CHAPTER 1: ALASAN TAK BERALASAN
1. POV DEVAN: KEPALA KELINCI
Dari balik rimbun pucuk merah dekat aula, aku melihat dunia seperti sebuah panggung teater yang buruk. Aku memutar-mutar pemantik Zippo perak di sela jari, menikmati bunyi ting kuningan yang garing setiap kali tutupnya terbuka. Di sebelahku, Rania Zahira Amala, temanku sejak SMP berdiri tegak. Seragamnya terlampau rapi untuk ukuran jam pulang sekolah. Napasnya teratur, seolah kecemasan yang sering dia ceritakan padaku tidak pernah punya tempat di dadanya sore ini.
Di tengah lapangan basket yang gersang, tiga puluh anak kelas sepuluh berbaris dengan kepala merunduk. Di depan mereka, Alfiandra Herlambang— biasa dipanggil Bule karena kulitnya yang terlampau putih untuk ukuran orang pribumi—berjalan mondar-mandir. Kaus hitamnya bergambar kepala kelinci dengan sepasang mata melotot yang memegang dua botol vodka.
"Kalian tahu kenapa nama gangster ini J.Rabbit?" Bule berteriak, suaranya menggema di antara dinding-dinding kelas yang kosong. "J itu singkatan dari Jusuf. Nabi yang bikin perempuan rela mengiris jari sendiri karena saking gantengnya. Jadi, buat lo semua yang jelek jangan ngimpi bakal keterima di sini!”
Tawa Rania nyaris pecah mendengar itu. Tangannya erat-erat menahan mulutnya yang meronta.
“Rabbit itu kelinci. Hewan dengan testosteron paling tinggi di bumi. Dan testosteron itu adalah simbol laki-laki sejati. Pemburu adrenalin, penakluk wanita, tapi punya otak. Jadi J. Rabbit bukan tempat penampungan pecundang. Paham nggak, Cil?" suara Bule makin serak.
Aku mendengar Rania mendengus di sampingku. Suaranya kecil tapi tajam, mirip gesekan pisau pada piring kaca.
"Hormon telanjur penuh, tapi otak tertinggal di rumah," gumam Rania tanpa menoleh padaku.
Aku terkekeh, memasukkan Zippo ke saku celana. "Itu namanya biologi, Ran. Setidaknya mereka jujur pada tubuh mereka sendiri."
"Itu namanya kekanak-kanakan, Dev," balas Rania, matanya masih menatap barisan kelas sepuluh dengan pandangan dingin yang biasa dia gunakan saat mengskors anak di ruang OSIS. "Dunia tidak berputar di sekitar knalpot motor dan ukuran maskulinitas. Suatu hari kamu harus memimpin sesuatu yang lebih besar dari sekadar sekumpulan kelinci kelebihan hormon."
"Hei, aku kapten basket, aku koordinator ekskul taekwondo, dan aku mengurus acara OSIS-mu minggu lalu. Kurasa kepalaku masih terpasang di tempat yang benar."
Rania akhirnya menoleh. Sepasang matanya yang tenang menatapku lurus-urus. Tatapan yang sejak kami SMP selalu berhasil membuatku merasa seperti terdakwa di ruang sidang.
"Memimpin itu berarti selesai dengan dirimu sendiri, Dev. Dan kamu bahkan belum tahu mau jadi apa besok pagi." Rania membenarkan posisi tas ranselnya. "Aku pulang duluan. Besok harus menyerahkan laporan evaluasi pensi ke Pak Rama."
Aku tidak membalas. Aku hanya menatap punggungnya yang bergerak menjauh dengan langkah-langkah konstan yang anggun menuju gerbang sekolah, lalu naik ke atas motor ojek online yang sudah menunggunya. Dadaku selalu terasa sedikit sesak setiap kali dia menyebut nama guru pembina OSIS itu.
Aku berjalan santai menuju tengah lapangan. Sepatu botku berdecit di atas semen.
"Nah, ini dia sang ketua. Baru datang jam segini, Bos?" celetuk Doni kencang. Anak kelas dua belas itu bertubuh tambun dan wajahnya selalu masam. Tangannya sibuk memainkan kunci motor. "Anak-anak baru sudah mau lumutan nungguin Lo."
"Habis mengurus dokumen OSIS," jawabku pendek. Aku berdiri di sebelah Bule, melipat tangan di dada tanpa ada niat untuk meminta maaf.
"OSIS terus," timpal anak kelas dua belas lainnya dengan nada menyindir. "Kita ini senior lo di geng, Dev. Setidaknya hargai waktu kami. Jangan mentang-mentang sudah jadi ketua, lo bisa datang semaunya."
Aku menatapnya dingin. "Gue bertaruh motor gue ya, tidak ada satu pun dari kalian yang bisa menyelesaikan urusan izin malam J.Rabbit ke polsek kemarin kalau bukan lewat surat resmi OSIS yang ditandatangani. Jadi, tutup mulut lo."
Suasana mendadak kaku. Beberapa anak kelas sepuluh saling pandang, ketakutan melihat mataku.
"Sudah, sudah," Bule menengahi, menepuk pundakku dengan santai. Bule adalah pendiri geng ini, senior sekaligus satu-satunya orang di sekolah yang perkataannya tidak pernah kubantah. "Devan memang sibuk. Yang penting dia ada di sini sekarang."
Tepat saat itu, perhatian beberapa anak kelas sepuluh di barisan depan masih teralih pada sisa debu jalanan di luar gerbang, tempat Rania baru saja pergi.
"Gila... itu siapa, Bang? Cantik banget," bisik salah satu bocil di barisan depan dengan mata tidak berkedip.
Bule tertawa keras, tawa yang memecah ketegangan di lapangan. Dia menjitak pelan kepala anak itu.
"Jangan bermimpi terlalu tinggi, Bocil. Itu Rania. Peringkat satu pararel, otak sekolah ini." Bule melirikku yang mendadak terdiam. "Juara catur, deklamasi puisi, dan digadang-gadang bakal jadi ketua OSIS. Kalian semua tidak akan pernah bisa menyentuh levelnya. Jangankan kalian, ketua geng J.Rabbit kita yang paling tampan ini saja sudah dari zaman SMP mencoba, tapi tetap berakhir jadi satpam penjaga hatinya dari jauh."
Sorak tawa anak-anak pecah. Aku hanya mendengus, lalu maju satu langkah untuk mengambil alih barisan.
"Oke anak-anak SMP bau kencur, sekarang dengerin gue ngomong," kataku kencang.
"Kita udah lulus, Bang," sela salah satu bocil di barisan tengah.
Aku terdiam seketika. Kalimatku menggantung di udara. Aku menatap bocil yang menyela itu dengan tatapan tajam dan dingin, jenis tatapan yang biasa kugunakan sebelum menjatuhkan lawan di matras taekwondo. Lapangan mendadak hening. Bule yang tanggap langsung melotot ke arah bocil itu, mengacungkan jari telunjuk di depan bibirnya sendiri sebagai isyarat mutlak untuk diam.
"Hehe, maaf-maaf, Bang. Siap salah," cicit bocil itu ketakutan, kepalanya langsung tertunduk dalam-dalam.
Aku menghembuskan napas pelan, lalu melanjutkan dengan nada yang lebih berat. "Jadi gini, di sini adalah kumpulannya cowok alpha yang nggak boleh lemah. J.Rabbit adalah pelindung dan penjaga SMA Praja Pratama dari balik bayang-bayang. Setelah masuk sini, lu bakal terikat dengan aturan organisasi dan nggak boleh dilanggar. Siapa pun yang melanggar harus siap dengan konsekuensi. Ngerti nggak lu semua?!"
"Mengerti, Bang!" jawab mereka serentak, kompak seperti tentara baru.
"Oke, sekarang kita mulai tes pertama," aku menoleh pada anak-anak kelas dua belas di belakangku. "Guys, cek. Yang mukanya jelek langsung suruh out."
Setelah memberikan perintah seleksi fisik pertama itu, aku berbalik dan berjalan menjauh dari kerumunan menuju parkiran. Bule langsung mengekor di sampingku dengan langkah santai.
"Woy, Dev! Lu tau soal murid baru dari Jakarta itu nggak?" tanya Bule tiba-tiba, menyenggol bahuku.
"Tau. Tapi nggak peduli."
"Yaelah, harusnya elu peduli sih."
"Kenapa?" keningku berkerut, menatapnya malas.
"Soalnya ganteng, bakal jadi saingan lu buat dapetin Rania," goda Bule lagi. Tanpa menunggu balasan dariku, dia langsung memasang langkah seribu, berlari menjauh sambil tertawa puas.
Mendengar itu, mukaku makin masam. Aku menatap punggung Bule yang berlari menjauh, lalu berteriak ketus menimpali ucapannya.
"Bodo amat gue mah! Heh, asal lu tau ya, nggak ada cowok di dunia ini yang deket sama Rania kecuali gue, anj*ng!"
2. POV ENZO: PANGGUNG BARU
Begitu kakiku menginjak semen teras sekolah baru ini, atmosfernya langsung terasa akrab. Desas-desus kecil, tatapan mata yang mencuri pandang dari balik jendela kelas, dan bisikan-bisikan tertahan dari gerombolan siswi yang berpura-pura membaca mading. Ah, dejavu.
Meninggalkan Jakarta dan pindah sekolah bukanlah hal baru bagiku. Ini adalah sekolah keempatku dalam tiga tahun terakhir. Aku sudah hafal polanya. Semua ini adalah efek samping dari pekerjaan Papah sebagai developer perumahan dan pengusaha properti kelas kakap yang selalu bergerak dinamis. Setiap kali ada lahan baru yang potensial untuk dikeruk kekayaannya, setiap kali itu pula kami harus mengemas koper dan berpindah kota.
Aku membenci fakta bahwa hidupku selalu didekte oleh laki-laki itu. Papah adalah sosok ambisius yang memperlakukan anak kandungnya seperti salah satu proyek investasinya: harus terukur, harus bernilai tinggi, dan harus sukses. Dia tidak pernah mau tahu apa yang sebenarnya kuinginkan. Baginya, passion-ku pada fotografi dan musik hanyalah hobi kelas teri yang membuang waktu. Di kepala Papah, hidup hanya memiliki satu definisi tunggal, yaitu menjadi sukses dengan bergelimang harta. Dan aku dipaksa menjadi replikanya.
"Selamat pagi, Enzo. Selamat datang di SMA Praja Pratama."
Suara bariton itu membuyarkan lamunanku. Di depan lobi, Pak Edo sudah berdiri dengan senyum lebar yang dipaksakan. Beliau adalah Kepala Sekolah di sini, salah satu orang yang dengan cepat membungkuk hormat begitu menerima telepon dari Papah kemarin malam. Relasi bisnis Papah dan Pak Edo berjalan sangat baik; kabarnya Papah menyumbang dana yang tidak sedikit untuk pembangunan laboratorium digital baru sekolah ini.
"Pagi, Pak," jawabku sopan, menyalaminya dengan takzim.
"Ayah kamu sudah berpesan banyak pada saya. Jangan khawatir, semua fasilitas dan kebutuhan belajarmu di sini sudah disiapkan dengan jalur terbaik. Kalau ada apa-apa, pintu ruangan saya selalu terbuka untukmu," bisik Pak Edo ramah, menepuk pundakku.
Aku hanya tersenyum tipis, mengangguk formal. Privilege. Semua kemudahan ini terasa hampa ketika aku sadar bahwa aku tidak pernah benar-benar memiliki kendali atas diriku sendiri. Aku hanyalah boneka mahal yang diletakkan di sekolah baru untuk memenuhi ekspektasi orang lain.
Hari-hari pertamaku dimulai di tengah keriuhan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Di tempat baru ini, aku cepat menyadari bahwa panggung opini publik dikuasai oleh satu nama: Steffi Clarissa Budianto. Dia adalah selebgram centang biru sekolah yang sibuk membuat konten A Day in My Life sejak jam pertama. Aku sudah mengenalnya bahkan sebelum aku benar-benar menginjakan kaki di sini. Tapi aku tidak tertarik pada ratu lebah media sosial itu.
Satu-satunya hal menarik di tempat gersang ini adalah gadis yang menjadi Penanggung Jawab di kelasku.
Namanya Rania Zahira Amala.
Sejak jam pertama, auranya sudah terlihat sangat berbeda. Rania bergerak dengan ketangkasan yang mengagumkan. Puncaknya adalah siang ini, saat dia mengkoordinir ratusan murid baru di tengah lapangan panas untuk pembuatan paper mob koreografi lambang sekolah.
Dari lantai dua gedung aula, aku memperhatikannya. Suaranya lewat megapon terdengar tegas tanpa harus menjerit-jerit panik. Tangannya memberi komando dengan ritme yang pasti, membuat lautan manusia di bawahnya bergerak tertib membalikkan kertas-kertas berwarna. Dia seperti seorang dirigen orkestra yang tahu persis ke mana nada harus diarahkan. Anggun, tapi mematikan. Pantas saja desas-desus sekolah menyebutnya sebagai calon kuat Ketua OSIS berikutnya.
Begitu acara selesai dan barisan dibubarkan, aku memutuskan untuk bergerak. Aku menunggunya di dekat koridor ruang OSIS, tempat dia sedang merapikan tumpukan kertas karton sisa.
"Butuh bantuan?" tanyaku sambil melangkah mendekat.
Rania mendongak. Dia tampak sedikit terkejut, tapi dengan cepat menguasai diri dan melempar senyum ramah yang proporsional. "Eh, nggak usah, terima kasih. Ini cuma tinggal dibawa ke dalam ruang sekretariat."
"Kenalin, gue Enzo Lucien Adiwangsa. Lu bisa panggil gue Enzo. Anak baru yang tadi duduk di barisan pojok belakang," ujarku, mengulurkan tangan.
Dia menyambut uluran tanganku sejenak. Genggamannya formal, sopan, dan cepat. "Rania."
"Gue cuma mau bilang, koreografi paper mob tadi keren banget. Nggak gampang ngatur ratusan kepala di tengah terik siang begini, tapi lu bisa bikin itu kelihatan gampang," puji aku jujur.
"Terima kasih atas apresiasinya, Enzo. Itu kerja keras seluruh panitia, bukan cuma aku," balasnya rendah hati. Nada bicaranya santun, tapi aku bisa menangkap sebuah sinyal yang tak kasat mata. Ada benteng pertahanan yang tebal di balik keramahannya. Cara berdiri dan tatapan matanya seolah mengirimkan pesan tegas bahwa dia sedang menjaga jarak yang amat aman dari semua jenis laki-laki. Menarik.
"Gue denger, minggu depan udah mulai open recruitment buat anggota OSIS baru ya?" tanyaku lagi, mencoba memperpanjang obrolan. "Gue tertarik buat gabung."
