Breaking News

Minggu, 28 Juni 2026

NOVEL "TITIK BUTA" CHAPTER 3: QUEEN VS PION

 

CHAPTER 3: QUEEN VS PION

25: THE GORILLA WARFARE (POV Devan)

Aroma gorengan panas, asap rokok yang mengepul tipis, dan bau bensin langsung menyengat indra penciumanku begitu aku menginjakkan kaki di tanah berdebu warung Bu Lastri. Tempat ini bukan lagi sekadar warung kelontong; siang ini, Bu Lastri resmi bertransformasi menjadi markas komando taktis Paslon 1.

Di halaman samping, Bentrok sedang berdiri di atas bangku kayu panjang yang agak reyot. Jaket denim J.Rabbit-nya disampirkan di bahu kiri, sementara tangan kanannya memegang gulungan kertas karton layaknya tongkat komando. Doni dan beberapa petinggi J.Rabbit kelas 12 juga ada di sana. Di bawahnya, puluhan anggota dari kelas 10 sampai 11 membentuk barisan rapat, layaknya barikade suporter sepak bola sebelum laga derby.

"Satu! Dua! Tiga! Mulai!" teriak Bentrok, suaranya serak-serak basah.

BOOM! BOOM! TAK!

Dua pukulan drum bass—yang entah bagaimana bisa mereka pinjam dari gudang Marching Band—dan satu hentakan senar berdentum, sukses membuat seng atap warung Bu Lastri bergetar.

"Kiri dikira PKI, kanan dikira radikal... OSIS elite, massanya pelit... Senggol Devan, lo semua bakal melilit!"

"Heh! Heh! Stop! Ketinggian nadanya, tolol!" Bentrok mendadak memotong, melempar gulungan karton ke arah anak kelas 11 yang pegang stik drum. "Ini yel-yel buat naikin mental Bang Devan, bukan audisi Indonesian Idol! Ulang!"

Bagas yang berdiri di sebelahku melongo. Cowok Pramuka yang biasanya tertib dengan seragam rapi itu hari ini hanya memakai kaos oblong hitam, matanya berkedip takjub sekaligus syok menyapu pemandangan di depannya.

Di sudut lain, beberapa anak Pramuka bimbingan Bagas justru kelihatan asyik berbaur dengan anak-anak jalanan J.Rabbit. Mereka lagi sibuk menggoreskan kuas cat tekstil ke kain putih raksasa—membuat tifo wajahku dalam versi karikatur. Tapi masalahnya, karikatur itu digambar dengan mata menyala merah seperti karakter anime gagal.

"Gila, Dev," bisik Bagas, suaranya setengah tenggelam oleh gemuruh anak-anak yang mulai memukul drum lagi. "Gue gak pernah bayangin chant jalanan J.Rabbit yang sarkas bisa kawin silang sama tempo yel-yel Pramuka. Tapi... itu liriknya apa gak terlalu nyari musuh, ya?"

"Nyari musuh?" Bentrok yang mendengar ucapan Bagas langsung melompat turun dari bangku, menghampiri kami dengan seringai lebar. "Gas, dengerin komandan divisi tempur J.Rabbit yang ganteng ini. Di jalanan, kalau lo gak bikin musuh jantungan duluan sebelum tanding, lo udah kalah lima puluh persen. Lagian, anak Pramuka lo tuh, kreatif bener."

Bentrok menunjuk tifo karikatur wajahku. "Muka Bang Devan dibikin mirip siluman macan. Besok pas kita arak-arakan keliling koridor, anak-anak faksi Enzo bakal ngira kita mau demo urusan sengketa tanah, bukan kampanye Pilketos."

Bagas terkekeh geli, gelengan kepalanya tampak lebih santai sekarang. "Ya minimal kalau kita kalah suara, kita menang di bagian bikin trauma panitia, Bro."

Anak-anak J.Rabbit di sekitar langsung bersorak, memukul pundak Bagas bergantian. "Nah! Gitu dong, Gas! Gak kaku-kaku amat lo ternyata. Besok ikut kita nongkrong di kolong jembatan!"

Aku menepuk bahu Bagas sambil tersenyum. Sisi kaku Bagas perlahan mencair oleh kehangatan yang kasar khas J.Rabbit.

Namun, di tengah keriuhan yang membakar adrenalin itu, mataku menangkap satu sosok yang berdiri terpisah dari massa.

Bule.

Dia duduk di sudut warung yang agak teduh, memutar-mutar kunci motor di jarinya dengan tatapan yang sulit dibaca. Ketika Bentrok dan anak-anak jalanan memilih jalur frontal yang bising, Bule mengambil rute sebaliknya: gerilya yang sunyi, halus, dan personal.

Sejak pagi, Aku tahu cowok itu tidak berhenti bergerak. Menggunakan pesona alaminya sebagai social butterfly, Bule mendekati pentolan-pentolan kelas 12 yang punya pengaruh besar—para ketua tongkrongan, kapten tim futsal, hingga anak-anak skater sekolah. Cara persuasifnya selalu berhasil karena dia tahu apa yang mereka butuhkan. Bahkan, yang bikin aku geleng-geleng kepala, Bule sengaja memanfaatkan barisan mantan dan gebetan ceweknya yang tersebar di tiap kelas untuk jadi agen rahasia pengumpul suara Paslon 1. Sialan, tapi harus kuakui, taktik itu luar biasa efektif.

Begitu latihan yel-yel istirahat dan anak-anak mulai sibuk memesan es teh, Bule memberi kode dagu ke arahku. Aku berjalan mendekat, duduk di bangku kosong di seberangnya.

"Gimana pergerakan di bawah, Le?" tanyaku, membuka percakapan.

Bule tidak langsung menjawab. Dia menyeruput es tehnya pelan, matanya menatap lurus ke arah kepulan asap rokok anak-anak kelas 12 di pojok warung. "Aman. Kelas 12 hampir tujuh puluh persen di tangan kita. Mereka gak butuh program kerja muluk-muluk kaya yang ditawarin Enzo. Mereka cuma butuh jaminan kalau lo kepilih, area parkiran luar gak bakal dirazia lagi sama sekolah."

Aku terkekeh. "Simpel."

"Politik emang simpel kalau lo tahu apa yang orang mau, Dev," ujar Bule datar. Tiba-tiba, nadanya berubah. Lebih rendah, lebih berat. "Rania gimana? Udah berangkat  ke Bali dia?"

Pertanyaan itu membuatku tertegun sejenak. Aku meraba ponsel di saku. "Iya. Terakhir dia chatan sama gue tadi pagi pas lagi di kereta menuju."

Bule menaikkan satu alisnya. Dia mengetuk-ngetuk jarinya ke meja kayu, matanya mendadak menerawang. Ada keraguan yang terpancar dari kedalaman tatapannya, sesuatu yang jarang gue lihat dari seorang Le yang biasanya selalu percaya diri.

"Gak tahu kenapa, Dev... gue ngerasa ada yang janggal. Gue mikir ini udah lama sebenernya, menurut lo, apa bener Rania ngelepas OSIS segampang itu? Maksud gue, kita semua tahu gimana ambisiusnya dia selama ini buat mempertahankan takhta."

"Dia capek, Le. Bagi waktu antara FLS3N dan urusan OSIS yang sama-sama gila-gilaan tekanannya bikin dia stress," sahutku mencoba rasional. “Mau Gimana pun dia manusia, ada masanya buat nyerah, realistis sama keadaan.”

"Iya, gue tahu. Dan mungkin gue cuma terlalu paranoid," Bule menghela napas, mengusap wajahnya kasar. Ada raut lelah sekaligus cemas di matanya yang menatapku langsung. "Tapi gimana kalau mundurnya dia itu... justru bagian dari rencana lain yang kita gak tahu? Kayak... dia sengaja ngasih panggung kosong ini biar kita, Enzo, dan Steffi saling cakar sampai babak belur. Terus di akhir, dia tinggal balik dan megang kendali lagi dengan cara yang kita sama sekali nggak duga."

Gue terdiam. Tatapan Bule kali ini bukan tatapan sinis seorang kritikus, melainkan tatapan seorang sahabat yang bener-bener cemas kalau kita semua lagi berjalan masuk ke dalam jebakan tak terlihat. Sisi emosional itu perlahan merayap di antara kami.

"Gue gak mau curiga sama dia, Dev," lanjut Bule, suaranya melembut, ada nada getir di sana. "Rania itu temen kita. Tapi di dunia kayak gini, rasa percaya bisa jadi senjata paling mematikan yang kita serahkan ke orang lain. Gue cuma gak mau... di akhir cerita nanti, justru lo yang paling hancur karena terlalu percaya."

Kalimat Bule menghantam tepat di ulu hati. Hubungan gue dan Rania memang rumit, dan Bule tahu betul bagian itu.

"Gue paham," kataku pelan, menatap gelas es teh yang mulai berembun. "Terus, lo mau kita gimana sekarang?"

Bule bersandar kembali ke sandaran kursi. Kekecewaan dan kecemasannya perlahan diselimuti kembali oleh ketenangan dingin yang biasa dia tunjukkan. Dia meraba tas selempangnya, mengeluarkan sebuah flashdisk hitam kecil dan meletakkannya di atas meja, tepat di antara kami.

"Ini Plan B," bisik Bule.

"Apaan?"

"Isinya beberapa rekam jejak digital. Transaksi dana komite yang 'salah kamar' ke rekening pribadi bokapnya Enzo, sama beberapa bukti chat manipulatif Steffi waktu dia nge-depak anak-anak Rohis yang gak sejalan sama Najib kemarin," jawab Bule pelan.

Aku terbelalak, reflek memajukan badan. "Fak! Lo dapet dari mana, kampret?"

"Gak usah tahu dari mana," Bule mengetuk flashdisk itu dengan ujung jarinya. "Gue gak bakal sebar ini ke publik, Dev. Gue tahu lo sama Bagas pengen idealis, pengen kampanye bersih yang sehat. Gue hargai itu."

Bule menatapku, matanya berkilat dengan ketegasan yang mutlak.

"Tapi inget, ini perang. Gue gak akan biarkan lo tumbang konyol di tangan mereka. Kalau Paslon 2 dan Paslon 3 mulai main kotor di belakang dan nyentuh area personal kita... gue gak akan ragu buat colok mata mereka pakai barang ini. Barang ini cuma bakal keluar kalau mereka yang mulai duluan. Dan saat momen itu dateng, gue cuma butuh satu lampu hijau dari lo, Dev."

Aku menatap flashdisk hitam itu lama. Di luar, suara drum bass kembali berdentum bersama tawa renyah Bagas dan celotehan ngawur Bentrok. Di hadapanku, Bule baru saja menegaskan bahwa di balik topeng santainya, dia bersedia melakukan hal terkotor sekalipun demi menjaga agar gue tetap berdiri di atas mimbar. Dan untuk kesekian kalinya, aku menaruh hormat padanya. 

26: THE FESTIVAL STRATEGY (POV Enzo)

Matahari sore di lapangan upacara SMA Praja Pratama tidak pernah terasa sehangat ini, atau mungkin ambisi di dada kami yang membuat suhunya naik beberapa derajat. Di tengah lapangan yang biasanya steril dan disiplin, puluhan anggota Passus melepas baret mereka, berganti dengan kaus ketat hitam, sibuk menurunkan berbagai gulungan banner besar berlogo Paslon 2.

Aku berdiri di dekat tiang bendera, menyilangkan tangan di dada, memantau pergerakan massa yang bergerak efisien layaknya barisan semut pekerja. Di sebelahku, Orion berdiri tegap dengan HT di saku celananya.

"Semua atribut harus kelar sebelum magrib, Yon," kataku tanpa menoleh. "Gue gak mau besok pagi ada anak-anak faksi lain yang merusak estetika banner kita."

"Aman, Zo. Anak-anak Passus udah gue bagi tiga sif buat jaga area lapangan malam ini," jawab Orion mantap.

Tak lama kemudian, suara deru mesin mobil memotong obrolan kami. Sebuah mobil pick-up besar bergerak mundur membelah gerbang samping lapangan, membawa tumpukan kerangka besi stand yang cukup masif.

Konsep kampanye Enzo-Orion besok bukan sekadar orasi membosankan di atas podium. Gue membawa konsep festival. Di sudut lapangan ini, besok akan berdiri belasan stand yang menyediakan makanan gratis, games interaktif dengan hadiah menarik, wadah bagi komunitas-komunitas seni dan hobi yang selama ini belum diakui oleh pihak sekolah, hingga sebuah panggung kecil di tengah-tengahnya untuk live performance.

Gue bukan cuma mau jualan janji; gue mau jualan pengalaman.

"Kerangka panggung utama ditaruh di sisi timur, Zo. Biar gak ketutupan bayangan gedung kalau sore," Orion memberi instruksi pada sopir pick-up, lalu kembali menatapku. "Gue masih gak nyangka lo bakal nekat bawa instrumen band ke sini. Keyboard lo udah aman?"

"Sudah di ruang OSIS, tinggal angkat besok pagi," aku tersenyum tipis. "Gue pegang keyboard, lo yang gebuk drum. Gak ada alasan buat tampil setengah-setengah."

"Dan vokalisnya?" Orion menaikkan alisnya, ada binar yang sedikit berbeda di matanya.

"Indira udah latihan semalem. Suaranya masuk buat aransemen yang gue bikin," sahutku, melirik Orion yang mendadak salah tingkah. Indira Puspita Munaf, cewek cantik kelas 10 yang belakangan ini sedang dekat dengan Orion, adalah kepingan terakhir yang membuat performa band kami besok bakal sempurna. Ditambah lagi, anak-anak Passus juga akan menampilkan PBB variasi di sela-sela penampilan kami untuk menegaskan wibawa Paslon 2.

Semua ini sudah dikonsep matang, rapi, dan sistematis. Hanya untuk satu tujuan: menarik massa pemilih agar mencoblos Paslon nomor 2.

Orion menghela napas panjang, bersandar pada pembatas lapangan. "Gue akui, konsep festival lo ini jenius, Zo. Pendekatannya dapet banget buat narik perhatian massa. Tapi..." Orion menggantung kalimatnya, matanya menyapu anak-anak kelas 10 yang sedang tertawa sambil menyusun dekorasi stand games.

"Tapi apa, Yon?"

