan."
Steffi terdiam sejenak. Jemarinya meremas pelan ujung rok abu-abunya, sebelum kemudian dia tersenyum tipis—sebuah senyuman yang entah kenapa membuat instingku mendadak waspada.
"Aduh, sori banget, Nz. Semalam HP gue sempat error dan harus di-factory reset. Foto-fotonya hilang semua, belum sempat gue back-up," jawab Steffi dengan nada suara yang terlampau tenang. Terlalu natural untuk ukuran sebuah kecelakaan.
Aku menyipitkan mata, menatapnya lekat-lekat. "Hilang semua? Semuanya, Stef?"
"Iya, Nz. Sori banget ya. Tapi tenang aja, tanpa catatan Rania pun, lo kan emang udah pintar dari dulu. Lagian saingan lo cuma Devan sekarang, pasti gampanglah," lanjut Steffi, lalu melirik jam tangannya sekilas. "Gue ke kelas duluan ya, ada piket. See you!"
Aku tetap berdiri diam di depan mading, menatap punggung Steffi yang perlahan menjauh dan melebur di antara kerumunan siswa lain.
Dia berbohong. Aku tahu persis bagaimana raut wajah seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu. Steffi yang biasanya selalu berapi-api mendukungku, pagi ini justru tampak seperti orang yang sedang menggenggam senjatanya sendiri.
Aku menunduk, menatap pantulan bayanganku yang buram di kaca mading. Rasanya ironis. Di rumah, aku harus menghadapi seorang ayah yang memperlakukanku seperti angka di atas kertas saham. Di sekolah, orang yang kupercaya sebagai sekutu ternyata diam-diam mulai menancapkan pisau di balik punggungku.
Perlahan, aku merogoh ponselku, menatap foto Bisma yang kujadikan wallpaper layar kunci. Anak itu sedang tersenyum polos di sana.
Dunia ini ternyata tidak pernah menyediakan tempat bagi mereka yang lemah dan percaya pada ketulusan. Jika semua orang di sekitarku memilih untuk bermain licik, maka aku tidak punya alasan untuk tetap menjadi orang baik.
Aku memasukkan kembali ponselku ke dalam saku, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadaku. Tatapanku kembali menajam, mengunci namaku sendiri di lembar pengumuman mading.
Lo salah milih lawan, Stef. Kalau lo pikir lo bisa jadiin gue batu loncatan setelah semua yang gue pertaruhkan... lo salah besar. Karena demi anak di rumah itu, gue nggak akan ragu buat menghancurkan siapa pun yang berdiri di depan gue. Termasuk lo.
18: Validasi Nyata (POV Steffi)
Layar ponselku menyala setiap beberapa detik, menampilkan rentetan notifikasi yang tidak ada habisnya. Dua ribu likes di postingan Instagram terbaru, ratusan komentar yang memuji penampilanku, dan puluhan pesan masuk dari pengikut yang mengagumi kehidupan "sempurna" seorang Steffi.
Bagi anak-anak di sekolah, aku adalah definisi dari siswi yang beruntung. Cantik, modis, populer, dan lahir dari keluarga yang tidak pernah kekurangan materi.
Namun, jika mereka mau menggeser sedikit tab notifikasi itu ke bawah, mereka akan menemukan dua ruang obrolan teratas yang sengaja kubisukan.
Ruang obrolan pertama dari Papi: sebuah bukti transfer bank dengan nominal fantastis, diikuti pesan singkat: “Uang bulanan sudah Papi kirim ya, Stef. Papi sama Tante Merry mau ajak adek kamu liburan ke Lombok seminggu ini. Kamu baik-baik di rumah.”
Ruang obrolan kedua dari Mami: sebuah foto berlatar belakang restoran mewah di Singapura. Mami sedang tertawa lepas, merangkul lengan suami barunya yang seorang ekspatriat. Pesannya berbunyi: “Stef, Mami baru beli tas baru di Orchard. Nanti kalau Mami pulang ke Jakarta, Mami kasih ke kamu ya sayang.”
Aku melempar ponsel itu ke atas kasur dengan helaan napas sinis.
Mereka berdua tidak pernah absen memenuhi rekeningku. Fasilitas dihujani, barang branded selalu terpenuhi. Tapi mereka melakukan sesuatu yang jauh lebih kejam: mereka membuktikan bahwa setelah pernikahan mereka hancur, mereka bisa menemukan surga baru yang luar biasa bahagia—tanpa melibatkan aku di dalamnya. Aku hanyalah sisa-sisa dari masa lalu gagal yang wajib mereka santuni agar hati nurani mereka tetap bersih.
Aku berjalan pelan menuju jendela kamar, menatap halaman rumah besar ini yang sunyi senyap. Hanya ada suara jangkrik dan deru angin malam. Rasa sepi mendadak merayap, mencekik dadaku begitu erat hingga terasa sesak.
Kenapa harus gue yang tertinggal di sini? tanyaku pada kesunyian.
Ada ruang hampa yang teramat besar di dalam diriku. Sebuah lubang menganga bernama kerinduan akan pelukan hangat sebuah keluarga yang utuh. Aku rindu makan malam di mana semua orang saling bertukar cerita, bukan makan malam sendirian di meja panjang yang dikelilingi para pelayan. Aku rindu ditanya bagaimana hariku di sekolah, bukan sekadar dikirimi angka-angka digital di saldo rekening.
Dulu, aku mengira ribuan likes dan komentar manis di media sosial bisa menambal lubang itu. Aku sengaja mengunggah foto-foto estetik, memamerkan senyum terbaikku di depan kamera, demi memburu perhatian orang asing. Aku gila validasi di dunia maya karena aku tidak pernah mendapatkannya di dunia nyata. Tapi malam ini, di kamar mewah yang terasa seperti penjara berlapis emas ini, aku sadar... semua itu semu. Angka di balik layar kaca tidak akan pernah bisa mengubah posisiku dari seorang figuran menjadi karakter utama dalam hidupku sendiri.
Aku menoleh menatap meja rias, di mana bayangan wajahku semalam saat makan malam di rumah Enzo kembali terlintas. Caranya menatapku, cara ayahnya mendikte pembicaraan... mereka memperlakukanku tak lebih dari sekadar bidak yang bertugas melicinkan jalan Enzo menuju kursi Ketua OSIS.
Nggak. Gue nggak mau jadi pajangan atau alat orang lain lagi.
Rasa sedih dan sepi di dadaku perlahan menguap, digantikan oleh emosi baru yang terasa dingin dan keras. Jika orang tua kandungku saja bisa egois demi mengejar kebahagiaan mereka sendiri, kenapa aku harus tetap menjadi anak baik yang penurut? Aku tidak butuh lagi perhatian yang mengemis. Aku butuh power yang nyata. Dan kursi Ketua OSIS SMA Praja Pratama adalah satu-satunya takhta yang bisa memberiku hal itu. Aku akan memaksa seluruh sekolah melihatku, bukan sebagai Steffi yang populer di sosmed, tapi Steffi yang memegang kendali mutlak.
Rangkaian proses seleksi fungsionaris dan calon Ketua OSIS dimulai hari ini. Bagi sebagian besar siswa, tiga tahap ujian yang beruntun ini adalah neraka. Tapi bagiku, ini adalah panggung pembuktian.
Tes PBB (Peraturan Baris Berbaris) di lapangan tengah sekolah berjalan tanpa hambatan. Sebagai siswi yang terbiasa menjaga postur tubuh dan memiliki kepercayaan diri tinggi, aku bisa mengeksekusi setiap instruksi dari komandan pleton dengan tegap dan presisi. Sementara beberapa siswi lain mulai keringat dingin dan salah melangkah, aku melewatinya dengan ketenangan penuh.
Tahap wawancara pun tidak ada bedanya. Di depan tiga guru penguji dan perwakilan alumni OSIS, kemampuan public speaking-ku keluar sepenuhnya. Aku tahu persis bagaimana cara mengatur intonasi suara, menatap mata penguji dengan meyakinkan, dan memberikan jawaban-jawaban diplomatis yang membuat mereka mengangguk-angguk puas.