Rania menaikkan sebelah alisnya, tampak sedikit tertarik. "Oh ya? Bagus kalau begitu. Kita memang butuh orang-orang yang punya inisiatif tinggi. Nanti formulirnya bisa diambil di—"
Kalimat Rania mendadak menggantung. Pandangannya beralih ke arah lapangan basket yang berada tepat di seberang koridor tempat kami berdiri.
Aku ikut menoleh, mengikuti arah matanya.
Di bawah ring basket, seorang cowok berpostur jangkung dengan seragam yang sengaja tidak dimasukkan sedang berdiri memegang bola. Di sebelahnya, ada cowok berkulit sangat putih mengenakan kaus hitam bergambar kepala kelinci bermata melotot. Tapi cowok jangkung berwajah dingin itulah yang menyita perhatianku. Rahangnya mengeras. Dia menatap ke arah kami—atau lebih tepatnya, menatap lurus ke arahku—dengan sepasang mata yang menyipit sinis. Tatapan intimidasi khas penguasa wilayah, seolah aku adalah mangsa yang baru saja salah menginjakkan kaki di tanah perburuannya.
"Ehem, permisi ya, Enzo. Aku harus masuk duluan," kata Rania terburu-buru, memutus kontak mata dengan cowok di lapangan itu dan langsung melangkah masuk ke dalam ruang OSIS, meninggalkan atmosfer koridor yang mendadak terasa dingin.
Aku tetap berdiri di tempatku. Kutatap balik cowok jangkung di seberang lapangan sana, lalu aku melempar senyum tipis yang penuh arti ke arahnya sebelum berbalik.
Selamat datang di sekolah baru, Enzo Lucien Adiwangsa. Kelihatannya sang ketua gangster lokal sudah mulai merasa terancam.
3. POV STEFFI: LENSA KAMERA & BAYANG-BAYANG
"Halo Guys! Welcome back to my vlog! Hari pertama MPLS di SMA Praja Pratama seru banget, kan? Nah, sekarang gue lagi bareng dua cowok paling hits se-Praja Pratama. Di sebelah kanan gue, ada Ketua J.Rabbit yang baru, ganteng, dan pastinya pawang lapangan basket... Devandra Vira Yudhistira!"
Aku mengarahkan kamera mirrorless-ku ke wajah Devan, memasang senyum termanis yang sudah kulatih ribuan kali di depan cermin. Ekspresi wajahku di layar tampak sempurna—glowing, ceria, dan sangat approachable. Ratusan ribu pengikutku di Instagram dan TikTok pasti akan langsung membanjiri kolom komentar dengan emotikon hati begitu video ini diunggah. Eksposur dari Devan adalah ladang likes dan views yang tidak boleh kusia-siakan.
Sayangnya, cowok di sebelahku ini tidak seantusias penontonku. Devan hanya menatap sekilas ke arah lensa, melipat tangan di dada dengan rahang kokohnya yang kaku.
"Halo," sapanya, pendek dan dingin.
Aku menahan senyum profesional agar tidak luntur. Sebenarnya, aku tahu Devan membenci kamera. Tapi demi ambisi besarnya yang ingin mengubah citra J.Rabbit dari sekadar geng motor pembuat onar menjadi organisasi yang dipandang baik oleh pihak sekolah, dia rela menahan harga dirinya dan menyetujui wawancara ini.
"Nah, di sebelah Devan, ada sang legenda hidup sekaligus mantan ketua kita... Alfiandra Herlambang, alias Kak Bule!" Aku menggeser kamera ke arah Bule yang langsung menyengir lebar, memamerkan deretan giginya yang rapi.
"Yo, halo warga internet yang budiman! Terutama buat adek-adek gemes kelas sepuluh yang baru masuk," sahut Bule heboh, langsung melambaikan kedua tangannya ke kamera. "Jangan lupa follow akun gue ya, @bule_kelincitestosteron. Akunnya privat, tapi kalau mukanya estetik langsung gue acc dalam dua detik."
Aku terkekeh geli. "Kak Bule bisa aja. Oke, Kak, pertanyaan pertama buat Kak Bule. Gimana rasanya setelah resmi turun takhta dan menyerahkan kepemimpinan J.Rabbit ke Devan?"
Bule memegang dagunya, berlagak berpikir keras. "Jujur, beban hidup gue berkurang sekitar delapan puluh persen, Stef. Sekarang gue bisa fokus ke cita-cita utama gue setelah lulus sekolah."
"Wah, apa tuh Kak? Kuliah di luar negeri?" tanyaku, memancing jawaban keren.
"Bukan. Jadi simpanan tante-tante kaya di Jakarta. Biar hidup tinggal napas doang, uang mengalir sendiri," jawab Bule lempeng.
"Kak Bule! Nggak boleh gitu dong di kamera!" aku mencubit lengannya pelan sambil tertawa, sementara Devan di sampingnya hanya mampu memijit pelipisnya, kelihatan menyesal karena telah membawa Bule masuk ke dalam frame.
"Oke, sekarang ke Devan," aku kembali memfokuskan kamera ke wajah tampan Devan. "Dev, apa visi utama kamu buat J.Rabbit ke depannya? Katanya mau ada gebrakan baru, ya?"
Devan berdeham, menata suaranya agar terdengar lebih berwibawa. "J.Rabbit bukan cuma soal motor. Ke depannya, kita bakal lebih fokus ke aksi sosial, sinergi dengan kegiatan sekolah, dan memastikan keamanan internal Praja Pratama. Kita mau membuktikan kalau—"
Kalimat Devan mendadak terputus. Sepasang mata elangnya mendadak terkunci pada sesuatu di tengah lapangan panas. Aku ikut melirik. Di sana, Rania Zahira Amala sedang mulai sibuk mengomandoi anak-anak kelas sepuluh, bersiap untuk sesi paper mob. Dia tampak kerepotan memegang tumpukan megafon dan kertas karton besar sendirian.
Tanpa aba-aba, Devan langsung menurunkan tangannya dari dada. "Gue cabut dulu. Ada urusan."
"Eh, Dev? Tapi vlog-nya belum selesai—"
"Selesaiin aja sama Bule," potong Devan impulsif. Dia langsung melangkah lebar-lebar meninggalkan area aula, setengah berlari menuju lapangan panas hanya untuk menghampiri Rania dan mengambil alih tumpukan kertas di tangan gadis itu.
Aku terpaku menatap punggungnya. Kamera di tanganku rasanya mendadak menjadi sangat berat.
"Waduh, Stef. Sang Elang kalau udah liat pawangnya emang langsung jinak," celetuk Bule yang rupanya masih setia berdiri di depan kamera. Dia mendekatkan wajahnya yang putih ke lensa, lalu berbisik, "Buat penonton sekalian, adegan barusan jangan ditiru, ya. Itu contoh bucin akut tingkat stadium akhir. Kalau kalian butuh tutor cowok yang selalu ada dan bisa dihubungi dua puluh empat jam... hubungi nomor di bawah ini." Bule menunjuk-nunjuk bagian bawah layar yang kosong.
"Kak Bule, ih! Udah ah, gue cut ya!" kataku ketus, menekan tombol stop dengan perasaan jengkel yang mulai naik ke ubun-ubun.
"Wkwkwk, aman, Stef. Gue ke kantin dulu ya, mau nyari takdir," pamit Bule sambil melenggang pergi tanpa beban.
Setelah Bule menghilang, aku menurunkan kamera dan duduk di bangku panjang koridor aula. Mataku tidak bisa lepas dari pemandangan di tengah lapangan. Di sana, Devan sedang berdiri di samping Rania, memayungi gadis itu dari terik matahari menggunakan selembar karton besar sambil sesekali membantunya meneriakkan komando.
Dada ini rasanya sesak sekali. Konflik batin yang kupendam berbulan-bulan kembali bergejolak.
Kenapa? Kenapa harus Rania?
Aku sudah melakukan segala cara untuk mendapatkan perhatian Devan. Aku mempercantik diriku setiap hari, menaikkan gengsi media sosialku, bahkan rela merendahkan ego demi membuat konten bersamanya agar kami sering terlihat berdua. Tapi di mata Devan, aku seolah-olah transparan. Aku selalu berada di dalam bayang-bayang Rania.
Padahal kalau mau jujur, Rania tidak lebih baik dariku. Dia tidak lebih cantik—wajahnya terlalu polos tanpa riasan. Soal kepintaran dan prestasi akademik? Aku masih bisa mengimbanginya di peringkat pararel atas. Kalau soal kekayaan, jelas keluargaku jauh lebih bergelimang harta. Apa sih sebenarnya yang dikejar Devan dari cewek sekaku itu yang tidak ada di dalam diriku? Apa yang kurang dari seorang Steffi Clarissa?
"Gila, ganteng banget... Itu anak baru yang dari Jakarta ya?"
"Iya! Namanya Enzo kalau nggak salah. Mirip artis-artis Korea, necis banget parah!"
Suara bisik-bisik heboh dari gerombolan siswi kelas sebelas yang lewat di depanku membuyarkan lamunan. Fokusku teralihkan. Rasa penasaran mengalahkan rasa sedihku. Aku berdiri, merapikan rok seragamku yang sedikit kusut, lalu melangkah menuju koridor arah ruang OSIS tempat gerombolan cewek itu menunjuk.
Dan di sanalah aku melihatnya.
Seorang cowok berpostur tegap dengan potongan rambut rapi yang modis sedang berdiri bersandar di pilar koridor. Seragamnya bersih, pas di badan, dan memancarkan aura mahal yang sangat berbeda dari anak-anak lokal di sini. Begitu dia menoleh dan mata kami bertemu, dia tidak membuang muka. Dia justru tersenyum—senyum ramah yang tenang, sangat bertolak belakang dengan tatapan tajam Devan yang selalu membuatku terintimidasi.
"Hai," sapanya duluan saat jarak kami menipis. "Lo Steffi Clarissa, kan? Yang punya akun centang biru itu?"
Langkahku terhenti. Sontak, ada perasaan bangga yang menggelitik dadaku karena dikenali oleh cowok sekelas dia. "Eh? Iya, bener. Kok lo tahu?"
"Gue Enzo," dia mengulurkan tangan dengan gerakan yang sangat sopan. "Sebelum pindah ke sini, gue sempat riset soal Praja Pratama di media sosial, dan wajah lo selalu muncul di halaman utama. Di dunia nyata, ternyata lo kelihatan jauh lebih menarik daripada di layar ponsel."
Jantungku rasanya melewatkan satu detakan. Sialan, kalimatnya barusan terdengar sangat halus tapi langsung menghujam tepat ke sasarannya. Percakapan singkat itu entah bagaimana berhasil memikat hatiku dalam sekejap, membuat pertahanan yang kubangun untuk Devan mendadak goyah.
Aku membalas uluran tangannya, merasakan kehangatan yang asing. "Bisa aja lo. Selamat datang kalau gitu di Praja Pratama, Enzo."
Saat Enzo kembali tersenyum dan mulai menanyakan beberapa hal tentang sekolah, pikiranku mendadak bimbang. Aku melirik sekilas ke arah lapangan luar tempat Devan masih sibuk mengekor di belakang Rania, lalu kembali menatap mata Enzo yang teduh di hadapanku.
Bad boy yang dingin, cuek, dan melelahkan untuk dikejar... atau good boy necis dari ibu kota yang tahu cara menghargai keberadaanku sebagai opsi baru? Permainan di sekolah ini tampaknya baru saja dimulai, dan aku punya bidak baru untuk dimainkan.
4. POV DEVAN: SCREENING FISIK
Bunyi derit karet sepatu yang bergesekan dengan semen lapangan basket selalu bisa menjernihkan kepalaku. Sore ini, udara Praja Pratama terlampau gerah, tapi aku sengaja tidak menurunkan intensitas latihan. Sebagai kapten, aku mendribel bola dengan ritme cepat, melewati dua adik kelas yang berjaga lambat, lalu melakukan lay-up mulus yang diakhiri dengan dentingan ring besi.
"Bagus, Dev! Tapi anak-anak kelas sepuluh nih staminanya loyo amat, kayak belum sarapan dari kemarin!" teriak Doni dari pinggir lapangan sambil menenggak air mineral.
Aku menyeka keringat di dahi dengan ujung jersi basketku yang bernomor punggung 07. Aku baru saja hendak menginstruksikan barisan untuk melakukan sesi scrimmage—game tanding internal—saat mataku menangkap sesosok bayangan melangkah masuk ke area lapangan luar.
Dia memakai kaus olahraga putih polos dan celana pendek hitam. Rambut necisnya agak berantakan terkena angin, tapi sialnya, dia masih kelihatan seperti model katalog baju olahraga. Enzo. Anak baru dari Jakarta yang hari pertama membuat mukaku masam karena berani-beraninya mendekati koridor Rania.
"Sore, Bang. Gue boleh ikut gabung latihan?" tanya Enzo dengan nada suara yang sialan... sopan sekali. Terlalu sopan sampai rasanya memuakkan di telingaku.
Anak-anak anggota basket langsung saling lirik. Mereka tahu betul kalau lapangan ini adalah teritorial mutlak J.Rabbit. Siapa pun yang mau menginjakkan kaki di sini harus lewat restuku.
Aku memutar bola basket di ujung jari telunjukku, menatapnya dari ujung kaki sampai ujung kepala. "Anak baru ya? Sori, ini latihan intensif buat tim inti, bukan lapangan umum buat main cantik. Kalo lu mau join ekskul basket dateng aja hari Rabu, itu jadwalnya buat para pemula." Senyumku mengintimidasi.
Enzo tidak ciut. Dia justru tersenyum tipis, jenis senyum tenang yang penuh percaya diri. "Gue tahu. Di sekolah lama gue di Jakarta, gue pegang posisi point guard utama. Kurasa gue nggak bakal ngerusak ritme latihan tim lo, Bang."
Tantangan terselubung. Aku bisa merasakan darahku mendadak berdesir panas. Sifat kompetitifku sebagai cowok alpha langsung tersengat.
"Oke," kataku, melempar bola basket di tanganku dengan bertenaga ke arah dadanya. Enzo menangkapnya dengan refleks yang cepat dan mulus. Sial, tangannya kokoh. "Kebetulan tim A kurang satu orang. Lo masuk tim B, gabung sama Doni. Kita lihat seberapa tahan style Jakarta lo main di lapangan tanah gersang kayak gini."
Game dimulai. Aku sengaja mengambil posisi untuk menjaga Enzo secara langsung. Aku ingin melakukan physical screening—intimidasi fisik yang biasa kugunakan untuk meruntuhkan mental lawan di matras taekwondo. Begitu Enzo menguasai bola, aku langsung menempelnya ketat. Dadaku membentur bahunya dengan sengaja, memberikan tekanan fisik yang keras agar dia kehilangan keseimbangan.