"Sisi idealisme gue agak keganggu," ujar Orion jujur, nadanya mendadak serius. "Kampanye model begini... sifatnya cuma menarik perhatian untuk SDM rendah yang mudah tergiur sama hal-hal gratis dan hiburan sesaat. Buat para elit sekolah—anak-anak olimpiade, kelompok pencinta alam yang kritis, atau anak-anak kelas 12 yang apatis—mereka butuh sesuatu yang sifatnya quality. Sesuatu yang berbobot."

Atmosfer di antara kami mendadak turun. Aku membalikkan badan, menatap Orion lurus-lurus. Ketegangan tipis merayap di bawah tiang bendera.

"Kalau lo tahu faksi kita butuh suara dari kalangan elit sekolah, harusnya itu tugas lo, Yon," kataku, suaranya sengaja kubuat datar namun menusuk. "Lo yang pegang kendali atas disiplin anak-anak Passus. Lo yang punya akses ke ketua-ketua ekskul berkelas. Tugas gue adalah bikin wadah festival ini, dan tugas lo adalah membuat konsep di dalamnya terasa berkelas agar kita bisa menarik simpati mereka. Jangan cuma kritik konsepnya kalau lo sendiri belum nyumbang formula buat kaum elit itu."

Orion tertegun. Rahangnya mengeras sejenak, menatapku dengan pandangan mata seorang komandan yang tidak suka didebat. Namun, sebelum ketegangan itu memuncak menjadi adu mulut, sebuah suara riang memecah keheningan.

"Hai, Kak Enzo! Kak Yon!"

Indira berjalan menghampiri kami sambil membawa tiga botol air mineral dingin. Rambutnya kuncir kuda, senyumnya langsung mencairkan hawa panas di antara aku dan Orion. Dia menyerahkan botol itu satu per satu.

"Jangan tegang-tegang amat napa mukanya. Keliatan dari gerbang tahu," canda Indira, menyikut lengan Orion pelan hingga cowok itu akhirnya mengembuskan napas panjang dan tersenyum pasrah.

"Kita lagi mikirin cara buat narik anak-anak yang 'gila hormat' dan ngerasa terlalu pinter buat dateng ke festival kita, Ndira," kata Orion, merujuk pada kaum elit sekolah.

Indira mengetuk dagunya dengan botol minum, berpikir sejenak. "Hmm... kenapa gak dikombinasikan sama blusukan aja? Modelnya kayak 'Desak Anies' yang di TV itu, lho."

Aku dan Orion serentak menoleh ke arah Indira.

"Maksud lo?" tanyaku, mulai tertarik.

"Maksudnya, sehabis perform band di festival, Kak Enzo sama Kak Yon masuk ke tiap-tiap kelas secara bergantian. Jangan bawa ajudan Passus banyak-banyak, berdua aja. Di dalam kelas, buka forum diskusi bebas. Biarkan mereka komplain, tanyain aspirasi mereka, dan Kak berdua siap buat didebat langsung di depan anak-anak kelas itu. Kalangan elit atau anak-anak pinter itu kan suka divalidasi otaknya. Kasih mereka panggung buat ngetes kapasitas Kak Enzo."

Aku terdiam. Otak kalkulatifku langsung bekerja cepat membedah ide Indira. Itu brilian. Festival untuk massa akar rumput, dan diskusi terbuka (blusukan tactical) untuk kaum intelektual sekolah.

Orion menatapku, ketegangan tadi benar-benar menguap. "Gimana, Zo? Menurut gue, ide Indira masuk akal."

"Sangat masuk akal," aku mengangguk setuju, menatap Indira dengan pandangan apresiatif. "Kita eksekusi besok. Siapkan mental lo, Yon. Masuk ke kelas-kelas berarti kita harus siap dikuliti."

"Gue selalu siap, Zo," sahut Orion dengan seringai penuh keyakinan.

Sementara itu, jauh di atas lapangan upacara.

Di sudut koridor lantai dua yang gelap dan sepi, dua pasang mata sedang mengintip ke bawah sehabis merampungkan latihan koreo mereka di warung Bu Lastri. Bentrok dan Doni berdiri berdampingan, menyembunyikan tubuh mereka di balik pilar beton.

Doni meludah ke lantai, matanya menatap dongkol ke arah mobil pick-up dan kerangka panggung yang mulai berdiri megah di lapangan. "Sialan. Mewah bener modalnya si anak pejabat. Pake bikin festival segala."

Bentrok meremas pembatas koridor, giginya bergeletuk menahan rasa jengkel melihat tawa keharmonisan antara Enzo, Orion, dan Indira di bawah sana. Persiapan faksi Enzo terasa terlalu matang dan mengancam posisi Devan.

"Kalau besok acara mereka lancar, suara anak-anak netral bakal kesedot ke si Enzo semua, Ntrok," bisik Doni memanasi. "Si Devan sama Bagas mah mana mau mikir cara licik. Mereka maunya kampanye jujur, modal yel-yel doang."

Bentrok memicingkan matanya, senyum culas perlahan terukir di wajahnya yang sangar. Tanpa sepengetahuan Devan yang terlalu idealis, atau Bule yang terlalu fokus pada taktik bawah tanahnya, kepala Bentrok sudah merancang sesuatu yang lain.

"Jujur boleh, goblok jangan," bisik Bentrok, suaranya serak dan penuh dendam. "Don, lo tahu kan besok pagi anak-anak Marching Band bakal naruh drum bass-nya lagi di gudang deket lapangan?"

Doni menoleh, matanya berbinar nakal. "Tahu. Kenapa?"

"Hubungin anak-anak divisi tempur kelas 10. Malam ini, pas anak Passus lagi lengah... kita bikin festival si Enzo besok pagi berubah jadi panggung bencana. Jangan sampai Devan atau Bule tahu urusan ini. Biar ini jadi kejutan dari kita."

Doni terkekeh, mengangguk paham. Di bawah sana, Enzo masih tersenyum menatap panggungnya, sama sekali tidak menyadari bahwa di kegelapan lantai dua, sepasang serigala jalanan baru saja merencanakan sebuah sabotase kotor.

27: THE EMPATHY BLITZKRIEG (POV Steffi)

Berbeda dengan faksi Devan yang penuh hingar-bingar tabuhan drum jalanan di warung Bu Lastri, atau faksi Enzo yang sibuk membangun kerangka festival megah di lapangan upacara, atmosfer di markas komando Paslon 3 justru berbanding terbalik.

Tenang, teduh, dan sangat kasual.

Di ruang tamu rumahku yang besar dan megah, puluhan anak tim sukses Paslon 3 berkumpul. Tidak ada ketegangan militeristik ala Passus atau bentakan serak khas anak-anak tongkrongan. Kami semua duduk melingkar di atas karpet bulu tebal secara lesehan. Di tengah-tengah lingkaran, mamaku sudah menyediakan berbagai hidangan premium—mulai dari pastry hangat, piza kotak besar, hingga es kopi susu kekinian. Dibandingkan persiapan kampanye politik, pemandangan ini jauh lebih terlihat seperti acara ramah tamah atau gathering komunitas pembuat konten.

Namun, di balik suasana santai dan aroma kopi yang menenangkan ini, sebuah rencana matang yang dingin sedang kami susun. Kami tetap tenang, dan yang paling penting, kami sangat optimis.

"Oke, guys. Perhatiannya sebentar," aku membuka suara sambil mengetuk layar iPad-ku, menampilkan grafik algoritma media sosial sekolah. Semua mata langsung tertuju padaku. "Kalian semua pasti tahu gimana persiapan kampanye kompetitor kita yang gila-gilaan ramenya di luar sana. Tapi tenang aja, menarik massa itu tidak harus selalu dengan keramaian. Inget rumus FYP: sedikit berbeda itu lebih baik daripada sedikit lebih baik."

Beberapa anak kelas 11 mengangguk-angguk, mulai menangkap arah bicaraku.

"Ya, bener banget itu," Najib menimpali di sebelahku. Cowok itu duduk bersila dengan tenang, penampilannya yang bersahaja selalu berhasil memberikan kesan adem. "Kalau kita pakai cara yang sama kayak mereka—ikut-ikutan bikin arak-arakan heboh atau panggung musik—orang gak bakal notice. Kita bakal langsung kalah karena basis massa mereka berdua udah militan sejak awal. Makanya, gue dan Steffi memilih jalur lain."

"Empati!" tegasku, menatap mereka satu per satu dengan senyum penuh keyakinan. "Itu kata kuncinya. Jadi, rencana kita besok di lapangan itu simpel banget. Kita datang kampanye, sampaikan orasi seadanya yang santun, lalu kita tambahkan agenda galang donasi secara langsung untuk korban banjir buat temen-temen kita yang rumahnya terkena rob belakangan ini. Habis itu, kelar. Gak usah muluk-muluk."

Seorang anak kelas 10 bertubuh mungil mengangkat tangannya polos. "Sesimpel itu, Kak Stef? Apa gak keburu tenggelam sama euforia festivalnya Kak Enzo?"

Aku terkekeh pelan, meletakkan iPad-ku ke atas meja. "Jelas nggak dong, Cil. Sepulang sekolah, begitu seluruh rangkaian acara kampanye resmi selesai, lapangan pasti bakal dipenuhi tumpukan sampah yang berserakan. Itu hasil dari keributan kampanye Paslon 1 dan Paslon 2 yang gak terkontrol. Nah, di situlah pertunjukan kita yang sesungguhnya baru dimulai."

Aku memajukan badan, menurunkan volume suaraku agar terdengar lebih intens.

"Ini rencana kita yang sebenarnya. Begitu bel pulang berbunyi, kita kerahkan seluruh massa Paslon 3 untuk turun ke lapangan membawa kantong plastik besar. Kita bersih-bersih total. Nggak apa-apa besok kita terlihat seperti kacung atau petugas kebersihan di depan umum. Tapi gerakan ini bakal menarik empati dan menempatkan citra kita dengan sangat baik. Bukan hanya di mata anak-anak yang capek liat sampah, tapi yang paling penting: di mata guru. Inget, partisipan pemilih Pilketos kita bukan cuma siswa, tapi suara guru juga dihitung dan punya bobot besar."

Najib tersenyum tipis, menambahkan dengan nada persuasifnya yang khas. "Dan bagian terakhirnya adalah senjata utama kita. Kita bakal bikin framing masif di medsos. Kampanye langsung di lapangan itu cuma berjalan saat itu juga dan bakal dilupain besoknya. Sedang di medsos? Jejak digital itu abadi."

Najib menjentikkan jarinya ke udara. "Kita bikin pencitraan lewat video transisi yang estetik. Narasi visinya jelas: seolah-olah Paslon 3 adalah pihak yang bertanggung jawab atas kelalaian, keegoisan, dan ketidakbecusan pesaing kita dalam bikin kampanye hingga menimbulkan banyak sampah. Kita kemas seolah kita yang membersihkan dosa-dosa mereka."

"Wah, efeknya double dong, Kak!" respons seorang anak kelas 10 lain yang duduk di dekat pintu, matanya berbinar instan begitu menangkap logika taktik ini. "Kita dapat nilai plus satu, sedangkan pesaing kita langsung minus satu. Secara gak langsung kita menang dua poin sekaligus!"

"Nah, itu dia poin utamanya," aku menyandarkan punggungku ke sofa mewah di belakangku, melipat kaki dengan anggun sembari menikmati reaksi kepuasan dari tim suksesku. "Pencitraan adalah hal paling penting dalam masa kampanye. Dan kita hanya mau fokus ke situ."

Di luar jendela rumahku yang besar, langit meredup perlahan. Dua paslon di luar sana boleh saja saling pamer otot dan kekuasaan fisik. Tapi mereka lupa, di era digital seperti sekarang, siapa yang berhasil menguasai narasi dan sudut pandang kamera, dialah yang bakal keluar sebagai pemenang sejati. Dan besok, kamera itu hanya akan menyorot ke arah kami.

Satu per satu anak-anak tim sukses pamit setelah piza dan es kopi mereka tandas. Ruang tamu yang tadinya hangat oleh obrolan kasual perlahan kembali sunyi, meninggalkan sisa-sisa gelas plastik di atas meja. Mamaku sudah kembali ke kamarnya di lantai atas, menyisakan aku dan Najib yang masih duduk lesehan di karpet bulu.

Najib menatap langit-langit ruang tamuku yang tinggi, lalu mengembuskan napas panjang. Ada senyum tipis, hampir seperti tawa getir yang tertahan di bibirnya.

"Kenapa, Jib?" tanyaku sambil merapikan sisa pastry ke dalam kotak.

"Enggak," Najib menoleh, menatapku lurus-lurus. Tatapannya dalam, tipe tatapan anak Rohis yang selalu tenang tapi sedang menguliti isi pikiran lawan bicaranya. "Gue cuma masih gak nyangka aja, Stef. Sampai detik ini."

"Gak nyangka soal apa?"

"Soal kita berdua. Soal Pak Rama yang tiba-tiba masangin kita jadi Paslon 3," Najib memutar-mutar gelas plastiknya yang sudah kosong. "Gaya kita itu bertolak belakang banget. Jujur, sebelum semua kegilaan Pilketos ini dimulai, yang gue tahu tentang Steffi itu cuma... cewek cantik, anak orang kaya yang glamor, hobi hedon, dan suka flexing di Instagram. Lo itu definisi anak hypebeast Jakarta yang nyasar ke SMA Praja Pratama."

Aku tertawa renyah, bersandar pada kaki sofa. "Terus sekarang? Persepsi lo berubah?"

"Berubah total," Najib mengangguk jujur, nadanya melembut, membawa atmosfer obrolan kami jadi lebih intens. "Gue gak pernah nyangka kita bisa kerja sama se-rapi ini. Dan yang paling bikin gue salut sekaligus agak... ngeri, lo bisa masuk ke dalam idealisme gue dengan sangat mulus. Gue ini anak Rohis, Stef. Gue punya standar moral dan cara pandang sendiri. Tapi lo? Lo bisa ngemas idealisme religius kelompok gue jadi sebuah narasi pencitraan yang kelihatan modern, estetik, dan bisa diterima sama anak-anak umum tanpa kelihatan kaku. Lo pinter banget baca pasar."