Namun, medan pertempuran sesungguhnya yang paling kutunggu adalah Tes Tertulis.
Ruang aula sekolah mendadak sunyi, hanya menyisakan suara gesekan kertas dan detak jarum jam dinding yang terasa mengintimidasi. Suhu AC yang dingin tampaknya tidak mampu meredakan ketegangan. Di sekelilingku, puluhan peserta seleksi mulai menunjukkan raut wajah frustrasi. Ada yang menggaruk kepala, ada yang menatap langit-langit aula dengan putus asa, dan ada yang berulang kali menghapus jawabannya.
Soal-soal di lembar kertas ini memang tidak main-main. Mulai dari analisis manajemen konflik organisasi, pemecahan masalah anggaran sekolah, hingga studi kasus psikologi massa.
Aku melirik Enzo yang duduk dua baris di depanku. Cowok itu terlihat fokus, pulpennya bergerak konstan dengan ritme yang stabil. Wajar, dia memang jenius di bidang akademik.
Aku kemudian mengalihkan pandangan ke sudut lain, menatap Devan. Cowok itu duduk bersandar dengan wajah sedatar tripleks, namun matanya menatap lembar soal dengan dahi yang sedikit berkerut. Dia tampak tenang, tapi aku tahu dia sedang memeras otak.
Aku tersenyum tipis, lalu menunduk menatap lembar jawabanku sendiri.
Tanganku bergerak dengan sangat cepat, lancar, tanpa keraguan sedikit pun. Setiap pertanyaan analisis yang rumit di lembar soal ini berhasil kujawab dengan poin-poin yang sangat runut, taktis, dan tajam.
Mereka semua tidak tahu, bahwa sebelum masuk ke ruangan ini, aku sudah menghafal luar kepala isi folder di dalam flashdisk hitamku—seluruh isi buku catatan rangkuman materi milik Rania Zahira Amala.
Rania adalah otak di balik kejayaan OSIS periode lalu. Dan sekarang, seluruh pola pikir, kalkulasi, dan formula taktis milik Rania telah berpindah ke dalam kepalaku. Aku tidak hanya menggunakan otakku sendiri, aku sedang bertarung menggunakan senjata milik sang mantan Ratu sekolah ini.
Hanya dalam waktu empat puluh misal menit dari total dua jam yang disediakan, aku meletakkan pulpenku di atas meja. Aku sengaja menggeser kursiku sedikit agak keras, menimbulkan suara decitan yang membuat beberapa peserta di sekitarku mendongak kaget.
Aku berdiri, membawa lembar jawabanku yang sudah terisi penuh menuju meja penguji di depan aula.
Saat aku berjalan melewati meja Enzo, aku bisa merasakan tatapan matanya yang terkejut terarah kepadaku. Dia pasti heran melihatku menjadi orang pertama yang mengumpulkan jawaban di tes tersulit ini. Aku tidak menoleh padanya. Aku hanya terus berjalan dengan dagu tegak dan senyum misterius yang tertahan di bibir.
Setelah meletakkan kertas ujian di meja guru, aku melangkah keluar dari pintu aula yang besar, meninggalkan atmosfer mencekam di dalam sana.
Aku berdiri di koridor luar, bersandar pada pilar pembatas sambil menatap lapangan sekolah yang sepi. Angin siang berembus pelan, menerpa seragam abu-abuku yang rapi.
Sifat egois orang tuaku mungkin telah menghancurkan rumah masa kecilku. Tapi di sekolah ini, dengan senjata yang kini ada di tanganku, aku akan membangun istanaku sendiri.
Nikmatin rasa percaya diri lo selagi bisa, Nz. Karena sebentar lagi, lo bakal sadar kalau pion yang selama ini lo remehkan... udah berubah jadi Ratu yang bakal numbakin raja lo.
19: Sampah Teori (POV Devan)
Aku memasuki ruang tes tertulis dengan hati gamang. Tak ada lagi Rania yang menemaniku di ruangan ini seperti setahun yang lalu. Walaupun dia sempat memberikan semangat lewat pesan WA sebelum aku masuk tadi, tapi itu tak banyak bekerja. Ruang hampa tetap menyelinap dalam dadaku. Ada sesuatu yang kurang. Ada sesuatu yang hilang.
Kalau boleh berkata jujur, menjadi pengurus OSIS tanpanya jelas tidak akan semengasyikan dulu. Alasan satu-satunya aku sudi mengotori tanganku dengan urusan birokrasi sekolah adalah dia. Dan dia sekarang tidak ada.
Tapi di satu sisi, membayangkan Enzo dan Steffi menguasai sekolah rasanya akan sangat menyebalkan. Dan aku tidak sudi melihat itu. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Akan kubuktikan tanpa Rania pun aku bisa menghabisi para begundal itu sendirian. Dengan tanganku sendiri.
Suasana aula mendadak hening begitu lembar soal dibagikan. Aku menatap kertas di hadapanku dengan dahi berkerut dalam.
Soal-soal ini bagaikan tumpukan sampah untukku. Persetan dengan segala teori ini. Terkadang aku nggak habis pikir dengan Pak Rama dan guru kesiswaan lain, padahal mereka tahu yang terpenting adalah aksi nyata, yang terpenting adalah komitmen kita di lapangan dalam melaksanakan tanggung jawab. Tapi kenapa perlu sekali dijegal dengan sampah-sampah tak penting ini? Memangnya kalau aku hafal definisi manajemen konflik menurut para ahli, tawuran antar-sekolah bisa langsung bubar sendiri? Konyol.
Kukerjakan semua itu semampu dan seingatku. Di sela-sela rasa dongkol, bayangan Rania saat menyiksaku dalam sesi mentoring seminggu lalu mendadak melintas. “Devan, dengerin! Lo nggak bisa asal hantam pakai otot kalau anggaran operasionalnya mandek. Pakai skala prioritas ini!” Aku tersenyum kecut, terpaksa menggerakkan pulpen untuk menyalin sisa-sisa omongannya yang tersangkut di otakku. Meski Rania telah memonitoringku, tetap saja aku tak begitu berselera mengerjakan ini semua dengan lapang dada. Tak begitu sulit sebenarnya, tapi juga tak berarti aku bisa jumawa.
Sreeek! Brakk.
Suara decitan kursi yang sengaja digeser kasar memecah keheningan aula. Aku mendongak. Steffi sudah berdiri dari bangkunya, merapikan rok abu-abunya dengan gerakan anggun yang terkesan dipamerkan. Di tanganku yang baru berjalan separuh waktu, cewek itu dengan santai melangkah ke depan, membawa lembar jawabannya yang tampak terisi penuh untuk dikumpulkan ke meja penguji.
Aku menyipitkan mata. Gila, cewek itu kesurupan setan apa sampai bisa menyelesaikan "sampah teori" ini secepat itu?
Bukan cuma aku yang terdistraksi. Aku melirik ke barisan depan, menatap Enzo. Cowok jenius itu sempat menghentikan pulpennya di udara. Ada kilat keterkejutan dan ketidakpercayaan yang tertangkap jelas di matanya saat melihat punggung Steffi yang berjalan melebihi kecepatannya. Aku menyeringai tipis di balik meja. Bagus, batinku. Internal faksi mereka aja udah saling nggak percaya.
Melihat Steffi sudah keluar duluan, atmosfer di dalam aula terasa makin gerah buatku. Aku buru-buru menyelesaikan tiga soal terakhir dengan jawaban seadanya. Masa bodoh. Hasilnya kupasrahkan saja. Fokusku adalah di tes wawancara yang akan diadakan di hari lain nanti. Aku akan meledak di sana, tak peduli Pak Rama akan berpikiran apa, yang jelas OSIS harus diselamatkan dari orang-orang egois itu. Tanpa Rania tak apa, masih ada aku yang membawa semangat tulusnya.