Tapi yang bikin gerahamku mengeras, Enzo ternyata punya fondasi yang sangat kuat. Dia tidak goyah. Dengan ketenangan yang menyebalkan, dia memanfaatkan poros tubuhnya untuk melindung bola, melakukan crossover cepat yang nyaris membuat pergelangan kakiku terkilir, lalu mengoper bola dengan akurat ke arah Doni yang bebas di bawah ring. Poin.
"Gila, operannya matang banget!" puji Doni refleks, yang angsung bungkam begitu melihat tatapan mematikan yang kulemparkan padanya.
Aku mengembuskan napas kasar. Anak ini bukan sekadar cowok manja kaya raya. Dia punya skill, punya otak, dan punya nyali.
Di pertengahan game, tensi makin memanas. Aku tidak sudi dikalahkan di rumahku sendiri. Saat Enzo melakukan penetrasi ke dalam area penalti dan melompat untuk melakukan jumper shot, aku ikut melompat tinggi. Aku tidak hanya mengincar bolanya; sikutku sengaja menghantam pundaknya dengan keras di udara.
Brak!
Enzo mendarat dengan tidak sempurna, kakinya sempat terseret di semen lapangan. Namun, bolanya tetap meluncur mulus masuk ke dalam jaring. Angka untuk timnya.
"Gila, kasar banget, Bang!" bisik salah satu anak kelas sepuluh ketakutan, tapi tidak ada yang berani meniup peluit pelanggaran untuk kapten mereka sendiri.
Enzo berdiri perlahan, memegangi pundaknya yang pasti akan memar besok pagi. Dia menatapku. Tidak ada kemarahan di matanya, yang ada justru kilat kepuasan seolah dia berhasil membaca sifat asliku. "Main yang bagus, Kapten," bisiknya lirih, hanya bisa didengar olehku.
Tepat saat urat di leherku rasanya mau putus karena kesal, sebuah suara familier terdengar dari arah tribun penonton.
"Devan! Laporannya ditaruh di mana?"
Aku menoleh cepat. Rania. Dia sedang berdiri di pinggir lapangan sambil memeluk papan jalan OSIS, seragamnya sudah berganti dengan kaus putih berlogo Praja Pratama. Sepertinya dia baru selesai mendata perlengkapan untuk open recruitment ekskul.
Sebelum aku sempat menjawab, Enzo sudah bergerak lebih dulu. Dia berjalan santai melewati aku, mengambil botol air mineral dari bangku, lalu melangkah menghampiri Rania dengan senyum cerah—seolah benturan keras yang kuberi tadi sama sekali tidak memengaruhi fisiknya.
"Hei, Rania. Masih sibuk jam segini?" sapa Enzo, suaranya terdengar kasual dan hangat.
Rania menurunkan papan jalannya sedikit, menatap Enzo dengan tatapan ramah proporsionalnya yang biasa. "Eh, Enzo? Kamu ikut ekskul basket juga ternyata?"
"Iya, lagi dicoba. Kapten kalian... mainnya sangat 'bertenaga'," jawab Enzo sambil melirik sekilas ke arahku dengan senyum penuh arti, sengaja mengadu secara halus.
Rania langsung mengalihkan pandangannya padaku. Sepasang matanya yang tenang mendadak menyipit, memberi tatapan penuh selidik yang langsung membuatku salah tingkah. Dia tahu betul kebiasaanku yang suka bermain kasar kalau sedang tidak suka pada seseorang.
Aku mengepalkan tangan erat-erat di samping paha, berdiri kaku di tengah lapangan yang mulai mendingin. Demi apa pun, aku bersumpah dalam hati, aku akan menghancurkan senyum sok asik anak Jakarta itu di panggung apa pun yang akan dia pilih setelah ini. Karena Rania... adalah batas suci yang tidak boleh dia sentuh.
POV ENZO: LANGKAH PERTAMA
Lengan kiriku terasa sedikit kaku pagi ini. Memar biru bekas hantaman sikut Devandra di lapangan basket kemarin mulai muncul, tapi aku justru tersenyum saat melihatnya di cermin toilet sekolah. Sikut itu bukan cuma tanda permainan yang kasar; itu adalah tanda bahwa kalkulasiku tepat. Devandra terusik. Dan orang yang terusik cenderung melakukan gerakan yang bisa diprediksi.
Namun, aku tidak boleh meremehkannya. Dari berkas data sekolah yang sempat kubaca di ruang Pak Edo, Devan bukan cuma ketua geng motor yang modal otot. Dia kapten basket, koordinator taekwondo, dan otaknya cukup encer untuk bertahan di jajaran atas manajemen OSIS. Dia tahu cara mengelola massa. Menghadapi orang seperti Devan dengan konfrontasi fisik langsung adalah tindakan bodoh. Aku harus memotong suplai oksigennya dari jalur lain: opini publik dan informasi.
Itulah kenapa sepulang sekolah, kakiku melangkah menuju ruang laboratorium multimedia. Tempat di mana Steffi Clarissa sedang sibuk menyusun properti ring lampu untuk sesi foto produk endorse-nya.
"Butuh reflektor?" tanyaku, bersandar di ambang pintu yang terbuka.
Steffi mendongak, matanya langsung berbinar begitu mengenali wajahku. Kesedihan yang kemarin sempat kulihat saat dia memandangi Devan di lapangan kini lenyap, digantikan oleh binar ambisi seorang kreator konten.
"Enzo! Eh, boleh banget. Tolong pegangin di sebelah kanan sini," ujarnya, langsung mengarahkan.
Aku membantunya dengan tenang. Sambil menggeser posisi lampu, aku mulai melemparkan umpan tipis. "Gue liat vlog lo yang kemarin bareng Devan dan Bule. Engagement-nya tinggi, tapi sayang... bagian akhirnya kepotong pas Devan mendadak pergi."
Ekspresi Steffi mendadak berubah agak masam, meski dia berusaha menutupinya dengan tawa kecil. "Ah, itu... Devan emang sering impulsif kalau ada urusan OSIS mendadak."
"OSIS... atau Rania?" pancingku halus, dengan nada suara sewajar mungkin.
Steffi menghentikan gerakan kameranya. Dia menatapku, ada kilat keterkejutan sekaligus rasa tidak puas yang tertangkap di matanya. Aku tahu persis rasanya menjadi nomor dua yang tidak pernah dianggap.
"Gue punya penawaran, Stef," kataku, melangkah mendekat dan menurunkan reflektor. "Gue tahu akun lo butuh wajah baru buat variasi konten aesthetic lo. Gue bersedia jadi model atau rekan kolaborasi konten lo selama sebulan ke depan. Free. Gue jamin insight medsos lo bakal naik dua kali lipat."
Steffi menaikkan alisnya, tertarik sekaligus curiga. "Imbalannya? Cowok sekelas lo nggak mungkin ngasih penawaran cuma-cuma."
Aku tersenyum tipis. "Gue cuma butuh pemandu arah. Sebagai anak baru, gue butuh tahu peta kekuatan di sekolah ini. Terutama... tentang J.Rabbit dan gimana Devan bisa memegang kendali atas semuanya."
Steffi terdiam sejenak, menimbang-nimbang. Di otaknya, dia pasti sedang menghitung keuntungan: mendapat model necis asal Jakarta untuk menaikkan kelas sosial medianya, sekaligus memberi pelajaran kecil pada Devan yang selalu mengabaikannya. "Oke," jawab Steffi akhirnya, menyunggingkan senyum licik. "Deal. Besok kita mulai."
Satu bidak berhasil kupasang.
Sorenya, saat aku berjalan menuju parkiran luar tempat mobilku berada, aku menemukan kejutan kecil. Ban belakang sebelah kanan mobilku dalam keadaan kempes total. Tidak ada coretan, tidak ada kerusakan lain. Hanya sebuah lubang halus bekas tusukan paku payung kecil di katup udara.
Bersih. Rapi. Ini bukan kerjaan vandal amatir. Ini adalah pesan terselubung dari sang penguasa wilayah.
Aku tidak menelepon montir atau melapor ke guru piket. Aku justru mengambil tas ranselku, menguncinya di bagasi, lalu berjalan kaki dengan santai sejauh dua ratus meter menuju warung kopi Mak Lastri di pojokan pertigaan luar sekolah. Markas besar J.Rabbit.
Begitu sepatuku menginjak tanah berdebu warung itu, suasana yang tadinya bising oleh suara tawa mendadak hening. Sekitar lima belas anak J.Rabbit menoleh ke arahku. Di meja pojok, Devandra sedang duduk tenang sambil memegang segelas es teh manis. Di sebelahnya, Bule sedang asyik merokok dengan kaki terangkat satu ke atas kursi.
Tidak ada yang berdiri menyerangku. Mereka menyambutku dengan formasi yang rapi, membuktikan kalau Devan sudah mengantisipasi kedatanganku.
Aku melangkah lurus menuju meja Devan, mengabaikan tatapan intimidasi dari anak buahnya.
"Sori mengganggu waktunya, Kapten," kataku dengan nada santai. Aku merogoh saku celana, mengeluarkan selembar uang seratus ribuan, lalu meletakkannya di atas meja, tepat di depan gelas Devan. "Gue nggak tahu kalau biaya parkir di luar gerbang sesepuh Praja Pratama semahal ini. Tolong sekalian minta anak buah lo buat pompa ban mobil gue balik, ya. Kembaliannya ambil aja buat beli es teh."
Beberapa anak kelas sebelas di belakangku langsung menahan napas. Tindakanku jelas merendahkan harga diri mereka menggunakan uang.
Urat di rahang Devan mengeras, tapi dia tidak berdiri atau memukul meja. Dia justru tersenyum dingin, menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kayu. "Uang lo nggak laku di sini, Anak Jakarta. Di Praja Pratama, kalau ban lo bocor, lo harus belajar cara ganti ban sendiri pakai tangan lo. Jangan manja."
Bule yang berada di samping Devan menghembuskan asap rokoknya ke atas, menatapku dengan sepasang mata yang mendadak kehilangan unsur humorisnya. "Enzo Lucien Adiwangsa," sebut Bule, suaranya berat. "Gue akuin nyali lo gede buat dateng ke sini sendirian. Tapi dengerin gue, di sini... lo itu tamu. Dan tamu yang baik nggak bakal nyoba buat ngetuk pintu kamar tuan rumah kalau nggak mau ditendang keluar."
Aku membalas tatapan Bule, lalu beralih kembali pada Devan. "Gue cuma bertamu ke tempat yang menarik, Bang. Dan sejauh ini, sekolah ini kelihatan sangat menarik buat gue eksplor lebih dalam."
Devan mengambil uang seratus ribu di meja, lalu melipatnya dengan rapi sebelum menyelipkannya kembali ke kantong seragamku. Dia menepuk pundakku dengan tekanan yang cukup kuat. "Nikmatin masa bertamu lo, Enzo. Karena begitu pintu gerbang dikunci, lo nggak bakal bisa keluar lagi dengan cara yang sama."
Aku tersenyum, mengangguk formal pada mereka berdua. "Terima kasih atas sambutannya. Gue pamit duluan."
Aku berbalik dan melangkah pergi dari warung itu dengan kepala tegak. Di belakangku, aku bisa merasakan atmosfer yang bergeser. Permainan catur ini bukan lagi soal siapa yang punya otot paling besar, tapi siapa yang bisa membaca tiga langkah ke depan sebelum lawan sempat menggerakkan bidaknya. Dan Devan... baru saja membuktikan kalau dia adalah lawan yang sepadan.
6. POV STEFFI: VALUASI DIGITAL
Layar ponselku menyala di tengah temaram kamar, memantulkan angka-angka grafik yang terus bergerak naik. Aku menggeser ibu jariku ke atas, melakukan refresh pada halaman dashboard insight Instagram-ku. Kurva pertumbuhan pengikutku melonjak tajam dalam dua puluh empat jam terakhir. Interaksi, jangkauan akun, hingga jumlah penayangan video pendek semuanya berwarna hijau segar.
Aku menghela napas panjang, melempar ponsel itu ke atas kasur empukku, lalu menatap langit-langit kamar.
Penawaran Enzo Lucien Adiwangsa kemarin di ruang multimedia terus berputar di kepalaku seperti kaset rusak. Aku bukan cewek bodoh nan naif yang gampang silau hanya karena disodori wajah tampan dan status anak Jakarta. Aku tahu betul hukum dasar media sosial, begitu juga hukum dasar interaksi manusia: tidak ada makan siang gratis. Enzo tidak benar-benar tertarik padaku. Ada udang di balik batu. Ada ambisi terselubung yang sedang dia susun rapi, dan aku harus memecahkan teka-teki itu sebelum benar-benar memantapkan kaki untuk bekerja sama dengannya.
Aku menyipitkan mata, mencoba merangkai potongan demi potongan petunjuk. Mengapa anak baru dengan privilege sebesar dia begitu penasaran dengan peta kekuatan J.Rabbit? Mengapa dia menargetkan Devan?
Tunggu.
Pikiranku mendadak terkunci pada satu muara. Lapangan basket. Kemarin lusa, Devan bermain sekasar itu hanya karena Enzo mendekati koridor ruang OSIS. Jangan-jangan semua ini... berhubungan dengan Rania?
"Sialan," umpatku lirih, meremas bantal di pelukanku.
Cewek itu lagi. Selalu Rania Zahira Amala yang menghantui dan berdiri di dalam bayang-bayang hidupku. Kenapa semua cowok berpengaruh di sekolah ini harus menjadikan dia sebagai poros utama? Apa hebatnya cewek yang bahkan tidak tahu cara memadukan warna pakaian itu?
Aku menegakkan posisi duduk, kilat licik mulai melintas di mataku. Aku mulai mengatur siasat. Aku tidak boleh sepenuhnya percaya pada Enzo. Aku harus menjaga jarak aman agar tidak berakhir menjadi pion yang dibuang setelah tidak lagi berguna. Namun di sisi lain, tidak ada salahnya memanfaatkan situasi ini. Selama kerja sama ini menghasilkan keuntungan bersama dan mendongkrak namaku ke puncak tertinggi, aku akan mengambil risikonya. Untuk sementara, jalanin saja dulu skenario yang ada.
Siasatku berbuah manis. Sesi pembuatan konten pertamaku dengan Enzo di taman belakang sekolah sore itu berjalan luar biasa sempurna. Enzo adalah komoditas visual yang mahal; dia tahu cara memposisikan tubuh di depan kamera, kapan harus melempar senyum tipis, dan bagaimana membiarkan matanya berbicara. Kami membuat beberapa video transisi mode busana dan konten kasual bertema "Anak Baru Ibu Kota".
Hasilnya? Ledakan eksposur yang gila.