Aku tersenyum tipis, menatap pantulan diriku di layar iPad yang sudah mati. "Dunia digital itu gak peduli seberapa suci atau seberapa bener idealisme lo, Jib. Orang cuma peduli sama gimana cara lo ngebungkusnya. Kalau lo jualan agama dengan cara kuno, lo cuma bakal dapet suara dari anak-anak yang emang udah rajin ke masjid. Tapi kalau dibungkus pakai narasi empati dan visual yang tenang? Anak-anak yang jarang solat pun bakal ngerasa lo itu representasi anak muda yang damai."

Najib terdiam, meresapi kalimatku. Sisi emosional dari pengakuannya tadi perlahan digantikan oleh ketenangan taktis yang biasa kami bagi.

"Tapi, Stef," Najib memajukan badannya sedikit. "Gimana kalau besok taktik bersih-bersih lapangan kita gagal? Gimana kalau euforia festivalnya Enzo atau arak-arakan militannya Devan terlalu kuat buat ditenggelamkan sama video TikTok kita?"

Aku menatap Najib lama, memastikan tidak ada orang lain yang mendengar apa yang akan kuucapkan selanjutnya. Aku menarik napas dalam-dalam, lalu menurunkan nada suaraku hingga hampir berbisik.

"Gue punya Plan B, Jib."

Najib menaikkan alisnya. "Plan B apa?"

"Politik identitas."

Mendengar dua kata itu, rahang Najib mendadak mengeras. Ekspresi wajahnya yang tadinya bersahabat langsung berubah drastis, digantikan oleh kerutan dalam di dahi dan tatapan tidak setuju yang sangat kentara. "Maksud lo apa, Stef? Mainin isu agama? Enggak. Gue gak setuju. Sebagai ketua Rohis, gue gak akan biarkan nama organisasi gue dipakai buat polarisasi murahan kayak gitu di sekolah."

"Dengerin gue dulu, Jib," potongku cepat, memegang pergelangan tangannya pelan untuk menenangkan gejolak idealismenya. Tatapanku kubuat seyakinkan mungkin. "Ini bukan politik identitas ekstrem kayak di pemilu orang dewasa. Kita gak bakal menyerang agama orang lain, karena kita semua tahu kompetitor kita juga muslim. Ini soal penajaman karakter."

Najib masih menatapku dengan defensif, tapi dia tidak menarik tangannya. "Penajaman gimana?"

"Kita tinggal bikin micro-targeting ke grup-grup WhatsApp kelas," jelasku dengan nada dingin namun taktis. "Kita embuskan narasi pelan-pelan secara organik. Tanya ke mereka: apa mereka mau dipimpin sama Devan yang notabene anak berandalan jalanan J.Rabbit yang hobi tawuran? Atau apa mereka mau dipimpin sama Enzo yang didukung penuh faksi Passus yang militeristik, kaku, dan sombong? Terus kita masuk sebagai satu-satunya alternatif: Paslon yang paling bermoral, yang paling sering dhuha, yang didukung anak-anak Rohis yang santun. Kita bikin dikotomi antara si 'pemberontak', si 'diktator', dan kita si 'anak baik-baik'."

Najib menelan ludah, dadanya kembang kempis. Idealisme moralnya sedang berbenturan keras dengan pragmatisme politik yang kuajarkan. "Itu tetep aja kotor, Stef. Itu namanya memecah belah mental anak-anak."

Aku melepaskan tanganku dari pergelangan tangannya, lalu tersenyum menenangkan, merapikan anak rambutku yang jatuh.

"Semua ini bakal aman, Jib. Percaya sama gue. Narasi itu gak bakal keluar dari mulut lo, atau mulut gue secara langsung. Kita punya akun-akun alter yang gak bisa dilacak, kita punya anak-anak kelas 10 yang loyal buat nyebarin itu sebagai obrolan burung di kelas-kelas. Kita gak bakal keliatan basah. Kita tetep jadi Paslon yang suci di depan kamera."

Najib menatap karpet cukup lama, mencerna seluruh konsekuensi dari permainan yang baru saja kubuka kran-nya. Dia tidak lagi membantah, dan diamnya Najib malam itu adalah sebuah persetujuan tak tertulis bahwa demi sebuah takhta, idealisme Rohis miliknya pun akhirnya harus mau berbagi tempat dengan kelicikanku.

28: THE FIRST STORM (POV Devan)

Pagi itu datang juga. Hari di mana semua faksi resmi melepaskan rem dan menginjak gas sedalam-dalamnya. Perang hari pertama telah dimulai.

Koridor utama SMA Praja Pratama mendadak kehilangan warna aslinya. Lautan manusia berpakaian serba hitam bergerak lambat, membelah barisan murid-murid kelas 10 yang melongo di depan loker. Di barisan paling depan, panji-panji hitam berkibar rendah, mengawal sebuah tifo kain raksasa bergambar karikatur wajahku bermata merah yang diarak oleh puluhan orang.

Langkah kaki kami seirama dengan suara tabuhan drum bass dan senar yang bergenderang memekakkan telinga.

BOOM! BOOM! TAK!

Nyanyian dengan nada rendah, berat, namun menggetarkan dinding beton sekolah terdengar mengerikan di sepanjang lorong. Seperti badai yang datang membawa bencana, konvoi J.Rabbit dan Pramuka ini berjalan pelan, tenang, namun mantap.

Aku dan Bagas berjalan berdampingan memimpin kepalamu di barisan paling depan. Di belakang kami, Bentrok dan Doni mengomandoi barisan massa agar nadanya tak jua melemah. Di sepanjang rute, anak-anak kelas 11 dengan cekatan menempelkan selembar poster Paslon 1 di tiap mading dan tiang yang kami lewati, tak lupa ajakan persuasif terus digaungkan lewat selebaran yang dibagikan dari tangan ke tangan. Kami bergerak taktis, mengunci perhatian seluruh sekolah sejak menit pertama gerbang dibuka.

Hingga tibalah kami di lapangan basket semi-indoor yang menjadi titik kumpul utama massa siang itu. Konvoi berhenti, membentuk barikade melingkar yang solid.

Aku dan Bagas langsung melangkah naik ke atas mimbar semen di ujung lapangan. Aku menarik napas dalam-dalam, membetulkan ikat kepala hitam yang terikat kencang bertuliskan “We Are Number One”, lalu mengangkat megaphone merah yang sejak tadi menggantung di leherku. Gaya kami hari ini tidak ada bedanya dengan mahasiswa yang sedang berunjuk rasa di jalanan.

Cek. Satu.

"Selamat pagi, SMA Praja Pratama!" suaraku menggema lewat corong megaphone, memotong gemuruh drum.

Massa J.Rabbit langsung bersorak riuh, mengangkat tangan mereka ke udara.

"Kita semua di sini tahu, minggu depan adalah penentuan," aku mulai berorasi, mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru lapangan basket yang makin padat. "Tapi gue mau nanya sama kalian semua. Apa kalian gak berek atau bosan sama drama-drama OSIS elite yang isinya cuma janji manis bersampul proposal mewah? Pilketos ini bukan panggung teater tempat orang-orang pamer jabatan!"

Aku menjeda sejenak, membiarkan massa menyerap provokasi awal itu.

"Ada yang ikut kontestasi ini cuma karena ambisi pribadi! Ada yang butuh takhta ini cuma buat menuhi ekspektasi keluarganya, atau sekadar validasi biar kelihatan paling suci di media sosial!" teriakku lantang, sengaja menyentuh poin-poin sensitif para kompetitor tanpa menyebut nama. "Paslon 1 gak butuh itu semua. Gue dan Bagas berdiri di sini bukan buat jadi bos baru kalian, tapi buat jadi tameng yang bakal nemenin kalian nolak aturan-aturan sekolah yang gak masuk akal! Kalau mereka punya modal dan pencitraan, kita punya solidaritas!"

"Hidup Paslon 1!" Bentrok berteriak memimpin massa, disambut ketukan drum yang kembali bertalu-talu.

Aku menurunkan megaphone, lalu menyerahkannya kepada Bagas untuk melanjutkan bagian orasinya. Bagas melangkah maju dengan tegap. Meskipun dia anak Pramuka yang biasanya tertib, begitu memegang corong merah itu, suaranya keluar dengan artikulasi yang tegas dan menghentak.

Sembari Bagas membakar semangat massa dengan poin-poin kedisiplinan yang berpihak pada murid, aku melangkah mundur satu langkah. Aku menyeka keringat di dahi, lalu mengedarkan pandangan keluar dari area lapangan basket semi-indoor, memantau pergerakan para kompetitor di area lain yang juga sedang berkampanye.

Dari kejauhan, di lapangan upacara utama, aku bisa melihat kampanye festival milik Enzo dan Orion berjalan cukup lancar. Stand-stand makanan mereka ramai dikerumuni anak-anak kelas 10. Namun, mata elangku menangkap ada sesuatu yang sedikit insidental di dekat panggung utama mereka—beberapa anak Passus dan panitia festival kelihatan panik mondar-mandir di dekat gudang instrumen musik, seperti ada komponen yang hilang atau rusak. Tapi dari jarak sejauh ini, aku tidak tahu betul itu apa.Aku cuma berharap Bentrok gak bertindak kelewat batas semalam.

Aku mengalihkan pandangan ke koridor utama dekat aula, tempat faksi nomor urut 3 mendirikan posisinya. Aku mengernyitkan dahi.

Di sana, Steffi dan Najib terlihat sangat tenang. Orasi mereka sama sekali tidak ramai, bahkan cenderung biasa saja jika dibandingkan dengan arak-arakan hitam kami atau festival megahnya Enzo. Mereka hanya berdiri dengan senyum ramah, membagikan kotak donasi banjir rob dengan suasana yang adem ayem.

Rasa penasaran mendadak menggelayuti batinku.

Cuma segini aja? batinku bingung.

Aku mengingat kembali pertemuanku dengan Steffi di kafe waktu itu. Di bawah lampu temaram tempat minum kopi itu, ingatanku masih sangat jelas saat Steffi menatapku dengan ambisi yang menyala-nyala. Dia mengancam, menekan, dan menunjukkan taringnya sebagai pemain politik yang berbahaya. Aku yakin betul waktu itu kalau Steffi sangat, sangat serius dalam kontestasi ini. Dia bukan tipe cewek yang bakal menyerahkan takhta OSIS secara sukarela dengan kampanye sepi seperti itu.

Namun, keseriusannya yang mengintimidasi di kafe waktu itu sama sekali tidak nampak di lapangan hari ini. Dia terlalu santai. Terlalu membiarkan aku dan Enzo berebut panggung utama.

Gak mungkin, pikirku sambil menatap sosok Steffi dari kejauhan yang sedang tersenyum ke arah salah satu guru yang lewat. Si glamor itu pasti lagi nyiapin jebakan. Gak mungkin dia selemah ini.

"Dev! Giliran lo penutupan!"

Bisikan Bagas membuyarkan lamunanku. aku tersentak, kembali fokus pada lautan massa berbaju hitam di depan mimbar kami yang sedang menunggu kalimat penutup dari sang Ksatria J.Rabbit. Aku mengambil alih kembali megaphone dari tangan Bagas, menekan tombol on, dan bersiap mengakhiri badai pertama kami.

29: COLD STRATEGY (POV Enzo)

"Kacau! Faklah!"

Aku menggebrak permukaan meja kayu pelataran kelas 10 dekat perpustakaan. Napasku memburu, membuang sekat wibawa yang selama ini mati-matian kujaga di depan umum. Untuk pertama kalinya, aku mengumpat sekotor itu. Saking emosionalnya. Saking tidak terimanya aku pada kenyataan bahwa hari pertama yang harusnya jadi milikku, mendadak cacat.

Di sebelahku, Orion mondar-mandir seperti singa kelaparan, sementara beberapa timses inti duduk melingkar dengan wajah kaku. Acara blusukan ke kelas-kelas yang sudah dicanangkan siang ini terpaksa aku batalkan total. Mood-ku dan Orion sudah hancur lebur. Rencana diganti besok.

Sebenarnya, festival tadi tidaklah kacau-kacau amat. Di awal, semuanya berjalan sesuai kalkulasi. Stand makanan gratis, games interaktif, dan beberapa komunitas luar sekolah yang aku sewa berhasil menarik massa dalam jumlah masif—terutama anak-anak kelas 10 yang masih polos. Namun, petaka muncul saat live perform.

Peralatan band yang sudah semalaman dicekaman oleh anak-anak Passus, mendadak lumpuh total saat pagi hari. Pedal drum patah, senar gitar putus terpotong rapi, hingga sekring dalam amplifier yang mendadak rusak tiba-tiba karena sengaja dikonsletkan. Band batal tampil. Plan B terpaksa dijalankan: penampilan solo song dari Indira ditemani orgen tunggal yang kumainkan sendiri. Masih bisa disiasati, massa tetap terhibur. Tapi aku benci ini. Aku sangat tidak suka jika kalkulasiku meleset walau satu senti pun.

"Ada yang nggak beres. Kita pasti dikerjain nih!" Orion menyambar, rahangnya mengeras.

Aku menatapnya tajam. "Ya, harusnya itu kan tugas lo, Yon? Jagain alat-alat semalaman. Katanya udah bagi anak Passus jadi 3 shift? Kok bisa tetep kebobolan sih?!"

"Lo tuh kenapa sih bisanya nyalahin doang? Emang udah gue bagi kok! Mereka muter tiap jam!" Orion membela diri, suaranya meninggi.

Perdebatan saling menyalahkan itu sempat berlangsung beberapa menit, membakar atmosfer pelataran perpustakaan yang sepi. Hingga akhirnya, langkah kaki tergesa memutus pertengkaran kami. Indira datang. Dia tidak sendiri, melainkan membawa seorang pria berusia 20-an berpakaian kaus oblong—warga setempat yang kebetulan sedang ikut ronda malam tadi. Indira rupanya bergerak diam-diam, meminta tolong teman-temannya untuk mencari tahu apa yang terjadi semalam berdasarkan temuan bukti di lapangan. Dan inilah hasilnya. Saksi kunci.

Pria ronda itu menjelaskan dengan gamblang apa yang dia lihat. Bahkan, dia mengeluarkan ponselnya, memutar sebuah video amatir yang gemetar namun sangat jelas menangkap siluet dua orang.