Aku berdiri, melangkah lebar membelah keheningan aula. Aku menaruh kertas ujianku di meja guru dengan sekali hentakan pelan namun tegas. Sebelum berbalik keluar, aku menyempatkan diri melempar tatapan tajam, mengunci mata Enzo yang sempat mendongak menatapku. Sebuah pesan tanpa suara bahwa aku tidak akan mundur sejengkal pun.
Ujian selesai sore itu. Aku berjalan ke area parkiran sekolah, mengancingkan jaket hitamku lalu memakai helm full-face.
Saat aku baru saja menaiki mogeku, pandanganku menangkap siluet dua orang di dekat area mobil mewah milik Enzo. Itu Enzo dan Steffi. Mereka berdiri berhadapan dengan jarak yang terlalu dekat untuk ukuran rekan kerja. Wajah Enzo kelihatan tegang, mulutnya bergerak cepat seolah sedang menginterogasi atau menuntut penjelasan. Namun, Steffi hanya membalasnya dengan senyum tipis—sebuah senyuman yang terlihat sangat dingin dan asing, bahkan di mataku yang melihat dari kejauhan. Tak lama, Steffi berbalik dan masuk ke dalam mobilnya sendiri tanpa memedulikan Enzo yang masih terpaku.
Aku memakai sarung tangan kulitku, lalu menyalakan mesin motor.
Vrooammm!
Suara knalpot mogeku menggelegar hebat, membelah kesunyian parkiran sore itu, dengan sengaja memecah ketegangan di antara mereka berdua. Aku menarik gas dalam-dalam, melesat pergi meninggalkan area sekolah. Genderang perang resmi ditabuh, dan mereka harus bersiap menghadapi tameng Rania yang sebenarnya.
20: Keretakan Bidak dan Istana Ratu (POV Enzo)
Sehabis keluar dari ruang tes, aku bergegas berjalan mencari Steffi. Sejujurnya, entah benar atau bohong terkait alasannya tentang ponsel yang di-factory reset, aku tidak begitu masalah jika dia tidak memberikanku catatan materi dari Rania. Toh, itu bukan masalah berarti bagiku. Otakku masih mampu menyelesaikan semua tumpukan kertas itu di dalam aula tadi dengan baik tanpa bantuan contekan apa pun.
Namun, yang membuatku resah adalah intuisi yang mendadak berdering kencang. Ada aroma pengkhianatan yang samar. Ada manuver lain yang tidak sesuai kesepakatan saat dia sengaja mengumpulkan kertas ujian paling pertama dan memberikan tatapan penuh teka-teki itu.
Aku ingin segera mengonfirmasi langsung hal ini ke Steffi. Aku perlu tahu apa maunya, dan apa rencana yang sedang dia susun di balik punggungku. Kalaupun memang dia sudah tidak ingin bekerja sama sebagai tim suksesku, katakan saja langsung. Tidak perlu disembunyikan. Aku benci orang yang menusuk dari belakang. Jika ingin menusuk, lakukan secara langsung, face-to-face, tanpa perlu bersembunyi di balik senyuman palsu.
Sampai di parkiran, kudapati dia sedang bersandar pada mobil putihnya. Jari-jarinya menari lincah di atas layar ponsel. Ada simpul senyum tipis yang terukir di bibirnya saat dia mengetik entah tentang apa. Senyum yang tidak pernah kulihat selama dia bersamaku.
Aku berjalan pelan, sengaja menghentikan langkah tepat di sampingnya. "Keliatannya seru banget medsos lo hari ini, Stef?"
Steffi sedikit terperanjat, namun dengan cepat dia mengunci ponselnya dan mendongak. Senyumnya berubah menjadi topeng formal yang biasa dia pakai. "Eh, Nz. Lumayan, notif lagi rame. Gimana tesnya? Gampang kan buat ukuran lo?"
"Gampang," jawabku santai, memasukkan kedua tangan ke dalam saku celana abu-abuku. Aku menatap lurus ke arah lapangan sekolah, seolah sedang membicarakan cuaca. "Saking gampangnya, lo bahkan bisa keluar sebelum jam pertama habis. Rekor baru buat seorang Steffi."
Steffi terkekeh pelan, menyugar rambutnya. "Gue cuma nulis apa yang ada di kepala gue, Nz. Lagian makin lama di dalem, makin bikin pusing."
"Gue suka efisiensi lo, Stef. Tapi gue lebih suka keterbukaan," kataku, kini mengalihkan pandangan tepat ke manik matanya. Auraku tetap kukondisikan tenang, tanpa nada menuduh, namun sarat akan tekanan. "Gue cuma butuh kepastian buat melangkah ke depan. Kalau lo ngerasa faksi gue udah nggak sejalan sama visi lo, atau lo punya rencana sendiri... just say it. Katakan langsung. Gue nggak akan nahan lo."
Steffi terdiam beberapa detik. Tatapan matanya yang biasa tunduk patuh kini balas menatapku dengan keberanian yang baru. "Kenapa lo mikir kayak gitu, Nz? Kita kan masih satu tim."
"Satu tim itu berbagi kartu, Stef. Bukan main di bawah meja," sahutku dengan senyum tipis yang dingin. "Gue cuma nggak mau melangkah dengan asumsi kalau punggung gue aman, padahal yang berdiri di belakang gue lagi megang pisau. We're cool, kan?"
Steffi melepaskan sandarannya dari mobil, lalu membuka pintu kemudi. Sebelum masuk, dia menatapku dengan ekspresi yang sulit dibaca. "Kita selalu cool, Enzo. Lo terlalu banyak mikir. Gue duluan, ya."
Aku menatap mobil putihnya yang perlahan bergerak meninggalkan parkiran. Dia tidak membantah, tapi dia juga tidak mengiyakan. Dan bagiku, keheningan Steffi adalah sebuah jawaban konfirmatif: faksi kami resmi retak.
Aku tidak langsung pulang ke rumah. Kakiku membawa pedal gas mobilku menuju satu alamat yang sangat familier. Rumah Rania Zahira Amala.
Bagiku, jika bidak caturnya mulai membangkang, maka aku harus langsung berkonsultasi pada sang mantan Ratu yang tahu cara mengendalikan papan permainan.
"Silakan diminum, Nz," suara lembut Rania memecah lamunanku di ruang tamu rumahnya yang asri. Dia menyodorkan segelas teh hangat, lalu duduk di sofa tunggal di hadapanku. Penampilannya sederhana dengan kaos santai, tapi binar kecerdasan di matanya tidak pernah redup.
"Thanks, Ran," aku menyesap teh itu sedikit, meresapi kehangatannya sebelum meletakkan cangkir ke meja. "Sori gue dateng mendadak. Gue cuma butuh sudut pandang lo soal beberapa draf visi-misi OSIS yang mau gue bawa ke tes wawancara besok lusa. Penguji tahun ini kabarnya agak ketat soal eksekusi anggaran."
Rania tersenyum, menyandarkan punggungnya dengan santai. "Visi-misi lo yang dulu udah bagus, Nz. Taktis dan terukur. Kurangnya cuma satu: lo terlalu fokus sama angka dan hasil, tapi lupa kalau OSIS itu menggerakkan manusia, bukan robot."
Obrolan kami mengalir hangat di permukaan, mendiskusikan poin demi poin birokrasi sekolah. Namun, di balik setiap tawa kecil dan anggukan setuju, ada dinding tebal praduga yang berdiri di antara kami. Aku tahu Rania sedang mengamatiku, mencari tahu motif asliku datang ke rumahnya setelah dia resmi mundur. Sementara aku, di setiap kalimat yang kulontarkan, sibuk menganalisis ekspresi wajahnya—mencoba menebak apakah dia benar-benar sudah lepas tangan, atau dia sedang mengendalikan Devan sebagai proksinya dari balik layar rumah ini.
Dia terlalu tenang untuk ukuran orang yang baru kehilangan takhta, analisis otakku berjalan cepat.
Tok! Tok! Tok!