Hanya dalam waktu dua hari, namaku tidak hanya menjadi buah bibir di SMA Praja Pratama, tetapi juga meluas ke seantero SMA sewilayah kota. Di kolom komentar, semua siswi dari berbagai sekolah sibuk menanyakan siapa cowok necis di sebelahku, dan itu secara otomatis menaikkan kelasku sebagai satu-satunya cewek yang bisa "merangkul" anak baru paling eksklusif tersebut. Aku berada di atas angin.
"Grafik lo naik pesat, kan?"
Suara Enzo membuyarkan fokusku dari layar ponsel. Kami sedang duduk di kedai kopi estetik yang jaraknya beberapa blok dari sekolah, tempat yang sengaja kupilih agar tidak terlalu mencolok dari radar anak-anak J.Rabbit. Enzo menyesap iced americano-nya dengan tenang, gesturnya sangat santai namun tatapannya tetap menuntut.
"Gue tepatin janji gue, Stef. Sekarang, giliran lo," lanjutnya, mencondongkan tubuh ke depan meja. "Jelasin ke gue, gimana peta kekuatan di Praja Pratama. Gimana caranya seseorang bisa punya pengaruh absolut di sana selain lewat jalur premanisme kayak yang dilakukan Devan?"
Aku tersenyum tipis, mengaduk matcha latte-ku lambat-lambat. Ini saatnya menguji kedalaman airnya.
"Di Praja Pratama itu simpel, Nzo," ujarku, menopang dagu dengan satu tangan sambil menatapnya lekat-lekat. "Kalau lo mau berkuasa lewat jalur informal dan disegani di jalanan, lo harus punya J.Rabbit kayak Devan. Tapi kalau lo mau punya pengaruh absolut yang legal, yang bisa bikin kepala sekolah sampai guru-guru tunduk dan dapet hormat dari seluruh murid lurus... lo harus pegang takhta tertinggi di birokrasi."
Aku sengaja menjeda kalimatku, membaca perubahan ekspresi di wajahnya. "Jalur itu cuma ada satu, Nzo. Kursi Ketua OSIS. Dan tebak siapa calon tunggal terkuat yang paling dipuja saat ini? Rania."
Mendengar nama itu disebut, ada kilat aneh yang melintas cepat di sepasang mata teduh Enzo. Dia meletakkan gelasnya, lalu menyunggingkan senyum dingin yang tampak sangat ambisius.
"Calon tunggal?" Enzo terkekeh, nadanya merendahkan. "Sebuah panggung politik nggak akan seru kalau cuma diisi satu kontestan, Stef. Dan kurasa, gue punya semua modal yang dibutuhin buat merebut takhta itu dari tangan Rania minggu depan."
Bingo.
Aku menahan napas sejenak, badanku menegang. Pancinganku berhasil. Enzo baru saja keceplosan membocorkan rencana besarnya yang paling rahasia karena terlalu percaya diri. Dia ingin mencalonkan diri menjadi Ketua OSIS dan menantang Rania—yang berarti dia juga akan berhadapan langsung dengan Devan sebagai pelindung gadis itu.
Aku menyandarkan punggung ke kursi, menyembunyikan senyum kemenangan di balik cangkirku. Skenario ini ternyata jauh lebih besar dan brutal dari yang kubayangkan. Perebutan takhta ini akan menjadi arena perang yang sangat menarik, dan aku... sudah memegang kartu as milik sang anak baru.
Aku meletakkan cangkirku, lalu mencondongkan tubuh ke depan hingga jarak wajah kami hanya tersisa beberapa puluh sentimeter. Sepasang mata Enzo menatapku, menunggu reaksiku setelah rahasia besarnya lolos dari mulutnya sendiri.
"Kalau begitu, lo butuh sekutu, Nzo," bisikku dengan nada sensual namun tajam. "Gue kasih lo penawaran gratis kali ini. Gue siap jadi ketua tim sukses lo untuk pencalonan nanti. Semua jaringan media sosial gue, semua anak-anak yang punya massa di angkatan kita, bakal gue arahin buat dukung lo."
Enzo menaikkan sebelah alisnya, tampak terkejut dengan kegilaanku yang mendadak. "Lo sadar konsekuensinya, Stef? Ini artinya lo bakal berseberangan secara frontal dengan Devan."
"Gue nggak peduli," jawabku cepat, dingin, tanpa ada keraguan sedikit pun.
Ada api yang mendadak berkobar di dalam dadaku. Ini bukan lagi sekadar soal membantu Enzo, ini adalah panggung pembuktianku. Aku ingin membuktikan pada Devandra kalau aku bukanlah cewek lemah yang bisa dilepeh dan diabaikan begitu saja hanya demi Rania. Aku mau menunjukkan pada matanya sendiri bahwa cewek yang selama ini dia sepelekan, punya kekuatan untuk menjungkirbalikkan dunianya. Dan yang paling penting... gue ingin membuktikan kalau gue bisa mengalahkan Rania di atas tanah kekuasaannya sendiri.
Enzo terdiam sebentar, lalu senyum puas mengembang di wajah necisnya. "Deal. Jadi, apa langkah pertama kita, Kapten Timses?"
Aku menyunggingkan senyum licik, langsung mengeluarkan mode taktisku. "Langkah pertama, lo harus napak tanah dulu, Nzo. Jangan ketinggian mikirin kursi ketua kalau lo bahkan belum resmi jadi anggota. Aturan birokrasi di Praja Pratama itu ketat. Lo harus keterima seleksi OSIS minggu depan baru bisa mikirin pencalonan."
Aku mengetuk-ngetukan ujung kuku manikurku ke atas meja kaca. "Dan untuk lolos dengan mulus, lo harus deketin satu orang penting. Pak Ramadhan Indrasyah Maulana. Beliau itu Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan sekaligus pembina tertinggi OSIS. Andil dia dalam proses penyaringan calon ketua itu absolut. Kalau lo bisa pegang hati Pak Rama, setengah takhta itu udah ada di tangan lo."
Enzo mengangguk-angguk pelan, tampak mengagumi bagaimana otakku bekerja memetakan strategi. Dia mengulurkan gelas americanon-nya ke udara.
"Untuk meruntuhkan kerajaan lama," ujar Enzo tenang.
Aku membenturkan gelas matcha latte-ku ke gelasnya hingga berdenting pelan. "Untuk panggung baru."
Sumbu petasan sudah resmi dinyalakan. Dan aku tidak sabar melihat bagaimana SMA Praja Pratama akan meledak dalam waktu dekat.
7. POV DEVAN: PANGGUNG YANG BERGESER
Bunyi tak pelan dari bidak kayu yang beradu dengan papan tripleks terdengar nyaring di sudut ruang OSIS yang sepi. Sore ini, udara pengap hanya diusir oleh putaran kipas angin dinding yang berdecit pelan. Di depanku, Rania duduk tegak dengan jemari lentik yang menopang dagunya, menatap jajaran pion dengan mata elang yang tidak berkedip.
Aku memutar kuda putihku di sela jari, menimbang petak kosong di area pertahanan hitam miliknya. Rasa penat setelah latihan taekwondo siang tadi mendadak menguap setiap kali aku berhadapan dengan gadis ini.
"Di permainan ketiga ini, langkah lo makin amburadul aja," suara Rania memecah keheningan, datar dan tanpa ampun. Dia memajukan benteng hitamnya dua petak, mengunci pergerakan menteriku. "Apa lo nggak sadar itu blunder? Jujur ya, Dev, gue capek. Nggak di catur, nggak di dunia nyata, harus terus-terusan nyadarin kesalahan lo dalam melangkah."
Aku mendengus, meletakkan kuda putihku dengan hentakan yang agak keras. "Berisik. Bisa diam nggak? Gue lagi konsentrasi."
Rania menaikkan sebelah alisnya, senyum tipis yang meremehkan terukir di bibirnya. "Percuma. Mau segambreng apa pun otak lo mikir buat mengurainya, blunder yang fatal nggak bakal bisa diperbaiki. Lo udah kalah dua kali sore ini, dan ini bakal jadi yang ketiga. Habis itu udahan, ah. Apa lo lupa kalau lawan lo ini juara Popda catur?"
"Nggak peduli," balasku lempeng, menatap lurus ke dalam sepasang manik matanya yang mengkilau di balik kacamata jernihnya. "Gue mau kalah seribu kali kek. Gue cuma mau mastiin kalkulasi lo masih presisi."
Rania terdiam. Gerakan tangannya yang hendak merapikan bidak mati di pinggir papan mendadak terhenti. Dia menatapku lurus-lurus, keningnya sedikit berkerut, mencoba menyelami apa arti di balik ucapan yang baru saja keluar dari mulutku. Di kepalanya yang perfeksionis itu, dia pasti sedang menganalisis motifku.
Aku memajukan satu pion terakhir, meski aku tahu itu tidak akan mengubah hasil akhir. "Dan satu lagi," lanjutku, merendahkan nada suaraku. "Emangnya lo pikir, lo itu bukan manusia yang tak lepas dari kesalahan? Belum saatnya aja, Ran. Tapi tenang, kalau hari itu tiba dan lo jatuh, gue bakal tetap ada di sisi lo buat bantuin menguraikan kesalahannya... sefatal apa pun itu."
Hening mendadak menyergap. Rania masih terdiam, cukup lama. Dia tidak mengalihkan pandangannya dari wajahku, mengamati setiap jengkat ekspresiku untuk mencari tahu apakah aku sedang bercanda atau tidak. Atmosfer di antara kami mendadak bergeser menjadi begitu intens, sampai-sampai derit kipas angin di dinding terdengar seperti detak bom waktu.
Melihatku yang tetap memasang wajah serius, Rania mendadak menghembuskan napas pendek. Senyumnya kembali runtuh, tapi kali ini dengan binar jenaka yang sengaja dia pasang untuk mencairkan ketegangan.
"Lo kenapa sih, Dev? Apa yang lo khawatirin dari gue?" Rania memiringkan kepalanya sedikit, menatapku dengan mata yang menyipit menggoda. "Apa lo cemburu ya sama Enzo? Resah ya, ada cowok yang keren dengan gaya yang berbeda masuk ke sini?"
Jantungku sempat mencelos mendengar nama bajingan itu disebut, tapi dengan cepat aku menguasai diri. Aku memalingkan muka, berdecit sinis. "Cih, nggak sudi gue cemburu. Bukan level gue lah."
"Ya, ya, baguslah kalau gitu," sahut Rania ringan, hendak berdiri untuk membereskan papan catur.
Sebelum dia sempat menjauh, aku bergerak cepat. Tanganku maju, menggenggam pergelangan tangannya. Kulitnya terasa dingin, kontras dengan telapak tanganku yang hangat. Rania tertegun, menatap tanganku yang mengunci gerakannya, lalu beralih menatap mataku dengan rahang yang mengatup.
"Ini bukan soal remeh-temeh masalah perasaan, Ran," kataku dengan suara berat, menatapnya tanpa jarak. "Ada hal lain yang mengerikan dari anak itu. Dia nggak selurus yang lo pikir, dan gue pengen lo sadar dari sekarang sebelum semuanya telat."
Rania menatapku lekat-lekat selama beberapa detik, mencari sisa kejujuran di mataku, sebelum akhirnya dia melepaskan tangannya dengan halus dari genggamanku. Dia membenarkan letak kerah seragamnya yang kaku.
"Makasih sarannya, Dev," jawabnya, suaranya kembali menjadi Rania yang tegap dan percaya diri. "Tapi lo masih percaya sama kalkulasi gue, kan? So, don't worry."
Belum sempat aku membalas, pintu ruang OSIS mendadak didorong terbuka dari luar. Riuh suara sepatu dan gelak tawa memecah privasi kami. Beberapa pengurus OSIS inti melangkah masuk, dipimpin oleh seorang pria paruh baya dengan kemeja batik rapi dan rambut klimis yang tersisir rapi ke belakang. Pak Ramadhan Indrasyah Maulana. Wakil Kepala Sekolah bidang Kesiswaan sekaligus sang pemegang otoritas tertinggi birokrasi murid.
"Eh, menang mana nih?" seru Pak Rama begitu melihat papan catur di depan kami. Beliau melangkah mendekat dengan senyum lebarnya yang khas. "Ayo, yang menang sore ini, langsung saya calonkan jadi Ketua OSIS!"
Kalimat spontan dari Pak Rama sontak membuat ruangan yang tadinya sepi langsung riuh oleh sorakan anak-anak OSIS yang lain.
"Ya kalau gitu yang jadi ketua jelas Rania dong, Pak! Devan mah mana pernah menang catur lawan Rania, nggak adil lah!" celetuk Axel kencang dari ambang pintu, memicu tawa yang lain.
"Coba Pak, tandingnya basket atau taekwondo aja, pasti Devan yang langsung naik takhta! Hahaha!" timpal anak OSIS divisi humas di sebelahnya.
Pak Rama hanya tersenyum simpul, menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tangan kanannya bergerak santai mengelus rambut klimisnya yang tak bergeser sedikit pun. "Baiklah, baiklah. Cukup bercandanya. Mari kita rapat untuk membahas persiapan akhir reorganisasi OSIS dulu, baru habis itu kita masuk ke panggung Pemilihan Ketua OSIS."
Kami semua langsung mengambil posisi duduk mengitari meja rapat lonjong di tengah ruangan. Suasana santai berganti menjadi formal dalam sekejap. Rania sudah memegang pulpen dan buku catatannya, siap memimpin jalannya diskusi di bawah arahan Pak Rama.
Rapat sore itu berjalan cukup alot dengan berbagai argumen yang saling berbenturan. Namun, setelah melewati perdebatan panjang, Pak Rama akhirnya mengetuk keputusan final yang membuat beberapa orang di ruangan saling pandang dengan cemas.
"Jadi, keputusan untuk seleksi anggota OSIS tahun ini resmi diikuti oleh kelas sepuluh dan kelas sebelas," ujar Pak Rama tegas. "Termasuk anggota lama... semuanya tetap wajib mengikuti seleksi dari awal. Ini adalah bagian dari evaluasi kinerja kalian selama setahun yang lalu. Kita mau lihat, siapa yang layaknya dipertahankan dan siapa yang kinerjanya menurun."
Aku melirik Rania. Wajahnya tetap tenang, seolah keputusan itu adalah hal yang wajar. Sementara aku? Aku tahu ini adalah celah berbahaya. Jika semua orang harus merangkak dari bawah, itu artinya Enzo punya jalur legal yang sah untuk masuk ke dalam sistem.
"Untuk alur seleksinya," lanjut Pak Rama, menuliskan poin-poin di papan tulis kecil. "Pertama pendaftaran dan seleksi berkas, kedua tes tertulis, ketiga tes PBB untuk melihat kedisiplinan fisik, dan yang terakhir adalah wawancara internal. Ada pertanyaan?"