Di sana, dalam rekaman itu, ada Doni dan Bentrok. Mereka sedang memanjat pagar belakang sekolah untuk menyelinap masuk ke arah tempat penyimpanan alat-alat musik. Pria itu menjelaskan bahwa dia sempat mencoba mengejar dari luar, namun saat hendak masuk kompleks sekolah, dia melihat area depan ramai oleh panitia yang mempersiapkan panggung. Dia pikir itu bagian dari acara resmi sekolah, jadi niat mengejarnya diurungkan.

BOOM.

Orion langsung menggebrak meja beton hingga menimbulkan dentuman keras. Anak tentara itu tempramentalnya sudah tidak perlu diragukan lagi. Matanya merah, urat lehernya menonjol.

"Kurang ajar! Paslon satu bener-bener minta dihabisin!" raung Orion, langsung berbalik. "Ikut gue, Zo! Kita labrak langsung bajingan-bajingan itu sekarang. Mereka lagi nongkrong santai di kantin nunggu bel pulang. Biar gue pecahin muka si Devan sekalian!"

"Yon, diem!" perintah gue, dingin dan mutlak. Gue menahan pundaknya.

"Diem gimana?! Alat-alat kita dirusak, Zo!"

"Jangan sekarang. Tunggu pulang sekolah aja," Aku menatap Orion dengan mata menyipit, menyusun rencana baru di kepala. "Tunggu saat mereka semua berkumpul di markas besar J.Rabbit, di warung Bu Lastri. Kalau kita bentrok di kantin sekarang, guru-guru bakal lihat. Itu berbahaya buat reputasi paslon kita. Kita juga perlu mempersiapkan dengan matang apa yang akan kita lakukan. Kita hancurkan mereka di kandang mereka sendiri."

Sore hari pun tiba. Benar saja sesuai prediksiku.

Massa Paslon 1 sedang merayakan kesuksesan konvoi dan orasi megah mereka hari ini di warung Bu Lastri. Aroma asap rokok, es teh manis, dan tawa kemenangan membubung ke udara. Semua massa mereka tenggelam dalam gelak tawa yang jemawa. Dari celah pintu, gue bisa melihat Devan, Bagas, dan Bule duduk di area paling dalam, tampaknya sedang merencanakan agenda kampanye untuk hari esok.

Namun, saat kondisi mereka terlihat makin larut dalam sendau gurau, aku melangkah masuk. Sekitar 10 orang timses inti, termasuk Orion yang wajahnya sudah seperti bom waktu, dan Indira yang memegang ponsel, berjalan di belakang gue. Langkah kami tenang, mantap, dengan persiapan mental yang matang.

Atmosfer warung Bu Lastri mendadak drop sekian derajat. Tawa mereda.

Melihat kedatangan kami, Bentrok dan Doni yang awalnya sedang tertawa di dekat meja luar langsung berdiri. Wajah mereka sempat pias, menyadari jangan-jangan kubuku sudah tahu apa yang terjadi semalam. Sebelum aku sempat menemui Devan dan Bagas di dalam, Bentrok dan Doni langsung merangsek maju, menghadang langkahku dan Orion.

"Woyyy, tetangga sebelah ngapain pada ke sini? Mau ngajak ribut lo?" cecar Doni, mencoba menggertak demi menutupi kegugupannya.

"Pulang lo, anjing! Di sini markasnya lelaki sejati. Banci kalau mau dandan ke salon aja, jangan ke sini!" maki Bentrok, suaranya sengaja dikencangkan agar anak-anak J.Rabbit yang lain ikut berdiri.

Orion maju satu langkah, meludahi tanah tepat di depan sepatu Bentrok. "Cuih. Bukannya lo yang banci, ya? Yang main kotor dan berani nyerang sembunyi-sembunyi malam-malam. Nih, ada gue di depan lo. Masih berani gak lo ngomong kayak gitu?" Orion tak gentar menantang Bentrok, dadanya dibusungkan menempel pada dada Bentrok.

Mendengar keributan yang makin memanas di bagian depan warung, Devan, Bagas, lalu disusul Bule dari belakang bergegas merangsek keluar dari area dalam.

"Woy! Ada apa ini ribut-ribut?!" teriak Devan, matanya langsung tertuju padaku.

"Eh, nggak apa-apa, Bang Dev. Udah, lo masuk aja, ini gue bisa handle sendiri. Lo nggak usah repot-repot," jawab Bentrok cepat, mencoba memotong jalur komunikasi.

"Ohhh... jadi ini ya ketua bancinya? Yang nyuruh anak buahnya merayap lewat pagar?" hina Orion langsung, menunjuk tepat ke wajah Devan.

"Maksud lo apa, bangsat?!" Devan tersulut. Dia maju, mencengkeram kerah seragam Orion. Orion tidak tinggal diam, dia mengangkat tangannya, siap melayangkan pukulan.

"Yon! Dev! Tahan!" Bule dengan sigap menyusup ke tengah, menahan dada Devan dan mendorong Orion mundur. "Tenang dulu semuanya! Selesaikan pakai otak, jangan pakai urat. Ada perkara apa ini sebenarnya?"

Tanpa babibu, Indira langsung melangkah maju di sebelahku. Dia mengarahkan layar ponselnya tepat di depan wajah Devan, lalu menekan tombol play.

Video amatir berdurasi dua menit itu berputar. Menampilkan dengan sangat jelas wajah Doni dan Bentrok yang sedang memotong kabel amplifier dan mematahkan pedal drum milik kubuku di ruang penyimpanan semalam.

Aku memperhatikan wajah Devan. Detik itu juga, rahangnya jatuh. Amarah di matanya mendadak padam, digantikan oleh syok yang luar biasa. Dia menoleh perlahan ke arah Bentrok dan Doni yang kini tertunduk dengan tubuh gemetar.

BUGH! BUGH!

Secara impulsif, Devan langsung membalikkan badannya dan melayangkan dua pukulan mentah ke rahang Doni dan Bentrok hingga keduanya tersungkur ke tanah, menabrak meja kayu Bu Lastri.

"Bajingan lo berdua! Gue nggak pernah ngajarin kalian main kayak gini!" raung Devan, napasnya memburu hebat. Rasa malunya sudah berada di ubun-ubun, merusak seluruh harga diri dan idealisme yang tadi siang dia gaungkan lewat megaphone. Dia mau memukul mereka lagi, namun Bule dengan cepat memeluk tubuh Devan dari belakang, menahannya agar berhenti memukuli mereka berdua.

Devan mengatur napasnya yang patah-patah, lalu menatapku dengan mata yang sarat akan rasa bersalah sekaligus kehancuran.

"Zo... gue minta maaf," suara Devan melemah, terdengar bergetar di hadapan massanya sendiri. "Ini... ini bukan instruksi langsung dari gue atau Bagas. Ini murni ide bodoh mereka berdua."

Orion mendengus kencang, melipat tangan di dada. "Alasan! Klasik banget lo, Dev. Mau mengkambinghitamkan anak buah demi nyelamatain muka lo sendiri? Gak usah sok suci lo!"

Aku, yang sejak tadi hanya diam mengamati pusaran kekacauan ini dengan tangan terbenam di saku celana, akhirnya melangkah maju. Langkah gue santai, membelah barisan. Aku menatap Devan yang masih dipeluk Bule dari belakang, lalu sebuah senyuman perlahan menyeringai di bibirku—sebuah senyuman kepuasan yang dingin.

"Gak apa-apa, Dev," suaraku mengalun tenang, memotong ketegangan. "Oke, sebagai ketua Paslon 2, gue maafin lo."

Devan termangu, menatapku seolah aku baru saja mengucapkan bahasa asing.

Aku maju satu langkah lagi, mencondongkan tubuhku ke arah Devan, menurunkan volume suara hingga hanya kami berdua dan Bule yang bisa mendengarnya dengan jelas. Sebuah bisikan sinematik yang menusuk tepat ke jantung pertahanan Paslon 1.

"Gue maafin lo, Dev. Tapi tolong jangan diulangi lagi, ya?" kataku pelan, menepuk pundaknya dua kali dengan ritme yang merendahkan. "Hari ini lo boleh bawa spanduk hitam paling besar di koridor. Tapi besok pagi, seluruh sekolah bakal tahu kalau di balik kain hitam itu... ada tangan-tangan yang kotor."

Devan mengepalkan tinjunya erat-erat hingga memutih, namun dia tidak bisa membalas kata-kataku. Skakmat.

Aku membalikkan badan, memberi isyarat pada Orion, Indira, dan timsesku untuk mundur. "Yuk, balik. Urusan kita udah selesai di sini."

Bagiku, cukup sampai di sini. Tidak perlu memperpanjang konflik fisik dengan Paslon 1. Otak politikku berjalan cepat: dengan merebaknya peristiwa sabotase ini besok pagi, pamor Paslon 1 akan rusak dengan sendirinya di mata para siswa umum dan guru tanpa perlu mengotori tangan. Kalau Paslon 2 terjun terlalu dalam ke dalam baku hantam, yang ada reputasiku yang ikut jatuh. Lagipula, aku harus menghemat energi. Masih ada Steffi di Paslon 3 yang diam-diam bergerak di bawah tanah, dan aku gak mau lengah.

Sore itu, kutinggalkan warung Bu Lastri dengan kemenangan mutlak di atas kertas. Cerita hari pertama resmi ditutup dengan Paslon 1 yang hancur dari dalam.

30: THE CYBER REBOUND (POV Steffi)

Malam hari, di sebuah kafe sepi bernuansa remang yang menjadi tempat pelarian langgananku. Hanya ada desis mesin esofagus dan lagu jaz instrumen yang mengalun tipis. Aku dan Najib duduk berhadapan. Kami memang sudah janjian malam ini untuk melancarkan aksi, tepat setelah seluruh rangkaian kampanye hari pertama yang melelahkan itu usai.

"Oke. It's time to cyberwar," bisikku sambil menyunggingkan senyum kemenangan.

Ujung jariku mengetuk tombol publikasi di layar iPad. Detik itu juga, materi framing yang sudah kami susun rapi mulai terunggah perlahan ke jagat maya sekolah, merayap masuk ke algoritma fyp bagai racun yang mematikan.

"Perang sebenarnya baru saja dimulai," timpal Najib, matanya memantulkan kilatan cahaya ponsel.

Dari sudut kafe ini, kami berdua bertindak sebagai jenderal. Kami mengomandoi para timses di rumah masing-masing lewat grup koordinasi rahasia untuk segera menyebarluaskan narasi yang sudah dibuat ke segala platform media sosial. Sengaja aku tidak mengumpulkan mereka dalam satu tempat malam ini. Selain agar tidak memunculkan kecurigaan dari faksi lain tentang adanya gerakan gerilya diam-diam, aku juga ingin memastikan bahwa setiap jejak digital ini menyebar secara organik dari puluhan IP address yang berbeda.

Dalam hitungan menit, jagat sosial media murid-murid Praja Pratama mulai ramai. Kolom komentar penuh. Rencana berjalan dengan sangat baik. Merasa tugas awal malam ini sudah kelar, aku dan Najib sepakat menutup gawai masing-masing. Kami mencoba merayakan keberhasilan awal ini dengan fokus menikmati makan malam bersama.

Namun, di sela-sela denting garpu dan pisau, sebuah obrolan deep mengalir di antara kami. Sesuatu yang luput dari kalkulasi matangku selama ini.

Ada hal lain dari gelagat Najib malam ini. Cara dia menatapku, nada suaranya yang melunak, semuanya memberi sinyal bahwa dia hendak membawa hubungan profesional sebagai Paslon 3 ini masuk lebih dalam ke ranah personal. Najib mulai mengagumiku dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sekadar kagum pada otak taktis sang kreator konten, melainkan kekaguman seorang laki-laki pada perempuan.

"Stef... gue gak pernah nyangka cewek seglamor lo bisa punya hati yang peka sama anak-anak korban banjir rob," katanya pelan, tangannya yang berada di atas meja bergerak maju, seolah ingin menyentuh jemariku.

Aku tersenyum tipis, dengan gerakan yang sangat halus aku menarik tanganku untuk meraih gelas moka, menjaga jarak. Aku harus mengelak. Aku tidak boleh membiarkan rencana besar yang telah kususun berbulan-bulan berantakan hanya karena partner politikku sendiri mendadak sentimental.

Laki-laki ternyata sama saja, batinku dengan sinis. Mau sereligius apa pun dia, mau sekaku apa pun jabatannya sebagai ketua Rohis, tetap saja kelemahan terbesarnya adalah perempuan.

Itulah kesimpulan mutlak yang kudapatkan dari percakapan malam ini. Begitu makan malam selesai, kami pun pulang. Aku sampai di rumah dengan perasaan puas, mengganti baju, dan langsung menenggelamkan diri ke dalam tidur yang lelap.

Tanpa kusadari dalam tidur nyenyakku, dunia digital terus bekerja tanpa henti. Dan para pesaingku ternyata tidak sebodoh yang kukira.

Jam dinding menunjukkan tepat pukul tiga dini hari saat dering telepon yang bising paksa membangunkan mimpi indahku. Nama di layar membuat dahiku berkerut dalam.

Enzo.

Begitu tombol hijau kugeser, suara baritonnya langsung menyambar bak petir di malam buta. "Akhirnya diangkat juga. Puas lo, Stef?! Gila ya? Ternyata sekotor ini intrik politik di kota kecil ini!"

Aku mengerjapkan mata, berusaha mengumpulkan kesadaran sembari membetulkan posisi duduk di kasur. Mencoba pura-pura tenang. "Maksud lo apa, Zo?"

"Nggak usah ngeles lo, Steffi! Gue pikir kita kemarin cuma pecah kongsi karena beda visi, ternyata ada pengkhianatan menjijikkan juga di balik punggung gue!"

"Sumpah, gue bener-bener gak ngerti. Lo ngomong apa sih dari tadi?" nafasku mulai memburu, kesal karena tidurnya diganggu.

"Halah! Asal lo tahu ya, kemarin siang Paslon 1 udah sabotase festival gue sampai band gue batal tampil. Sekarang giliran Paslon 3 bikin framing jelek di medsos buat ngejatuhin nama bokap gue? Ternyata lo sama Devan bersekongkol, ya?! Faklah! Cukup tahu gue. Emang bener, gak ada yang bener-bener bersih dalam peperangan ini. Dan baiklah... kalau itu mau kalian, gue ikutin mainnya!"