Suara ketukan pintu depan yang cukup keras menghentikan obrolan kami. Rania bangkit berdiri dengan senyum meminta maaf. "Bentar ya, Nz. Kayaknya ada tamu lain."
Aku hanya mengangguk. Namun, begitu pintu terbuka dan sebuah suara berat yang sangat kukenal terdengar, tubuhku otomatis menegang.
"Ran, ini berkas J.Rabbit yang lo minta kemarin—"
Langkah kaki itu terhenti tepat di ambang batas antara ruang tamu dan pintu depan. Devan berdiri di sana, masih mengenakan jaket hitam khasnya. Matanya yang tajam langsung mengunci keberadaanku yang sedang duduk santai di sofa Rania. Suasana ruangan yang tadinya hangat mendadak turun drastis hingga ke titik beku.
Aku bisa melihat rahang Devan mengeras, tangannya yang memegang map cokelat tampak mengetat. Dia menatapku seolah aku adalah penyusup yang mengotori wilayahnya.
Rania mencoba mencairkan suasana. "Eh, Dev. Kebetulan ada Enzo juga di sini, lagi diskusi soal—"
"Nggak usah, Ran," potong Devan cepat. Suaranya datar, sedingin es, namun ada getaran kemarahan yang tertahan. Dia meletakkan map cokelat itu di atas meja dekat rak sepatu dengan sentakan pendek. "Gue nggak mau ganggu diskusi penting para calon penguasa."
Devan memundurkan langkahnya, bersiap untuk pergi. Namun, tepat sebelum dia membalikkan badan, matanya kembali menatapku. Sebuah seringai sinis terukir di wajah ugal-ugalannya.
"Gue pamit dulu, Ran. Dan buat lo, Nz..." Devan menggantung kalimatnya, memberikan tatapan mengintimidasi yang sangat intens. "Jaga kesehatan lo baik-baik buat tes wawancara nanti. Jangan sampai lo jatuh sakit duluan sebelum sempat ngerasain gimana rasanya diseret turun dari atas angin. Permisi."
Vrooammm!!
Beberapa detik kemudian, suara knalpot moge Devan menggelegar hebat di depan pagar rumah Rania, sengaja ditarik dalam-dalam sebelum melesat pergi membelah jalanan.
Aku tetap duduk tenang di sofa, mempertahankan ekspresi wajahku agar tidak terlihat terganggu. Namun di dalam hati, aku mencatat satu hal penting: Devan tidak lagi bergerak sebagai tameng yang pasif. Kalimat pamitnya tadi adalah sebuah deklarasi perang terbuka yang sangat personal.
21: Avatar yang Hilang (POV Steffi)
Malam merayap lambat di sudut kota. Kafe elit yang kupilih ini benar-benar privat, tersembunyi dari jangkauan siswa SMA Praja Pratama. Aku sudah duduk hampir dua puluh menit, menyesap chamomile tea yang mulai dingin, sampai akhirnya suara langkah sepatu bot berat terdengar mendekat.
Devan datang. Tanpa jaket motor, dia hanya mengenakan kemeja gelap yang lengannya digulung asal-asalan. Dia menarik kursi di hadapanku dengan suara decitan yang cukup keras, menatapku dengan mata yang lelah namun tajam.
"Ngapain lo ngajak ketemu di tempat beginian?" suaranya rendah, langsung to the point sebelum dia duduk tegak.
Aku tersenyum tipis, tidak tersinggung dengan ketusnya. "Pesen minum dulu, Dev. Gue yang bayar."
Devan melirik daftar menu di meja dengan sekilas, lalu memanggil pelayan. "Kopi hitam. Satu." Dia menatapku lagi, tidak memberiku celah untuk santai. "Udah. Sekarang ngomong. Lo mau apa?"
Aku membiarkan keheningan menggantung sejenak. Sengaja. Aku ingin dia sadar bahwa dia yang butuh jawaban, tapi aku yang memegang kendali waktu. "Gue cuma pengen ngobrol. Nostalgia dikit, boleh kan?"
Devan mendengus, menyilangkan tangan di dada. "Nostalgia sama orang yang sekarang jadi tangan kanan Enzo? Lo salah alamat kalau mau nyari temen curhat, Stef."
"Itu dia masalahnya," kataku pelan, memajukan tubuh sedikit agar suaranya lebih intim. "Semenjak faksi Enzo mendominasi, semuanya berubah. Lo jadi musuh gue, gue jadi pion dia. Padahal dulu, sebelum semuanya sekompleks ini, kita bisa ngobrol tanpa embel-embel politik sekolah. Gue kangen masa itu."
Devan terdiam saat kopi hitamnya datang. Dia menyesapnya perlahan, membiarkan uap panas mengepul di antara kami. Dia tidak menyangkal, tapi tatapannya yang tajam tidak melembut sedikit pun. "Masa itu udah mati pas Rania pergi. Jangan sok dramatis, lo nggak pantes."
Aku tertawa kecil, suara tawa yang sengaja kubuat tenang meski dadaku sedikit berdesir karena kata-katanya. "Oke, mungkin gue emang dramatis. Tapi jujur, Dev... kalau bukan karena situasi, gue rasa kita bisa jadi rekan yang lebih baik daripada gue sama Enzo."
"Recana lo apa?" tanya Devan, kini nadanya lebih dalam. Dia mulai memancing.
"Gue mau nyalon Ketua OSIS," kataku mantap, menatap matanya tanpa kedip.
Devan berhenti menyesap kopinya. Dia menatapku, lalu tertawa pendek, tawa yang penuh dengan penghinaan halus. "Lo? Ketua OSIS? Lo mau nurunin Enzo, atau lo cuma mau nambah koleksi validasi di rak piala lo?"
"Menurut lo?" aku balik bertanya, tidak mau kalah. "Pantas nggak kalau gue maju?"
Devan meletakkan cangkirnya dengan bunyi tak yang pelan namun tegas. Dia menatapku seolah sedang menelanjangi semua niat buruk di kepalaku. "Pantas atau nggak, warga sekolah yang jawab. Tapi denger ya, Stef. Gue kenal lo. Lo itu oportunis. Lo maju bukan karena lo punya visi, tapi karena lo benci jadi nomor dua."
"Gue sadar gue oportunis," balasku tenang. "Tapi apa salahnya? Ngobrol sama lo sama Enzo itu beda jauh, Dev. Enzo itu kalkulasi, dia bikin rencana pakai otak dingin. Tapi lo? Lo itu intuisi. Lo liar. Kalian itu yin dan yang. Harusnya kalian saling melengkapi, kan?"
Devan menyeringai. Sebuah seringai yang sarat akan sarkasme. "Yin dan yang bisa saling melengkapi kalau ada Avatar yang mampu mengendalikan keduanya. Sayangnya, Avatar itu udah nggak ada. Rania udah pergi."
Dia mencondongkan tubuh, tatapannya menghunjam tepat ke mataku. "Dan gue nggak yakin lo bisa jadi Avatarnya. Lo terlalu sibuk mikirin diri sendiri sampai lupa kalau kepemimpinan itu tentang pengorbanan, bukan cuma soal menang."
Jawaban itu menggantung berat, memenuhi ruang privat ini dengan kesunyian yang mencekam. Cukup menyakitkan, namun justru itu yang aku butuhkan. Tamparan kenyataan.
Devan bangkit berdiri, merapikan kemejanya. Dia tidak langsung pergi. Dia berdiri di sana, menatapku yang masih terdiam dengan segelas teh di tangan.
"Terserah lo mau nyalon atau nggak. Itu hak lo," kata Devan akhirnya, suaranya pelan tapi sangat jelas. "Gue cuma pengen bersaing sehat. Tapi, gue kembalikan ke lo. Kalau lo mau main kotor, dengan senang hati gue ladenin. J.Rabbit udah biasa sama permainan kotor di jalanan. Jangan sampai lo kaget kalau tiba-tiba mainan lo dihancurin sama hal yang nggak pernah lo bayangin."