Semua orang menggeleng, tanda sepakat.
"Bagus. Kalau begitu rapat sore ini saya akhiri. Terima kasih atas kehadirannya," tutup Pak Rama, membereskan map layang di tangannya dan bersiap melangkah keluar ruangan.
Begitu Pak Rama berbalik menuju pintu, Rania dengan cekatan langsung berdiri dari kursinya, meninggalkan tumpukan berkas rapat dan bergerak cepat mencegat langkah sang Waka Kesiswaan di dekat ambang pintu.
"Permisi, Pak Rama," panggil Rania sopan, membuat langkah kaki Pak Rama terhenti. "Maaf mengganggu waktunya sebentar. Saya mau menanyakan soal kelanjutan lomba deklamasi puisi tingkat nasional saya, Pak. Berhubung kemarin saya sudah berhasil mengamankan juara satu di tingkat provinsi, kira-kira untuk jadwal keberangkatan dan teknis delegasi ke tingkat nasionalnya bagaimana ya, Pak?"
Aku tetap duduk di kursiku, berpura-pura sibuk merapikan bidak catur yang berserakan, namun telingaku terpasang tajam menangkap setiap percakapan mereka. Skala prioritas Rania selalu mengagumkan, sekaligus membuatku sadar bahwa dunianya terlampau luas untuk sekadar memikirkan kekhawatiranku tentang Enzo.
8. POV ENZO: SUDUT YANG TAK TERBACA
Kombinasi antara kafein dingin dari iced cappuccino dan hawa gerah kantin SMA Praja Pratama sebenarnya bukan paduan yang ideal untuk bekerja. Namun, aku tidak punya pilihan. Jari-jariku bergerak lincah di atas keyboard laptop, menyusun lembar demi lembar draf visi dan misi untuk pendaftaran OSIS minggu depan.
Secara administratif, ini adalah hal yang terlampau mudah bagi seseorang dengan rekam jejak sepertiku. Di Jakarta, aku sudah terbiasa menyusun proposal kegiatan dengan anggaran ratusan juta rupiah. Membuat esai motivasi dan menyelaraskan visi untuk organisasi tingkat sekolah daerah seperti ini harusnya bisa kuselesaikan sambil memejamkan mata.
Aku baru saja hendak menyimpan dokumen berformat PDF itu saat indra pendengaranku menangkap suara tawa yang familier dari arah koridor kantin.
Aku mendongak. Di sana, Rania Zahira Amala sedang melangkah masuk bersama seorang siswi lain.
Langkahku mendadak tertahan di dalam kepala. Pemandangan di depanku saat ini benar-benar meruntuhkan seluruh impresi yang kubangun tentang dirinya selama tiga hari terakhir. Rania yang selalu kuingat sebagai sosok ketua pelaksana MPLS yang tegas, atau gadis perfeksionis yang selalu memperhatikan detail-detail kecil, kini tampil tanpa topeng.
Tangan kanannya memegang es krim batang murah yang terus dia emut dengan santai, meninggalkan sedikit noda putih di sudut bibirnya. Sementara tangan kirinya menggenggam plastik es teh cekek—jenis minuman pinggir jalan yang dibungkus plastik dan diikat karet. Dia berjalan setengah diseret oleh temannya sambil tertawa lepas, memperlihatkan deretan giginya tanpa beban.
Cukup aneh melihat pemandangan itu. Seorang gadis yang digadang-gadang sebagai calon tunggal penguasa birokrasi sekolah, ternyata punya sisi sekocak ini saat berada di luar jangkauan radar guru.
Aku tersenyum tipis. Ini kesempatan yang terlalu bagus untuk dilewatkan. Aku menutup laptopku setengah, menjinjingnya dengan satu tangan, lalu melangkah menghampiri meja panjang di pojok kantin tempat mereka berdua baru saja mendaratkan bokong.
"Hey, Rania. Boleh gabung?" tanyaku, berdiri di ujung meja dengan gestur yang tetap kukondisikan sesopan mungkin.
Rania mendongak, menjauhkan es krim batangnya sejenak lalu mengerjap. "Eh, Enzo. Duduk aja. Tempat umum, kok, bangku ini bukan milik gue."
"Oke, makasih," sahutku, menarik kursi kayu di seberangnya, menaruh laptop, dan membukanya kembali agar tidak terkesan terlalu agresif.
Rania menelan kunyahan es krimnya, lalu menepuk pundak cewek di sebelahnya yang sedari tadi menatapku dengan pandangan menyelidik. "Oh ya, Nzo. Kenalin, ini temen gue, Anisa."
Cewek bertubuh mungil itu langsung menjulurkan tangannya dengan ramah. "Salam kenal ya, aku Anisatul Putri Fadhilah."
Aku membalas jabat tangannya, merasakan genggaman yang tegas. "Enzo Lucien Adiwangsa. Anak OSIS juga nih?"
Anisa langsung tertawa renyah, melambaikan tangannya di udara seolah pertanyaanku adalah sebuah lelucon. "Eh, nggak. Aku nggak tertarik sama yang gitu-gituan. Yang masuk OSIS mah anak-anak ambis doang di sini, hahaha."
Rania mendelik jenaka ke arah Anisa, lalu menyedot es teh cekeknya sampai berbunyi. "Dia mah tertariknya cuma gambarin muka gue doang dalam berbagai pose, Nzo. Maklumin aja," timpal Rania kencang.
"Masalah? Lagian lo juga suka, kan, sama hasil gambar gue?" balas Anisa, tidak mau kalah sambil menyikut pinggang Rania hingga es krim di tangan gadis itu nyaris jatuh.
Aku terkekeh melihat interaksi mereka. "Wah, pinter gambar ya? Keren. Sepertinya kalian akrab banget."
"Oh, jelas," Anisa menepuk dadanya bangga. "Kami udah berteman dari zaman SD, SMP, sampai SMA bareng terus. Nggak tahu nih, jangan-jangan jodoh kali."
"Enak aja! Gue masih normal kali!" potong Rania cepat dengan wajah cemberut yang dibuat-buat, memicu tawa Anisa makin pecah.
Aku ikut tertawa bersama mereka. Namun di balik tawa itu, sepasang mataku merekam semuanya dengan saksama. Ini adalah pertama kalinya aku melihat sisi polos, kasual, dan kemanusiaan dari seorang Rania Zahira Amala. Di balik tembok tinggi reputasi sempurnanya, dia tetaplah seorang remaja perempuan biasa yang suka jajan es krim murah dan bergosip dengan sahabatnya.
Melihat bagaimana Rania tertawa lepas tanpa beban, aku mendadak paham mengapa Devandra begitu terobsesi untuk memasang badan di depannya. Gadis ini memiliki magnet alami yang tidak dibuat-buat—sesuatu yang sangat bertolak belakang dengan kemewahan digital milik Steffi. Dan untuk pertama kalinya sejak aku menginjakkan kaki di kota ini, aku menyadari bahwa merebut takhta dari tangan Rania tidak akan semudah membalikkan telapak tangan. Aku tidak hanya harus mengalahkan seorang calon ketua, tapi aku harus mengalahkan hati dari seluruh isi sekolah ini.
"Btw, ngapain sih elo ke kantin bawa laptop segala?" Rania mendadak menunjuk dagunya ke arah laptop silverku yang setengah terbuka. "Apa emang style anak Jakarta kayak gitu ya?"
Aku terkekeh pelan, menggeser posisi laptop agar tidak terlalu menghalangi pandangan kami. "Oh, nggak. Ngisi waktu aja. Seperti yang gue bilang sebelumnya, gue tertarik buat join OSIS. Kebetulan di sekolah lama gue juga pengurus OSIS. Ini mah cuma ngerjain visi misi aja, hitung-hitung buat persiapan tes wawancara nanti, haha."
Rania menaikkan alisnya, tampak sedikit terkesan. "Wah, udah kepikiran jauh gitu ya. Padahal itu seleksi terakhir, masih ada tes tertulis dan PBB dulu yang harus lo lewatin. Tapi baguslah, lanjutkan. Visioner berarti elu, hahaha."
"Haha, nggak juga. Kebetulan lagi gabut aja kok," balasku merendah, tetap menjaga impresi kasual.
Rania menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi, mengetuk-ngetuk plastik es teh cekeknya yang mulai mencair. "Oh ya, gue kasih tips aja nih. Pas tes tertulis nanti, elo belajar deh materi-materi literasi dan numerasi gitu. Terus wawasan kebangsaan sama wawasan seputar sekolah. Biasanya sih pola soalnya dari Pak Rama nggak bakal jauh-jauh dari situ."
"Wah, makasih udah dibocorin sama yang udah pengalaman tes sebelumnya," aku tersenyum, menatapnya lekat-lekat. "Tapi, apa lo nggak takut? Kita kan bakal saingan nanti."
Rania langsung tertawa lepas, jenis tawa renyah yang terdengar sangat tulus tanpa beban kompetisi. "Hahaha! Santai, gue mah cuma ngasih info umum gitu doang. Lagian itu semua ada di juknis, kok. Tanpa perlu gue jelasin pun, kalau elo emang niat, harusnya bisa paham sendiri cuma dengan membaca juknisnya, ahaha."
"Haha, iya bener juga. Tapi tetep, gue ucapin makasih," sahutku.
Detik berikutnya, atmosfer di meja kami mendadak berubah. Rania merogoh saku seragamnya, mengeluarkan sepasang kacamata berbingkai tipis, lalu memakainya dengan gerakan lambat. Begitu kacamata itu bertengger di hidung mancungnya, binar cewek polos yang mengemut es krim tadi lenyap seketika. Tatapannya menajam, sepasang matanya menyipit di balik lensa.
"Ayo, Enzo. Mari buat seleksi OSIS tahun ini menjadi lebih menarik," ujarnya dengan nada suara yang mendadak berwibawa.
"Yaelah, mulai deh mode Najwa Shihab-nya muncul," timpal Anisa sambil memutar bola matanya jengah. "Plislah, Ran, kalau lagi sama gue mah jadi Rania yang lucu aja, jangan mode serius gitu. Mode ginian mah simpen buat Devan ajalah kayak biasanya."
Aku sempat terhenyak mendengar perkataan Anisa. Otak analisku langsung bekerja cepat. Berarti Rania memiliki kepribadian ganda yang sangat kontras—saat bersama sahabat sejak kecilnya dia bisa menjadi sangat lepas dan polos, namun akan langsung berubah menjadi mode singa birokrasi saat berurusan dengan sekolah maupun OSIS.
Sebelum aku sempat membalas, sebuah bayangan besar beraroma keringat dan parfum maskulin menyeruak di antara kami. Devandra muncul, berdiri tegap di ujung meja dengan tangan dimasukkan ke saku celana.
"Yaelah bocah, dicariin dari tadi malah ngumpet di sini," gerutu Devan, matanya langsung tertuju pada Rania. "Jadi nyebar brosur nggak? Ini anak-anak J.Rabbit bakal gue kerahin buat bantuin tempel-tempel juga."
Rania mendongak, menatap Devan tanpa rasa terintimidasi. "Yaudah ayok. Just tempel-tempel ya, Dev. Jangan bikin onar."
"Dih, nggak asyik banget. Diramein tipis-tipislah biar pada notice," timpal Devan dengan seringai khasnya.
Rania menggeleng-gelengkan kepala, lalu menoleh ke arahku dan Anisa sambil merapikan kertas-kertas di mejanya. "Oke. Enzo, Nis, aku duluan ya mau nyebar brosur open recruitment OSIS ke beberapa kelas. Biasa, instruksi langsung dari Pak Rama. Kalian ngobrol-ngobrol aja berdua."
Rania dan Devan kemudian berjalan pergi berdampingan begitu saja. Selama proses itu, ekspresi wajah Devan benar-benar datar saat melirikku—seolah-olah singgungan fisik dan ketegangan rahang yang terjadi di antara kami di markas J.Rabbit kemarin sore tidak pernah ada. Dia bisa mengontrol emosinya dengan sangat rapi di depan Rania.
Aku terdiam, memandangi punggung mereka berdua yang perlahan menjauh membelah keramaian kantin. Otakku mulai memetakan kalkulasi baru. Sial, sepertinya bakal sulit mengalahkan kombinasi mereka berdua. Devan punya massa fisik dan loyalitas radikal di lapangan, sementara Rania punya otoritas legal dan otak yang cerdas. Aku harus mencari jalan lain yang lebih taktis selain hanya mengandalkan Steffi saja.
"Oy, oy! Ngalamun aja?"
Suara kencang Anisa seketika membuyarkan lamunanku. Cewek itu sedang menopang wajahnya dengan kedua tangan, menatapku dengan cengiran jahil. "Lo cemburu ya sama Devan? Cieee... naksir Rania ya?"
Aku tersentak kecil, lalu buru-buru memasang wajah datar andalanku. "Hah? Apaan sih, Nis? Lo cepet banget ngambil kesimpulan."
"Haha, bercanda! Tenang aja lagi," Anisa berdiri dari kursinya, menyampirkan tas kainnya ke bahu sambil tertawa misterius. "Si Rania itu nggak suka cowok... maksudnya, dia belum mikirin cowok sama sekali di hidupnya, hahaha. Gue duluan deh ya. Dahhh, Enzo!"
Anisa melenggang pergi meninggalkanku sendirian yang masih terpaku di bangku kantin. Informasi terakhir dari sahabat Rania itu berputar di kepalaku. Belum mikirin cowok, ya? Aku tersenyum tipis, menutup laptopku dengan bunyi klik yang mantap. Itu artinya, benteng Rania masih bersih, dan permainan ini justru menjadi jauh lebih menantang dari yang kukira.
9. POV STEFFI: KAMUFLASE BERKAS DI ATAS MEJA
Aku melangkah menyusuri koridor lantai dua dengan ritme sepatu yang sengaja kubuat santai. Dari kejauhan, aku sudah bisa melihat dua target utamaku sedang sibuk di depan mading dekat laboratorium biologi. Rania memegangi tumpukan brosur open recruitment OSIS yang kertasnya masih beraroma tinta printer segar, sementara Devan dengan cekatan menempelkan isolasi di tiap sudutnya.
Pemandangan yang harmonis. Dan jujur, itu membuat perutku agak mual.
Aku mempercepat langkah, lalu sengaja berhenti tepat di belakang Devan, melipat kedua tangan di dada sambil membaca brosur berwarna biru-kuning itu dengan saksama.
"Menarik," ujarku, memecah keheningan di antara mereka.
Rania dan Devan menoleh serentak. Devan menaikkan sebelah alisnya, tatapannya sedingin es seperti biasa, sementara Rania langsung memasang senyum formal ramahnya.
"Eh, Steffi," sapa Rania.