KLIK.

Sambungan telepon diputus sepihak.

Aku terpaku di kegelapan kamar. Otakku mendadak buntu. Kali ini aku benar-benar tidak tahu apa yang sedang terjadi. Bukankah strategi yang kulepas tadi malam adalah framing berimbang untuk menyerang kedua Paslon sekaligus? Kenapa hanya Enzo yang kebakaran jenggot dan mengamuk malam-malam? Dan yang paling tidak masuk akal, kenapa dia menuduhku bersekongkol dengan Devan?

Seketika aku bergegas membuka aplikasi sosial media, memantau apa yang terjadi selama aku tinggal tidur tadi.

BOOM!

"Apa-apaan ini?!" pekikku tertahan, mataku terbelalak menatap layar ponsel yang menyala terang.

What the hell is that?! Kenapa di lini masa hanya ada video framing yang menyudutkan festival sampah milik Enzo? Di mana konten-konten framing yang menyerang kebrutalan anak-anak J.Rabbit milik Devan? Kenapa semuanya gak ada?

Gue refresh berkali-kali. Hasilnya nihil. Sialan, konten yang menyerang Devan ternyata di-mass-report oleh ratusan akun tak dikenal sampai di-take down oleh sistem. Pantesan hilang! Rencana utamaku gagal total. Ternyata tim siber Devan—atau siapa pun otak di belakangnya—bergerak selangkah lebih maju dengan mengantisipasi pergerakan sosial media timku sejak awal.

Dan yang jauh lebih bikin aku syok, ada sebuah video baru yang sedang viral di platform sekolah. Konten pernyataan dan permintaan maaf dari Bentrok dan Doni yang disebarluaskan secara masif. Inti dari video berdurasi singkat itu adalah penegasan bahwa sabotase yang terjadi di festival Enzo murni inisiatif bodoh mereka sendiri, tanpa ada instruksi maupun sepengetahuan dari Devan maupun Bagas. Mereka berdua menyesali perbuatannya dan siap bertanggung jawab secara pribadi.

Yang bikin aku mau gila, video pengakuan dosa itu malah direspon sangat positif oleh warga net SMA Praja Pratama. Mereka menilai Bentrok dan Doni sangat jantan karena mau mengakui kesalahan di depan kamera. Ini malah jadi nilai plus yang mendongkrak reputasi Paslon 1 sebagai kubu yang ksatria!

Sejak telepon dari Enzo itu, aku gak bisa tidur lagi. Aku terus memantau perkembangan media sosial dengan napas memburu. Semuanya berjalan di luar prediksiku. Chaos banget.

"Kacau... kacau! Argh!!"

Aku berteriak frustrasi di dalam kamar. Sifat tantrumku kumat, tanganku bergerak impulsif menyapu meja rias, membanting peralatan kosmetik mahalku ke lantai hingga hancur berantakan. Lipstik dan botol parfum pecah, sama seperti kendali politikku yang baru saja lepas dari genggaman.

Dan keadaan berubah menjadi jauh lebih parah saat pagi hari tiba.

Sebuah unggahan dari akun anonymous sekolah mendadak naik. Isinya adalah jepretan foto-foto diriku bersama Najib yang terlihat sangat mesra dan intim saat kami berdua sedang dinner di kafe remang-remang tadi malam. Narasi di bawahnya ditulis dengan sangat menyudutkan: membawa-bawa nama Rohis yang ternyata cuma dijadikan alat politik demi bisa berduaan dengan cewek hedon.

Aku terduduk lemas di lantai kamarku yang berantakan. Kepalaku pening. Siapa... siapa yang sanggup melakukan pengintaian se-rapi ini dalam waktu satu malam?

Devan.

Sialan, hanya dia satu-satunya anak SMA Praja Pratama yang tahu keberadaan kafe sepi itu karena pertemuan kami tempo hari. Faklah!

Aku mengepalkan tangan hingga kukuku memutih. Ternyata menjadi kacung Rania selama berbulan-bulan ada manfaatnya juga buat lo ya, Dev? Lo jadi ikutan pinter dan lihai main di bawah tanah sekarang.

Aku tidak bisa tinggal diam. Kalau mereka pikir bisa menghancurkan reputasiku dalam satu malam, mereka salah besar. Perang ini baru saja dimulai, Devan!

31: NEW RIDDLE (POV Devan)

Pagi ini, kelopak mataku terasa seberat timah saat terpaksa terbuka. Aku terbangun di atas kasur busa tanpa sprei di kamar Bule. Bau sisa rokok semalam dan hawa dingin dari kipas angin yang berputar seadanya menyambut kesadaranku. Suasana batin draf kepalaku masih berkecamuk hebat karena runtutan peristiwa memalukan kemarin sore di warung Bu Lastri.

Jujur, aku sudah kehilangan seluruh selera untuk berkampanye hari ini. Rasanya energi idealismeku terkuras habis sampai ke dasar. Aku sudah tidak punya muka lagi di depan Enzo. Bayangan seringai merendahkan dari cowok parlente itu saat menepuk pundakku terus berputar bagai kaset rusak.

"Woy, anjing! Nyenyak banget tidur lo setelah segala kekacauan kemarin!"

Suara serak Bule yang tiba-tiba menggelegar dari ambang pintu menyentak lamunanku. Dia berdiri di sana, masih memakai celana bokser dengan handuk yang dikalungkan di leher.

Aku menghela napas berat, menatap langit-langit kamar Bule yang berjamur. "Terus gue kudu ngapain, Le? Bubar sudah. Percuma! Udah nggak punya muka gue buat berangkat ke sekolah hari ini."

"Sejak kapan lo jadi cemen gini, bangsat?!" Bule kembali memprovokasi, suaranya naik satu oktav. Dia melangkah masuk, menendang pelan pinggiran kasur tempatku berbaring.

"Woyyy, anjing! Lo denger sendiri kan kemarin Enzo ngomong apa?" Aku langsung bangkit, duduk bersila dengan rambut berantakan sambil menatapnya frustrasi. "Peristiwa sabotase kemarin bakal dia jadiin senjata terus buat jatuhin reputasi kita sampai hari pencoblosan. Udahlah, Le. Percuma. Kita udah kalah telat. Mending tidur lagi gue mah."

Sambil menggerutu, aku menarik kembali selimut tebal itu sampai menutup kepala. "Faklah. Mau ngomong apa gue nanti pas Rania balik dari Bali kalau tahu paslon kita sekotor ini. Anjing-anjing!"

"Hehhh, jangan molor lagi lo, bego! Check hape lo sekarang. Liat apa yang udah gue sama Bagas kerjain saat lo anak mami ini tertidur lelap!" Bule menyentak selimutku dengan kasar, lalu melemparkan ponselku tepat ke atas pangkuan.

Dengan malas dan setengah hati, aku meraih benda pipih itu. Layarnya menyala, dan detik itu juga, mataku langsung diserbu oleh ratusan notifikasi yang masuk beruntun tanpa henti. Pola pop-up dari Instagram, WhatsApp, hingga TikTok sekolah membanjiri bilah layar.

Nyaris setengah jam aku hanya terdiam mematung di pinggir kasur. Otakku dipaksa bekerja keras, mencerna garis waktu dari perang siber yang ternyata bergejolak hebat di dunia digital semalaman ini sementara aku tidak tahu apa-apa.

"Anjirlah... chaos banget, Le," bisikku lirih, masih menatap layar dengan pupil mata melebar.

Bule yang berdiri di dekat meja komputer hanya tersenyum bangga, melipat kedua tangannya di dada dengan gaya jemawa.

"Bersyukur lo punya partner kayak Bagas yang bisa diandelin," ujar Bule, nadanya melunak namun penuh penekanan. "Harusnya semalam yang diserang sama tim siber Steffi bukan cuman Enzo, tapi juga kita. Untungnya, Bagas punya temen anak kuliahan yang canggih juga buat urusan taktis medsos. Begitu algoritma fyp mulai aneh, mereka langsung bergerak cepat buat nge-report segala bentuk konten framing yang nyudutin Paslon 1. Kalau nggak, mampus kita hari ini diserang dari dua arah sekaligus."

Aku menelan ludah, baru menyadari betapa tipisnya batas antara selamat dan hancur semalam. "Anjing banget Steffi... licik juga tuh cewek. Terus... yang ini? Video Doni dan Bentrok ini ulah lo, Le?" Tanyaku sambil memperlihatkan video klarifikasi dua anak J.Rabbit yang kini sudah ditonton ribuan kali dengan komentar yang mayoritas bernada positif.

"Emang inisiatif mereka kalik, Dev. Gue cuman memfasilitasi tempat sama ngerapiin konsep omongan mereka biar kelihatan jantan di depan kamera. Tapi gimana? Work kan?" Bule menaik-turunkan alisnya.

"Emang bajingan lu, Le. Bisa kepikiran ya?" Aku terkekeh pelan, rasa sesak di dadaku mendadak menguap berganti aliran adrenalin yang segar. "Mana respon warganet pada positif lagi karena dianggap ksatria mau tanggung jawab pribadi. Kita bisa come back nih kalau kayak gini!"

"Yaudah, makanya cepetan mandi terus ayok berangkat. Kampanye lagi, Cil. Yaelah, baru digertak Enzo kemarin sore aja udah mau mundur lo," cibir Bule sambil berbalik hendak ke kamar mandi.

"Eh, bentar-bentar, Le." Langkah Bule terhenti saat aku menahan pergelangan tangannya. Mataku baru saja menggulir satu unggahan dari akun anonymous paling berpengaruh di sekolah. "Anjing, Le... lo nekat banget. Gue kan udah dibilang dari awal jangan main kotor yang keterlaluan? Apa ini kerjaan lo juga?"

Bule mengerutkan dahi, ekspresinya berubah heran. "Yang apa kampret? Udah itu doang video Doni-Bentrok sama mass-report yang gue kerjain semalam!"

Merasa ada yang tidak beres, Bule sedikit kaget dan langsung merenggut ponsel dari tanganku untuk memastikan sendiri. Detik berikutnya, matanya ikut terbelalak menatap deretan foto kolase yang menampilkan Steffi dan Najib sedang duduk berdua di sebuah kafe remang-remang dengan narasi yang sangat menyudutkan reputasi faksi Rohis.

"Anjing! Ini bukan gue yang kerjain. Taik! Gue nggak sekotor itu juga kali, Dev!" Bule membela diri, wajahnya tampak sangat terkejut sekaligus tersinggung karena dituduh.

"Beneran? Cuman lo ya, Le, yang gue kasih tahu tempo hari soal kafe sepi yang biasa jadi tempat langganan Steffi nongkrong diam-diam!" Aku menatap matanya dalam-dalam, mencari kebohongan.

"Sumpah, anjing! Demi nyawa nyokap gue, bukan gue yang sebar foto ginian," tegas Bule dengan nada serius yang membuatku langsung terdiam.

Aku berpikir sejenak, mengalihkan pandangan kembali pada layar hape. Kalau Bule sudah berani bersumpah seperti itu, aku seratus persen akan percaya padanya. Aku sudah kenal Bule sejak awal masuk SMA, dan sekaku-kakunya dia dalam bertarung, dia tipe orang yang punya prinsip. Dia bukan pengecut yang suka mengambil foto sembunyi-sembunyi dari balik semak-semak untuk menghancurkan harga diri seorang cewek.

"Kalau bukan lo... berarti ulah Enzo?" tanyaku dengan suara yang merendah, menyusun kepingan teka-teki baru.

Bule tidak langsung merespon pertanyaanku. Dia hanya tertawa terkekeh, suara tawa yang terdengar getir sekaligus takjub melihat bagaimana peta persaingan ini mendadak berubah menjadi sangat liar.

"Kalau bukan kita... siapa lagi?" jawab Bule kemudian, melemparkan kembali hape itu ke kasur. "Bisa jadi anak Jakarta itu emang beneran udah lepas kendali gara-gara semalam festivalnya diacak-acak."

Aku menarik napas panjang, meraup wajahku dengan kedua tangan. Skala pertarungan ini sudah bergeser terlalu jauh dari apa yang kubayangkan di awal pendaftaran dulu. "Nggak pernah gue duga, Le. Kontestasi Pilketos ini bakal ngeri dan se-psikopat kayak gini."

"Ya, gue juga nggak nyangka," timpal Bule, wajahnya kini berubah serius, menatap lurus ke arah jendela kamar yang mulai diterobos cahaya matahari pagi. "Tapi lo harus siap, Dev. Sepertinya ini baru permulaan. Kita kudu main cantik dan cerdas untuk kedepannya kalau gak mau kegulung sama mereka."

Aku tidak menunggu sampai Bule menuntaskan seluruh petuahnya. Rasa ragu, minder, dan rasa bersalah yang sempat menggelayuti pundakku sejak subuh tadi mendadak lenyap, digantikan oleh kobaran tekad yang baru.

Aku langsung melompat beranjak dari atas kasur, menyambar handuk hitam yang tergantung di balik pintu kamar Bule.

"Ke sekolah sekarang, Le! Kita hadapi mereka di koridor."

32: THE JUNIOR TACTICIAN (POV Enzo)

Hari kedua kampanye terasa jauh lebih senyap. Koridor sekolah tidak lagi seramai kemarin karena memang begitulah timeline resmi dari komisi pemilihan. Jadwal orasi akbar sudah habis di hari pertama, jadwal debat terbuka baru akan pecah di hari kelima, disusul hari tenang di hari keenam, dan puncaknya adalah pencoblosan di hari ketujuh.

Sisa hari di antaranya—termasuk hari ini—hanya boleh diisi dengan kampanye persuasif yang sunyi. Gerilya dari kelas ke kelas.

Aku berangkat sekolah dengan hati yang campur aduk antara masih dongkol dan cukup puas. Karena merasa diriku dikeroyok dan diserang secara simultan oleh dua kubu sekaligus semalam, aku sadar akan sangat sulit jika harus berkonfrontasi langsung secara fisik. Menghadapi otot J.Rabbit milik Devan dan kelicikan siber Steffi secara bersamaan adalah bunuh diri taktis. Aku harus memainkan cara lain yang lebih elegan: playing victim. Menjadi korban kelaliman paslon lain demi meraih empati dan mendulang suara dari massa mengambang.