Tanpa menoleh lagi, dia berjalan menjauh, meninggalkan uang lembaran di meja untuk kopinya sendiri—sebuah gestur yang menegaskan bahwa dia tidak mau berhutang apa pun padaku.
Aku membiarkan punggungnya menjauh hingga dia menghilang di balik pintu kafe. Aku menyesap chamomile tea-ku yang sudah dingin.
Jalanan mungkin punya lo, Dev. Tapi birokrasi ini... bakal jadi milik gue.
22: Jarak Pandang (POV Rania)
Malam telah melarut ketika aku duduk sendirian di kursi rotan teras rumah. Angin malam yang berembus pelan memainkan ujung rambutku yang tergerai. Di pangkuanku, sebuah tas jinjing berukuran sedang sudah merapat. Aku melamun. Tatapanku lurus menembus pagar besi yang tertutup, namun pikiranku mengembara jauh, melampaui riuhnya konspirasi koridor SMA Praja Pratama yang belakangan ini menyita seluruh energiku.
Lamunanku pecah saat sebuah raungan mesin yang berat dan familier membelah sunyinya perumahan. Lampu sorot LED yang tajam menyapu halaman, dan sebuah Harley Davidson hitam berhenti tepat di depan pagar. Pengendaranya membuka kaca helm, menampilkan sepasang mata tajam yang selalu tampak siaga.
Devan datang menjemputku.
Aku bangkit, mengunci pintu rumah, lalu berjalan mendekat. "Ke rumah Anisa, Dev. Malam ini gue mau menginap di sana," ucapku langsung saat Devan membukakan pijakan kaki motornya.
Devan sempat menaikkan sebelah alisnya, heran dengan keputusan mendadakku, namun dia tidak banyak bertanya. Dia hanya menyodorkan helm cadangan. Setelah aku naik dan berpegangan pada jaket kulitnya, motor besar itu kembali melesat membelah jalanan kota yang mulai lengang.
Di balik gemuruh mesin Harley, obrolan kami dimulai. Suara kami harus sedikit dinaikkan agar tidak tenggelam oleh angin malam, namun atmosfer di antara kami perlahan bergeser menjadi begitu intens dan mendalam.
"Gimana hasil wawancara seleksi OSIS kemarin, Dev?" tanyaku, membuka topik yang sejak kemarin mengusik ketenanganku. Aku menyandarkan dagu di bahu jaket kulitnya yang kokoh.
Pegangan Devan pada setang motor tampak mengencang seketika. Sinar lampu jalan yang bergantian menerangi wajahnya dari kaca spion menangkap gurat ketegangan yang pekat.
"Kacau," sahut Devan pendek. Dia menghela napas berat, seolah beban di dadanya terlampau besar. "Terutama pas sesi Pak Rama. Gue... gak bisa nahan diri, Ran. Rasanya ruang wawancara itu berubah jadi ring tinju berdarah dingin."
"Lo emosional lagi?"
"Gue cuma menyampaikan fakta, Ran!" bela Devan, suaranya beralih agak serak dan meninggi, berkejaran dengan deru angin. "Gue bilang ke Pak Rama kalau OSIS sekarang sudah di ambang kehancuran karena bakal diisi sama orang-orang yang cuma punya ambisi personal. Gue mewanti-wanti Pak Rama buat gak milih mereka. Gue gak mau OSIS yang lo bangun setengah mati dari nol, yang lo korbanin waktu dan air mata buat jaga nama baiknya, hancur lebur begitu aja di tangan orang-orang oportunis."
Aku terdiam di belakang punggung Devan. Aku bisa merasakan detak jantungnya yang berdegup kencang menembus jaket kulitnya—sebuah ketulusan sekaligus kemarahan yang membara. "Terus, tanggapan Pak Rama?"
Devan terkekeh sinis, sebuah tawa getir yang sarat akan kekecewaan. Dia mengingat kembali bagaimana tatapan dingin milik Pembina OSIS itu seolah menelanjangi seluruh harga dirinya di ruang wawancara.
"'Atas dasar apa kamu mengintervensi saya dalam seleksi ini, Devan?'" Devan menirukan suara berat, datar, dan berwibawa milik Pak Rama yang seketika membuat tengkukku meremang.
"'Masalah siapa yang lolos itu hak prerogatif saya dan saya punya dasar yang kuat, tidak asal-asalan. Urus saja dirimu sendiri, apakah kamu layak masuk OSIS lagi setelah semua catatan merahmu? Dan satu hal lagi, Devan... apa kamu merasa lebih baik dari mereka yang kamu sebut oportunis itu? Kalau iya, beri saya bukti nyata di lapangan. Jangan hanya memuntahkan perkataan tanpa dasar.'"
Kata-kata Pak Rama yang ditirukan Devan bagai hantaman gada telak yang menyisakan keheningan panjang di antara kami. Udara malam mendadak terasa mencekam dan dingin yang menggigit. Aku membiarkan keheningan itu menggantung, membiarkan Devan meresapi betapa telanjangnya dia di depan sang pembina kemarin. Pak Rama tidak salah, tapi Devan juga tidak keliru untuk merasa cemas.
"Dan lo tahu apa yang paling gila, Ran?" Devan memecah kesunyian, suaranya merendah, sarat akan kekhawatiran yang nyata. "Hasil akhir finalnya udah keluar tadi sore. Enzo dan Steffi... mereka berdua lolos. Mereka masuk jajaran inti."
Aku tidak terkejut. Aku memejamkan mata sejenak, menghela napas panjang agar suaraku terdengar selembut mungkin di dekat telinganya.
"Jangan dianggap personal, Dev. Tolong dengerin gue," ucapku lirih namun tegas. "Pak Rama itu orang yang sangat profesional. Beliau sudah mengabdi di sekolah ini bertahun-tahun. Beliau tahu betul konsekuensi dari setiap keputusan yang diambilnya. Kalau beliau meloloskan Enzo dan Steffi, itu artinya beliau punya rencana atau cara sendiri untuk memantau dan mengendalikan mereka. Beliau sengaja ingin melihat bagaimana kalian bertarung secara sehat. Jangan biarkan ketakutan dan rasa benci lo menutup rasionalitas lo, Dev. Lo jauh lebih cerdas dari ini."
Devan terdiam cukup lama. Kata-kataku sepertinya selalu punya sihir tersendiri untuk meredam gemuruh badai di dadanya. Namun, ada satu hal lagi yang membuat napas cowok itu kembali terasa berat.
"Gue bakal kangen banget sama lo," gumam Devan tiba-tiba, mengalihkan topik dengan nada suara yang melembut drastis. "Lo bakal ke Bali seminggu penuh buat FLS3N tingkat nasional. Di saat faksi-faksi ini mulai tabrakan di sekolah, lo malah gak ada di samping gue."
Aku tersenyum tipis di balik helm, lalu menepuk bahunya pelan dengan penuh keyakinan. "Gue percaya sama lo, Devan. Lo gak butuh gue di samping lo buat jadi orang hebat. Lo bisa pegang kendali di sini selama gue pergi. Tunjukkan ke Pak Rama bukti nyata yang dia minta, terutama saat kontestasi pemilihan ketua OSIS nanti. Ini panggung lo untuk membuktikan kalau lo layak."
Motor Harley itu akhirnya melambat dan berhenti tepat di depan pagar rumah minimalis milik Anisa. Aku turun dan menyerahkan helmku kembali. Namun, sebelum Devan memutar gas untuk pergi, dia menahan pergelangan tangan kananku sejenak. Kulit tangannya yang hangat kontras dengan angin malam.
"Ran," panggil Devan, menatap mataku dalam-dalam di bawah temaram kuning lampu jalan. "Apapun yang terjadi di OSIS nanti, lo gak usah kepikiran sampai bikin fokus lo pecah. Fokus aja sama lomba lo di Bali. Bawa pulang piala itu. Biar gue yang jadi tameng dan berdiri di garis paling depan di sini buat lo."
Aku menatap balik sepasang mata liar yang kini melunak total demi aku. Rasa hangat menjalar di dadaku. "Gue pegang janji lo, Dev. Hati-hati di jalan. Jangan ngebut."