Aku membalas senyumnya, lalu menunjuk brosur di mading dengan daguku. "Gue boleh kan masuk OSIS tahun ini? Hitung-hitung... biar bisa bikin sosial media OSIS makin ramai dan naik kelas, hehe."
Devan mendengus sinis, memutar tubuhnya menghadapku sepenuhnya setelah selesai menempelkan brosur terakhir. "Bukan kami yang nentuin kali. Bilang sana ke Pak Rama. Lagian, cewek manja kayak lo bisa apa di OSIS?"
Kalimat Devan barusan hantamannya cukup keras, tapi kali ini aku tidak akan membiarkan mataku berkaca-kaca seperti dulu. Aku justru tersenyum lebar, menatap Devan lurus-lurus tanpa ada rasa takut sedikit pun.
"Devan, ih! Ngomongnya dijaga, dong," tegur Rania, menyikut lengan Devan sebelum kembali menatapku. "Nggak apa-apa banget kali, Stef. Ini kan terbuka untuk umum, siapa aja boleh daftar. Daftar aja dulu. Ada yang bisa gue bantu buat jelasin berkasnya?"
"Nggak sih, udah jelas banget kok juknisnya," jawabku enteng. Aku menjeda kalimatku sengaja, menatap Rania dengan pandangan sok simpati. "Tapi makasih ya, gue apresiasi banget penawaran lo, Ran. Haha, lucu ya... heran aja gue, anak sepintar dan sebaik lo bisa akrab banget sama cowok yang red flag abis kayak Devan!"
"Maksud lo apa?"
Suara Devan mendadak turun satu oktav. Untuk pertama kalinya sejak aku mengenal cowok ini, aku melihat kilat keterkejutan di matanya. Dia kaget. Dia sama sekali tidak menyangka kalau aku—Steffi yang biasanya selalu mengemis perhatiannya—sekarang punya keberanian untuk menyerangnya secara personal di depan Rania.
Aku tertawa renyah, mengibaskan tangan di udara dengan gestur super santai. "Lah, nggak ada maksud apa-apa kok. Just kidding, Dev. Sensian amat tumben? Biasanya lo cuek dan nggak pernah peduli sama omongan gue. Ahahaha."
Suasana koridor mendadak hening sejenak. Tensi di antara kami bertiga mendadak mengental dan menjadi sangat canggung. Dari ujung koridor, beberapa anggota J.Rabbit yang sedang membawa lem dan anak-anak OSIS lain mulai berjalan mendekat, tampak penasaran dengan apa yang sedang terjadi.
Rania yang peka dengan situasi langsung mengambil kendali untuk menetralkan atmosfer sebelum anak-anak lain ikut berkumpul.
"Yaudah, gue tunggu berkas lo ya, Steffi. Jangan lupa formulir pendaftarannya diisi lengkap. Oke?" ujar Rania dengan nada suara yang kembali tenang dan profesional.
"Pasti," jawabku singkat.
Rania memberikan anggukan formal, lalu menarik lengan seragam Devan untuk menjauh. Devan sempat melemparkan satu tatapan tajam terakhir ke arahku sebelum akhirnya dia terpaksa berbalik dan berjalan pergi mengikuti langkah Rania menyusuri koridor untuk lanjut menyebar brosur ke kelas-kelas lain.
Aku berdiri diam di tempatku, memandangi punggung mereka berdua yang perlahan menjauh. Senyum ramah di wajahku perlahan luntur, digantikan oleh garis seringai licik.
Nikmatin masa-masa tenang lo berdua, batinku dingin. Karena setelah ini, panggung yang lo banggakan bakal runtuh.
Aku melirik jam tangan digital di pergelangan kiriku. Rania dan Devan dipastikan bakal sibuk berkeliling ke seluruh kelas sepuluh dan sebelas di lantai bawah selama minimal tiga puluh menit ke depan bersama anak-anak OSIS lainnya. Itu artinya, area lantai atas—termasuk ruang OSIS—sekarang dalam keadaan kosong tanpa penjagaan.
Ini kesempatan emas yang sudah kurencanakan bersama Enzo sejak awal.
Aku berbalik arah, melangkah cepat menuju ruang OSIS di pojok koridor barat. Begitu sampai di depan pintunya, aku menoleh ke kanan dan ke kiri. Koridor sepi. Aku menekan gagang pintu kayu tersebut dengan perlahan. Klik. Keberuntungan sedang berpihak padaku; pintunya tidak dikunci karena anak-anak tadi terburu-buru keluar untuk menyebar brosur.
Aku menyelinap masuk ke dalam ruangan yang remang-remang itu, lalu segera merapatkan pintu di belakangku. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat dari biasanya, tapi adrenalin ini justru membuat fokusku makin tajam.
Langkahku langsung tertuju pada meja rapat lonjong, lalu beralih ke meja kerja khusus milik Rania di sudut ruangan. Di atas meja kayu yang rapi itu, terdapat tumpukan map jepit transparan dan sebuah buku catatan tebal bersampul kulit hitam. Buku catatan pribadi Rania.
Aku tahu tabiat Rania; sebagai seorang yang perfeksionis, dia pasti mencatat semua draf, kisi-kisi soal dari Pak Rama, hingga kriteria penilaian evaluasi fisik dan tertulis untuk seleksi minggu depan di buku itu.
Tanpa membuang waktu, aku merogoh saku rok seragamku, mengeluarkan ponsel, dan membuka aplikasi kamera. Dengan tangan yang sedikit gemetar namun cekatan, aku membuka lembar demi lembar buku catatan Rania. Mataku membelalak begitu melihat apa yang tertulis di sana: coretan rumus numerasi, poin-poin wawasan kebangsaan, bahkan draf penilaian tes PBB yang akan diawasi langsung oleh Devan.
Cekrek. Cekrek. Cekrek.
Aku mengambil foto tiap lembar halaman penting itu dengan resolusi tertinggi secara cepat dan tanpa suara. Setelah memastikan semua data emas itu terekam di dalam galeri ponselku, aku menutup kembali buku tersebut, mengembalikannya ke posisi semula secara presisi agar tidak menimbulkan kecurigaan.
Aku menghembuskan napas lega, menyelipkan ponselku kembali ke saku. Dengan modal kisi-kisi eksklusif ini, Enzo bukan cuma sekadar bisa lolos seleksi dengan nilai sempurna, tapi dia bisa menghancurkan semua kalkulasi di atas kertas yang selama ini diagung-agungkan oleh Rania.
Aku melangkah keluar dari ruang OSIS dengan senyum kemenangan yang tertahan. Langkah pertama untuk merebut takhta sekolah ini sudah resmi berada di tanganku.
10. POV RANIA: SISI LAIN DARI TAKHTA
Klek. Cess.
Aku memantik roda perak itu dengan ibu jari, membiarkan lidah api kecil berwarna biru-kekuningan menari-nari di udara malam yang dingin, sebelum akhirnya membanting penutupnya hingga mengunci dengan bunyi ting yang khas.
Korek api Zippo krom milik Devandra.
Aku duduk sendirian di kursi teras rumah, menatap kosong ke arah pagar besi yang masih terkunci rapat. Entah sudah berapa banyak korek Zippo yang aku koleksi di dalam laci meja belajar gara-gara kebiasaan buruk cowok itu yang hobi meninggalkan pemantik apinya di sembarang tempat. Di atas meja kantin, di kolong meja rapat OSIS, bahkan di dasbor motornya. Dasar anak orang kaya. Mereka memang tidak pernah tahu cara menghargai barang miliknya sendiri.
Baru beberapa hari tahun ajaran baru ini berjalan, tapi rasanya sudah terlampau banyak hal yang berputar di dalam kepalaku sampai rasanya mau pecah.
Devan yang temperamental, kedatangan Enzo yang penuh kalkulasi tersembunyi dari Jakarta, Steffi yang tiba-tiba berani memasang badan, agenda open recruitment OSIS yang menyita tenaga, hingga persiapan lomba deklamasi puisi tingkat nasional yang bebannya ditumpuk di pundakku.
Dan di atas semua kepenatan itu, ada satu hal yang paling membuatku cemas malam ini: Bunda.
Aku melirik jam tangan. Sudah jam sembilan malam. Harusnya dia sudah sampai rumah satu jam yang lalu. Pulang telat dan ponsel yang sama sekali tidak bisa dihubungi adalah kombinasi paling sempurna untuk menciptakan anxiety di dadaku.
Di antara semua manusia di dunia ini, Bunda adalah satu-satunya sosok yang paling unpredictable dalam radar kalkulasiku. Seberapa lama pun aku hidup dan mengenal dia, rasanya tak pernah cukup untuk benar-benar memahami apa yang ada di dalam hati dan pikirannya.
Aku tahu dia hancur. Dia hancur berkeping-keping sejak kepergian bajingan yang dengan sisa rasa benci terpaksa harus aku panggil 'Ayah' itu. Tapi, apa dia tidak pernah berpikir bahwa bukan hanya dirinya yang hancur di rumah ini? Aku pun sama hancurnya!
Namun, mungkin sudut pandang kami berdua tentang sosok laki-laki itu berbeda, sehingga cara kami menerima kepergiannya pun menghasilkan akhir yang jauh berbeda. Bunda memilih roboh dan melarikan diri. Sementara aku? Aku memilih bertahan.
Aku bisa survive. Aku bahkan belajar banyak hal dari dongeng hancur yang mereka pertontonkan di depan mataku sejak kecil. Sejak hari di mana bajingan itu melangkah keluar dari pintu rumah ini, aku sudah menanam satu tekad yang mati-matian aku jaga sampai sekarang: aku akan menjadi wanita independen yang tidak akan pernah terikat, apalagi bergantung pada laki-laki mana pun di dunia ini. Aku bisa melakukannya sendiri, dan aku yakin akan berhasil.
Drtt... Drtt...
Suara dering telepon di atas meja kaca memecah lamunanku. Layarnya menyala, menampilkan nama Devan. Aku mengembuskan napas panjang sebelum menggeser tombol hijau.
"Ran, anjirlah, korek gue ketinggalan lagi! Fak!" Suara Devan langsung menyalak kencang di seberang telepon tanpa salam.
Aku memutar-mutar Zippo perak di tanganku, tersenyum tipis. "Nih, lagi gue buat mainan."
"Besok di sekolah dibawa ya, gue lagi bokek nih. Lagian koleksi lo di rumah kan udah banyak," gerutu Devan di ujung sana, terdengar gusar sekaligus pasrah.
"Nggak mau," tolakku lempeng. "Apa yang udah tertinggal di rumah gue, nggak bisa lo minta balik."
"Anjay, mengkeren," Devan terkekeh, suaranya mendadak berubah agak berat. "Kalau hati gue? Ketinggalan nggak di situ?"
Atmosfer di telepon mendadak hening sejenak. Kalimat Devan barusan berpotensi menciptakan kecanggungan yang tidak aku inginkan. Namun, aku sudah terlalu terlatih untuk mengendalikan situasi seperti ini.
"Hati lo nggak bakal pernah tertinggal di sini," sahutku cepat, memberikan jeda satu detik sebelum menyambungnya dengan tawa lepas. "Karena kotor, kebanyakan nikotin sama tar-nya! Hahaha!"
"Faklah! Pokoknya gue nggak mau tahu, besok bawain tuh korek!" umpat Devan, meski aku tahu dia ikut tersenyum di seberang sana.
Suasana kembali hening selama beberapa saat. Aku terdiam, menatap ke arah jalan raya di depan pagar yang masih sepi.
"Ran? Woy? Kok diem?" Panggil Devan memastikan aku masih ada di talian.
"Besok temenin gue ya? Menghadap Pak Rama. Ada yang mau gue omongin sama beliau."
"Mau ngomongin apa—"
Kalimat Devan terputus di telingaku bersamaan dengan suara deru mesin mobil yang berhenti tepat di depan gerbang. Sebuah taksi kuning. Pintu belakangnya terbuka, dan aku bisa melihat siluet Bunda keluar dari sana dengan langkah yang agak sempoyongan, berusaha keras menjaga keseimbangan tubuhnya.
Dadaku mendadak berdenyut nyeri.
"Eh, udah dulu. Bunda gue balik. Mabok lagi kayaknya," ucapku tanpa babibu, langsung memutus panggilan telepon secara sepihak tanpa menunggu jawaban Devan.
Aku melempar ponsel ke atas kursi, lalu berlari kecil membuka pintu gerbang. Tanpa sepatah kata pun, aku langsung menyergap tubuh Bunda yang nyaris limbung, memapah lengan kurusnya dengan erat. Aroma alkohol yang menyengat langsung menghantam indra penciumanku, menciptakan rasa sesak yang luar biasa di hulu hati. Tapi wajahku tetap datar, tak ada ekspresi kemarahan, tak ada air mata. Aku sudah terbiasa dengan ini.
Aku menuntunnya masuk ke dalam rumah, melewati koridor sunyi, lalu membaringkannya di atas ranjang kamar tidurnya dengan sangat perlahan.
Bunda memejamkan mata, napasnya berat dan tidak teratur. Dengan telaten, aku berlutut di tepi ranjang. Aku melepas kedua sepatu hak tingginya, menaruhnya di sudut ruangan, lalu merenggangkan ikat pinggang celananya agar dia bisa bernapas lebih lega. Setelah itu, aku kembali duduk di sisi kasur, menarik kaki Bunda ke pangkuanku, lalu mulai memijat-mijat pelan telapak kakinya yang terasa dingin.
"Sudah makan, Ran?" Suara Bunda terdengar serak dan lirih, matanya masih setengah terpejam.
Aku terdiam sejenak. Memandangi meja makan di luar yang tudung sajinya masih tertutup rapat. Aku sengaja menahan lapar sejak sore, sengaja menunggunya pulang agar kami bisa makan malam bersama sebagai sebuah keluarga. Namun, melihat kondisinya yang seperti ini, aku langsung mengubur dalam-dalam keinginan itu.
"Sudah, Bund," jawabku lirih, sebuah kebohongan yang meluncur dengan sangat mulus dari bibirku.
"Baguslah..." gumam Bunda, sebelum akhirnya desah napasnya berubah menjadi dengkur halus yang teratur. Dia sudah tidak sadarkan diri, tenggelam dalam pengaruh alkohol yang mematikan rasa sakitnya.
Aku tidak merespons lagi. Kamar itu mendadak menjadi sangat sunyi, hanya menyisakan suara detik jam dinding. Jari-jemariku terus bergerak konstan, menekan saraf-saraf di kaki Bunda dengan ritme yang lembut.
Aku merasakan ada sesuatu yang mendesak di sudut mataku. Air mataku rasanya hendak meledak saat itu juga. Dadaku sesak, perih, dan panas. Namun, aku menarik napas dalam-dalam, mendongakkan kepala, dan menahannya sekuat tenaga agar tidak ada satu tetes pun yang jatuh.