Langkah kakiku terus menyusuri koridor lantai bawah, berjalan tenang menuju sebuah ruang kelas di ujung lorong. 10 IPA 1. Kelas di mana Indira berada.

Jujur saja, belakangan ini aku merasa jauh lebih cocok dan nyaman bekerja sama dengan Indira daripada dengan Orion yang minim otak dan hanya mengandalkan otot tentara miliknya. Anak kelas 10 yang cerdas, taktis, dan cantik ini seolah adalah reinkarnasi Rania versi sachet. Dingin, analitis, namun penampilannya tetap manis.

Dan yang tidak diketahui oleh seluruh sekolah, Indiralah dalang utama di balik hancurnya reputasi Paslon 3 pagi ini. Foto kemesraan Najib dan Steffi di kafe remang-remang itu adalah hasil kerja matang dari mata-mata sewaan Indira yang berhasil membuntuti Steffi semalam, memotret mereka dari sudut yang pas, lalu mengemasnya dengan caption religius yang menghujat.

Ini semua memang ideku dari awal. Aku tahu betul Steffi akan memanfaatkan media sosial sebagai medan perang utamanya, dan aku harus mencegah itu sebelum racun framing-nya menyebar. Aku yang memberi perintah, dan Indira mengeksekusinya dengan sangat sempurna.

"Pagi, Kak Zo," sapa Indira pelan saat dia melangkah keluar dari pintu kelas begitu melihatku berdiri di luar.

Aku tersenyum tipis. "Pagi, Ndr. Ikut gue bentar, yuk."

Aku mengajaknya berjalan menuju ruang musik yang terletak di gedung belakang—tempat terbaik dan paling sepi untuk berdiskusi sekaligus merumuskan rencana selanjutnya tanpa perlu khawatir ada telinga musuh yang menguping.

Begitu pintu ruang musik tertutup rapat, sebuah obrolan deep mengalir begitu saja di antara kami. Hubungan kami kini terasa menjadi jauh lebih intens dari sebelumnya. Duduk berdampingan di depan tut keyboard yang berdebu, aku menatap gadis kelas 10 itu dengan keyakinan penuh.

"Kalau kita menang minggu depan, posisi lo di kepengurusan OSIS bakal sangat strategis, Ndr," ujarku, menurunkan nada suara. "Dan gue berjanji sama lo, tahun depan, saat lo maju mencalonkan diri jadi Ketua OSIS selanjutnya, gue yang bakal turun langsung jadi ketua timses lo. Gue bakal pastiin takhta itu jatuh ke tangan lo."

Indira menatapku, seulas senyum misterius terbit di bibirnya. "Simbiosis mutualisme yang sempurna ya, Kak?"

Aku terkekeh. Kami memang saling memanfaatkan, namun dengan cara yang sangat berkelas. Setelah selesai menyanyikan beberapa lagu di sela-sela momen deadlock memikirkan rencana, Indira menoleh ke arahku. Dia menopang dagunya di atas keyboard sambil tersenyum manis, namun matanya tetap sedingin Rania.

"Kak, daripada kita main playing victim dengan muka kasihan, gimana kalau kita main gimmick aja? Lebih asyik sepertinya," kata Indira tiba-tiba.

Aku menaikkan sebelah alis. "Maksud lo? Gimmick apa?"

"Gimmick kita berdua. Menjalin hubungan," jawabnya enteng, membuat jemariku refleks menekan tut keyboard hingga menimbulkan suara sumbang yang nyaring.

Aku tertegun. "Lo gila?"

"Enggak, Kak Zo. Coba pikir pakai otak politik lo," Indira memajukan wajahnya, tatapannya mendadak sangat mengunci. "Steffi sama Najib baru aja hancur karena skandal foto kafe semalam. Netizen sekolah lagi sinis sama drama cinta diam-diam yang munafik. Gimana kalau kita kasih mereka tontonan yang sebaliknya? Romansa yang open, lucu, dan bikin gemes. Kita bikin konten backstage kampanye, interaksi sarkas tapi perhatian di koridor, atau lo main musik dan gue yang nyanyi di sosmed dengan bumbu-bumbu romantis."

Indira menjeda, senyumnya makin lebar. "Anak SMA itu suka banget nge-ship orang, Kak. Kalau kita berhasil bikin mereka baper berjamaah, mereka bakal milih Paslon 2 bukan cuma karena program kerja, tapi karena mereka pengen kapal kita tetep berlayar sampai setahun ke depan. We give them a teenage dream."

Aku bersandar pada kursi, memikirkan ide dari Indira. Lebih berisiko, melibatkan perasaan (atau setidaknya akting perasaan), tapi terdengar jauh lebih jantan dan menyenangkan daripada aku harus menangis meminta simpati sebagai korban sabotase.

Aku tersenyum lebar, menyenggol bahunya pelan. "Oke, Ndr. Kita mainkan gimmick-nya. Mulai hari ini, lo 'pacar' kampanye gue."

"Sip. Dan kita mulai dari sekarang," kata Indira cekatan. Dia langsung mengeluarkan smartphone-nya, menyalakan kamera depan, lalu menyandarkannya di atas tumpukan buku musik di depan kami. Posisinya pas, mengambil angle melebar yang merekam kami berdua dari samping beserta keyboard di depan kami.

"Kak Zo, mainin lagu yang tadi ya. Pas gue bilang action, langsung masuk," perintahnya, mendadak berubah jadi sutradara yang andal.

Indira menekan tombol record, lalu buru-buru duduk merapat di sebelahku. Jarak kami sangat dekat, hingga aku bisa mencium lamat-lamat aroma parfum vanila dari rambutnya.

"Halo gaes! Lagi pada bosen ya sama linimasa sosmed yang isinya debat mulu?" Indira membuka vlog-nya dengan suara yang riang, sangat natural di depan kamera. Dia menoleh ke arahku sambil menyenggol lenganku dengan akrab. "Nah, biar gak tegang, hari ini gue mau ditemenin sama calon Ketua OSIS idola kita semua, Kak Enzo, buat jamming santai di ruang musik. Musiknya, Kak!"

Aku menarik napas, langsung menyelaraskan diri. Jemariku mulai menari di atas tut keyboard, memainkan intro sebuah lagu pop romantis bertempo lambat. Suara denting keyboard mengalun indah, mengisi kekosongan ruang musik.

Indira mulai bernyanyi. Suaranya yang jernih dan penuh penghayatan mengalir lancar, sesekali matanya melirik ke arahku sambil tersenyum malu-malu—sebuah akting yang sangat meyakinkan. Di tengah lagu, aku sengaja menoleh ke arahnya, melempar senyum tipis yang biasa kulakukan saat tampil di depan publik, memperkuat bumbu-bumbu romansa yang diinginkan kamera. Hubungan kami terasa makin intens di bawah sorot lensa itu.

Begitu lagu selesai pada nada terakhir yang syahdu, Indira tidak langsung mematikan kameranya. Dia justru memajukan wajahnya sedikit lebih dekat ke layar ponsel, memasang ekspresi wajah yang menggemaskan, lalu melontarkan kalimat pancingan yang mematikan untuk netizen Praja Pratama.

"Gimana gaes? Suara gue pas kan diiringi keyboard-nya Kak Enzo?" Indira mengedipkan sebelah matanya ke kamera, lalu tersenyum misterius. "Coba komen di bawah... menurut kalian, gue cocok gak sih sama Kak Enzo?"

Indira tertawa renyah, lalu tangannya bergerak mematikan rekaman video.

Aku menggeleng-gelengkan kepala melihat kelakuannya, namun tidak bisa menahan senyum puas. Umpan pertama sudah dilempar ke kolam. Tinggal menunggu waktu sampai seluruh jagat siber sekolah mendidih baper karena gimmick ini.

33: BLIND CONFRONTATION (POV Steffi)

Aku memilih mengunci diri di kamar seharian ini. Absen sekolah adalah pilihan paling rasional daripada aku harus berjalan di koridor dan menerima tatapan menghakimi, bisikan sinis, atau tawa mengejek dari seisi SMA Praja Pratama. Harga diriku runtuh. Ditambah lagi, siang tadi vlog jamming romantis antara Enzo dan Indira lewat di fyp-ku dengan jumlah likes yang menjijikkan banyaknya.

Gimmick murah. Enzo sengaja memanfaatkan momentum hancurnya reputasiku dan Najib untuk menaikkan citra dirinya sebagai cowok idaman. Bajingan.

Sore harinya, setelah emosiku sedikit mereda dan berganti menjadi dendam yang dingin, aku memutuskan keluar rumah. Tujuanku cuma satu: markas besar J.Rabbit di warung Bu Lastri. Aku akan melabrak langsung otak di balik semua kehancuran ini.

Sementara itu, di area dalam warung Bu Lastri, Devan dan anak-anak Paslon 1 sedang duduk melingkar di atas tikar pandan. Setelah seharian lelah melakukan kampanye persuasif—membagikan poster dari kelas ke kelas dan mendekati murid secara personal—mereka kini hanya nongkrong santai sembari memantau pergerakan musuh.

Layar ponsel Bagas sedang menampilkan video viral Enzo dan Indira.

"Pinter juga nyapunya mereka," goda Bule sambil menyenggol lengan Devan dengan cangkir es teh manisnya. "Sehabis disikat Steffi di sosmed semalam, mereka langsung nyerang balik hari ini. Kali ini bikin gimmick pacaran. Nggak kaleng-kaleng, Dev, strateginya. Lu gak mau bikin gimmick juga apa?"

Devan hanya mendengus kesal, membuang muka ke arah jalan raya. "Gak sudi gue main cinta-cintaan murah demi suara."

Tepat saat kalimat Devan selesai, suara derit rem motor matikku terdengar nyaring di depan warung. Aku turun dengan langkah cepat, rahangku mengeras, mengabaikan beberapa pasang mata anak J.Rabbit yang sedang nongkrong di luar. Aku langsung berjalan memburu Devan yang berada di area dalam.

"Wah, kena labrak lagi nih kita. Kali ini solo tapi nggak bawa pasukan," celoteh Bentrok dengan nada meremehkan saat melihat kedatanganku.

Aku tidak memedulikan si cecunguk itu. Mataku lurus menusuk Devan yang kini mendadak berdiri dari duduknya, tampak terkejut melihatku datang dengan napas memburu.

"Puass lo, Dev?!" sentakku langsung, menggebrak meja kayu di depan wajahnya. "Puas lo ngancurin nama gue dan Najib?!"

Devan mengernyitkan dahi, memasang wajah bingung yang menurutku sangat munafik. "Maksud lo apa, Stef? Tiba-tiba dateng langsung marah-marah gak jelas."

"Gak usah sok polos, anjing!" makiku, emosiku yang kutahan seharian akhirnya tumpah. "Foto gue sama Najib di kafe semalam. Siapa lagi kalau bukan lo yang sebar?! Cuma lo, Devan, satu-satunya anak Praja Pratama yang tahu kalau itu kafe tempat langganan gue! Lo dendam kan gara-gara timses lo gue framing semalam? Makanya lo bales pakai cara sekotor ini?!"

Devan mundur satu langkah, wajah bingungnya perlahan berubah menjadi ekspresi tidak percaya. "Sumpah, Stef, lo salah paham. Bukan gue—"

"Halah, telat kalau mau ngeles! Ternyata bener kata orang, semenjak lo jadi kacung Rania berbulan-bulan lalu, lo ketularan cara mainnya yang licik dan suka ngintip di balik semak-semak!" desisku tajam, membawa-bawa nama masa lalunya.

Mendengar nama Rania disebut dengan nada menghina, rahang Devan langsung mengeras. Urat di pelipisnya menonjol. Di belakangnya, Bule dan Bagas sudah bersiap maju untuk menahan situasi agar tidak berubah menjadi baku hantam fisik.

"Jaga mulut lo, Steffi!" bentak Devan, suaranya menggelegar, membuat seisi warung Bu Lastri mendadak senyap. Dia menunjuk tepat di depan wajahku. "Gue akui gue tahu kafe itu. Tapi semalam, demi Tuhan, gue tidur di rumah Bule dari jam sepuluh malam setelah capek diurusin Enzo! Bule sama Bagas saksinya. Tim siber gue semalam cuma fokus nyelametin akun gue yang lo framing, gak ada waktu buat ngurusin selangkangan lo sama Najib!"

Aku tertawa sinis, mataku mulai berkaca-kaca karena perpaduan antara amarah dan rasa malu yang memuncak. "Terus kalau bukan lo, siapa?! Setan?! Gak usah pengecut, Dev. Akui aja lo emang udah sekotor itu sekarang!"

"Kalau gue yang lakuin, gue bakal akuin di depan muka lo sekarang, Stef! Tapi ini bukan gue!" balas Devan tak kalah bentak, napasnya memburu hebat.

Kami berdua berdiri berhadapan dengan napas yang sama-sama memburu. Di titik buta ini, aku melihat keyakinan yang luar biasa di mata Devan—sebuah tatapan yang membuat dadaku mendadak berdesir aneh. Apakah... dia benar-benar jujur?

Bule kemudian melangkah maju, menepuk pundak Devan lalu menatapku dengan ekspresi serius. "Stef, dengerin gue. J.Rabbit emang berandal, tapi Devan bukan tipe cowok yang bakal motret cewek diam-diam buat dihancurin reputasinya. Kalau lo mau cari pelakunya, mending lo tanya sama cowok berkacamata yang festivalnya lo acak-acak semalam. Dia yang punya motif paling besar buat bikin lo mampus hari ini."

Kata-kata Bule menghantam kepalaku bagai hantaman gada.

Enzo?

Pikiranku langsung berputar cepat. Telepon jam 3 subuh dari Enzo... maki-makiannya yang menuduhku bersekongkol dengan Devan... dan bagaimana faksi Enzo langsung siap dengan gimmick romansa Indira seolah mereka sudah memprediksi kehancuranku.

Aku perlahan menurunkan tanganku yang gemetar. Sialan. Aku benar-benar terjebak dalam titik buta. Aku salah melabrak orang. Pelaku aslinya sedang tertawa di ruang musik sambil memainkan keyboard-nya.