Setelah memastikan motor Devan hilang di tikungan jalan, aku mengetuk pintu rumah Anisa yang langsung terbuka, menampilkan wajah sahabatku yang sudah memakai piyama bergambar beruang.
Malam semakin larut di dalam kamar Anisa. Suasana hangat kamar dengan wangi aromaterapi lavender menjadi saksi runtuhnya dinding pertahananku yang selama ini selalu kelihatan tegap, kaku, dan sempurna di depan semua orang. Di kasur empuk inilah, aku akhirnya bisa melepaskan topeng 'Ratu OSIS' itu di depan Anisa.
"Bunda mau menikah lagi, Nis," bisikku, menatap langit-langit kamar dengan perasaan yang campur aduk antara sedih, bingung, dan lelah. "Di satu sisi gue harus mikirin persiapan FLS3N lusa, sementara di sekolah... intrik seleksi OSIS bener-bener makin kotor dan bikin mual. Gue ngerasa kepala gue mau pecah. Gue butuh menginap di sini cuma buat menenangkan diri. Otak gue butuh jeda sebelum bertolak ke Bali."
Anisa yang sedang asyik maskeran tiba-tiba menoleh, matanya mengerjap dramatis di balik lapisan masker lumpur hitamnya.
"Demi apa Tante mau nikah lagi? Wah, bakal ada pesta makan-makan dong?" tanya Anisa dengan polosnya, lalu sedetik kemudian dia menepuk jidatnya sendiri. "Eh, sori, sori! Harusnya gue prihatin ya? Duh, masker gue retak nih gara-gara kaget!"
Aku yang tadinya mau menangis malah jadi mendengus geli, melempar bantal kecil tepat ke wajahnya. "Nis, gue lagi melow ya, bisa-bisanya lo malah mikirin prasmanan!"
"Ya habisnya lo kalau stres mukanya datar banget kayak tembok tripleks, Ran," sahut Anisa sambil nyengir, mengelap maskerin yang retak di sekitar bibirnya. Dia kemudian bergeser duduk di dekatku, meraih tanganku dan menggenggamnya erat. Sisi humorisnya berganti menjadi ketulusan seorang sahabat sejati.
"Tapi serius, Ran. Gue tahu lo lagi pusing. Nyokap, lomba nasional, tambah lagi urusan politik anak-anak ambisius di sekolah itu." Anisa menatapku lekat-lekat. Sebagai orang yang paling lama mengenalku, Anisa pasti menyadari sesuatu. Di balik mataku yang lelah dan badai yang sedang kuhadapi, aku tidak sedang menyerah kalah. Aku sedang menyusun langkah, mengurai benang kusut itu satu per satu di dalam kepalaku agar semuanya bisa berjalan dengan adil dan baik.
Anisa tahu, aku selalu punya perhitungan matang untuk melindungi hal-hal yang berharga bagiku, termasuk masa depan OSIS dan orang-orang di dalamnya. Pergi ke Bali seminggu ini bukan sekadar urusan lomba atau pelarian, tapi juga caraku memberikan ruang bagi Devan, Enzo, dan Steffi untuk membuktikan kapasitas diri mereka yang sebenarnya tanpa perlu bayang-bayang kehadiranku.
Namun, Anisa memilih untuk tidak mengonfrontasiku lebih jauh tentang strategi apa yang sedang kuatur di kepala.
"Gue gak tahu gimana cara lo bakal beresin semua benang kusut ini nanti, Ran," kata Anisa pelan dengan senyum tulus yang menenangkan. "Tapi satu hal yang gue tahu pasti sejak kita SD, kalkulasi seorang Rania Zahira gak pernah asal-asalan, selalu matang, dan gak pernah berniat merugikan orang lain demi ego sendiri. Jadi, pergi aja ke Bali dengan tenang. Fokus menangin lomba lo."
Anisa merangkul pundakku hangat. "Apapun yang terjadi nanti, dan apapun langkah yang bakal lo ambil buat beresin masalah ini... gue bakal selalu ada di belakang lo buat mendukung. Lagian, kalau lo menang di Bali, gue kan bisa numpang tenar jadi sahabatnya juara nasional."
Aku tertegun sejenak, mendengarnya kembali menyelipkan candaan di akhir kalimatnya. Senyum paling tulus dan beban di pundakku rasanya luruh seketika malam itu. Di balik semua intrik sekolah dan rumitnya masalah pribadi yang menuntutku untuk selalu berpikir keras, setidaknya aku tahu, aku memiliki sahabat yang luar biasa dan aku tidak benar-benar sendirian menghadapi dunia.
23: Lembar Baru (POV Rania)
Sepulang sekolah, area lapangan indoor terasa agak gerah namun ramai. Aku melangkah pelan menuju tribun semen di pinggir lapangan, lalu mendudukkan diri di samping Pak Rama. Beliau sedang duduk bersedekap, menatap lurus ke arah anak-anak ekskul basket yang sedang latihan sore. Decit sepatu karet dan pantulan bola oranye memenuhi langit-langit gedung olahraga.
Namun, tidak ada Devan di sana. Lapangan itu terasa kehilangan poros liarnya. Aku tahu persis, hari ini Devan sengaja izin absen latihan basket demi mempersiapkan materi promosi kampanye ketua OSIS yang sudah resmi dimulai besok pagi.
"Devan enggak ikut latihan, Ran?" tanya Pak Rama tanpa mengalihkan pandangannya dari lapangan. Suaranya berat, memecah keheningan di antara kami.
"Nyiapin kampanye besok, Pak," jawabku tenang, ikut menatap kapten basket pengganti Devan yang sedang melakukan lay-up.
Pak Rama terdiam sejenak. Beliau menghela napas pendek, tatapannya yang tajam masih lurus mengunci lapangan. "Hmmm... dia cocok enggak ya sama Bagas? Menurut kamu, pilihan saya tepat enggak?"
Aku menoleh sekilas, menyunggingkan senyum tipis mendengar keraguan langka dari seorang Pembina OSIS tangguh ini.
"Cocok-cocok aja sih, Pak," ujarku, kembali menatap ke depan. "Bagas kan anak Pramuka, disiplinnya tinggi, kaku, dan serba teratur. Pas banget buat melengkapi Devan yang impulsif dan ugal-ugalan. Perpaduan anak geng motor dan anak Pramuka tunggal... menurut saya itu perpaduan yang lucu, Pak. Tapi make sense aja sih. Haha."
Pak Rama bergumam pendek, menyandarkan punggungnya ke dinding tribun. "Hmmm, begitu ya?"
"Iya, Pak. Lagian, dari banyaknya perbedaan sudut pandang antara keputusan Bapak dan kemauan Devan—ini menurut Devan sendiri lho ya—keputusan Bapak buat menunjuk Bagas jadi wakilnya adalah keputusan yang paling bisa dia terima dengan lapang dada. Haha."
Mendengar penuturanku, sudut bibir Pak Rama tampak terangkat tipis. Beliau menggeleng-gelengkan kepala.
"Hmmm, anak itu... keras kepala sekali, ya?" gumam Pak Rama, nadanya melembut, menyiratkan rasa maklum yang besar. "Tapi, ketulusannya untuk OSIS dan sekolah ini memang tidak bisa diragukan lagi. Saya harus mengakui itu."
"Ya begitulah orangnya, Pak. Udah dari orok wataknya begitu," sahutku santai, ada rasa hangat yang menyelinap saat mendengar Devan diapresiasi. "Tapi benar kata Bapak. Di antara anak-anak OSIS yang saya kenal selama menjabat, dialah yang paling tulus. Ya... selain saya tentunya, ehehe."
Pak Rama langsung menoleh ke arahku, lalu tawa renyahnya pecah. "Haha! Kamu masih bisa bercanda ya, Rania. Dari kemarin-kemarin kamu kelihatan stres dan tegang sekali, sekarang seperti baru dapat angin segar."