Aku tidak boleh menangis. Air mata adalah simbol kelemahan, dan aku sudah berjanji tidak akan pernah menjadi wanita yang lemah.
Semua orang di sekolah melihat aku sebagai sosok Rania yang sempurna, sang pemegang takhta yang tidak memiliki celah. Mereka tidak pernah tahu bahwa di balik dinding kokoh itu, segala kepahitan hidup, kekecewaan, dan aroma alkohol di kamar inilah yang justru menempa aku menjadi wanita yang kuat dan tak tersentuh.
Aku menurunkan kaki Bunda dari pangkuan, menyelimuti tubuhnya hingga batas dada, lalu melangkah keluar dan mengunci pintu kamar dengan perlahan. Di dalam kegelapan ruang tengah, aku mengepalkan tangan.
Jika hidup di rumah ini adalah sebuah medan pertempuran yang menguras mental, maka urusan OSIS, Devan, Steffi, dan anak Jakarta bernama Enzo itu hanyalah sebuah permainan kecil yang tidak akan pernah aku biarkan berjalan di luar kendaliku.
***
Esok paginya, aku berjalan menyusuri koridor sekolah menuju ruang guru dengan langkah yang ritmis. Ibu jariku kembali bergerak konstan, memainkan Zippo krom milik Devan. Klek, cess, ting. Bunyi mekanis korek api mahal itu menggema tipis di sepanjang selasar yang mulai ramai oleh hilir mudik warga sekolah.
Beberapa siswa yang sedang menaruh tas dan bahkan guru piket sempat berpapasan denganku. Langkah mereka agak melambat, menatap heran ke arah benda perak di tanganku. Aku bisa membaca perubahan mikro di wajah mereka. Otakku langsung bekerja otomatis, mencoba menerka-nerka apa yang sedang melintas di pikiran mereka saat ini.
Apakah mereka berpikir aku mulai nakal? Apakah mereka mengira seorang Rania Zahira—si anak teladan kesayangan sekolah—sekarang diam-diam menjadi perokok hanya karena memegang korek?
Haha, bodo amatlah. Aku sedang tidak punya energi untuk peduli pada penilaian orang lain hari ini. Setelah malam yang melelahkan di kamar Bunda, aku hanya ingin menggila dan menyelesaikan semua permainan ini secepatnya.
Begitu berbelok di koridor utama, aku bisa melihat Devan sudah menungguku di depan pintu ruang guru. Dia berdiri bersandar pada tembok beton dengan kedua tangan tenggelam di dalam saku celana abu-abunya. Begitu sosokku tertangkap oleh radarnya, matanya langsung tertuju pada benda perak di jemariku.
"Mana korek gue?" tagih Devan langsung, tanpa basa-basi menyapa.
"Nih."
Aku melempar Zippo itu sembarangan ke arahnya sambil terus berjalan melenggang masuk ke ruang guru, sama sekali tidak berniat menghentikan langkah atau menunggu pergerakannya. Devan tampak terkejut, dia bergerak gelagapan menangkap korek api yang melayang di udara itu agar tidak jatuh ke lantai. Setelah berhasil mengamankannya, aku bisa mendengar langkah sepatunya yang terburu-buru mengekor di belakangku, ikut masuk ke dalam ruangan ber-AC tersebut.
Pak Rama terlihat sedang duduk santai di kursi kebesarannya di sudut meja kerja. Kedua telinganya tertutup oleh earphone putih, sementara pasang matanya fokus mengotak-atik sesuatu di layar laptop. Entah tugas birokrasi apa yang sedang beliau kerjakan sepagi ini.
Menyadari kehadiran kami yang berdiri tegak di depan mejanya, Pak Rama mendongak. Beliau langsung melepas earphone dari kupingnya, lalu menyunggingkan senyum ramah yang khas untuk menyambut kedatangan dua anak emasnya di OSIS.
"Mau ngobrol di sini apa di luar saja?" tanya Pak Rama, menawarkan opsi dengan nada suara kebapakan yang bersahabat.
"Di luar saja, Pak, biar lebih lega," potong Devan cepat, bahkan sebelum aku sempat membuka mulut untuk menjawab. Kalimatnya yang terlampau lugas itu terdengar agak tidak sopan untuk ukuran siswa yang sedang menghadap Wakil Kepala Sekolah.
Guna menetralkan ucapan sembrono Devan, aku langsung mengambil alih pembicaraan dengan nada bicara yang jauh lebih halus. "Iya, Pak. Itu juga kalau tidak merepotkan Pak Rama."
Pak Rama terkekeh pelan, seolah sudah sangat memaklumi tabiat Devan yang tidak suka berbelit-belit. Beliau berdiri dari kursinya, merapikan sedikit kemeja batiknya, lalu memberikan isyarat dengan tangan.
"Baiklah, ayo."
***
Di teras depan perpustakaan yang masih sangat sepi sepagi ini, kami bertiga mulai membuka percakapan. Udara pagi yang lembap berembus pelan, membawa aroma buku-buku tua dari balik jendela kaca besar di samping kami.
Pak Rama melipat kedua tangannya di dada, menatap kami bergantian dengan binar mata yang penuh rasa ingin tahu. "Jadi, apa yang hendak kalian sampaikan ke saya? Sampai sepagi ini sudah menghadap?"
"Sebenarnya cuman Rania, Pak, yang mau ngomong. Saya mah cuman nemenin," sahut Devan lempeng, melirik ke arahku seolah melempar bola panas yang sejak tadi kusimpan.
Pak Rama mengernyitkan jidat, sebuah gestur mikro yang menandakan beliau butuh konfirmasi langsung dariku.
Namun, sebelum Pak Rama sempat mengeluarkan kata-kata untuk bertanya lebih lanjut, aku langsung menyambar dengan kalimat yang sudah kupersiapkan matang-matang sejak semalam. "Saya izin tidak ikut oprec OSIS tahun ini, Pak. Sepertinya sudah cukup bagi saya sampai di sini saja di OSIS. Saya mau fokus untuk persiapan FLS3N tingkat nasional."
Detik itu juga, atmosfer di teras perpustakaan mendadak membeku.
Pak Rama tampak terkejut. Namun, sebelum sang Wakil Kepala Sekolah sempat merespons, Devan sudah terlebih dahulu memotong kalimatku dengan nada suara yang naik satu oktav.
"Hah? Serius lo, Ran?!" Devan menatapku dengan mata membelalak, separuh tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. "Gimana ceritanya kemarin-kemarin kita sibuk nyebar brosur bareng, tapi sekarang lo malah nggak ikut oprec?"
Aku menatap Devan dengan helaan napas tenang, berusaha menjaga suaraku agar tidak bergetar. "Cuman aku doang yang nggak ikut, Dev. Kamu harus tetap ikut, dong."
Pak Rama masih terdiam, mengamati interaksi kami berdua dengan saksama. Tatapannya tajam dan lurus. Di balik wajah tenangnya, aku tahu otak birokrat senior itu pasti sedang sibuk menerka-nerka maksud tersembunyi di balik keputusanku. Aku paham betul sifat Pak Rama; dia adalah tipe orang yang skeptis dan tidak akan pernah langsung percaya begitu saja dengan alasan permukaan yang kulontarkan.
"Cuma itu alasannya?" tanya Pak Rama, suaranya terdengar berat dan intimidatif.
"Iya, Pak. Saya benar-benar mau fokus buat—"
"Saya tahu kamu, Rania. Dan saya tidak percaya alasanmu." Pak Rama memotong kalimatku dengan telak.
Aku dan Devan tersentak secara bersamaan. Aku benar-benar terkejut. Sama sekali tidak menyangka jawaban seperti itu yang akan keluar dari mulut beliau. Kami berdua refleks saling berpandangan selama beberapa detik, mencoba mencari pegangan di tengah situasi yang mendadak tidak kondusif ini.
Seketika, aku merasa tersudut. Aku memang sudah menduga Pak Rama tidak akan langsung menelan mentah-mentah alasanku soal lomba deklamasi puisi, tapi yang sama sekali tidak masuk dalam perhitunganku adalah respons beliau yang akan sefrontal dan setegas ini. Ini benar-benar meleset dari kalkulasiku.
Berusaha menguasai keadaan agar tidak terlihat gugup, aku mencoba mengalihkan pembicaraan ke opsi kaderisasi. "Emmm... Pak Rama tenang saja. Untuk calon ketua OSIS yang baru, ada Devan kok, yang pengaruhnya sudah sangat besar di antara anak-anak. Terus sekarang ada Enzo juga, anak pindahan dari Jakarta itu dulunya juga aktif di OSIS, lho. Dan masih ada beberapa anak kelas sebelas lain yang—"
"Cukup, Rania." Pak Rama mengangkat tangan kanannya di udara, menghentikan kalimatku seketika. Beliau menatapku dengan pandangan yang tidak bisa dibantah.
"Saya tidak masalah kalau kamu memutuskan untuk tidak ikut OSIS lagi periode ini," lanjut Pak Rama dengan nada suara yang dingin namun menusuk. "Tapi saya minta kamu jujur mengatakan alasan yang sebenarnya di depan saya sekarang. Kalau tidak, sebaiknya kita sudahi saja obrolan ini. Saya sangat sibuk hari ini."
Aku tertegun. Lidahku mendadak kelu, sementara di sampingku, Devan hanya bisa mengepalkan tangannya rapat-rapat tanpa berani menyela lagi. Di bawah bayang-bayang teras perpustakaan, aku tersadar bahwa topeng yang kupasang sepagi ini baru saja retak di depan orang yang paling memegang kendali di sekolah ini.
11. POV RANIA: LANGKAH RATU
Sorenya setelah bel pulang sekolah berbunyi, aku berjalan dengan langkah tenang kembali menuju ruang guru.
Sungguh, aku tidak habis pikir dengan Pak Rama dan Devan. Kenapa mereka berdua mendadak menjadi selebay itu tadi pagi? Sikap mereka seolah-olah baru mengenalku kemarin sore saja. Apa mereka benar-benar berpikir bahwa keputusanku untuk mundur dari kepengurusan OSIS didasari oleh alasan personal yang melankolis? Sejak kapan seorang Rania Zahira Amala mengambil langkah besar dalam hidupnya hanya karena terbawa perasaan?
Gara-gara respons berlebihan mereka berdua tadi pagi, aku terpaksa harus memutar otak dan menyusun plan B. Walaupun opsi cadangan ini sebenarnya masih masuk dalam kalkulasi besarku, sejujurnya aku paling tidak suka jika harus menggunakan plan B. Itu berarti ada variabel di lapangan yang sempat meleset dari hitungan awal.
Ruang guru sudah sangat sepi saat aku mendorong pintu kaca. Hanya tersisa beberapa guru yang sibuk dengan berkas masing-masing di meja seberang, dan tentu saja Pak Rama. Pria paruh baya itu baru saja duduk di bangku kerjanya, mulai mengemasi barang-barang ke dalam tas kulitnya—tanda bahwa beliau hendak segera pulang.
Aku melangkah mendekat, menghentikan langkah tepat di sisi mejanya. "Pak Rama, bisa minta waktunya sebentar?"
Pak Rama mendongak, gerakannya memasukkan dompet ke dalam tas terhenti. "Masih soal yang tadi pagi?" tanyanya langsung to the point.
"Iya, Pak."
Beliau mengembuskan napas pendek, lalu menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi. "Baik. Langsung sampaikan di sini saja."
"Jadi begini, Pak..."
Aku mulai berbicara dengan nada pelan namun penuh penekanan, memastikan setiap kata terdengar saksama di telinganya. Satu per satu kusampaikan alasanku dengan detail. Aku membeberkan segalanya tanpa ada yang terlewat, menyuguhkan rentetan argumen yang membuat segalanya kini masuk akal.
Pak Rama diam menyimak dengan serius. Tidak ada interupsi. Sesekali, sebersit senyum tipis melintas di wajah tegasnya saat mendengarkan penjelasan panjang lebarku.
Begitu aku selesai berbicara, keheningan sempat menyergap di antara kami. Pak Rama tidak langsung merespons. Beliau hanya diam, memutar-mutar bolpoin di antara jari-jemarinya sambil mendongak ke atas, menatapi atap bangunan ruang guru seolah sedang menimbang-nimbang setiap kata yang baru saja keluar dari mulutku.
Beberapa saat kemudian, senyumnya melebar. Kali ini terlihat lebih lepas.
"Sudah kuduga," ujar Pak Rama.
Aku langsung menyadari perubahan kecil itu. Beliau mengubah kata ganti "saya" menjadi "aku". Di dunia birokrasi sekolah ini, aku tahu persis artinya: Pak Rama sedang menurunkan dinding formalitasnya. Beliau mulai serius dan mengubah obrolan ini menjadi wilayah yang lebih privat antara mentor dan murid terbaiknya.
"Baiklah, kalau memang begitu maumu. Aku percaya sama kamu sepenuhnya," lanjut Pak Rama sambil mengangguk-angguk kecil, menaruh bolpoinnya kembali ke atas meja. "Semoga rencanamu berjalan sesuai dengan apa yang kamu harapkan."
Aku mengulas senyum tipis, merasakan beban di pundakku sedikit terangkat. "Baik, Pak. Saya akan coba sebaik mungkin."
"Baiklah. Kapan kita mulai latihan intensif untuk persiapan FLS3N nasionalmu?"
"Mulai besok bagaimana, Pak?" tawarku.
"Oke. Bisa."
"Baik, Pak. Kalau begitu saya permisi dulu. Terima kasih."
Aku mengulurkan tangan, menyalaminya dengan takzim, lalu berbalik melangkah keluar dari ruang guru.
Dalam perjalanan pulang di sepanjang koridor yang mulai sepi, aku tidak bisa menyembunyikan sebersit senyuman di bibirku. Ada rasa lega sekaligus deg-degan yang campur aduk di dalam batin. Namun, aku tetap percaya diri. Semuanya, tanpa terkecuali, masih berjalan sesuai dengan kalkulasiku.
Biarkan kuda-kuda luar itu saling bunuh pada petak mereka masing-masing di lantai bawah. Biarkan Enzo dengan segala taktik Jakartanya dan Steffi dengan seluruh rasa bersalahnya mengira mereka sedang memenangkan papan permainan. Mereka tidak sadar bahwa The Queen sengaja mundur satu langkah ke belakang, bergerak dengan langkah presisi di last game sebagai penentu skakmat yang sesungguhnya.
Keluar dari gerbang sekolah, aku menyempatkan diri berhenti untuk membeli es teh kecek langgananku. Es batu yang bergemerincing di dalam plastik besar itu seketika menyegarkan tenggorokanku yang sedari tadi kering karena harus berbicara panjang lebar di depan Pak Rama.