Tanpa mengucapkan satu kata maaf pun pada Devan, aku langsung berbalik arah, berjalan cepat meninggalkan warung Bu Lastri dengan rasa frustrasi yang semakin menggunung. Aku harus menyusun ulang semua rencana. Perang ini sudah berubah menjadi lingkaran setan yang saling mencurigai, dan aku bersumpah tidak akan kalah dari Enzo maupun Devan.

34: THE CRACKED MIRROR (POV Rania)

Ubud, Bali. Tempat yang seharusnya terasa seperti surga, malam ini terasa begitu asing dan dingin.

Di balkon hotel yang menyajikan pemandangan terasering sawah yang meremang disorot lampu malam, aku berdiri mematung. Angin malam bertiup pelan, membawa aroma tanah basah, namun tidak mampu mencairkan rasa sesak yang menghimpit dadaku.

Peringkat empat dari tiga puluh delapan provinsi.

Aku menatap piagam penghargaan di atas meja kaca dengan pandangan kosong. Peringkat yang sangat bagus untuk skala nasional, kata Bu Arum tadi sembari memelukku. Peringkat yang membanggakan, kata Om Timur dengan senyum getirnya. Tapi bagiku, angka empat itu seperti vonis mati.

Padahal, aku sudah mempelajari karakteristik selera ketiga dewan juri lewat riset berbulan-bulan. Aku sudah menekan egoku, mengubah artikulasi, dan merombak penjiwaan deklamasi puisiku demi menyelaraskan dengan isi kepala mereka. Penampilan lawanku dari provinsi lain memang luar biasa, tapi dalam batin, aku sangat optimis setidaknya tiga besar aman di tangan.

Namun, juri punya kalkulasi lain yang di luar kendaliku. Aku gagal. Dan untuk orang yang seumur hidupnya selalu meletakkan harga diri pada kata 'berhasil', kekalahan pertama ini rasanya seperti dijatuhkan dari tebing tanpa parasut.

Setelah hampir seminggu penuh ponselku disita oleh Bu Arum agar aku menjaga fokus, malam ini ponsel itu kembali ke tanganku. Aku menatap layarnya yang menyala. Ada puluhan notifikasi, tapi jariku bergerak gemetar mencari satu nama. Anisa.

Saat panggilan tersambung, pertahananku runtuh total.

"Nis..." suaraku tercekat, serak karena menahan tangis sejak sore tadi di aula utama.

"Rania? Ya Tuhan, Ran! Lo beneran peringkat empat? Gue baru liat—"

Mendengar suara cemas sahabatku, air mata yang sejak tadi kukunci rapat akhirnya tumpah. Aku menangis tersedu-sedu di sudut balkon, menutup mulut dengan sebelah tangan agar suaraku tidak terdengar sampai ke kamar sebelah.

"Gue kalah, Nis," bisikku di sela isak tangis. "Gue gak masuk tiga besar. Gue... gue gagal."

"Ran, hey, dengerin gue. Peringkat empat nasional itu gila, keren banget! Lo bawa nama provinsi, Ran. Jangan nangis, lo bikin gue ikut sedih," hibur Anisa di seberang sana. Dia mulai melemparkan lelucon khasnya—tentang bagaimana dewan juri mungkin matanya ketutupan debu Bali, atau mereka tidak paham seni tingkat tinggi.

Tapi semuanya mental. Biasanya aku akan tertawa, tapi malam ini kepalaku terlalu bising.

"Nis, lo gak paham..." kataku setelah tangisku agak mereda, bersandar pada pagar pembatas balkon yang dingin. "Lomba ini bukan cuma soal piala. Ini pasporku buat balik ke Praja Pratama dengan kepala tegak. Lo tahu kan aturan jalur siswa berprestasi nasional? Kalau gue bawa pulang piala tiga besar, pihak sekolah punya otoritas khusus buat masukin gue ke bursa Pilketos lewat jalur istimewa, bahkan setelah oprec ditutup. Itu rencana gue dari awal. Makanya gue rela lepas oprec reguler kemarin dengan alasan fokus FLS2N."

Suara di seberang telepon mendadak hening. Anisa menghela napas panjang, ikut merasakan beban yang kupikul. Hanya Anisa—selain Pak Rama—yang tahu rahasia besar ini.

"Jadi karena itu... lo naruh Indira di sana?" tanya Anisa pelan.

"Iya," jawabku lirih, menatap kegelapan sawah di bawah sana. "Gue sengaja mundur, membiarkan Devan, Enzo, dan Steffi masuk ke ring. Gue tahu mereka punya ambisi besar yang bakal bikin mereka saling sikut. Dan gue naruh Indira di timses Enzo sebagai mata dan telinga gue. Indira itu pintar, dia bisa membaca situasi dari dalam. Tugas dia cuma memastikan ketiga paslon itu menguras energi mereka dengan cara bermain kotor, sampai sistem sekolah rusak dan kacau dengan sendirinya. Saat sekolah udah frustrasi karena drama mereka, gue harusnya datang sebagai figur penyelamat yang bersih lewat jalur prestasi nasional. Tapi sekarang..."

Kalimatku menggantung. Kepalaku pening. Aku benar-benar kehilangan arah. Kompas yang selama ini kupegang mendadak patah.

"Sekarang rencana itu mati, Ran," potong Anisa lembut, menuntun jalan pikiranku yang mulai kusut. "Tapi lo harus tahu satu hal. Skenario lo tentang kekacauan di sekolah... itu terjadi 100% tepat seperti kalkulasi lo."

Aku mengernyit, menyeka sisa air mata di pipi. "Maksud lo?"

"Pilketos di sini bener-bener chaos, Ran. Intrik busuk ada di mana-mana. Devan sempat terpuruk gara-gara sabotase alat musik, Steffi kena framing foto skandal di kafe bareng Najib sampai gak masuk sekolah hari ini karena malu, dan faksi Enzo-Indira sekarang lagi viral karena main gimmick pacaran demi narik massa. Mereka semua saling dituduh, saling curiga, dan saling menjatuhkan pakai cara-cara murah. Sesuai perkiraan lo, sistem sekolah lagi di ambang batas."

Mendengar penjelasan Anisa, ada sedikit rasa hangat yang kembali ke dadaku. Setidaknya, prediksiku tentang ketidakmatangan mereka terbukti benar. Mereka memang belum siap memimpin.

"Tapi masalahnya, Ran," Anisa menjeda, suaranya terdengar sangat hati-hati. "Kapal di sekolah udah goyang, tapi lo gak punya tiket 'jalur istimewa' itu lagi untuk naik dan ambil alih kemudi. Kalau lo pulang tanpa status juara nasional, lo gak bisa mencalonkan diri. Terus... sekarang lo mau gimana? Lo mau lepasin gitu aja OSIS yang udah lo bangun capek-capek?"

"Gak bisa, Nis. Gue gak bisa biarkan OSIS jatuh ke tangan orang yang menang karena hasil menjatuhkan orang lain," ujarku, cemas. Pikiran tentang Devan yang hancur, atau Steffi dan Enzo yang memimpin dengan kelicikan membuat dadaku sesak. Ini bukan lagi soal ambisiku yang ingin berkuasa, tapi tentang menyelamatkan OSIS dari kehancuran total.

"Kalau gitu, gak ada pilihan lain kan?" tuntun Anisa lagi. "Lo harus cari cara lain. Pilihan yang mungkin... gak pernah lo bayangin sebelumnya."

Aku terdiam, mencerna kata-kata Anisa. Otakku yang sempat membeku akibat syok kekalahan perlahan mulai dipaksa berputar. Menatap lurus ke depan, aku mencari satu saja celah di antara dinding buntu yang mengurungku.

Jika jalur prestasi nasional sudah tertutup, dan ketiga paslon di sekolah saat ini terbukti menggunakan cara-cara kotor yang merusak esensi demokrasi Praja Pratama... maka hanya tersisa satu opsi darurat di buku panduan konstitusi sekolah.

Sebuah pilihan terburuk dari semua pilihan buruk yang ada.

"Diskualifikasi," gumamku pelan.

"Hah? Maksud lo?" Anisa bingung.

"Konstitusi OSIS mengatur, Nis... Jika di tengah jalan semua paslon terbukti melakukan pelanggaran kode etik berat secara kolektif, maka komisi pemilihan punya hak untuk membatalkan seluruh kontestasi. Pencalonan mereka dianggap tidak layak, dan pemilu harus diulang dari nol," jelasku dengan suara yang bergetar.

Aku memejamkan mata rapat-rapat. Menjalankan rencana ini artinya aku harus ikut menyeret Devan—orang yang dulu kubimbing—ke dalam jurang pembatalan. Ini pilihan yang menyakitkan. Aku tidak ingin menjadi jahat, aku tidak ingin menghancurkan mereka karena dendam. Tapi situasi ini memaksaku memilih opsi darurat demi menyelamatkan masa depan organisasi.

"Gue harus bikin bukti pelanggaran mereka naik ke permukaan, sampai sekolah gak punya pilihan selain mendiskualifikasi mereka bertiga," lanjutku, menarik napas dalam-dalam untuk memantapkan hati yang rapuh. "Saat pemilu diulang nanti, bursa pencalonan akan dibuka kembali dari awal untuk umum. Dan di sanalah... gue punya kesempatan untuk mendaftar lewat jalur reguler."

Anisa di seberang sana menghela napas berat, bisa merasakan beban moral yang mendadak menindih pundakku. "Itu berat banget, Ran. Lo bakal dianggap sebagai pengacau kalau ketahuan."

"Gue tahu, Nis. Ini pilihan terakhir yang paling gak pengen gue ambil," ujarku lirih, menatap piagam peringkat empat di meja kaca untuk terakhir kali. "Tapi gue udah gak punya pilihan lain. Plan B... dimulai malam ini."

BAB 35: RATHOLE (POV Rania)

Esok sorenya, kereta yang membawaku kembali akhirnya berhenti dengan derit nyaring di peron stasiun kota kecil tempat aku tinggal. Begitu melangkah keluar, hawa asri yang familier langsung menyambutku. Ada rasa rindu dan nostalgia yang mendadak menyeruak, sedikit mengikis sisa-sisa sesak di dadaku akibat kegagalan di Ubud kemarin.

Di dekat pintu keluar, aku langsung menangkap lambaian tangan Bunda. Di sebelahnya, berdiri Om Arif dengan kemeja rapi dan senyum yang tersungging lebar. Mereka sudah menungguku sedari tadi. Setelah basa-basi singkat dan serah terima diriku dari Bu Arum dan Om Timur kepada mereka, aku pun melangkah mengekor di belakang Om Arif menuju mobilnya.

"Kita langsung makan malam aja ya, Ran? Langit udah gelap, sekalian ngerayain kepulangan kamu," ajak Om Arif begitu kami semua sudah di dalam mobil.

Aku sebenarnya enggan. Mood-ku masih tidak karuan, dan makan malam bersama Om Arif biasanya berarti satu hal: aku harus bersiap menahan telinga jika pria ini kembali melancarkan pendekatan persuasif demi melunakkan hatiku agar merestui hubungannya dengan Bunda. Namun, aku tidak bisa mengelak.

Disini kami sekarang, duduk di sebuah resto steak yang cukup mewah di sudut kota.

Obrolan bermula dari Bunda yang terus menyemangati meskipun aku gagal membawa pulang piala juara—kalimat-kalimat penenang ala Ibu pada umumnya yang hanya kubalas dengan senyum tipis seadanya. Obrolan mengalir biasa saja, ngalor-ngidul membahas suasana Bali, hingga akhirnya arah bicara Om Arif mulai bergeser. Dia mulai mengeluarkan kode-kode tentang keseriusan hubungannya dengan Bunda ke depan.

Sebelum kalimatnya melangkah terlalu jauh, aku langsung meletakkan garpu dan memotongnya dengan taktis.

"Nggak perlu melakukan pendekatan lagi ke Rania, Om," ujarku tenang namun tegas, membuat Bunda dan Om Arif seketika terdiam. "Intinya sikap Rania masih sama seperti yang dulu pernah Rania katakan ke Bunda. Rania sama sekali tidak keberatan kalau Bunda mau menikah lagi. Asal... laki-laki itu tidak hidup serumah dengan Rania. Entah Om Arif yang tinggal di rumah kita sekarang, atau Om membawa Rania ke rumah Om. Dua opsi itu tidak akan pernah Rania pilih."

Aku sengaja memasang tembok tinggi itu, berharap mereka akan berpikir ulang. Namun, di luar kalkulasiku, Om Arif justru saling melempar pandang dengan Bunda, lalu tersenyum tipis.

"Kami sudah menduga kamu bakal bilang begitu, Ran," sahut Om Arif lembut. "Dan kami berdua sudah sepakat. Om punya rumah dinas yang tidak jauh dari sini, dan Bunda akan ikut Om ke sana setelah menikah. Rumah ini... tetap akan jadi tempat tinggal kamu sampai kamu lulus dan kuliah nanti. Kami menghargai ruang privat kamu."

Aku tertegun. Ada rasa kecewa yang mendalam merayap di dadaku saat menatap Bunda. Tekad mereka ternyata sudah sebulat itu untuk melangsungkan pernikahan, bahkan ego Bunda rela melepaskan kedekatan sehari-hari denganku demi pria ini. Tapi mau bagaimana lagi? Aku tidak bisa mencegahnya. Biarkan mereka bahagia dengan pilihan mereka, toh aku pun bisa bahagia dengan jalanku sendiri.

Begitu sampai di rumah dan mobil Om Arif kembali melaju pergi setelah berpamitan, langkah kakiku terhenti di gerbang. Di atas undakan teras rumahku, seorang cowok dengan jaket J.Rabbit sedang duduk menunggu sembari menumpu dagunya. Devan.

Wajahnya terlihat luar biasa kusut, seolah ada beban berton-ton yang sedang menghimpit pundaknya. Tampaknya ada banyak hal krusial yang ingin dia laporkan padaku seputar perkembangan di sekolah selama aku di Bali.

Aku berjalan mendekat, lalu duduk di kursi rotan teras, memberi isyarat agar dia mulai bicara. Malam yang dingin itu seketika berubah menjadi sesi obrolan yang sangat deep mengenai konfrontasi Pilketos yang rupanya sudah mencapai titik didih tertinggi.