"Haha, iya Pak. Tadi malam saya menginap di rumah Anisa. Biasa, sesama cewek, kami curhat banyak hal sampai subuh. Sekarang rasanya beban di kepala saya jauh lebih lega."
"Oh, begitu? Baguslah," Pak Rama mengangguk-angguk paham, ekspresinya kembali serius namun tetap hangat. "Oh ya, besok jadinya saya tidak bisa mendampingi kamu ke Bali. Urusan internal sekolah menjelang Pilketos ini terlalu riskan untuk saya tinggal selama seminggu penuh. Jadi, selain Om Timur, nanti Bu Arum yang akan mendampingi kamu di sana."
Aku mengangguk mengerti. Bu Arum Sekar Wulandari. Beliau adalah guru Bahasa Indonesia di sekolah kami, sama seperti Pak Rama. Desas-desusnya, Bu Arum dulu adalah adik angkatan Pak Rama sewaktu kuliah di Jurusan Sastra. Beliau tipe guru yang sangat ramah, anggun, sekaligus expert di bidang sastra—terutama cipta dan baca puisi. Pilihan yang sangat tepat untuk mendampingiku di FLS3N nanti.
"Siap, Pak. Bu Arum pasti seru diajak diskusi," jawabku. Namun, pikiranku mendadak melompat kembali ke koridor sekolah. Rasa penasaran yang kupendam akhirnya menuntut untuk disuarakan. "Tapi Pak... saya sebenarnya penasaran banget sama jalannya kontestasi Pilketos besok. Pasti bakal seru dan sengit banget. Persaingan tiga kubu yang bener-bener beda massa."
Aku mulai menghitung dengan jari. "Paslon satu: Devan dan Bagas Setyo Nugroho dari Pramuka. Paslon dua: Enzo dan Orion Perdana Kusuma, si ketua ekskul Passus yang militan. Dan Paslon tiga: Steffi dan Najib Ainur Bachtiar, Ketua ekskul ROHIS yang terkenal religius dan punya massanya militan dengan cara berbeda. Ini tiga faksi besar sekolah bakal tabrakan langsung—"
"Sudahlah," Pak Rama langsung memotong kalimatku, membuatku menghentikan hitungan jari. Beliau menatapku dengan sorot mata kebapakan yang tegas. "Buat apa kamu memikirkan itu semua sekarang, Rania? Fokus saja pada lombamu di Bali. Nanti malam istirahat yang cukup. Besok pagi buta kamu sudah harus berangkat ke bandara, kan?"
Aku tertegun sejenak, lalu tersenyum kalah. Beliau benar. "Iya, Pak. Mohon doanya ya, Pak. Dan... terima kasih banyak atas segala bimbingan Bapak selama ini. Saya pamit dulu ya, Pak."
Pak Rama tidak langsung menjawab. Matanya kembali beralih menatap anak-anak basket yang sedang melakukan latih tanding. Di bawah temaram lampu aula olahraga, aku bisa melihat kilat gelisah dan beban berat di raut wajahnya—sebuah kecemasan instan tentang masa depan sekolah yang tidak dapat beliau tutupi dari mataku. Pak Rama tahu badai besar akan datang besok pagi, dan beliau harus menghadapinya sendirian tanpa aku sebagai penengah.
Melihat beliau yang kembali melamun, aku memutuskan untuk berpamitan sekali lagi. Kali ini, aku melangkah setapak lebih dekat.
"Pak Rama... aku pamit, ya."
Aku sengaja mengganti kata ganti 'saya' dengan 'aku'. Sebuah kode kecil, jarak personal yang sengaja kukikis untuk melonggarkan formalitas sejenak—isyarat bahwa di momen ini, aku bukan lagi Ketua OSIS yang sedang menghadap pembinanya, melainkan seorang murid yang menganggap gurunya sebagai pelindung sekaligus tempat bersandar yang aman.
Sambil tersenyum tulus, aku mengulurkan tangan, memberikan tepukan ringan dan menenangkan di bahunya yang tampak tegap namun lelah. Menyalurkan sedikit kekuatan yang kupunya.
Pak Rama tersentak kecil, lalu menoleh menatapku. Matanya melunak, garis-garis tegas di wajahnya berangsur rileks. "Oh... iya. Hati-hati, Rania. Berjuanglah di sana."
Aku berbalik, melangkah keluar dari gedung olahraga yang mulai menggemakan suara peluit akhir latihan.
Begitu kakiku menginjak sejuknya angin sore di luar, sebuah gejolak batin perlahan naik ke permukaan dadaku. Aku mendongak, menatap langit sore Praja Pratama yang perlahan berubah jingga keunguan. Besok pagi, saat aku terbang tinggi menuju Bali, tanah ini akan menjadi medan perang. Tiga faksi dengan tiga ideologi berbeda akan saling sikut, membakar ambisi, dan mempertaruhkan segalanya demi sebuah takhta bernama ketua OSIS.
Aku menghela napas panjang, membiarkan angin sore menyapu helai rambutku.
Jadilah liar, Devan. Mainkan strategimu, Enzo. Dan tunjukkan taringmu, Steffi. Aku sengaja mengosongkan ruang ini. Bukan karena aku menyerah, melainkan karena aku ingin melihat siapa di antara kalian yang benar-benar akan bertahan saat badai mencapai puncaknya.
Aku merapatkan jaket, berjalan mantap menuju gerbang sekolah tanpa menoleh lagi. Lembar baru permainannya resmi dimulai besok, dan dari jauh, aku akan mengawasi setiap langkah mereka dari titik buta yang paling aman.
24: Mikhail Tal (POV Rania)
"Semua barang sudah masuk bagasi, Ran?"
Suara lembut Bunda memecah lamunanku sore itu—ah, bukan, ini masih pagi buta, namun langit kelabu membuat semuanya tampak remang. Bunda berdiri di sampingku, tangannya yang mulai dihiasi kerutan halus merapikan kerah jaket fungsional yang kukenakan. Di dekat mobil yang terparkir di depan pagar, seorang pria paruh baya dengan kemeja rapi sedang menutup pintu bagasi.
Arif Maulana.
Dia adalah pria yang belakangan ini sering datang ke rumah, membawakan martabak kesukaan Bunda, dan mencoba menata kembali senyum di wajah wanita yang paling kucintai itu. Nama belakangnya sama dengan Pak Ramadhan Indrasyah Maulana. Maulana. Sebuah kebetulan yang menggelitik. Di dalam hati, aku sempat berharap bahwa kesamaan nama itu juga membawa kesamaan watak—bijaksana, berwibawa, dan lurus. Tapi, entahlah. Aku tidak begitu peduli. Menaruh ekspektasi terlalu tinggi pada laki-laki bukanlah hal yang bijak untuk dilakukan dalam hidupku. Terlalu berisiko, dan aku benci risiko yang tidak bisa kukalkulasi.
"Sudah semua, Bun," jawabku pelan.
Bunda tersenyum, lalu kedua tangannya naik mengelus kepalaku dengan lembut. Sentuhan yang selalu berhasil membuat pertahananku sedikit goyah.
"Hati-hati di Bali ya, Sayang. Jangan lupa makan teratur. Di sana udaranya panas, jangan lupa pakai sunscreen. Kalau sudah sampai hotel, langsung kabari Bunda. Oh ya, jangan terlalu dipikirkan urusan sekolahnya. Fokus saja ke lombamu, oke?"
Wejangan khas ibu-ibu melow itu mengalir begitu saja. Aku hanya mengangguk patuh, membiarkan Bunda mengecup keningku hangat sebelum akhirnya aku melangkah masuk ke dalam mobil Om Arif.
Perjalanan menuju stasiun untuk mengejar kereta bandara dimulai dalam keheningan yang cukup panjang. Om Arif tampaknya sadar bahwa aku bukan tipe remaja yang mudah diajak berbasa-basi. Dia beberapa kali berdeham, melirikku dari spion tengah, sebelum akhirnya memutuskan untuk membuka suara saat mobil terjebak lampu merah di perempatan kota.