Aku menyedot es tehku dalam-dalam sambil menatap kembali ke arah gedung sekolah. Ya, tidak ada yang lebih bisa dipercaya sebagai sekutu selain orang yang paling berkuasa.
Dan kurasa, aku telah mendapatkannya.
12. POV RANIA: KAMUFLASE
Sore itu, aula sekolah terasa begitu sunyi dan dingin. Suara pendingin ruangan yang menderu halus menjadi satu-satunya latar belakang saat aku berdiri di tengah panggung kayu, memulai kembali latihan baca puisi yang sempat tertunda beberapa bulan lalu.
Hari ini, teks puisi di genggamanku adalah karya Pranita Dewi yang berjudul "Ngaben". Sebuah puisi yang berat, penuh dengan metafora kematian, api, abu, dan pelepasan yang getir. Aku memejamkan mata sejenak, menarik napas dalam-dalam, lalu membiarkan diriku larut ke dalam bait-bait awal.
Saat aku membuka suara, vokal dan artikulasiku menggema, mengisi setiap sudut aula kosong. Aku mengatur ritme napas, memainkan intonasi, dan membiarkan emosiku—atau mungkin rasa frustrasiku terhadap realita hidup belakangan ini—tertuang sepenuhnya lewat gestur tubuh dan mimik wajah yang tajam. Aku menjiwai rona api penyucian dan kepasrahan abu yang dilarung ke laut, hingga bait terakhir menutup penampilanku dengan keheningan yang pekat.
Di barisan kursi penonton di depanku, Pak Rama dan Om Timur—pelatih baca puisi profesional yang sengaja didatangkan dari luar sekolah—menyimak dengan saksama tanpa berkedip. Begitu aku menurunkan teks puisi, keheningan itu pecah oleh tepuk tangan pelan dari Om Timur.
"Vokal kamu matang, Rania. Karakter suaranya dapet banget buat puisi yang sifatnya teatrikal dan magis kayak Ngaben ini," ujar Om Timur, memajukan tubuhnya sambil bertopang dagu. "Tapi secara gestur, di bait ketiga tadi, kamu agak terlalu buru-buru. Ingat, Ngaben itu tentang pelepasan yang sakral. Jangan kelihatan kayak orang yang pengin cepat-cepat selesai."
Pak Rama mengangguk setuju, melirik catatan di pangkuannya. "Betul kata Om Timur. Secara emosi, bapak tahu kamu punya energi besar hari ini. Tapi emosi itu harus disalurkan dengan presisi, Ran. Di bagian klimaks tadi, tatapan mata kamu terlalu defensif, terlalu dingin. Kamu harus bisa memancarkan rasa pasrah yang megah, bukan kemarahan yang tertahan."
"Baik, Om, Pak. Saya catat," jawabku sambil mengangguk patuh. Di depan mereka, aku adalah siswi teladan yang haus akan bimbingan.
Selang beberapa waktu kemudian, saat kami hendak masuk ke sesi bedah teks berikutnya, ponsel di atas tas sekolahku yang tergeletak di kursi baris depan bergetar. Layarnya menyala, menampilkan satu nama yang langsung membuat lambungku terasa agak meremas.
Bunda.
Aku menarik napas tipis, mencoba menguasai ekspresi wajahku kembali. "Pak, Om, maaf. Saya izin mengangkat telepon sebentar ke luar aula, boleh? Dari rumah," pamitku dengan sopan.
"Oh, ya, silakan, Rania. Istirahat sepuluh menit ya," jawab Pak Rama ramah.
Aku berjalan cepat membawa ponselku keluar dari pintu samping aula. Begitu sampai di koridor luar yang sepi, aku menggeser tombol hijau.
"Halo, Bunda?"
"Ran, kamu masih di sekolah? Pulang jam berapa?" Suara Bunda terdengar dari seberang sana. Nada suaranya jauh lebih tenang dan jernih dibanding tadi malam, tanda bahwa efek alkoholnya sudah menguap sepenuhnya. "Bunda hari ini sudah di rumah. Rencananya nanti malam Bunda mau ajak kamu makan di luar. Kita quality time berdua, ya?"
Mendengar ajakan itu, ada rasa hangat sekaligus ironi yang tipis di hatiku. Bunda yang sekarang menelepon adalah Bunda yang normal, Bunda yang sangat kusayangi. Tapi aku tidak tahu sampai kapan ketenangan ini bertahan sebelum malam-malam penuh botol kaca itu kembali lagi.
"Iya, Bunda. Rania masih ada latihan puisi sebentar buat persiapan nasional. Mungkin sebelum magrib Rania sudah sampai rumah. Nanti kita jalan, ya," jawabku, melembutkan suaraku sesantai mungkin agar beliau tidak khawatir.
"Ya sudah, hati-hati ya, Sayang. Bunda tunggu di rumah."
Telepon ditutup. Aku mengembuskan napas panjang, bersandar pada pilar koridor seraya menatap layar ponsel yang perlahan menggelap. Rasa lelah yang sempat tersimpan mendadak menumpuk di pundakku.
Namun, ketenanganku tidak bertahan lama. Saat aku berbalik hendak kembali masuk ke aula, langkahku terhenti. Seseorang sedang berdiri bersandar di dinding koridor, tak jauh dari pintu samping, sambil melipat kedua tangan di dada.
Enzo. Entah sejak kapan cowok urban itu ada di sana, memperhatikan pergerakanku.
"Sibuk banget ya yang mau maju lomba tingkat nasional," celetuk Enzo begitu mata kami beradu. Senyum tipisnya yang khas mengembang, seolah dia baru saja memenangkan sesuatu. "Sampai sore-sore begini masih betah di sekolah."
Aku mengunci ekspresi wajahku dalam sekejap, kembali menjadi Rania yang dingin dan tidak tersentuh. "Ya. Level nasional memang butuh fokus lebih," jawabku datar.
Enzo melangkah mendekat, kedua tangannya kini dimasukkan ke dalam saku celana abu-abunya. "Bagus deh kalau fokus ke sana. Tapi... aman, kan? Maksud gue, lo nggak bakal keteteran sama urusan internal OSIS? Oprec kan lagi anget-angetnya sekarang, masa sang Ratu malah ngumpet di aula?"
Aku membuang napas, memasang raut wajah yang sedikit dibuat lelah dan pasrah. "Sebenarnya, Zo... gue udah memutuskan sesuatu. Gue mundur dari oprec OSIS."
Mata Enzo langsung membelalak. Ekspresi kaget yang murni tercetak jelas di wajahnya selama beberapa detik. "Mundur? Lo serius?" tanyanya, memastikan dia tidak salah dengar.
"Serius. Gue udah bicara sama Pak Rama sore ini. Gue nggak bisa bagi fokus antara persiapan FLS3N nasional dan tekanan kampanye OSIS yang melelahkan. Jadi, gue milih lepas posisi gue," kataku, memberikan alasan paling logis yang ingin dia dengar.
Enzo terdiam. Dia berusaha keras menyembunyikan keterkejutannya, namun aku bisa menangkap kilatan lain di matanya. Kilatan kepuasan. Ada riak kegembiraan yang tertahan di balik garis wajahnya yang sok bersimpati. Tanpa perlu diucapkan pun, aku tahu persis isi otaknya: dia mengira posisinya kini sudah benar-benar di atas angin.
"Gitu, ya... Sayang banget sih, Ran. Padahal Lo sendiri yang ngajak gue bikin oprec OSIS tahun ini menjadi lebih menarik. Tapi ya gue paham, nama sekolah di tingkat nasional emang lebih penting," ujar Enzo dengan nada sok bijak.
"Ya begitulah. Mau gimana lagi. Oh ya, gue duluan, Zo. Pak Rama sama pelatih gue udah nunggu di dalam," pamitku tanpa menunggu responsnya lagi. Aku berbalik dan mendorong pintu aula, meninggalkan Enzo di koridor remang itu sendirian.
Di atas panggung, Pak Rama dan Om Timur sudah kembali bersiap dengan lembaran kertas analisis mereka. Kami bertiga kemudian duduk melingkar di tepi panggung, memulai diskusi panjang mengenai strategi taktis untuk memenangkan perlombaan tingkat nasional nanti. Mulai dari pemetaan kekuatan lawan dari provinsi lain, pendalaman karakter puisi cadangan, hingga pembagian jadwal latihan fisik untuk ketahanan vokal.
Di dalam ruangan yang sunyi ini, aku mendengarkan setiap arahan mereka dengan saksama. Untuk saat ini, duniaku adalah bait-bait puisi, panggung kosong, dan ambisi untuk membawa pulang piala nasional. Biarlah keriuhan di luar sana berjalan tanpa diriku.
Malamnya, suasana sunyi aula sekolah berganti dengan riuh rendah denting sumpit dan aroma panggangan daging di sebuah restoran Jepang autentik di pusat kota. Sesuai janjinya, Bunda mengajakku makan malam berdua.
Di bawah pendar lampu kekuningan yang temaram, Bunda terlihat sangat cantik malam ini. Gaun kasual berwarna pastel yang dikenakannya membuat beliau tampak segar, jauh dari kesan wanita frustrasi yang semalam meringkuk di sudut kamar dengan botol-botol sialan itu.
"Jadi, latihan untuk tingkat nasionalnya bakal seketat itu, Ran?" tanya Bunda setelah menelan potongan sushi-nya. Matanya menatapku hangat, memancarkan binar kebanggaan yang tulus.
"Iya, Bun. Mulai besok intensitasnya ditambah, makanya Rania harus lepas kegiatan lain di sekolah," jawabku tenang, menyumpit chicken teriyaki di piringku. "Pak Rama bahkan datangkan pelatih khusus dari luar. Targetnya memang harus bawa pulang piala juara satu."
"Bunda bangga banget sama kamu, Sayang. Kamu selalu tahu apa yang terbaik buat masa depan kamu," ujar Bunda, mengusap punggung tanganku yang berada di atas meja.
Aku tersenyum tipis. Obrolan mengalir santai seputar kegiatan sekolah dan persiapan lombaku, mengikis sedikit demi sedikit ketegangan yang sempat tersisa sejak semalam. Namun, ketenangan itu mendadak menguap ketika Bunda meletakkan sumpitnya, mengubah posisi duduk menjadi lebih tegak, dan menatapku dengan tatapan yang mendadak melunak—terlalu melunak.
"Ran... sebenarnya, ada satu hal lagi yang mau Bunda omongin malam ini. Ini soal alasan kenapa Bunda belakangan ini sering... kurang fokus," Bunda memulai, suaranya merendah.
Aku menghentikan gerakan sumpitku. Perasaanku mendadak tidak enak. "Soal apa, Bun?"
Bunda menarik napas dalam-dalam, jemarinya bertautan di atas meja. "Bunda... berencana mau menikah lagi, Ran. Ada seorang pria yang belakangan ini dekat sama Bunda. Dia orang baik, mapan, dan dia bilang mau serius menjaga Bunda. Dan... menjaga kamu juga."
DEG.
Kata-kata Bunda seperti hantaman palu yang mendadak meretakkan dinding ketenanganku. Aku tertegun, menatap wanita di depanku dengan rasa tidak percaya yang menjalar cepat ke seluruh kepala.
Menikah lagi? Setelah semua kehancuran, air mata, dan trauma yang ditinggalkan oleh pernikahan sebelumnya? Setelah semua botol alkohol yang harus kusembunyikan karena beliau patah hati oleh laki-laki?
"Menikah lagi, Bun?" tanyaku. Nada suaraku merosot drastis menjadi dingin dan tajam, tidak bisa lagi berkompromi dengan kepura-puraan. "Apa sebegitunya Bunda nggak bisa lepas dari laki-laki?"
Bunda tampak terkejut mendengar respons telanjangku. "Ran, bukan begitu maksud Bunda—"
"Lalu apa, Bun?" aku memotong, tidak mampu lagi membendung rasa tidak habis pikir yang bergejolak di dadaku. "Kenapa Bunda nggak bisa hidup independen saja? Sendiri. Fokus sama diri Bunda. Kenapa kebahagiaan Bunda selalu harus ditaruh di tangan seorang pria?"
"Bunda juga butuh sandaran, Rania. Bunda kesepian..." suara Bunda mulai bergetar, matanya berkaca-kaca.
Aku mengepalkan tangan di bawah meja. Kalimat itu terdengar sangat lemah di telingaku. "Sandaran yang bisa runtuh kapan saja? Apa ada yang bisa menjamin kalau laki-laki ini ke depannya nggak akan menyakiti Bunda lagi? Nggak akan bikin Bunda nangis dan mabuk-mabukan lagi kayak kemarin-kemarin?"
Bunda terdiam, menunduk dengan bibir bergetar.
"Aku nggak habis pikir, Bun. Kenapa Bunda selalu memilih jalan hidup yang sulit dikendalikan? Memasukkan orang baru ke dalam hidup kita itu artinya menambah variabel yang nggak bisa kita kontrol. Kenapa nggak fokus mengontrol diri sendiri saja? Bahagia itu nggak harus selalu bersama pria, Bun. Itu semu."
Restoran Jepang yang hangat ini mendadak terasa mencekam di antara bursa argumen kami yang membeku. Aku menarik napas panjang, mencoba meredam detak jantungku yang berpacu cepat. Aku melihat wanita di depanku, dan di detik itu aku bersumpah pada diriku sendiri: aku tidak akan pernah sudi menjadi seperti Bunda. Aku tidak akan membiarkan hidupku disetir atau dihancurkan oleh makhluk bernama laki-laki.
Aku meletakkan sumpit dengan ketukan yang final di atas meja. Tatapanku mengunci mata Bunda yang mulai basah.
"Kalau memang itu mau Bunda, silakan. Aku nggak akan melarang Bunda untuk menikah lagi," kataku dengan nada suara yang benar-benar datar, tanpa emosi. "Tapi dengan satu syarat."
Bunda mendongak, menatapku penuh harap sekaligus cemas. "Apa, Ran?"
"Bunda silakan hidup bersama dia, asal tidak serumah sama aku. Jangan bawa laki-laki itu ke rumah kita, atau jangan paksa aku tinggal di rumahnya," ujarku tegas, tanpa celah untuk negosiasi. "Biarkan Rania hidup seperti ini. Sendiri. Di rumah kita yang sekarang."
"Ran, tapi kamu masih SMA, gimana bisa kamu tinggal sendiri—"
"Aku bisa, Bun. Aku selalu bisa," potongku mutlak.
Aku ingin hidup independen. Tanpa laki-laki yang mengatur. Tanpa harus bergantung atau terikat pada komitmen bodoh yang sewaktu-waktu bisa mengkhianatiku. Cukup Bunda yang hancur karena cinta, aku tidak. Keberadaanku di dunia ini hanya akan ditentukan oleh satu hal: kalkulasi dan kendali penuh atas hidupku sendiri.