"Sekolah udah kayak neraka, Ran," buka Devan, suaranya parau. Dia mengusap wajahnya kasar. "Gue gak tahu lagi harus mulai dari mana. Intriknya udah gak masuk akal."

Aku melipat tangan di dada, mendengarkan dengan saksama. "Indira?"

"Bukan cuma Indira. Semua orang udah gila," Devan menghela napas panjang. "Setelah vlog gimmick kemesraan Enzo dan Indira viral hari pertama kemarin, Steffi gak tinggal diam. Dia langsung ngeluncurin propaganda hitam lewat tim sibernya. Foto Enzo dan Indira waktu gak sengaja masuk ke area sebuah hotel disebar dengan narasi kalau mereka berdua terlibat pergaulan bebas. Gue gak tahu itu foto asli atau editan, tapi seisi sekolah udah geger."

Aku menaikkan sebelah alis. Steffi memang tipikal penyerang siber yang agresif jika terdesak.

"Terus, kubu lo?" tanyaku.

Devan mendengus getir. "Gue juga kena imbasnya, Ran. Steffi nyerang kubu Paslon 1 dengan mengungkap aib keluarga Bagas ke publik. Dia dapet data kalau ayahnya Bagas ternyata seorang narapidana kasus korupsi yang masih di penjara. Posisi Bagas sebagai timses utama gue langsung digoyang parah. Gak berhenti di situ, entah kubu Paslon 2 atau Paslon 3, ada yang nyebarin foto-foto anak J.Rabbit—termasuk gue—yang lagi ngerokok pake seragam di warung Bu Lastri. Citra ksatria yang gue bangun langsung runtuh."

"Bule diem aja?"

"Gak. Bule ngamuk. Dia ngeluarin senjata pamungkasnya malam ini," Devan menatapku dengan mata lelah. "Bule nge-drop bukti dokumen kongkalikong dana komite sekolah yang ngalir ke perusahaan papanya Enzo. Dan buat ngebales Steffi, Bule nyebar screenshot obrolan manipulatif antara Steffi dan Najib. Di situ kelihatan jelas kalau Steffi sengaja manfaatin Najib buat nyingkirin pengurus Rohis yang konservatif yang sempat nolak koalisi mereka. Sekarang ketiga kubu lagi saling serang telanjang di mading dan menfess sekolah. Gak ada yang bersih lagi."

Aku tertegun di tempat dudukku. Dadaku berdesir hebat mendengar laporan Devan.

Kekacauan ini... jauh melompat melebihi ekspektasi awal dari skenario tiruanku. Namun, di balik rasa terkejut itu, sebuah perasaan lega yang dingin perlahan menyelimuti hatiku. Tanpa harus aku mengotori tanganku langsung dengan skema yang rumit, kontestasi Pilketos Praja Pratama tahun ini memang sudah membusuk dan hancur dengan sendirinya dari dalam. Mereka semua telah membuka titik buta masing-masing dan saling menikam hingga mati bersama.

Rencana FLS2N-ku di Bali boleh saja gagal total, tapi semesta rupanya masih menyisakan celah sempit untuk Plan B-ku bekerja.

"Lo istirahat, Dev. Jangan lakuin hal bodoh apa pun besok di sekolah," ujarku datar, berdiri dari kursi rotan.

Devan hanya mengangguk lemah, berpamitan, lalu berjalan lunglai membelah malam dengan motornya.

Aku menatap kepergiannya dengan tatapan dingin yang kembali terkunci. Semua pion sudah saling hancur di atas papan catur. Kini, saatnya sang ratu kembali mengambil kendali penuh. Langkah terakhir untuk membuat semua drama menjijikkan ini tamat hanya tinggal satu: besok pagi, aku harus menemui Pak Rama dan melobi keputusannya untuk menjatuhkan palu sidang diskualifikasi massal.

BAB 36: THE LION’S CAGE (POV Rania)

Pagi ini, aula kecil di dekat kantor guru tampak lebih rapi dari biasanya. Aku diundang secara resmi untuk menerima penghargaan atas hasil FLS2N di Bali kemarin. Begitu melangkah masuk, aku langsung disambut hangat oleh seluruh civitas akademika sekolah.

Pak Edo, selaku kepala sekolah, langsung berjalan menghampiriku dengan senyum lebar, menjabat tanganku erat untuk mengucapkan selamat. Meskipun aku gagal membawa pulang piala juara satu, peringkat empat nasional tetaplah sebuah prestasi yang sangat prestisius bagi SMA Praja Pratama. Dan di tengah badai berita miring yang sedang melanda sekolah akibat ulah brutal para paslon, prestasiku ini bagaikan oase yang patut mereka rayakan besar-besaran.

"Terima kasih atas dedikasi kamu yang selalu mengharumkan nama sekolah, Rania. Kamu adalah contoh nyata dari apa yang kami sebut sebagai siswa istimewa," ujar Pak Edo penuh apresiasi di depan mikrofon.

Lewat seremonial singkat yang dipenuhi jepretan kamera dari tim jurnalistik, aku resmi mendapatkan predikat Siswa Istimewa SMA Praja Pratama, lengkap dengan pemberian plakat perunggu dan amplop uang pembinaan. Di barisan guru, aku melihat Pak Rama juga ikut bertepuk tangan dan mengucapkan selamat. Namun, sebagai orang yang sudah lama bekerja sama dengannya, dari kacamata analitisku, aku bisa melihat ada yang tidak baik-baik saja dengan ekspresi wajah mentor politikku itu. Garis wajahnya tegang.

Begitu acara seremonial selesai dan Pak Edo berbalik arah, Pak Rama melangkah mendekat, lalu membisikkan sesuatu di telingaku dengan suara yang sangat pelan.

"Setelah ini, langsung ke ruang OSIS ya. Saya tunggu."

Setelah kembali ke kelas sebentar untuk meletakkan tas, plakat, dan membalas beberapa teguran sapa seremonial dari teman sekelas, aku segera melangkah cepat menuju ruang OSIS. Pintu ruangan itu tertutup rapat, sengaja disterilkan oleh Pak Rama agar tidak ada murid lain yang melintas atau menguping.

Begitu aku mendorong pintu, aku mendapati Pak Rama sudah duduk di sana dengan wajah yang luar biasa serius. Namun, dia tidak sendiri. Di sebelahnya, duduk Bu Hilda Nur Fauziah—sekretaris kesiswaan sekaligus guru agama yang paling disegani di sekolah ini. Beliau adalah sosok yang paling sering menjadi penasihat spiritual dan moral Pak Rama dalam mengambil setiap keputusan besar terkait kesiswaan.

Aku menghentikan langkah sejenak, melemparkan pandangan bertanya sekaligus memberi kode lewat tatapan mata ke arah Pak Rama. Kenapa ada Bu Hilda juga? Pak Rama yang menangkap isyaratku hanya memberikan senyuman tipis yang sarat akan beban, lalu memberikan isyarat tangan agar aku duduk dan tenang saja.

Terjadilah obrolan mendalam di antara kami bertiga mengenai kekacauan Pilketos yang sudah mencapai titik nadir.

Sambil menahan genangan air mata di sudut matanya, Bu Hilda berbicara dengan suara bergetar. Beliau merasa sangat kecewa, terluka, dan terpukul dengan kelakuan para paslon yang sudah sangat brutal dalam memainkan black campaign. Isu korupsi, sabotase fisik, hingga fitnah asusila yang bertebaran di mading dan menfess sekolah semalam benar-benar mencoreng wajah institusi.

"Ibu merasa gagal, Ran, Pak Rama..." bisik Bu Hilda, menyeka sudut matanya dengan tisu. "Selain Pak Rama, Ibulah yang bertanggung jawab meloloskan mereka bertiga di tahap berkas awal. Ibu tidak menyangka mereka akan sekotor ini demi sebuah jabatan."

Pak Rama ikut mengangguk lesu, mengiyakan kalimat Bu Hilda dengan pundak yang merosot.

Aku memilih merespons secara normatif dan berhati-hati, mengingat keberadaan Bu Hilda di antara kami. Aku tidak boleh terlihat seperti orang yang memanfaatkan situasi. Namun, yang sama sekali tidak kusangka, Pak Rama mendadak menatapku lurus dan berujar langsung di depan Bu Hilda.

"Rencanamu yang dulu pernah kamu sampaikan ke saya... sebagian akurat, tapi sebagian meleset, Ran," kata Pak Rama mengejutkanku. "Saya tahu mereka bakal bersaing ketat, tapi saya tidak menyangka mereka akan jambak-jambakan seekstrem ini sampai membawa aib keluarga dan institusi. Saya merasa gagal sebagai pembina. Saya malu dengan Pak Edo. Beliau sudah menegur saya habis-habisan pagi ini untuk membereskan kekacauan ini sekarang juga."

Aku sempat tersentak, melirik Bu Hilda dengan canggung. Namun, Pak Rama langsung memotong keraguanku.

"Kamu tidak usah canggung dengan Bu Hilda, Ran. Beliau sudah saya ceritakan semuanya tentang rencana kamu dan saya sebelum kamu berangkat ke Bali. Ini mungkin memang terdengar kurang etis antara guru dan murid, namun faktanya posisi sekolah saat ini sudah di ujung tanduk," lanjut Pak Rama dengan nada tegas. "Keputusan sekolah sudah bulat. Mereka semua—Paslon 1, 2, dan 3—akan didiskualifikasi siang ini juga. Apapun konsekuensi dan protes yang harus sekolah terima dari para timses, kami tidak peduli. Siang ini mereka akan saya panggil bersama Bu Hilda untuk penyampaian keputusan resmi. Besok pagi, jadwal debat paslon di aula akan tetap berjalan... tapi tidak dengan paslon yang lama."

Aku mengernyitkan jidat, mencoba mencerna kalimat terakhirnya. "Lalu... paslonnya siapa, Pak?"

Sebuah pertanyaan retoris yang sebenarnya aku sudah tahu jawabannya. Sesuai desain awal Plan B-ku, akulah yang akan maju sebagai calon tunggal pasca-diskualifikasi massal ini.

Namun, jawaban yang keluar berikutnya justru menghantam dadaku bagai gada besi. Dan bukan Pak Rama yang menjawabnya, melainkan Bu Hilda yang memotong dengan cepat.

"Pertama, kamu, Ran. Sebagai perwakilan siswa istimewa jalur prestasi," ujar Bu Hilda tenang. Beliau menjeda satu detik, lalu melanjutkan, "Kemudian... Indira."

DEG.

Dadaku mendasir hebat. Jantungku seperti berhenti berdetak selama satu sekon penuh.

Indira? Anak kelas sepuluh itu? Orang yang merupakan pion matangku sendiri, sleeper agent yang sengaja kutanam di kubu Enzo untuk merusak sistem dari dalam... sekarang justru naik ke permukaan untuk menjadi lawanku esok pagi?

Aku berusaha keras mengendalikan ekspresi wajahku agar tetap terlihat tenang dan normatif di depan dua guru ini. "Saya... saya bersedia, Bu, kalau memang ini adalah opsi terbaik dari yang terburuk untuk menyelamatkan OSIS. Tapi, apakah Indira sendiri bersedia? Statusnya kan timses Paslon 2."

"Ya, dia bersedia. Sudah Ibu tanyakan langsung ke anaknya tadi malam, sebelum rapat pleno guru," jawab Bu Hilda mantap.

"Tapi, Bu... bukannya Indira baru saja terlibat skandal foto hotel dengan Enzo yang disebar Steffi semalam?" aku mencoba melawan keputusan itu, menggunakan kartu mati yang dilaporkan Devan padaku kemarin. Aku tidak bisa membiarkan bidak catur ini sekonyong-konyong berdiri sejajar denganku.

"Tidak, Rania. Itu hanyalah framing jahat dari kubu Steffi," potong Bu Hilda menggelengkan kepala. "Indira sudah mengklarifikasi dan membawa bukti konkret ke ruang kesiswaan tadi pagi. Mereka ke hotel itu murni untuk menemui klien papanya Enzo yang datang dari luar kota. Kebetulan saat itu papa Enzo sedang sakit di rumah sakit, dan Enzo hanya disuruh mengantarkan berkas penting perusahaan. Karena Enzo tidak tahu tempatnya, Indira hanya menemani sebagai teman sekelas. Pihak hotel juga sudah menyerahkan rekaman CCTV; mereka berdua tidak pernah masuk ke kamar, interaksi mereka sebatas sampai di lobi hotel."

Aku terdiam seribu bahasa. Lidahku mendadak kelu.

Sampai obrolan itu berakhir dan aku melangkah keluar dari ruang OSIS, aku masih tidak bisa mempercayai keputusan sekolah. Bukankah Pak Rama sudah berjanji padaku di Chapter 2 untuk mengondisikan jalanku sebagai calon tunggal yang bersih? Kenapa sekarang harus ada penantangnya?

Asumsiku kuat, ini pasti usulan dari Bu Hilda yang menginginkan adanya asas demokrasi formal di depan Pak Edo, dan Indira memanfaatkan celah itu dengan sangat cerdas. Aku benar-benar tidak suka dengan situasi ini.

Aku berjalan menyusuri koridor dengan rahang terkatung rapat. Tangan kananku refleks merogoh saku seragam, mengeluarkan ponsel, dan jariku langsung mencari kontak Indira. Aku hendak menghubunginya sekarang juga, berniat menegurnya dengan keras kenapa dia berani menerima tawaran Bu Hilda tanpa seizinku.

Namun, tepat sebelum tombol panggil kutekan, jemariku membeku di atas layar.

Aku membatalkannya. Sebuah rasa gengsi yang besar mendadak menyeruak dan membakar dadaku. Untuk apa aku harus menurunkan harga diriku? Dia hanyalah anak kelas sepuluh. Dia hanyalah orang suruhanku yang kuberi makan informasi. Apakah perlu seorang Rania mencemaskan bocah kemarin sore seperti dia?

Aku tersenyum dingin, memasukkan kembali ponselku ke dalam saku.

Seluruh warga sekolah sudah mengetahui citra baikku, dan aku baru saja membawa pulang prestasi nasional pagi ini. Biarkan saja Indira maju besok pagi di panggung debat. Aku akan menunjukkan padanya di depan seluruh sekolah, apa bedanya sang jenderal asli dengan bidak catur yang lupa posisi.





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Designed By