"Rania," panggil Om Arif, suaranya diatur selembut mungkin. "Om tahu... mungkin bagi kamu, kehadiran Om di rumah belakangan ini terasa mengganggu."
Aku tidak menoleh, mataku tetap menatap rintik gerimis tipis yang mulai membasahi kaca jendela mobil. "Enggak terganggu kok, Om."
"Om cuma mau kamu tahu, Ran," lanjutnya, ada nada ketulusan yang defensif di sana. Dia sedang mencoba mengambil hatiku, mencoba mencari restu terselubung. "Om sama sekali tidak berniat untuk menggantikan posisi siapa pun di rumah itu. Om hanya ingin menemani Bundamu, memastikan dia tidak kesepian lagi, dan... Om juga ingin menjaga kamu, kalau kamu mengizinkan."
Mobil kembali berjalan perlahan. Tembok di dalam dadaku seketika meninggi, kokoh dan dingin. Aku sudah terlalu terbiasa menjadi pelindung untuk diriku sendiri dan Bunda. Gagasan tentang seorang pria asing yang tiba-tiba datang dan menawarkan perlindungan terasa seperti sebuah anomali yang tidak perlu.
Ketika mobil akhirnya berhenti di area drop-off stasiun, aku melepas sabuk pengaman dan menatap Om Arif secara langsung untuk pertama kalinya sepanjang perjalanan ini.
"Om Arif," ucapku, suaraku terdengar tenang namun beresonansi kuat di dalam mobil yang kedap suara. "Terima kasih banyak atas tumpangannya. Tapi perlu Om tahu, menyayangi Bunda adalah hak Om sepenuhnya, dan saya menghargai itu. Namun, untuk menjadi bagian dari hidup kami... itu adalah hak prerogatif saya yang tidak bisa dinegosiasikan hanya dengan bersikap baik selama satu jam perjalanan. Mari kita lihat seberapa jauh Om bisa bertahan di labirin keluarga kami tanpa berbalik arah. Selamat pagi, Om."
Aku membuka pintu mobil, turun dengan gerakan elegan, dan menutupnya kembali sebelum Om Arif sempat membalas satu patah kata pun. Dari balik kaca mobil yang gelap, aku tahu dia terpaku.
***
Di dalam stasiun, Bu Arum dan Om Timur sudah menungguku di dekat peron. Setelah menyapa mereka dengan sopan, kami segera naik ke atas kereta eksekutif yang akan membawa kami menuju Jakarta sebelum melanjutkan penerbangan ke Denpasar.
Begitu kereta mulai bergerak meninggalkan stasiun, aku langsung mengeluarkan ponsel. Ada satu pesan masuk dari Devan.
“Gue udah di markas faksi bareng Bagas. Materi kampanye fisik udah siap semua. Doain gue gak bikin rusuh di hari pertama ya, Ratu,” seperti biasa. Belum apa-apa sudah ada niatan bikin onar.
Aku tersenyum tipis, jemariku bergerak cepat di atas layar.
“Jaga emosi lo, Dev. Inget pesan gue kemarin. Panggung lo dimulai hari ini.”
Setelah mengirim pesan itu, aku segera membuka akun Instagram fungsional milikku. Jari-jariku dengan lincah berselancar, memantau pergerakan akun-akun media sosial resmi milik para paslon yang sejak subuh tadi sudah mulai melancarkan strategi kampanye digital mereka.
Kubu Paslon 1 (Devan-Bagas) mengusung tema retro-revolusioner yang berani dan sedikit ugal-ugalan—khas anak motor namun diredam oleh kedisplinan Bagas yang terstruktur.
Kubu Paslon 2 (Enzo-Orion) tampil sangat rapi, militeristik, dengan palet warna biru tua yang dingin dan slogan-slogan tentang wibawa dan ketertiban.
Sementara Paslon 3 (Steffi-Najib) bermain sangat cantik di ranah emosional, menggunakan pendekatan persuasif keagamaan dan kepedulian sosial yang langsung menyentuh hati para siswa kelas sepuluh.
"Seru ya?" Sebuah suara lembut membuatku mendongak. Bu Arum, yang duduk tepat di sebelahku, sedang tersenyum tipis. Beliau meletakkan buku novel tebal yang sejak tadi dibacanya ke atas pangkuan.
"Ah, iya Bu. Lagi memantau persiapan anak-anak di sekolah," jawabku sopan sambil sedikit mengunci layar ponselku.
Bu Arum terkekeh pelan. "Kamu mirip sekali dengan apa yang sering diceritakan oleh Ramadhan."
Aku sedikit tertegun. "Pak Rama sering cerita tentang saya, Bu?"
"Sering," Bu Arum mengangguk, matanya menatapku dengan binar kekaguman yang hangat. "Dia bilang, kamu adalah pusat gravitasi OSIS Praja Pratama. Bahkan saat kamu sedang melangkah pergi sejauh ini pun, mata semua orang di sekolah sebenarnya masih tertuju pada bayangan yang kamu tinggalkan di koridor."
Aku terdiam, merenungkan kata-katanya.
"Saya diam-diam selalu memperhatikanmu dari jauh, Rania," lanjut Bu Arum lagi, nadanya terdengar seperti seorang mentor sastra yang sedang membaca sebuah puisi yang rumit. "Kamu tahu... caramu mengelola konflik di sekolah itu sangat tidak biasa untuk anak seusiamu. Kamu mengingatkan saya pada permainan catur Mikhail Tal."
Darahku seolah berdesir mendengar nama itu disebut oleh Bu Arum. "Mikhail Tal?"
"Iya, sang penyihir dari Riga," Bu Arum tersenyum lebar, tampak senang karena aku mengenali referensinya. "Pecatur lain selalu takut kehilangan bidak mereka. Mereka bermain aman. Tapi Tal? Dia sengaja menciptakan badai di atas papan catur. Dia menumbalkan bidak-bidak berharganya demi menyeret lawan ke dalam situasi yang sangat kompleks, sampai lawan tersebut kebingungan dan membuat kesalahan sendiri karena tidak sanggup membaca jalannya permainan dalam kekacauan."
Bu Arum menatap ke luar jendela kereta, ke arah hamparan sawah hijau yang bergerak cepat. "Dan sekarang, dengan kamu pergi ke Bali di saat sekolah sedang berada di puncak ketegangan Pilketos... bukankah kamu sedang melakukan hal yang sama, Rania? Kamu sedang melakukan sacrifice besar untuk membiarkan lawan-lawanmu beradu taktik di dalam hutan gelap yang kamu tinggalkan."
Aku terpaku di kursiku. Kata-kata Bu Arum menghunjam tepat ke pusat kesadaranku. Beliau membaca polaku dengan sangat akurat, bahkan melampaui apa yang disadari oleh Devan maupun Anisa.
Aku tidak membantah. Aku hanya menyunggingkan senyum paling misterius yang kupunya, lalu kembali menatap ke luar jendela.
Kereta terus melaju kencang, membelah rel, meninggalkan kota asalku yang mulai menghangat oleh ambisi tiga faksi. Di dalam kepalaku, papan catur raksasa itu kini telah bergerak. Aku telah melangkah pergi, melepaskan kendaliku secara langsung dari hiruk-pikuk koridor Praja Pratama.
Biarkan kompetisi ini berjalan apa adanya. Biarkan Devan menguji keliarannya, biarkan Enzo membuktikan kedisiplinannya, dan biarkan Steffi menunjukkan pendekatan persuasifnya. Aku sengaja memberikan ruang kosong ini bukan karena aku tidak peduli, melainkan karena aku ingin melihat siapa di antara mereka yang kepalanya cukup dingin, berhati besar, dan benar-benar tulus untuk bertahan memimpin saat badai mencapai puncaknya.
Dan dari Bali nanti, dari titik pandang yang paling netral dan aman, aku akan mengawasi bagaimana akhir dari permainan ini kedewasaan mereka satu per satu diuji.
Permainan resmi dimulai.
